
Ericka menangis dalam tidurnya, dia masih memikirkan ucapan Aaron tadi, bagaimana bisa dia menyimpan sebuah rahasia yang begitu besar? Yang tadinya dia berpikir Aaron adalah orang baik yang dikirimkan untuk menolongnya.
Dan ternyata salah, tapi malah dia adalah orang yang dikirimkan untuk membantunya oleh orang lain. Lalu siapa orang itu? Apa berhubungan dekat dengannya? Atau malah mau mengkhianatinya?
"Tidak ada waktu untuk bersedih, lebih baik aku segera mencari tahu siapa orang yang telah mengirim Aaron kepadaku," gumamnya.
Setelah dia membalikkan badannya, dia terkejut melihat Reva bersama Nico sudah ada didalam ruangannya. Dia merasa canggung dan kikuk sekali, rasanya ada yang salah di sana, dimana mereka saat ini hanya diam-diaman saja.
"Ehem, gimana keadaanmu sekarang? Sudah mendingan?" tanya Nico memulai percakapan mereka.
"Iya.." jawab Ericka pelan.
Dia melirik kearah kakaknya yang sedari tadi menatapnya sendu, dia menjadi serba salah dibuatnya. Matanya beralih ke perut sang kakak, usia kandungan Reva baru menginjak enam minggu belum terlihat bentuknya, dia tersenyum karena sebentar lagi akan menjadi aunty bagi keponakannya itu.
"Bagaimana bisa kamu berada disini? Ini sangat jauh tempatnya dari kantor atau rumah, dan kenapa telponmu gak diangkat?" tanya Nico penasaran.
Sebenarnya dia tahu semuanya dari Aaron, hanya saja dia dan Aaron tak tahu tentang penculikan itu.
"Kalau diceritakan akan panjang, Kak. O ya, kalian sudah repot-repot datang kesini, terima kasih yah.. Kak Rendy kemana? Dia gak datang.." tanya Ericka.
"Kami datang karena ada yang memberitahu kami, dan Rendy.. Dia habis kecelakaan, dan--" Nico ingin menceritakan kejadian waktu itu, tapi Ericka langsung menyelanya.
"Iya, aku tau.. Aku tau dari berita hari itu, tapi aku gak tau seberapa parah lukanya. Apa dia baik-baik saja?" tanya Ericka khawatir.
"Dia masih dirawat di rumah sakit, Alhamdulillah dia baik-baik saja. Gak usah khawatir.. Kamu sudah baikan kan, jika sudah merasa lebih baik ayo kita pulang. Kami datang untuk menjemputmu.." ucap Nico.
Ericka mengangguk, dia pun bersiap untuk pulang karena dia tak memiliki apapun jadi dia langsung pulang begitu saja, sepatunya dia buang sewaktu di hutan saat kakinya terkilir, dan itu juga buat mengelabui para penjahat itu.
Saat dia bingung mau pakai apa dan celingukan melihat kebawah kalau-kalau saja ada sendal yang bisa dia pakai, dia dikejutkan oleh seseorang menyodorkan sandal kepadanya.
Dia mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang memberikan sandal itu, dia terkejut melihat Aaron ada di sana lagi. Dia merasa canggung saat memakai sandal itu.
"Terima kasih.." ucap Nico sambil menepuk bahu Aaron sambil tersenyum.
Ericka merasa keduanya saling mengenal dengan baik, melihat mereka nampak begitu akrab. Apalagi dia juga melihat kakaknya Reva juga biasa saja saat melihat Aaron, tidak seperti dulu begitu protektif terhadap dirinya jika ada yang mencoba mendekatinya.
"Apaa,, kak Nico dan kak Reva yang membantuku selama ini? Tapi, kenapa mereka tak mencoba menolongku langsung dan menjemputku dari sana? Kenapa membiarkan aku menderita di sana sendirian.." gumamnya dalam hati.
Dia mengikuti mereka keluar dari rumah sakit, di tempat parkir dia melihat ada Stanley dan Jessy sudah menunggunya.
"Hai, darling! Sudah mendingan kan you?" tanya Jessy dengan gaya khasnya.
"Sudah, say.. but, terima kasih sudah datang. Hai, Stanley!" sapa Ericka ramah kepada mereka.
Ericka naik mobil bersama kakaknya, sedang Aaron satu mobil dengan Stanley dan Jessy. Mereka menuju Jakarta dan pulang ke rumah kediaman keluarganya.
Setelah sampai di rumah, Ericka merasa nampak asing dengan rumah itu, begitu sepi dan sunyi. Hanya bi Mirna dan Milah yang menjemput mereka.
"Selamat datang Nona, Tuan.." sambut bi Mirna dan milah.
Mereka semua duduk di ruang tamu, bercengkerama basa-basi, setelah itu Ericka pamit untuk masuk ke kamarnya dan diiringi oleh Reva.
Saat keduanya naik kelantai atas, mereka yang dibawa mulai membicarakan misi dan tugas mereka.
"Kak Nico.." sapa Aaron pelan.
Dia sedari tadi hanya diam saja dan wajahnya terlihat begitu murung terus, seolah tahu apa yang dirasakan oleh Aaron, Nico hanya tersenyum, dia meminta Stanley dan Jesy menunggu diluar karena ada hal pribadi yang harus mereka katakan.
"Sudah aku katakan, jangan libatkan perasaan dalam menjalankan tugas ini. Karena dia sama seperti kakaknya, mampu membuat siapapun merasa nyaman dan jatuh cinta.
Dan kau tak belajar dariku, lihat aku.. Aku tak bisa lepas dari istriku, aku kini begitu bergantung padanya. semenit saja tak mendengar kabarnya perasaanku gelisah, dan kini kau merasakan hal yang sama juga.
Mereka kakak adik hampir sama sifatnya, kau harus sabar menghadapinya, kau tahu betapa besar perjuanganku mendapatkan kakaknya, haha!
Tapi jika kau bersungguh-sungguh dan memang mencintainya, maka perjuangan perasaanmu itu, jangan biarkan keadaan memaksamu mengakhirinya. Setidaknya, jika dia marah, bujuk dia. Jika dia menghindar maka dekati dia.
Tunjukkan kalau kau benar-benar mencintainya, perjuanglah karena wanita itu senang jika ada yang memperjuangkan dirinya, oke?! Jadi, semangatlah.." ucap Nico memberi Aaron sebuah dukungan dan semangat untuknya.
"Baik, Kak.. Terima kasih sarannya, aku akan mengikuti caramu dalam menenangkan hatinya, thanks bro!" ucapnya sambil memeluk kakak angkatnya.
"Jadi, bagaimana? Apa tugas kami selanjutnya?" ucapnya lagi.
"Pertama, kita harus jujur dulu pada Reva dan Ericka tentang semua ini. Aku tak ingin ada salah faham lagi diantara kita, aku rasa Ericka sudah curiga dengan semua ini" kata Nico.
"Hem, sebenarnya ini salahku.. Aku tak sengaja mengatakan jika kak Rendy akan segera menikah, saat.. Saat, hem.. Aku melamarnya tadi" ucap Aaron menunduk malu.
"Apa? Melamar?! Gila ya kamu, orang yang lagi terkapar di rumah sakit main lamar aja! Orang tuh tunggu dia sehat dulu, beri dia kejutan dan lamar pakai acara romantis, baru benar itu!" ucap Nico sok tau.
"I-itu.. Itu Rendy yang melamarku, maksudnya dia memintaku untuk menikahi kakaknya untuk membantunya menyelesaikan permasalah waktu itu, dan aku ikhlas melakukannya, dan senang dia menjadi istriku saat ini, hehe!" sahut Nico.
"Asalkan kamu tahu saja, aku sudah berapa kali melamarnya meskipun ditolak mulu sih.. Yah, namanya juga jodoh, mau ditolak terus kalau sudah ditakdirkan bersama, maka takkan ada yang bisa memisahkannya" sambungnya lagi.
Aaron hanya mengangguk-angguk saja mendengarkan omongan Nico yang menurutnya gak banget itu, emang dia sekuat itu mempertahankan cintanya kepada Reva? Pikirnya tak percaya dengan cerita Nico.
.
.
Sementara itu dalam kamar Ericka, Reva dengan sabar membantu adiknya melepaskan pakaiannya, mengingat badan Ericka masih sakit-sakit rasanya apalagi kakinya masih bengkak karena terkilir.
"Gak usah, Kak. Aku bisa sendiri.." ucap Ericka sungkan.
"Tak apa, kakak bisa melakukannya. Dulu juga kakak biasa melakukannya denganmu.." jawab Reva, canggung juga.
Bagaimana tidak setelah bertahun-tahun lamanya mereka bertemu kembali, dan seperti orang asing saja. Reva masih menganggap Ericka adik kecilnya dulu, sedangkan Ericka merasa dirinya sudah mampu melakukannya sendiri.
"Aku sudah besar, dan... Aku bisa Melakukan sendiri sekarang, tanpa.. Tanpa bantuan siapapun, aku bisa" ucap Ericka pelan.
Didalam makna bicaranya, dia ingin mengatakan kalau dia sekarang sudah bisa mandiri, dan bisa mengatasi semua permasalahan yang menimpanya, tanpa bantuan orang lain, dia bisa.
"Aku tau, tapi bagiku kamu tetaplah adikku. Dan aku tak ingin adikku dalam kesusahan lagi.." ucap Reva.
Ada sesak di dadanya saat mendengar ucapan Ericka tadi, bahwa adiknya tak memerlukan bantuannya lagi. Tapi dia harus menahan rasa itu agar dia bisa mendekatinya lagi.
"Kamu pasti lapar yah? Kakak panggil bi Mirna buat bawa makanan kamu disini yah.." ucap Reva lagi.
"Gak usah, Kaak.. Aku bisa sendiri, aku akan makan dibawah" ucapnya lagi.
"Jangan dulu, kakimu masih bengkak jangan banyak gerak dulu.. Kamu diam aja dulu disini, sebentar lagi bi Mirna datang" kata Reva lagi.
Dan tidak lama kemudian bi Mirna datang bersama Milah membawa beberapa makanan dan minyak urut untuknya.
"Bibi pengertian banget, belum diminta udah bawa makanan aja buat Ericka.." ucap Reva sambil tersenyum.
"Iya, Non. Dari kemarin siang Non Ericka gak pulang, Bibi jadi kangen.. Dan pulang-pulang melihatnya dalam keadaan seperti ini, hufft..
Ya sudah, makan dulu setelah itu bibi urut kakinya biar gak tambah bengkak kakinya" ucap bi Mirna.
"Gak usah, Bi.. Ini udah mendingan kok, kakinya udah gak bengkak lagi" ucap Ericka ngeri-ngeri sedap membayangkan rasa sakit kakinya akan diurut nanti.
"Gak usah takut, Bibi jago kalau soal begini mah!" ucap bi Mirna sambil terkekeh melihat reaksi ngeri Ericka.
Mereka seakan kembali lagi ke beberapa tahun yang lalu, saat mereka berkumpul di kamarnya dulu. Hanya saja beda kamar saja sekarang, dan kakaknya sudah menikah dan sedang mengandung keponakannya.
Ericka tanpa sadar menerima suapan dari kakaknya ketika hendak makan, awalnya dia biasa saja tapi lama kelamaan dia tak bisa membendung air matanya, dan dia menangis didalam pelukan kakaknya.
Hal yang sama dilakukan oleh Reva, dia sudah menangis duluan saat menyuapi adik kecilnya itu, dia merindukan masa-masa dia masih menyuapi adik kecilnya makan saat mereka masih kecil.
"Maafkan kakak, maafkan kakak gak bisa bantu kamu selama ini. Kamu pasti ketakutan sekali yah, kamu juga marah kan sama kakak.." ucap Reva disela tangisnya.
"Gak, kakak gak salah. Bukan kakak yang menyebabkan semua ini, aku tau kakak pasti selama ini mencariku kan.. Dan kakak juga yang telah membantuku selama ada di sana" ucap Ericka sambil menangis dipelukan kakaknya.
"Maksud kamu apa?" tanya Reva tak mengerti sambil memandanginya.
"Loh, bukannya kakak yang minta bantuan Aaron untuk membantuku selama di London? Soalnya aku liat kakak maupun kak Nico nampak udah kenal dengannya.." ucap Ericka menjelaskan semuanya.
"Aku kenal dengannya dikenalkan oleh Nico, dia itu adik iparnya Robin temannya Nico. Dan Aaron juga menghandle usaha Nico juga di London bersama Robin..
Hem, jangan-jangan ini ulah kakak ipar kamu, Ericka?! Dia diam-diam selama ini membantumu tanpa sepengetahuan kakak juga?! Dasar orang itu!" geram Reva kesal.
"Sudah, jangan diperpanjang. Dia melakukan hal itu demi kebaikan kalian berdua, itu berarti dia sayang dan peduli pada keluarga ini. Meskipun dia tak mengatakan semua ini, dia hanya tak ingin dianggap menolong kalian tanpa pamrih.
Dan Ericka, Bibi yakin dia melakukan hal ini agar kamu mandiri dan bisa mendisplinkan diri, kalau tidak kamu akan terus bergantung dengan orang lain.
Bukan bermaksud tidak ingin direpotkan, tapi niatnya bagus. Lihat, kamu pulang dan langsung bisa mengatasi ibu tiri kalian dan anak-anaknya, jika tidak kamu akan selamanya ditindas oleh mereka dan ayahmu tidak akan pernah sadar apa yang dia lakukan selama ini" ucap bi Mirna menyadarkan mereka berdua.
Keduanya pun saling pandang, dan terdiam. Mereka mulai merenungkan ucapan bi Mirna jika apa yang dilakukan Nico maupun Aaron merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang mereka kepada keduanya.
...----------------...
Bersambung