
Setelah sarapan dan meminum obatnya, Reva mulai dibantu oleh para pelayan Nico untuk bersiap-siap untuk berangkat.
Reva masih penasaran, kemana Nico akan membawanya. Tiga mobil hitam melaju dari rumah Nico meninggalkan kompleks perumahan itu.
Pak Nugroho sudah diwanti-wanti oleh Nico untuk tidak membiarkan siapapun mendekati rumahnya, beberapa pengawal disuruh menjaga rumahnya.
"Biarkan mereka mengira bahwa aku dan Reva masih ada di rumah ini, jangan sampai mereka menyadari kalau kami tidak ada disini.
Aku ingin Reva tenang dan mengasingkan diri dari dunia luar, jangan ada yang mengganggu kami nanti.
Dan kirimkan orang untuk mengawasi rumah pak Dewantoro, beritahu aku langsung kabar apa saja dari rumah itu." perintah Nico kepada kepala pelayannya itu.
"Baik Tuan, perintah anda akan kami laksanakan dengan baik" ujarnya.
Pak Nugroho memberi isyarat kepada kepala pengawal yang menjaga Nico, agar menjaga mereka dengan baik. Kepala pengawal itu mengangguk hormat, dan tentu saja ia adalah anak dari kepala pelayan itu sendiri.
Perjalanan mereka lumayan jauh, Nico membawa Reva ke Villa pribadinya di daerah lumayan jauh dari kotanya.
Villa itu terletak di daerah industri perkebunan teh yang luas, tentu saja itu semua milik Nico dari warisan ayahnya dulu.
Dia jarang sekali mengunjungi perkebunan dan pabrik pengolahan teh yang ada di sana, sekali datang dia membawa rombongan yang lumayan banyak dan akan tinggal cukup lama.
Para pelayan dan pengurus Villa nampak sibuk untuk menyambut kedatangan tuan beserta tamunya.
Saat mereka masuk ke pintu gerbang utama masuk ke Villa itu, sudah terlihat beberapa pengawal berbaris menunggu mereka.
Saat mobil mereka masuk kedalam dan melewati para pengawal, para pengawal itu membungkuk memberi hormat.
Reva merinding dia merasa ada di film mafia-mafia gitu, para pengawal itu bawaannya dingin dan kaku setelan jas serba hitam dipakaian mereka menambahkan kesan misteriusnya itu.
Begitupun juga saat mereka berhenti di depan pintu Villa besar dan megah itu, sudah berjejer rapi para pelayan yang sudah menunggu mereka.
Reva terlihat canggung dan kaku sekali, tidak terbiasa dengan pelayanan istimewa itu.
"Masuklah, anggap saja semua ini milikmu. Jangan ragu atau takut, mulai saat ini mereka milikmu.
Jika kamu butuh sesuatu, hubungi langsung mereka. Tidak usah turun kebawah, pakai saja tombol yang ada disisi ranjangmu itu." Kata Nico memberi arahan pada Reva.
"Kenapa, apa kau tidak akan bersamaku saat ini?" tanya Reva pelan sambil menunduk.
Nico tersenyum mendengar ucapan Reva, gadis ini nampak berbeda sekali yang biasanya dia kenal, gadis kuat dan tangguh itu sudah hilang.
Dia merasa iba melihatnya, selama ini Reva kehilangan jati dirinya berusaha kuat demi adiknya, hingga merelakan masa remajanya untuk bergaul dengan teman-temannya.
"Aku akan kembali ke kota sebentar lagi, tidak akan lama. Ada yang harus aku kerjakan, dan ini penting.
Aku akan kembali kepadamu, tunggu yah" ujar Nico sambil mengecup kening Reva.
Kali ini Reva tidak menolak, dia sudah lama menginginkan kasih sayang dan dimanja seperti itu. Seperti para gadis lain inginkan, dia berusaha menepis bayangan buruk kisah hubungan orang tuanya dulu.
Sementara itu, Pramudya dan para pesuruhnya kesal karena tidak mendapatkan informasi apapun dari Nico dan orang sekelilingnya. Selama ini yang mereka tahu, bahwa Nico dan Reva masih di rumahnya Nico.
Tanpa mengetahui keberadaan mereka sebenarnya, Pramudya kesal bagaimanapun juga dia harus menemukan Reva.
Di sisi lain, Reva merenungi nasibnya. Apakah jalan yang dia tempuh saat ini sudah benar atau salah? Bersikap sedikit egois tidak apakah? Berhak kah dia bahagia?
Dia menangis sendiri di kamar itu, ada sesak di dadanya. Disaat kondisinya begini, dia masih memikirkan nasib adiknya nanti bagaimana.
Apakah dia akan baik-baik saja tanpanya?
*
Saat ini dikediaman pak Dewantoro, mereka nampak sibuk dengan segala sesuatu. Pagi-pagi sekali pak Dewantoro sudah didatangi oleh pengacara dan notarisnya, untuk membicarakan soal hak dan pemilikan atas perusahaan dan yayasan milik mendiang istrinya itu.
Sedangkan Elena juga sudah pergi pagi sekali, dia sibuk merencanakan semua hal. Dia sibuk melobi beberapa koneksinya di perusahaan tersebut.
Dia terus menekankan para direksi dan dewan yayasan untuk mendukungnya atas kepemilikan dan kepemimpinannya.
Dia menjanjikan banyak hal padanya, agar mereka terus mendukungnya. Saat ini diapun sudah merasa puas, yakin dia akan memenangkan atas gugatan Reva.
Apalagi sampai saat ini anak itu tidak memberi kabar apapun, semenjak kejadian semalam dia hilang tanpa jejak.
Lagian, sudah bagus semua ini aku yang urus jadi bertahan sampai sekarang. Kalau tidak mungkin ini semua juga akan hancur seperti pemiliknya, haha!" Ujarnya tertawa puas.
**
Siang hari, tepatnya mereka berada di salah satu perusahaan besar milik mendiang Larasati Pohan yang saat ini dipegang oleh Elena.
Mereka sedang sibuk mempersiapkan rapat pemegang saham dan kepemilikan Yayasan Mutiara Hati, Elena dan para pendukungnya sudah menunggu di ruang rapat yang begitu luas.
Sedangkan Reva tak kunjung datang, belum lama itu pak Dewantoro datang juga bersama pengacara dan jajarannya sebagai saksi.
Lama mereka datang, tapi Reva maupun pengacara atau perwakilannya tak kunjung datang juga. Terlihat raut wajah ke khawatiran dari pak Dewantoro, dia mencemaskan Reva.
Mengingat kejadian semalam, membuat hati dan pikirannya berkecamuk. Sedangkan Elena dan yang lainnya terlihat begitu santai, bahkan mereka begitu asik bercengkrama.
"Bagaimana ini Pak Dewantoro, pihak penggugat tidak datang juga dari tadi. Apakah kita harus memutuskan sekarang juga?
Kalau sekarang harus memutuskan, mau tidak mau Bu Elena Bexxa memiliki hak penuh atas kuasa perusahaan dan Yayasan Mutiara Hati ini." Ujar salah satu pengacara Elena bersuara.
"Jangan memutuskan sepihak Pak, ketidakhadiran nona Reva bukan berarti Bu Elena berhak atas kuasa kepemilikannya.
Bagaimanapun juga, perusahaan dan Yayasan ini dirikan oleh mendiang ibu kandung nona Reva, yaitu Larasati Pohan.
Yang juga mendiang istri pertama pak Dewantoro, jadi Bu Elena tidak berhak atas apapun dengan semua kepemilikan ini." Jawab pengacara pak Dewantoro.
Elena geram mendengar pernyataan pengacara suaminya itu, kalau begitu pernyataan pengacaranya tadi merupakan bagian suaranya juga?
Kenapa dia tak bicara langsung pada Elena jika dia keberatan atas semua ini? Huh, dasar pengecut! Ternyata dia tidak seberani itu, gumam Elena tersenyum kecut.
Perdebatan sengit diantara mereka terjadi, tak ada titik temunya sama sekali. Tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk dari luar, datanglah sekelompok orang berpenampilan rapi lengkap dengan tuksedonya.
Ada sekitar sepuluh orang yang masuk, terdiri pria dan wanita berpenampilan kaum jenset dan berkelas. Terlihat dari penampilan yan mereka pakai, memiliki nilai fantastis.
Mereka mengenali salah satunya, yaitu William Harvey, pemilik dan pengacara terkenal di PT. Law and Company. Perusahaan dibawah pimpinan PT Law Industries.
Apa yang dilakukan pengacara kondang bersama rekan-rekannya ini disini? Ada yang mengundangnya, untuk apa? Mereka masih bertanya-tanya.
"Maaf jika kedatangan kami mengejutkan kalian semua, kedatangan kami disini semua bukan tanpa alasan ini menyangkut permasalahan yang kalian bahas sekarang ini.
Sebelumnya izinkan kami mohon maaf sekali lagi atas keterlambatan kami ini" ujarnya sambil membungkukkan badan tanda permohonan maaf, diiringi rekannya yang lain.
Mereka benar-benar sangat profesional sekali, pantas saja bayaran mereka sangat mahal sekali.
"Jelaskan dengan benar, apa tujuan kalian datang kemari? Apa maksudnya kedatangan kalian ini ada sangkut pautnya dengan permasalahan yang kami hadapi saat ini?" tanya pak Dewantoro tegas.
Sedari tadi dia hanya diam saja, sekarang mulai berbicara. Membuat Elena mendengus kesal dengan suaminya itu.
"Kami ini perwakilan dari nona Revalina Wijaya, karena sesuatu hal beliau tidak bisa hadir. Jadi, kehadiran kami sama halnya dengan kehadiran nona Reva" ujar William memberi jawaban.
Pria muda dan tampan itu begitu bersemangat sekali menyampaikan aspirasi dan motivasi Reva mengenai perusahaan dan yayasan itu kedepannya, terlihat sangat cerdas dan berwawasan sekali.
Terakhir dia juga menyampaikan atas hak dan kepemilikan atas perusahaan dan yayasan milik mendiang ibunya itu.
"Tapi Nyonya Elena sudah bertahun-tahun memegang perusahaan dan yayasan itu, beliau ini memiliki peran penting atas kemajuan perusahaan dan keberhasilan yayasan ini membantu pemerintah membangun anak negeri" bela salah satu pengacara Elena.
"Iya kami tahu itu semua, kami tidak akan melupakan jasa dan bakti Bu Elena selama ini.
Kami akan membayar semua effort yang dia berikan atas pengabdiannya selama ini.
Apapun jumlah nominal Bu Elena inginkan, akan kami bayar. Tapi ingat, semakin anda tidak ingin melepaskan semua ini maka semakin terlihat niat anda dari awal, Nyonya...
Anda ingat 'kan, semua ini milik mendiang nyonya Larasati Pohan, perempuan yang kau rebut suaminya? Dan sekarang kau ingin menguasai hartanya juga?!" serangan telak dari William untuk pengacara Elena.
Membuat Elena dan lainnya tercengang dengan keberanian William dalam mengungkapkan pendapatnya.
...----------------...
Bersambung