Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Aku Merindukanmu, Kakak.


Jantungnya terus berdegup kencang, dia terlihat gelisah tangan dingin bosnya itu terus memegang tangannya dengan erat. tubuhnya begitu dekat dengan bosnya itu, aroma tubuh maskulin itu menusuk tajam hidungnya.


"Ah, sial! Kenapa jantungku tak berhenti berdetak kencang, kalau dia dengar gimana?!" gumamnya gelisah.


"Ayo ikut denganku kesana" ujar Rendy sambil menarik tangan Andriana ke sebuah ruangan.


Ruangan itu bagian pemeriksaan pasien mirip dengan UGD, ada beberapa pasien di sana bersama para perawat. Mereka tak menyadari kedatangan Rendy dan Andriana.


Rendy menarik Andriana kesebuah bangsal dan menutup sekat tirai tersebut, Andriana semakin gugup dibuatnya. Apa yang dilakukan oleh bosnya itu, kenapa dia mengajaknya bersembunyi disana?


"Apa yang kau lihat?" tanya Rendy, baru sadar dari tadi diperhatikan terus oleh Andriana.


"Ti-tidak ada, Pak. Emm, apa yang kita lakukan disini?" tanya Andriana pelan.


Rendy menatap Andriana yang terlihat tersipu malu dengan wajah sedikit memerah.


"Apa yang kau pikirkan, hah?! Jangan memikirkan yang tidak-tidak!" ujarnya ketus sambil memalingkan wajahnya.


"Yehh, siapa yang begitu? Wajar dong kalau saya nanya, tiba-tiba saja anda menarik tangan saya masuk keruangan ini. Dan... Bersembunyi disini" ujar Andriana, menundukkan wajahnya yang semakin memerah itu.


"Aku sedang memperhatikan sesuatu dan harus bersembunyi agar tak ketahuan, aku mengajakmu agar kamu tidak kemana-mana. Itu saja.


Dan satu hal lagi, aku tidak suka kamu selalu berbicara formal seperti itu. Mengerti?!" bentak Rendy.


"Iya..." ujar Andriana mendengus kesal.


"Sst!" Rendy memintanya untuk diam, dia menajamkan pendengarannya.


"Tenang saja, Dok. Tidak usah khawatir, tidak akan terjadi masalah apapun kedepannya. Asalkan Dokter mau bekerja sama dengan baik dan tidak berbicara macam-macam kepada siapapun." Terdengar suara seorang pria dibalik tirai itu.


"Aku tidak ingin terlibat apapun dengan kalian, aku seorang Dokter yang profesional dan melayani pasien dengan baik. Jangan libatkan aku dengan pekerjaan kotor kalian!" terdengar suara lelaki yang diyakini seorang dokter itu.


"Anda jangan sok bersih, Dokter. Kami semua tahu rahasia anda, tahun lalu anda terlibat dengan malpraktek di rumah sakit sebelumnya anda bekerja.


Anda hampir dipenjarakan tapi karena anda beruntung mempunyai mertua kaya dan akhirnya anda bisa membayar ganti rugi keluarga pasien. Setelah itu Anda bekerja di rumah sakit ini.


Dan ini juga milik keluarga istri anda yang kaya raya itu, kan?!" tanya lelaki lain itu.


"A-apa maksudmu? Aku ti-tidak mengerti" ujar dokter itu gelagapan.


"Hehe! Berarti itu benar yah, melihat ekspresimu itu membuatku semakin yakin saja! Baiklah, sore ini aku akan menjalankan misi itu. Pastikan kamar anak itu kosong, biar gampang aku membawanya, haha!" orang itupun langsung pergi dari luar.


Rendy mengintip dari sela tirai itu, samar dia melihat bentuk tubuh pria itu dan dia yakin tahu dengannya. Yaitu salah satu asisten kepercayaannya Elena, ibu tirinya itu.


"Sepertinya Elena sudah mengetahui banyak hal, Apakah dia juga terlibat dalam penculikan Reva pada hari itu?" dia semakin bingung saja.


Satu hal yang dia tahu, Elena sudah terlibat dengan hilang lamanya Ericka dan sekarang dia berusaha menyembunyikan keberadaan Pramudya juga.


"Wanita tua itu sudah berbuat banyak, sepertinya nanti sore dia akan bergerak lagi. Aku harus berjaga juga, aku ingin lihat apa yang mereka lakukan pada anak itu?


Ah, aku selalu diberi pilihan sulit. Aku harus menemui kakakku, tapi aku harus menjaga Julia juga?


Yang mana aku prioritaskan? Ah, aku lupa! Hei, sekretaris! Nanti sore kau tetap berjaga disini, aku akan pergi sebentar. Jika ada yang mencurigakan, langsung saja telpon aku" ujar Rendy sambil berlalu pergi dari ruangan itu.


"Iya, iya... Sekretarismu siap melayani anda, Pak" ujarnya ngeledek Rendy.


Sepanjang jalan dia mengumpat dengan bosnya itu, memang sih dia baik dan sopan tapi sikap cuek dan galak itu membuat Andriana kesal padanya.


"Setiap hari selalu ada saja kerjaan yang harus aku lakukan, daripada sekretaris aku lebih pantas jadi asistennya. Mana ada kerjaan selalu ada setiap harinya gak ada liburnya, mana kerjaannya berat semuanya" gumamnya sambil menggerutu.


"Kamu memang sekretaris juga asisten pribadiku, aku akan membayarmu lebih untuk itu. Maka dari itu bekerjalah dengan benar" ujar Rendy, ternyata dia mendengar semua gerutuan Andriana.


"Ka-kamu dengar...?" tanya Andriana pelan, padahal dia bergumam selembut mungkin dan yaris dia berbicara dalam hati tapi kok ini bos bisa tahu yah? pikirnya.


'Tentu saja, sangat jelas dan terang sekali. Karena aku punya pendengaran cukup baik" ujar Rendy dingin.


"Dasar, kulkas!" umpat Andriana.


"Apa?!" tanya Rendy mendelik kearahnya.


"Hehe! Tidak apa-apa, sorry bos! Hehe" ujarnya lagi serba salah buru-buru naik mobil didepannya itu.


Saat ini mereka sudah diluar dan berada ditempat parkir, Rendy membalikkan tubuhnya melihat kearah rumah sakit itu, dia merasakan ada rahasia besar dalam kasus Julia ini. Akankah mereka akan menyembunyikan kasus Julia, atau Julia sendiri yang akan mereka sembunyikan?


//


"Andriana aku akan mengantarmu kembali ke kantor, untuk sementara bekerjalah seperti biasa nanti sore kamu kembali ke rumah sakit itu" ujar Rendy sudah mendekati kantornya.


"Lah, bukannya hari ini gak usah kerja dulu?" Andriana nampak bingung dengan sikap bosnya itu.


"Sudah gak ada lagi kerjaan buat kamu diluar kecuali nanti sore, ikuti saja perintahku" kata Rendy lagi.


"Siap, Bos" sahut Andriana kesal.


Rendy meluncur kearah rumah sakit dokter Anwar, sesuai janjinya dia akan menemui Nico dan Reva di sana.


//


//


Rendy baru tahu ditengah ibukota ada rumah sakit yang letaknya cukup jauh dari keramaian, pasiennya banyak dan semuanya ditangani secara profesional.


Pantas saja Elena maupun Nico memilih tempat ini untuk bersembunyi, selain fasilitas lumayan lengkap, rumah sakit ini juga memiliki pelayanannya yang bagus.


Hemm, benar-benar hebat" gumam Rendy sambil menyusuri koridor rumah sakit itu.


Pandangannya berkeliling memperhatikan setiap tempat, dia mencari Nico ataupun dokter Anwar seperti yang diberitahukan oleh Nico sebelumnya.


"Permisi, apakah anda Tuan Rendy?" seseorang menghampirinya.


"Iya benar, anda?" tanyanya balik.


"Saya asisten dokter Anwar, mari ikuti saya" ujar Orang itu.


Mereka naik kelantai paling atas melalui lift khusus dokter atau staf khusus rumah sakit itu, Rendy dibawa ke ruangan tunggu untuk menemui dokter Anwar.


Saat dia masuk ke ruangan itu, hampir saja dia berpapasan dengan salah satu anak buah Elena.


"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Nico, anak buah Elena ada dimana-mana di rumah sakit ini. Tidak mungkin hanya Pramudya saja yang dia sembunyikan disini.


Apa ada hal lain disini? Jangan-jangan Ericka juga ada di sini?" gumamnya, perasaannya semakin gelisah saja.


Belum lama itu dokter Anwar datang bersama Nico, Nico memakai pakaian perawat dengan maskernya.


"Sebenarnya apa profesimu, Pengusaha? Mafia? Atau Nurse?" tanya Rendy dengan tampang heran melihat Nico.


"Aku harus berpakaian seperti ini jika ingin bergerak bebas di rumah sakit ini, jika tidak anak buah Elena akan tahu keberadaanku disini.


Dan kau juga akan seperti ini jika ingin datang kemari" ujar Nico sambil melepaskan maskernya.


"Pantas saja dia berpenampilan seperti itu, melihat banyaknya anak buah Elena berkeliaran disini sepertinya aku akan melakukannya juga" gumam Rendy.


"Dokter, apakah hanya Pramudya yang disembunyikan oleh Elena disini? Atau ada hal lain?" tanya Rendy penuh selidik.


Dokter Anwar melirik Nico, Nico pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dokter mengatakan yang sebenarnya.


"Kenapa? Apa kau mencurigai sesuatu?" tanya dokter Anwar kepadanya.


"Bukan itu, hanya saja agak aneh jika Elena membawa segitu banyaknya anak buah disini. Apa yang coba dia lindungi atau sembunyikan dari kita atau semua orang?" ujar Rendy.


"Menurutmu?" tanya lagi dokter Anwar.


"Jangan memberikan aku begitu pertanyaan, dokter. Beri saja aku jawabannya" sahut Rendy kesal.


"Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya, Rendy. Tapi kamu hanya ingin memastikan hal itu kepadaku, kan?" kata dokter itu sambil tersenyum aneh.


Rendy hanya diam saja sambil menatap dokter Anwar dan Nico bergantian, dia merasa kedua orang ini sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Hem, kau benar Rendy. Feelingmu tak pernah salah, Ericka juga berada disini" kata Nico menyahutinya.


"A-apa?!!" teriak Rendy tak percaya.


Dia terperangah mendengar pernyataan dari Nico tadi, apa benar yang dia dengar tadi? Kenapa bisa kebetulan sekali? pikirnya.


"Kenapa kalian membiarkan penjahat itu berada didekat saudari-saudariku?! Bagaimana jika salah satunya terluka?" ujar Rendy tidak percaya.


"Yakinlah pada kami, mereka masih tidak tahu soal Reva yang dirawat di rumah sakit ini. Hanya saja Ericka dalam pengawasan mereka juga" jawab dokter Anwar.


"Terus?" tanya Rendy lagi masih meminta penjelasan lebih lanjut.


"Dilantai ini ada tiga kamar pasien yang diisi, Reva, Ericka dan Pramudya. Kamar Ericka berada ditengah-tengah Reva dan Pramudya.


Mereka hanya mengawasi Ericka dan Pramudya, dan tidak pernah tahu soal Reva" jawab dokter Anwar.


Rendy menghela nafas lega, setidaknya sampai saat ini kakaknya masih aman juga. Hanya saja dia mengkhawatirkan keadaan Ericka, apakah dia baik-baik saja?


"Kau tak usah mengkhawatirkan adikmu, dia aman meskipun Elena mengawasinya. Kami selalu berjaga merawatnya dengan baik" ujar dokter Anwar seolah tahu kegelisahan hatinya.


"Baik, Dok. Terima kasih... Bolehkah aku menemui kakakku?" tanya Rendy lagi.


"Boleh, tapi kau harus memakai perlengkapan khusus Nursery yah?" perintah dokter Anwar.


Rendy setuju, setelah memakai perlengkapannya dia menuju ruangan Reva. Perasaannya agak gugup saat menuju kamar kakaknya itu, dia melihat banyak anak buah Elena yang berjaga didua kamar disampingnya kamar Reva.


"Mungkinkah itu kamar Ericka dan bajing*n itu?" gumamnya.


Dia memasuki kamar Reva, saat itu Reva sedang duduk bersandar di kasur bangsalnya itu sambil membaca buku. Dia sengaja menghabiskan waktunya dengan membaca novel favoritnya.


"Kakak..." sapa Rendy pelan.


Reva nampak bingung dengan kehadiran seorang perawat lelaki didepannya itu, saat dia perhatian ternyata itu Rendy adiknya.


"Rendy!" pekiknya, sambil memeluknya melepaskan rindu mereka.


Keduanya menangis terharu, Nico yang sedang berjaga didepan pintu ikut berkaca-kaca matanya melihat kedua kakak adik itu.


...----------------...


Bersambung m