
Beberapa hari kemudian, kondisi oma Mariani belum pulih malah dinyatakan kritis ini disebabkan oleh trauma di kepalanya, akibat benturan benda tumpul yang menghantam keras tepat di syaraf otaknya.
"Maafkan kami, kami tidak bisa berbuat banyak lagi. Doakan kondisi ibu cepat pulih agar kami bisa menanganinya lebih tepat lagi, jika ibu masih belum siuman, maka kami akan kesulitan dalam memprediksi kesembuhannya kembali.
Ini juga menimbulkan luka lama yang dalam kondisi penyembuhan kembali terbuka dan meradang, ini akan sulit untuk menyembuhkannya dengan begitu cepat, semoga masa-masa kritis ini cepat beliau lalui..." ujar dokter yang menangani oma Mariani menjelaskannya didepan anak-anak dan para cucu oma.
"Apa beliau membutuhkan donor organ atau darah, dok?" tanya Nico penasaran.
"Meskipun kondisi beliau sangat kritis, tapi tidak menyebabkan organ-organnya hancur, karena titik vitalnya berada di kepalanya. Kami berharap beliau tidak mengalami mati otak, jika terjadi kecil kemungkinan bisa ... Maaf, kami memang dokter.. Tapi semuanya ada ditangan Tuhan, jangan berserah diri begitu saja, tetaplah meminta pertolongan dari-Nya.." ujar dokter sambil berlalu pergi meninggalkan koridor rumah sakit itu diiringi beberapa perawat bersamanya.
Di sana tidak hanya ada tante Sonia, om Seno dan Stacy saja, tapi ada juga Reva dan Nico bersama adik-adiknya termasuk Aaron. Sedangkan om Richard bersama William masih mengurusi berkas-berkas dan mengawasi hukuman yang akan menimpa om Adjid, tante Sarah juga Zacky dan Arlon.
"Kita tidak bisa melakukan apapun lagi kecuali berdoa kepada yang maha kuasa, jika dokter saja berkata seperti itu.. Kita harus apa," ucap om Seno gamang.
"Jangan putus asa, Om.. Ingat apa kata dokter tadi, kita harus berpikir positif dan terus mendoakan oma agar cepat sembuh, siapa tahu keajaiban akan terjadi.." ucap Reva menyahuti omnya itu.
Tiit! Tiit! Tiit!
Tiba-tiba saja bunyi alarm darurat berbunyi dari dalam kamar oma Mariani, semuanya nampak kebingungan dan panik. Perawat yang berada didalam ruangan keluar dengan terburu-buru sambil meneriakkan emergency darurat kepada perawat yang lain diluar ruangan itu.
"Sus, Sus! Ibu saya kenapa?! Ibu saya kenapa, tolong jawab saya?!" teriak tante Sonia panik.
"Ma, tenanglah! Biarkan mereka mengerjakan tugasnya dulu, kita tunggu saja disini..." ucap Stacy berusaha menenangkan mamanya.
Meskipun dia terlihat tenang, tapi perasaannya begitu bergemuruh antara gelisah, panik dan takut jadi satu. Meskipun usianya jauh terbilang lebih muda dibandingkan saudara-saudaranya, tapi sifat dan pemikirannya sangat dewasa, meskipun dulu dia pernah begitu manja dan keras kepala, juga tak peduli dengan keluarganya, tapi setelah semua permasalahan keluarga yang dia alami, membuatnya sadar dan lebih dewasa dalam bersikap.
"A-aduhhh..." tiba-tiba saja Reva merasakan nyeri dibawa perutnya, panik dan takut membuatnya mengalami kontraksi palsu.
"Sayang! Kamu kenapa? Dokter, dokter tolong istri saya!" Nico melihat Reva terlihat menahan sakit dibawah perutnya langsung panik.
"A-aku gak apa.." ucap Reva pelan menenangkan suaminya.
"Gak apa-apa apanya, lihat kamu kelihatan pucat dan berkeringat kayak gitu! Pokoknya kamu gak boleh ngebantah, ayo periksa!" ucap Nico setengah panik.
Tanpa menunggu jawaban dan keputusan Reva, dengan kekuatan luar biasanya dia mengangkat tubuh istrinya yang dua kali mungkin tiga kali lebih berat dari biasanya.
"Turunin aku, Nico! Aku bisa jalan sendiri," gemas Reva melihat kelakuan sang suami.
Nico gak perduli dengan ucapannya, dia buru-buru berjalan sambil membawa beban yang sangat berat bagi siapapun yang melihatnya, karena kandungan Reva sudah cukup besar mengingat usia kandungannya sudah memasuki usia enam bulan, yah.. Tidak terasa sudah enam bulan saja kandungannya.
"Dasar, aneh! Sempat-sempatnya berdua kayak gitu dalam kondisi kayak gini!" sahut Rendy sambil menggelengkan kepalanya melihat keduanya yang semakin menjauh.
"Sudah, dimaklumi aja! Biasa hal begitu bagi ibu hamil mengalami kontraksi palsu dalam keadaan panik, gelisah ataupun rasa takut. Makanya ibu hamil kondisinya harus dalam keadaan stabil terus dan gak boleh stress kalau gak mau terjadi apa-apa pada kandungannya.." ucap Andriana menimbali Rendy yang terlihat kebingungan seolah tak mengerti.
"Oh, begitu.." sahut Rendy, dia mulai faham apa yang diucapkan Andriana.
Sementara itu, Reva langsung ditangani oleh perawat setelah Nico beberapa kali meminta mereka memeriksa kondisi tubuh istrinya itu, padahal berulang kali Reva berteriak jika dia gak apa-apa.
"Setelah kita menikah nanti, aku akan memperlakukanmu lebih baik dibandingkan kakak ipar konyol itu!" tiba-tiba Aaron berbisik ditelinga Ericka.
Gadis itu sedari tadi hanya diam dan tersenyum kecil melihat tingkah kakak-kakaknya, langsung terdiam dan menatap lelaki yang berdiri disampingnya itu.
"Aku serius, nanti jika semuanya sudah stabil. Aku akan memenuhi janjiku kepadamu..." senyumnya merekah setelah mengatakan hal itu.
Sementara itu, didalam ruangan oma Mariani, beberapa perawat yang membantu dokter terlihat sibuk bolak-balik keluar masuk dari ruangan itu, membuat mereka yang menunggu diluar semakin panik dan bingung tak tau harus berbuat apa.
Tiba-tiba suasana menjadi hening, tidak terlihat lagi perawat yang keluar masuk dengan wajah panik, cukup lama mereka didalam ruangan itu tanpa menimbulkan suara.
"Keluarga ibu Mariani?" seorang perawat keluar menemui mereka.
"Iya, Sus! Kami semua adalah keluarganya, saya anaknya!" ucap tante Sonia terlihat panik dan langsung menghampiri perawat tersebut.
"Satu diantara kalian boleh masuk.." ucap perawat itu.
"Apa ibu saya sudah siuman?" tanya om Seno tak sabaran.
"Temui beliau dulu..." jawab perawat itu tanpa menanggapi pertanyaan om Seno.
Mendengar hal itu, semua orang nampak gamang. Entah mengapa ada perasaan aneh dan sakit mendengar jawaban perawat itu, seolah mereka sudah tahu apa yang akan terjadi.
"Kakak masuk aja, aku yakin ibu ingin mengatakan banyak hal..." ucap om Seno pelan, tanpa menatap tante Sonia.
Tante Sonia juga sudah tak bisa menahan diri, air matanya sudah jatuh sejak dari tadi semakin deras saja mengalir di pipinya yang mulai berkeriput.
Tok!
Tok!
Tok!
Tante Sonia mengetuk pintu pelan, meskipun dia masuk kedalam ruangan diikuti oleh perawat tadi dia tetap melakukan hal itu. Beberapa perawat dan dua orang dokter yang sedang berdiri didekat bangsal oma menoleh pelan kearah tante Sonia.
Mereka tampak diam tanpa melakukan apapun, mereka hanya diam sambil berdiri mengelilingi oma Mariani, perasaan tante Sonia campur aduk dengan segala pikirannya yang berkecamuk berkeliaran di kepalanya.
"Bu, ada sesuatu yang harus kami sampaikan kepada ibu terkait kondisi pasien.. Sebagai perwakilan dan juga wali dari pasien, kami harap ibu bisa bijak dalam mengambil keputusan.." ucap salah satu dokter yang ada didalam ruangan itu, dokter yang sama memeriksa kondisi oma sebelumnya.
"Katakan saja apa yang terjadi dengan ibu saya, dok.. Insyaallah saya dan keluarga bisa menerimanya, kami akan melakukan apapun untuk kebaikan beliau. Apapun, asalkan beliau kembali sembuh..." ucap tante Sonia pelan.
Meskipun dalam hatinya dia tahu apa yang akan terjadi dengan ibunya, tapi pikirannya menolak, dia masih berharap ibunya kembali seperti dulu.
"Bu, kondisi pasien saat ini... Mengalami mati otak, dengan kata lain segala kondisi otak dan sarafnya tidak bisa berfungsi lagi, dan juga menyebabkan organ yang lainnya saat ini tidak berfungsi juga, dengan kata lain..." dokter diam sejenak, menjeda ucapannya.
"Dengan kata lain kondisi ibu saya saat ini seperti mayat hidup??" sambung tante Sonia, tampak tegar tapi dalam hatinya rasanya hancur lebur.
"Bu... Sebelumnya, pasien pernah menandatangani dan menyetujui donor organ. Jika ibu dan keluarga setuju, ada beberapa pasien yang membutuhkan--" dokter dengan hati-hati menjelaskan, tapi...
"Tidak! Saya tidak akan pernah setuju mendonorkan organ ibu saya meskipun ibu saya sendiri setuju, beliau masih hidup! Tega sekali kalian melakukan hal itu!" teriak tante Sonia marah dan murka.
Beberapa perawat dan dua dokter tadi tampak kebingungan, tidak tau harus menjawab apa. Saat ini keluarga pasien sedang berduka, mereka bisa memahami tapi disisi lain, ada beberapa pasien lain membutuhkan donor baru demi kelangsungan hidup mereka, termasuk orang itu.
Tidak lama kemudian, tante Sonia keluar dari ruangan sambil menangis histeris. Melihat kondisi kakaknya seperti itu, pikiran om Seno langsung kalut dan berlari masuk kedalam ruangan itu.
"Mama! Oma, oma gimana, Ma?! Mama jangan kayak gini terus, bilang dong!" Stacy terlihat panik dan ketakutan, dia juga tak bisa menyembunyikan emosinya.
Dia juga ikut menangis kencang bersama sang mama, dia tahu apa yang terjadi didalam meskipun mama hanya menangis saja tanpa menjawab pertanyaannya. Belum lama setelah itu, seorang dokter dan juga beberapa perawat keluar dari ruangan, langsung disamperin Rendy dan Aaron, sedangkan Ericka dan Andriana sibuk menenangkan tante Sonia dan Stacy.
"Dokter, bagaimana kondisi dengan oma saya? Saya gak mau berpikir jauh meskipun hati saya mengatakan, jika ada hal buruk yang terjadi kepada beliau saat ini.." ujar Rendy kepada dokter itu.
"Kondisi pasien mengalami mati otak, kita harus mengambil keputusan soal ini. Jika dibiarkan begitu saja, tentu ini akan menyiksa pasien itu sendiri. Mungkin terlihat kejam, tapi lebih baik mengikhlaskan kepergian beliau daripada dia tersiksa begini.
Sedangkan dilain sisi, beliau juga pernah menyetujui mendonorkan organnya. Disini dan beberapa rumah sakit lainnya begitu banyak pasien menunggu harapan untuk sembuh, mereka menunggu donor organ yang baru demi kelangsungan hidup mereka.
Biarkan beliau menjalankan keinginannya untuk mendonorkan organnya, setidaknya itu akan menjadi amal ibadahnya nanti.." ucap dokter itu, Rendy dan Aaron hanya mengangguk dan mencoba memahami ucapan dokter tersebut.
"Tidak! Berulang kali aku katakan, aku tidak akan pernah setuju akan hal itu! Ibuku masih hidup, apa kalian ingin membunuhnya dengan mengambil organ-organnya?!" tiba-tiba saja tante Sonia berteriak menyahuti dokter tersebut.
Melihat reaksi tante Sonia, dokter dan beberapa perawat itu berlalu pergi, mereka mencoba memahami kondisi hati keluarga pasien saat ini. Sedangkan Ericka dan Andriana hanya diam saja sambil menangis, mereka tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena mereka sendiri tahu rasanya sakit ditinggal kepergian orang yang sangat dicintai.
"Kak, sudahlah... Meskipun sulit kita harus mengikhlaskan kepergian ibu, dan menjalankan keinginannya terakhir, melakukan satu-satunya hal baik yang pernah dia lakukan selama ini..." ucap om Seno pelan.
Dia keluar dari ruangan itu bersama dokter lain juga perawat lainnya.
"A-apa maksudnya, Seno?!" tanya tante Sonia dengan perasaan campur aduk.
"Maafkan aku, aku sudah mengambil keputusan..." ucap om Seno sambil menunduk tak berani menatap wajah sang kakak.
"Apa?!! Jahat kamu, Seno! Kenapa kamu tega sama ibu?!" teriak histeris tante Sonia.
Dia menangis semakin menjadi apalagi saat melihat om Seno memegang berkas tanda persetujuan keluarga pasien dalam menindak lanjuti kondisi tubuh pasien saat ini.
Entah terlalu sering menangis atau lelah, rasa sakit hati yang begitu dalam membuat tante Sonia tak bisa menahan sesak di dadanya, dalam tangisnya dia ambruk pingsan didalam pelukan sang putri.
"Mama! Ma, jangan kayak gini! Mama..." Stacy menangis ketakutan saat melihat sang mama jatuh pingsan begitu saja.
"Ya Allah, tante..." Andriana tak bisa lagi menahan emosi hatinya, dia sangat sedih melihat kondisi keluarga itu.
Dengan sigap beberapa perawat yang ada di sana membopong tubuh tante Sonia menuju ruangan lain untuk diperiksa, Stacy mengikutinya sambil menangis sambil diikuti yang lainnya.
Sementara om Seno dan Rendy sedang mengurus berkas juga hal lainnya mengenai pendonoran organ oma Mariani, bertepatan saat itu Nico datang bersama Reva, keduanya nampak kebingungan melihat kondisi om Seno begitu lesu dan dengan wajah pucat.
"Apa yang terjadi? Selama kita gak ada, apa terjadi sesuatu? Kok sepi, kemana yang lainnya?!" tanya Reva kebingungan.
"Sebaiknya kakak temui yang lainnya di ruangan sebelah sana, temani tante Sonia dan tenangkan Stacy juga, kasihan dia nampak ketakutan.." sahut Rendy.
"Memangnya, apa yang terjadi?" tanya lagi Reva penasaran.
"Nanti aja yah, sebaiknya kakak langsung aja ke sana. Jangan tanya-tanya dulu, biarkan mereka yang akan menjelaskan dengan sendirinya.. Dan kak Nico, yuk temani aku bantu om Seno, kasihan dia jadi gak bisa konsentrasi begitu.." jawab Rendy lagi.
"Tapi, Reva..." Nico masih memikirkan kondisi Reva.
"Udah berapa kali aku bilang, aku baik-baik aja! Jangan bikin malu napa sih, udah biasa ini mah! Baru enam bulan, HPL masih lama, pak!" ucap Reva gregetan sama Nico.
"Ta-tapi.." belum selesai Nico bicara dia sudah digeret paksa Rendy dan Reva langsung menuju ruangan tempat tante Sonia dan lainnya.
"Mama, jangan kayak gini... Aku takut, Ma.. Aku ngerasa sendirian, jika Mama terus kayak gini aku harus bagaimana? Papa, kak Zacky, oma... Semuanya pergi, jangan kayak gini, Ma..." ucap Stacy pelan sambil memeluk tubuh sang mama terbaring lemah diatas kasur bangsalnya.
Mendengar ucapan Stacy, membuat Ericka juga Andriana di sana merasa sakit dan pilu, mereka merasa berada diposisi yang sama saat ini dengan anak itu.
Sementara diluar ruangan itu, Reva berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca saat tak sengaja mendengar ucapan Stacy tadi. Sekilas memori masa lalu datang menghampirinya, kehilangan orang yang dia cintai, hubungan dengan ayah dan ibu tiri yang begitu buruk, adik yang selalu tersiksa.
"Tidak, jangan ada Reva dan Ericka lain yang harus mengalami hal yang sama seperti kami dulu..." gumamnya pelan.
...----------------...
Bersambung