
Sementara itu, Rendy berjalan santai turun dari apartemennya menuju food court yang tak jauh dari sana. Dia membeli beberapa makanan favoritnya dan juga Reva.
Ketika dia hendak kembali, sekilas dia seperti melihat seseorang yang nampak tak asing baginya. Dia berusaha tak peduli, tapi gadis itu begitu menarik perhatiannya.
"Siapa dia? Kenapa aku rasanya begitu mengenalnya? Aku harus ikuti dia.." ujarnya penasaran.
Dia sudah tak peduli lagi tentang makanan dan Reva, dia langsung menuju mobilnya mengikuti mobil yang membawa gadis itu. Mobil itu berhenti di sebuah gedung besar bertingkat tiga, dengan dikelilingi pepohonan rindang dan taman hijaunya.
"Ke-kenapa dia berhenti disini?" tanyanya gugup penasaran.
Karena gadis yang dia lihat itu menuju gedung yayasan Mutiara Hati milik mendiang ibunya, yang sekarang diurus olehnya juga Reva.
Rendy buru-buru memarkirkan mobilnya, dia tak peduli dengan penampilannya sekarang ini, kaos oblong dengan celana kolor selutut dan sandal jepitnya yang ada tulisan Supreme nya.
Gadis itu masuk ke gedungnya, dia ditemani beberapa orang yang keluar dari mobil itu. Rendy pikir gadis itu hanya ditemani beberapa orang didalam mobil itu saja, dia tak tahu jika mobil gadis itu juga diikuti mobil lain, yang kemungkinan bodyguard nya.
"Sialan, siapa dia?! Apa tujuannya kemari? Apa ini bagian dari rencana Elena?!" ujarnya penasaran.
Dia masuk dengan cueknya kedalam gedung itu, dia di sapa oleh security yang berjaga didepan dengan anggukan saja. Security itu nampak bingung dengan bosnya itu yang berpenampilan seperti itu.
Biasanya Rendy jika datang ke kantor yayasan itu selalu berpenampilan rapi, agar orang-orang bisa menilainya lebih baik dan bisa disegani lagi. Terkadang orang hanya bisa menilai orang dari apa yang mereka pakai, bahkan tau orang yang dia nilai itu dari kalangan mana, dengan menilai apa yang dia pakai.
"Se-selamat siang, Pak" sapa resepsionis didepan lobby kantor terkejut dengan kedatangan atasannya itu.
"Siang, siapa wanita yang datang barusan itu?" tanya Rendy sambil menunjuk gadis yang naik kedalam lift tadi.
Dia tak ada waktu untuk berbasa-basi, dia hanya ingin tahu siapa gadis itu dan untuk apa dia datang kesana, seingat dia tak memiliki janji temu dengan tamu lainnya.
"Wanita itu tadi bilangnya dia adalah putri dari mendiang ibu Larasati, yang kami tahu mendiang adalah pendiri dari yayasan ini. Dan dia bilang sudah ada janji temu dengan pimpinan yayasan ini" ujar resepsionis itu gugup, dia tahu bahwa atasannya datang dengan tergesa-gesa seperti itu pasti ada hal yang mendesak.
"Kamu tau kan kalau aku pimpinan dan ketua yayasan ini selain bu Reva?! Dan seingatku hari ini aku tak ada janji apapun dengan tamu lain!" ujar Rendy lagi.
"Ma-maaf, Pak. Jika saya lancang, semenjak Bu Reva kecelakaan, beliau tidak pernah datang lagi ke yayasan. Dan semenjak hari itu yayasan ini kosong tanpa da kepemimpinan baik itu dari bu Reva dan Bapak.
Jadi, para pimpinan lainnya memutuskan untuk meminta bu Elena untuk menjabat sementara. Ka-kami hanya menjalankan perintah dari atasan saja, Pak.." ujar resepsionis itu sambil menunduk takut.
"Hufft!" Rendy menghela nafas dengan beratnya.
Dia juga tak bisa menyalahkan orang atau anak buahnya yang lain, itu memang kesalahannya dia tak pernah memperhatikan yayasan ini, dia hanya sibuk dengan perusahaan dan bisnis lainnya saja.
"Ya sudah, katakan padaku.. Siapa yang datang hari ini, maksudku siapa nama pimpinan yayasan yang bertanggung jawab saat ini selain Elena?" tanya Rendy.
"Pak Herman, Pak. Saat ini hanya beliau yang ada di kantor saat ini, dan saya kira tamu tadi datang menemuinya" jawab resepsionis itu.
"Kenapa hanya dia pemimpin yang datang hari ini? Yang lain kemana?!" tanyanya penuh selidik.
"Sa-saya kurang tahu, Pak. Mereka biasanya begitu, datang hanya beberapa hari saja semenjak tak ada bu Reva yang datang mengawasi" ujar resepsionis itu lagi.
Rendy menghela nafasnya berat, dia harus bekerja dari awal lagi untuk mendisiplinkan para pegawai itu di yayasan ini. Sepertinya mereka merasa bebas semenjak tak ada Reva.
"Baiklah, jangan katakan siapapun jika aku datang hari ini!" ucap Rendy memperingati resepsionis itu.
Diapun naik kelantai atas lewat tangga darurat yang tidak jauh dari lift di sana, dia tak ingin mengejutkan para pegawai lainnya dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu, apalagi dengan penampilan seperti itu.
Setibanya di lantai tiga, lantai paling atas tempat para petinggi yayasan itu berada. Dia sedikit mengatur nafasnya yang kelelahan menaiki anak tangga itu.
"Aku harus banyak berolahraga lagi, ah! Capek" gumamnya sendiri sambil mengelap keringat di dahinya.
Lantai itu tidak dijaga ketat ataupun dijaga oleh resepsionis didepan lobby lantai itu, hanya ada beberapa ruangan para petinggi yayasan itu yang dijaga oleh sekretaris atau asistennya didepan ruangan masing-masing.
Jadi sepanjang koridor itu sepi, jadi Rendy bisa leluasa bisa melewatinya menuju ruangan pak Herman. Sebelumnya, dia meminta resepsionisnya tadi untuk memanggil sekretaris pak Herman.
Agar Rendy bisa bebas masuk tanpa diketahui oleh siapapun, dia menyelinap masuk ke ruangan itu dan bersembunyi dibalik dinding perbatasan antara ruangan sekretaris itu dengan ruangan bosnya.
Banyak alasannya, mengaku saudaranya, anaknya, orang kepercayaannya lah.. Aku tidak mudah percaya begitu saja, kecuali anda bisa membuktikannya padaku" ujar pak Herman menanggapi pernyataan gadis itu.
"Jadi, kau tak percaya padaku?" ujar gadis itu sambil tersenyum sinis.
Pak Herman hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia hanya terkekeh kecil merendahkan gadis itu.
"Pak, saya mau tanya.. Sudah berapa lama anda bekerja di yayasan ini? Apa anda mengenal baik mendiang bu Larasati?" tanya gadis itu, yang tak lain tak bukan yaitu Ericka.
"Sebelumnya aku bekerja di perusahaan milik mendiang, lalu aku dipindahkan ke yayasan sampai sekarang. Kurang lebih 25 tahun aku mengabdi.
Tapi, mendiang tak pernah memberikan aku reward apapun selama pengabdianku. Aku tak dihargai selama bekerja disini! Semenjak bu Elena yang memegang kendali, hidup kami sejahtera" ujar pak Herman menjelaskan semuanya.
Ericka mendengar hal itu hanya tersenyum sinis melihat perilaku orang didepannya saat ini, dia meminta laptop ke sekretarisnya dan membuka sebuah file didalam sana.
"Hermanto Dardak, usia 58 tahun bekerja di yayasan Mutiara Hati sudah 25 tahun lamanya. Salah satu pegawai terbaik milik mendiang Larasati.
Namun semenjak bekerja di yayasan, Pak Herman ini sudah mulai kehilangan jati diri. Seperti, korupsi dana sosial, melakukan transaksi diluar kesepakatan perusahaan, dan melakukan pungli bagi para pencari beasiswa.
Jadi kenapa ia tak di naikan jabatannya, karena itu ulahnya sendiri. Masih untung mendiang Larasati masih mau menerimamu bekerja disini, meskipun kau berulang kali mengkhianatinya.
Karena apa? Karena dia masih memikirkan anak istrimu itu, jika kau dipecat dan dipenjara, bagaimana dengan hidup mereka.
Anak-anakmu itu mungkin tidak akan menikmati hidup semewah ini.
Ada yang kuliah di luar negeri, ada yang jadi dokter, bahkan istrimu itu bisa hidup mewah sebagai salah satu sosialita yang berkelas" ujar Ericka tersenyum.
"Ba-bagaimana kau bisa tahu semuanya?!" ujar pak Herman terkejut.
"Apa yang tak diketahui oleh seorang Ericka Wijaya" senyumnya mengembang puas.
Rendy yang bersembunyi mendengarkan percakapan mereka sangat terkejut mendengar nama itu, badannya gemetar dan lemas, seketika pikirannya kacau tak bisa mendengar dengan fokus apa yang mereka bicarakan didalam.
"E-Ericka?! A-adikku?!" gumamnya tak percaya.
Ketika dia masih lemas mendengar apa yang dia dengar didalam ruangan itu, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara sepatu yang semakin mendekat kearah ruangan itu.
"Aku harus bagaimana ini?! Berpikirlah, ayo Rendy cari tempat bersembunyi" gumamnya panik.
Entah karena kurang fokus atau tidak ada waktu untuk berpikir, dia memilih bersembunyi dibawah meja sekretaris itu.
"Ah, kenyang juga. Untuk si Dessy ngajak makan siang bareng, kalau tidak aku bisa kelaparan ini sambil nungguin bos gak kelar-kelar masalahnya" terdengar suara wanita diluar pintu itu.
Dia langsung duduk di kursinya tanpa mengetahui ada seseorang dibawah mejanya, wanita itu memakai rok mini dengan belahan disampingnya memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus itu.
Rendy yang bersembunyi itu tak sengaja melihat kain kecil menyelip diantara dua pa.ha wanita itu, kain segitiga warna merah maroon dengan motif jaring laba-laba sedikit memperlihatkan area sensitif wanita itu.
Rendy yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menelan salivanya kasar, bagaimanapun juga dia lelaki normal yang bisa naf.suan juga melihat itu.
"Sialan, kenapa harus begini sih?!" gerutunya kesal dalam hati.
Sementara itu didalam ruangan itu Ericka masih bernegosiasi dengan pak Herman, dia membeberkan beberapa bukti korupsi lelaki tua itu.
"Kau tak bisa mengelak lagi, jika ingin hidup dengan nyaman kau harus ikuti perintahku jika tak ingin aibmu itu tak tersebar luas.
Jika tak ingin istrimu itu mengamuk lagi, dan ingatlah.. Jangan coba-coba berkhianat denganku, atau hidupmu berakhir di tanganku sia-sia" ujar Ericka sambil menatapnya dingin.
Pak Herman hanya diam saja, percuma saja dia berkata tak ada gunanya, dia sudah dikuliti habis aibnya oleh Ericka. Mau gak mau dia harus menurut saja.
...----------------...
Bersambung