
Malam resepsi tiba, Rendy dan Andriana memakai pakaian adat yang mengikuti silsilah keluarga ibunya Rendy, yaitu adat Palembang. Keduanya begitu mempesona bagaikan raja dan ratu, seusai dengan apa yang mereka pakai.
Rendy terlihat gagah berwibawa dengan pakaian adat yang perpaduan warna merah dan emas itu, begitu juga dengan Andriana dia nampak begitu cantik dan anggun dengan paesan gending, mahkota besar yang berada di atas kepalanya yang terlihat begitu berat itu.
Mereka berjalan menuju ruang resepsi diiringi oleh musik Gending Sriwijaya, diikuti oleh beberapa penari penyambutan tamu yang biasa disebut tari tanggai. Mereka menari dengan lemah gemulai meliuk mengikuti irama musik dengan anggun dan mempesona.
Semua para tamu dibuat takjub dengan dekorasi dan serancangan acara yang dibuat oleh tuan rumah, kesan mewah begitu terlihat meskipun acaranya masih mengusung tema adat. Berbagai macam aneka makanan khas Palembang disediakan, ada juga makanan desert kekinian lainnya.
"Keren banget nikahannya mereka, aku juga nanti pengennya nikah kayak gitu juga!" ucap salah satu tamu saat mengagumi keindahan dekorasi dan acara resepsi pernikahan mereka.
"Bagaimana, apa rencana kita akan dilakukan malam ini?" bisik Ericka kepada Nico.
"Iya, si William sudah ngebet banget!" kata Nico.
"Ish, gak sabaran banget jadi orang! Tema lempar bunga gak cocok buat tema kayak gini, tunggu aja besok malam atau gak besok siang deh! Kan temanya ganti jadi tema nasional, bisa tuh buat lempar-lempar bunga segala!" gerutu Ericka kurang setuju dengan idenya William.
"Sudah, kita ikuti saja maunya dia! Daripada ngambek, kan berabe!" sahut Nico sambil terkekeh melihat ekspresi Ericka dengan wajah ditekuk.
Dan akhirnya acara pelemparan bunga akan dilakukan, Ericka sudah berbicara dengan Rendy dan Andriana untuk melempar bunga kearah William, nantinya bunga itu akan diberikan kepada Geraldine sebagai tandanya melamar Geraldine dihadapan semua orang.
Tapi pada saat waktunya tiba, mereka tidak melihat William diantara kerumunan orang banyak yang bersiap merebutkan buket bunga dari pengantin, yang biasanya mereka anggap akan mendapatkan jodoh cepat jika berhasil mendapatkan buket bunga tersebut.
"Mana sih orangnya, katanya mau bikin kejutan romantis buat Geraldine, eh anaknya malah menghilang!" gerutu Rendy kesal tak mendapati anak itu ditengah-tengah para tamu.
"Sudah mulai aja, gak enak yang lain pada nungguin!" ucap Andriana.
"Tapi anak itu.." Rendy masih berusaha mau menunggu kakak sepupu jauhnya itu.
"Untuk mereka kita bisa bikin lagi acara kayak gini, kan resepsinya masih ada lagi. Nah, jika William siap baru kita siapkan lagi acara lempar buket bunganya.." ujar Andriana menyampaikan idenya itu.
"Betul juga sih, untung si Geraldine gak tau masalah lamaran ini. Jadi dia gak kecewa-kecewa amat," ucap Rendy lega dengan ide istrinya itu.
Akhirnya acara pelemparan buket dimulai juga tanpa kehadiran William, dan tanpa diduga bunga itu malah terlempar kearah Geraldine, padahal gadis itu belum siap apa-apa, tetibanya bunga sudah terlempar kearahnya.
Semua yang tau perihal rencana lamaran William kepadanya nampak takjub, memang jika jodoh gak kemana, meskipun yang mau melamar gak ada tapi bunganya tetap nyampe juga.
"Waaww, selamat sisters! You're getting married too!" teriak Ericka senang sekali.
"Haha, ini hanya bunga biasa! But, thanks doanya, hehe!" ucap Geraldine senang juga.
Tapi dia juga heran dari tadi dia tak melihat William, kemana lelaki itu? Tiba-tiba Erick datang dengan wajah pucat dengan berkeringat dingin, dia menghampiri Nico dan membisikkan sesuatu. Seketika ekspresi wajah Nico juga berubah tegang.
Kemudian Erick pergi begitu saja, Geraldine ingin menghampiri Erick dia ingin bertanya perihal William. Tapi dia malah melihat percakapan antara Erick dan Nico yang nampak membingungkan nya.
"Kau datang saja ke sana, temani dia! Tidak usah memikirkan acara disini, yang penting urus saja dulu di sana. Kasihan William sendirian di sana!" ucap Nico yang semakin membuat Geraldine penasaran.
Ada apa dengan William? Dia diam-diam mengikuti Erick dari belakang, menyusul lelaki yang akhir-akhir ini sering membuatnya bingung dan berdebar.
Nico kembali lagi masuk kedalam area resepsi pernikahan adik iparnya itu, di sana dia telah ditunggu oleh istrinya dan juga saudara yang lainnya, mereka bertanya perihal keberadaan William termasuk dengan ekspresi wajah Erick yang terlihat panik tadi.
Tadi sore William dikabari oleh pihak kepolisian mengenai keadaan opa dan opa sudah dibawa ke rumah sakit, sekarang dia masih setia menunggu opanya di sana. Ini diluar prediksi kita, mana tahu musibah ini datang pada waktu yang tak tepat.
Disaat hari pernikahan Rendy, dan disaat dirinya yang bersiap mau melamar wanita yang dia sukai. Hmm, kasihan juga dengannya.. Semoga Geraldine mau mengerti keadaannya sekarang," ucap Nico menjelaskan semua yang terjadi dengan William saat ini.
.
.
Sementara itu, Geraldine terus membuntuti mobil Erick dari belakang. Semua orang tidak menyadari kepergiannya menyusul Erick, sedangkan anak lelaki itu terlalu panik untuk menyadari semuanya.
"Dia mau kemana? Emang ada apa dengan William?!" gumamnya bingung sekaligus khawatir.
Tiba-tiba saja mobil Erick berbelok kearah rumah sakit besar milik instansi pemerintahan, dia semakin bingung saja pikiran Geraldine berkecamuk dia takut kalau William kenapa-kenapa.
Setelah memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil Erick, Geraldine terus berjalan sedikit cepat untuk menyusul Erick dengan langkah yang tergesa-gesa itu. Pada saat itu, Erick menuju ruangan UGD di sana sudah ada William duduk di bangku diluar ruangan itu.
Saat melihat kedatangan Erick, lelaki itu langsung menghampiri adiknya dan memeluknya sambil menangis. Geraldine yang melihat mereka semakin bingung saja, dilain sisi dia senang dan lega karena William baik-baik saja, tapi dia juga bingung dengan keadaan yang sekarang.
"Banyak polisi yang berjaga, apa opa Harja yang sakit? Jika benar, masuk akal juga! Aku gak tau kalau hati mereka segitu lembutnya, sangat mengkhawatirkan keadaan kakeknya.." gumam Geraldine sendirian.
Setelah itu seorang dokter keluar dari ruangan UGD itu, wajahnya nampak lesu seperti susah ingin mengatakan sesuatu, dia sedang mengatakan sesuatu kepada William dan Erick, ekspresi keduanya nampak begitu terkejut.
"Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk sementara ini, Pak.. Semoga masih ada kesempatan lagi bagi beliau, dan itu semua atas izin Tuhan," ujar dokter bermata sipit itu.
Kemudian dokter itu berlalu pergi, terlihat Erick yang sangat sedih masuk kedalam ruangan diikuti oleh polisi juga, sedangkan William terduduk lesu saat mendengar vonis dari dokter mengenai kondisi opa Harja sekarang.
"Pak, jika bapak ingin mengurus rumah sakit untuk beliau, kami bisa membantu kepindahannya dan tentu saja semuanya akan menjadi tanggung jawab kalian. Kami dari pihak kepolisian akan tetap menjaga dan mengawal beliau meskipun tidak berada di rutan lagi.
Sebenarnya kalau melihat usia dan kondisi kesehatan beliau, dia tak bisa dimasukkan kedalam rutan lagi. Tapi berhubung ini adalah keinginan para korbannya dan masih dalam proses hukum juga, kami tak bisa mengelak dari tugas ini.
Tapi ada pengecualian jika kondisi kesehatan beliau memburuk seperti ini, pihak keluarga bisa meminta ataupun membuat surat permohonan untuk dipindahkan ke rumah sakit yang dianggap layak untuk beliau.." ujar salah satu polisi yang ikut berjaga.
"Terima kasih atas sarannya, Pak.. Saya akan memikirkannya lagi, jika masih ada harapan saya juga menginginkan hal yang baik juga buat kakek saya.." ucap William pelan dan terlihat tak bersemangat lagi.
"Baik, kami menunggu keputusan bapak kapan bapak siap. Kalau begitu kami permisi sebentar, karena kami juga harus melaporkan keadaan beliau saat ini kepada atasan juga. Dan masih ada beberapa polisi yang tinggal untuk menjaga beliau disini, permisi.." ujar pak polisi itu tadi.
Kini tinggallah William sendirian di sana, lelaki gagah itu tak bisa membendung air matanya lagi. Dia menangis sesenggukan sendirian di sana, dia sedikit terkejut karena ada yang mengusap punggungnya, dan lebih terkejut lagi ketika dia melihat ada Geraldine dibelakangnya.
"Menangis saja, tidak apa.. Jika itu bisa membuatmu lebih tenang, menangislah.." ucap Geraldine menenangkannya.
William kembali menangis di pelukan hangat wanita yang dia cintai itu.
...----------------...
Bersambung