
Malam itu, angin kencang diiringi oleh kilatan petir dan suara bergemuruh guntur bersahutan. Seorang gadis berlari kencang menunju sebuah bangunan, dia terengah-engah mengatur nafasnya.
Matanya nanar menatap sekelilingnya, dia ketakutan seperti menghindari seseorang yang mengejarnya.
Ctarr!
Suara kilat mengagetkannya, seiring suara kilat memancarkan sinarnya terlihat bayang-bayang seseorang dibalik tembok sedang mengawasinya.
"Ya Tuhan, selamatkan aku..." gumam gadis itu ketakutan.
Samar-samar dia melihat bayangan itu semakin mendekat kepadanya, dia berlari menuju sebuah tangga bangunan itu.
Bangunan itu adalah bangunan rumah susun, tidak ada lift di sana hanya ada tangga sebagai sarana para penghuni untuk keluar masuk gedung itu.
Gadis itu, Ericka. Berusaha sekuat mungkin berlari menaiki anak tangga itu, sedangkan lantainya cukup tinggi, berada di lantai 6 dan cukup menguras energi jika berlari menuju keatas.
Dug! Dug! Dug!
Suara kakinya bergema, sesekali dia melirik kebawah memastikan tidak ada yang mengejarnya. Tetapi bayangan itu semakin mendekat kepadanya.
"Ya Tuhan, apa salahku! Kenapa ini terus terjadi kepadaku!" gumamnya.
Saat dia sudah berada di lantainya, dia membuka pintu tangga itu terkejut ada seseorang berdiri didepan pintu itu.
"Akh!" teriaknya.
"Syut! Hei, ini aku" ujar orang itu.
Ericka melihat Stanley menatapnya heran, Ericka menoleh kebelakang tidak ada siapapun di sana.
"Kenapa? Kenapa kamu pucat begitu, habis dikejar setan yah?!" ledek Stanley sambil cengengesan.
"Ti-tidak ada!" jawab Ericka ketus.
Dia melewati Stanley menuju rumah tempat tinggalnya sekarang ini, lebih tepatnya rumah Stanley.
"Kamu kenapa berdiri didepan sana? Bikin kaget aja!" gerutu Ericka.
"Aku datang menemuimu, tapi kamu gak ada. Ya udah aku ingin pulang lagi, terus ketemu kamu di sana. Kamu sendiri darimana sampe keringat begitu?!" tanya Stanley.
"Aku dari luar, cari makan" jawab Ericka sekenanya.
"Aku kan sudah bilang, jika ada perlu apapun minta saja padaku atau tidak kamu bisa bilang ke tetangga" jawab Stanley santai.
Ericka tersenyum kecut mendengar perkataan Stanley, dia tahu apa yang harus dia lakukan. Tidak segampang itu meminta ataupun berbicara seperti itu ke tetangga mereka.
Karena tidak semua orang bersikap baik kepadanya, ada beberapa orang yang tak menyukainya. Ada yang tak suka karena dia orang Asia, ataupun cemburu kepada Stanley ada juga karena jijik melihatnya dikarenakan wajahnya yang terluka itu.
"Tidak usah, aku bisa cari uang sendiri" jawab Ericka.
Stanley menatap wajahnya lekat, dia bisa melihat raut wajah sedih itu. Dia ingin sekali membelai rambut indah itu tapi dia harus menahan diri.
"Tahan Stanley, kamu harus sadar diri!" gumamnya dalam hati.
Sebelumnya.
Siang itu Ericka keluar dari rumah dan ingin bergabung dengan para tetangganya, mereka biasanya duduk-duduk didepan balkon lantai itu dikhususkan oleh para penghuni rumah susun itu.
Tetapi tidak semuanya yang menyukainya, terutama para gadis penghuni lantai itu. Berita mengenai Ericka sebagai istri Stanley sudah menyebar, para gadis yang menyukai lelaki itu patah hati dan melampiaskannya kepada Ericka.
"Jadi namamu Ericka? Istrinya Stanley?" tanya salah satu dari mereka sambil menatap Ericka dengan sinis.
"Hehe, begitulah" jawab Ericka kikuk, serba salah mau jawab apa.
Dia teringat perkataan Stanley waktu itu, dia harus berbohong soal status mereka jika tidak ingin diusir. Karena akan banyak orang yang ingin melakukan hal itu kepadanya.
"Jadi mungkin mereka ini yang dimaksud oleh Stanley" gumam Ericka.
"Aku bingung dengannya, apa yang dia lihat dari gadis ini? Wajahnya buruk begini, cantikan aku dilihat dari sisi manapun" kata si gadis menggunakan bahasa yang tak dimengerti oleh Ericka.
Sepertinya daerah tempat Stanley tinggal merupakan daerah yang ditempati oleh semua orang yang berasal dari berbagai negara imigran.
Ericka hanya tersenyum saja ketika gadis itu berbicara, terlihat dari raut wajah mereka seperti meremehkan atau menghina Ericka ketika dia berbicara.
Ericka mungkin tak bisa mengerti atau tahu apa yang dia bicarakan tapi dia bisa membaca ataupun mengerti dari gestur tubuh lawan bicaranya, apalagi yang lain juga menanggapinya hal yang sama sepertinya.
"Ini gak bisa dibiarkan, aku gak mau dihina lagi! Sampai kapan aku selalu diinjak oleh orang-orang ini, takkan ada yang menolongku kecuali diriku sendiri" ujar Ericka kepada dirinya sendiri.
Mereka semua terdiam saat mendengar Ericka berbicara sendiri, sama halnya dengannya mereka juga tak bisa mengerti apa yang diucapkan oleh Ericka.
"Emang enak dikadali!" senyum Ericka.
Dia melihat-lihat disekelilingnya kalau saja ada restoran atau cafe yang mencari karyawan paruh waktu, agar dia bisa bekerja dan meringankan beban si Stanley.
Jangankan diterima, yang ada dia hanya dapat hinaan dan cacian dari mereka semua.
"Pergi sana! Kami tak menerima pegawai sepertimu, wajahmu itu perbaiki dulu baru datang kesini"
"Kami hanya menerima pegawai berpenampilan baik, bukan sepertimu!"
"Kau orang Asia, pergi sana!"
Dan banyak lagi hinaan yang dia terima, dia merasa malu dan terhina sekali. Ericka duduk sendirian disebuah taman, selang beberapa saat dia dihampiri oleh seorang wanita.
"Halo, Nona. Maaf tadi aku melihatmu di restoran itu tadi, apakah kamu sedang mencari pekerjaan?" tanya wanita paruh baya itu.
"Ah, iya Bu. Itu benar sekali" jawab Ericka senang.
"Kalau begitu mau bekerja di restoranku, tapi sebagai tukang cuci piring. Dan upahnya tak seberapa" ujar wanita itu lagi.
"Tidak apa, Bu. Yang penting aku bisa menghasilkan uang" ucap Ericka lagi.
Jadi ikutlah Ericka dengan wanita itu, dia bekerja paruh waktu sebagai tukang cuci piring di restoran cina. Ternyata di sana bukan hanya Ericka saja yang menjadi pegawai bermasalah ternyata hampir sebagian pegawai di sana juga sama.
Rata-rata mereka semua adalah orang-orang imigran yang berasal dari Asia, dan sering dianggap sebelah mata oleh sebagian orang-orang yang di sana.
"Bekerjalah dengan baik, walaupun gaji kita kecil setidaknya kita punya pekerjaan dan diberi makan sesuai waktu" ujar salah seorang pegawai yang di sana.
Mereka semua bekerja sesuai tugas masing-masing, sampai tibalah mereka pulang dan menerima upahnya hari ini. Ericka dibayar 300 poundsterling, dan itu cukup membuatnya bahagia.
Disaat perjalanan ia pulang, dia melihat sekumpulan lelaki berpakaian preman. Ericka mengenali salah satu dari mereka sebagai pengawalnya mr. Robert.
Dia berjalan secepat mungkin dan berharap mereka tak menyadari dirinya ada di sana, setelah cukup jauh berjalan dan mengira dirinya aman Ericka dikejutkan oleh bayang-bayang yang mengikutinya sampai ke gedung rumah susun itu.
Saat ini.
"Hei, melamun saja! Makan sana, besok pagi-pagi aku akan kesini lagi mengantarkan kamu sarapan dan cemilan, biar ga kelayapan lagi, aku pulang dulu yah" ujar Stanley membuyarkan lamunan Ericka.
"Pulang? Pulang kemana, bukankah ini rumahmu?" tanya Ericka, sepertinya dia belum fokus.
"Kenapa? Kamu ingin aku terus disini bersamaku? Kamu kangen" goda Stanley sambil mengedipkan matanya.
"Apaan sih?! Gak lah, aku hanya gak enak saja liat kamu terpaksa tidur diluar sedangkan aku menepati kamarmu" ujar Ericka sambil memalingkan wajahnya, ada sedikit rona merah di pipinya itu.
"Sepertinya ada benarnya kamu, btw... Kamu gak denger tetangga membicarakan tentang kita kan? Seperti 'suaminya tidur diluar' atau 'mereka sedang bertengkar'?" tanya Stanley.
"Tiiidak, mereka tidak pernah berbicara seperti itu setahuku" ucap Ericka.
"Untuk jaga-jaga aku akan tidur disini, jangan salah faham dulu! Kamu tidur di kamar dan aku diruang tamu ini" ujar Stanley.
Ericka mengangguk pelan, ada rasa canggung juga meskipun mereka tidur ditempat berbeda.
"Aku harus membiasakan diri, bagaimanapun juga aku yang menumpang disini. Tidak enak rasanya jika dia harus keluar demi aku" gumam Ericka.
Sementara itu, diluar gedung itu. Berdiri beberapa orang menatap gedung itu, mereka sepertinya sedang bersiap-siap untuk melakukan pergerakan. Tinggal menunggu perintah saja.
"Jangan ada yang bergerak sebelum ada perintah dari bos!" ucap salah satu dari mereka.
Sekumpulan lelaki bertubuh kekar berpakaian serba hitam lengkap dengan maskernya, mereka masing-masing membawa senjata tumpul seperti balok kayu, tongkat bisbol dan lainnya.//
Di tempat lain, di negara tercinta.
Reva dan lainnya seperti biasa bekerja di kantor dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk tak tahu kapan akan selesainya.
Tiba-tiba dia kedatangan tamu tak diundang, tamu tak tahu diri yang memaksa dirinya harus dilayani dengan lebih baik lagi dan mengaku-ngaku anak pemilik perusahaan itu.
"Siapa pagi-pagi begini bikin keributan?!" ujar Reva geram.
Karena suara keributan itu sampai terdengar ke ruangannya, dia menghela nafas berat dan meminta Mona dan Susy menyelesaikan keributan itu.
"Jangan pegang-pegang saya yah! Kamu itu tau diri jadi orang, pegawai rendahan seperti kamu itu harus dipecat!" ujar gadis itu lantang.
"Tunggu dulu, sepertinya aku mengenali suara ini? Tapi siapa yah?!" ujar Reva penasaran, dan akhirnya dia keluar juga.
Alangkah terkejutnya dia melihat siapa orang yang didepannya itu, salah satu orang yang paling dia benci ada di kantornya saat ini.
"Pricilia?!" gumamnya terkejut.
...----------------...
Bersambung