
Tante Sonia dan Stacy langsung pulang dari acaranya Rendy setelah mendapat kabar dari om Reno tentang keadaan oma Mariani, mereka langsung menuju rumah sakit tempat oma Mariani dirawat.
"Biarkan aku ikut bersama mereka, kalian tetap disini aja. Jangan buat kegaduhan lagi, cukup tadi saja acara sempat tertunda akibat penjebakan si Zacky dan Arlon," ucap Nico kepada semuanya.
"Aku ikut, Kak. Biar mama disini aja sama adikku, di sana ada papa kan? Aku juga pengen tau keadaannya!" pinta Azka.
"Ya udah, kamu boleh ikut. Erick juga ikut yah buat bantuin aku jika ada sesuatu yang harus dilakukan, kamu bisa kan?" tanya Nico.
"Siap, bos!" jawab Erick semangat.
"Kalian semua tetap disini saja, terutama kamu yah sayang.. Jagain baby kita, dan Ericka awasin kakak kamu yah, Aaron perhatikan situasi, William sekarang ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait dengan penangkapan Zacky dan Arlon.
Dan jangan buat para tamu curiga, kasihan Rendy dan Andriana mereka dicecar terus sama para tamu perihal peristiwa tadi, benar-benar memalukan sekali. Oke, ngerti ya?" ujar Nico memberikan pengarahan kepada yang lain.
"Oke?" jawab Aaron mengerti.
Sedangkan yang lain hanya menjawab dengan anggukan saja, mereka sudah tahu ini semua akan terjadi, tetapi perihal penyerangan terhadap oma diluar kendali, mereka tak menyangka sekali opa Harja sampai nekat seperti itu.
.
.
Di rumah sakit, om Seno terlihat gelisah sekali. Dia sedang menunggu hasil pemeriksaan dari oma Mariani dan opa Harja, sedangkan om Richard langsung ke kantor polisi untuk memberikan keterangan soal penyeludupan dan pembobolan yang dilakukan oleh om Adjid dan tante Sarah.
"Seno!" teriak tante Sonia diujung koridor rumah sakit itu.
Dia berlari menghampiri adiknya itu, pikirannya campur aduk tidak tahu harus bagaimana, ibunya masih begitu lemas belum sembuh total dan tiba-tiba mendapatkan serangan mendadak seperti ini, dia tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu kepada beliau, dia begitu trauma dengan semua ini.
"Ibu, ibu bagaimana?!" tanyanya panik, nafasnya tersengal-sengal menahan gemuruh di dadanya.
"Tenanglah, sekarang masih ditangani oleh dokter.." jawab om Seno lemah.
Dan masih terbayang dengan jelas ketika ia mendapati opa Harja dengan ganasnya menghujami ibunya dengan pisau belati, darah segar mengalir deras dari luka menganga itu, dia sampai syok tak tahu harus berbuat apa.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa ibu bisa diserang seperti itu?! Apa kau tak menjaga ibu? Para pengawal pada kemana?!" teriak tante Sonia penuh emosi.
"Aku dan lainnya tak terpikirkan kalau tujuan utama mereka menyelusup masuk ke dalam rumah adalah untuk melukai ibu, aku pikir mereka hanya ingin mengambil berkas-berkas dan harta benda lainnya saja.
Ternyata itu hanya pengalihan saja, ketika kami sibuk dengan dua pengkhianat itu, di sanalah lelaki tua itu berhasil menyelinap masuk ke kamar ibu.
Dan tentu saja saat itu para penjaga sedang lengah sedikit, dia berhasil masuk, ada bukti Cctv-nya. Dia juga terluka karena mencoba bunuh diri, lelaki tua itu ternyata mencoba melarikan diri dengan mengakhiri hidupnya, sungguh cara sangat pengecut sekali!" ucap om Seno menjelaskan semuanya.
"Dan kedua orang itu?" tanya tante Sonia lagi.
"Sudah dibawa ke kantor polisi oleh Richard, termasuk juga beberapa orang dalam yang membantu mereka selama ini. Kita lupa kalau di rumah ini masih ada beberapa orang kepercayaan mereka.
Ini semua salahku, jika aku tak teledor dan gegabah mungkin penyerangan itu tidak terjadi.." ucap om Seno tertunduk lesu menyesali semuanya.
Tante Sonia juga terdiam ketika mendengar ucapan adiknya itu, dia sempat berpikir apa yang dia ucapkan tadi juga salah, tak sepatutnya dia menyalahkan adiknya seperti itu.
"Maafkan atas ucapanku tadi, aku hanya emosi sesaat. Kau tau, tadi aku baru saja melihat langsung bahwa anak-anak kita tertangkap basah menerobos masuk ke kediaman anak-anaknya Larasati, bahkan mereka juga mencuri berkas-berkas penting perusahaan yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Aku malu sekali dengan semua orang, di pesta itu begitu banyak orang-orang penting termasuk beberapa relasi dan rekan bisnis kita juga ada yang datang, bahkan wartawan juga ada. Aku tau ini semua kita yang merencanakan penjebakan ini, tapi aku tak menyangka sesakit itu rasanya dikhianati oleh anak sendiri.
Sakit dikhianati pasangan sudah biasa, tapi anak.. Entahlah, dan sekarang keadaan ibu yang malah seperti ini. Aku tidak tau, Seno.. Apa aku bisal kuat untuk selanjutnya," ucap tante Sonia lirih.
"Mama, masih ada aku.." ucap Stacy sambil memeluk mamanya dari belakang.
"Maafkan mama, nak.." ucap tante Sonia menangis dipelukan sang putri.
Stacy hanya menggeleng dan memeluk erat tubuh mamanya yang mulai rapuh itu, dia harus kuat untuk melindungi dan menjaga mamanya, itu yang dia pikirkan saat ini.
"kak.." Azka memanggil Nico pelan.
"Jangan sekarang, Azka. Waktunya tidak tepat.." jawab Nico pelan.
Mereka masih terharu melihat penderitaan keluarga itu, sekilas Nico teringat perjuangan Reva mempertahankan keluarganya sendirian, dimana Ericka masih begitu polos dan Rendy yang begitu dingin.
"Papamu berada di kantor polisi bersama dengan beberapa orang yang membantu penjebakan ini, kau disini saja untuk menemani Stacy yah! Kakak mau mengecek keadaan yang sebenarnya.." ujar Nico lagi.
"Ta-tapi, kak.." Azka terlihat gelagapan saat diminta untuk menemani Stacy.
Meskipun mereka begitu nampak akrab disaat pesta tadi, bukan berarti mereka sudah sangat dekat. Ini adalah pertemuan mereka yang kedua dan itu juga tanpa sengaja.
"Nak, kau putranya Richard?" tanya om Seno kepada Azka.
"I-iya, om.." jawab Azka kikuk.
"Bisa minta tolong?" tanya om Seno lagi.
"Kalau bisa, saya mau bantu.. Apa itu, om?" jawab Azka sopan.
"Kau temani Stacy dan mamanya disini, om mau pergi sebentar dengan Nico, ada yang harus kami kerjakan sebentar.." jawab om Seno.
"Iya, om. Bisa.." ujar Azka sambil tersenyum tulus.
.
.
Sementara di kantor polisi, William dan om Richard bertemu dan kebetulan kasus mereka juga sama dan saling berkaitan. Sedangkan Zacky dan Arlon begitu terkejut saat melihat orang tua mereka digiring juga ke kantor polisi.
"A-apa yang kalian lakukan disini?!" tanya om Adjid kebingungan.
"Papa dan tante Sarah juga ngapain disini? Apa kalian ketahuan berbuat tak senonoh?!" tanya Zacky dengan pandangan jijik.
"Jaga ucapanmu, Zacky! Aku ini papamu!" ujar om Adjid begitu marah dengan ucapan anaknya itu.
"Tapi benar kan, aku sudah tau semua kelakuan kalian berdua, semua orang malah! Tak heran jika akhirnya kalian berada disini.." sahut Zacky tak menghiraukan ucapan papanya tadi.
"Dan kalian, apa yang kalian lakukan disini?!" tanya juga tante Sarah penasaran.
"Mereka disini kasusnya sama dengan kalian, sama-sama menyelusup masuk ke rumah orang dan mengambil sesuatu yang bukan haknya, dengan kata lain.. Mencuri, maling!" sahut William dengan tiba-tiba.
Mereka semua terkejut dengan kedatangan lelaki itu, mereka kompak memalingkan wajahnya saat bertatapan langsung dengan William, entah itu karena perasaan malu atau perasaan menahan amarah.
"Kenapa setiap ada masalah selalu ada kamu?!" tanya Arlon dengan perasaan muak.
"Yaahh.. Bagaimana lagi, profesiku adalah pengacara, jadi aku selalu ada untuk menyelesaikan setiap permasalahan klienku. Dan kebetulan klienku itu selalu berhubungan dengan kalian!" jawab William dengan entengnya.
"Dasar, bedeb.ah! Kau senang kan melihat kami semua hancur, ini semua akibat ulah kakekmu itu! Dia yang merencanakan ini semua!" teriak Zacky tak terima.
Arlon terkejut dengan pengakuan Zacky yang tiba-tiba itu, dia menendang kaki saudara sepupunya itu mengisyaratkan untuk berhati-hati karena didepan mereka bukan hanya ada William, tapi ada polisi juga.
"Soal itu, kau dan lainnya bisa katakan didepan para penyidik. Dan terima kasih atas pengakuanmu tadi, setidaknya memudahkan pemeriksaan ini.." ujar William sambil tersenyum sinis.
"Mari kalian semua ikut saya, penuturan saudara tadi kami anggap sebuah pengakuan. Mari!" ujar penyidik dari kepolisian tadi.
Mereka tak bisa mengelak lagi, mau tak mau harus mengikuti semuanya, Arlon begitu kesal dengan Zacky yang tak bisa mengontrol emosinya dan menyebabkan ini semua terjadi.
"Jika dari awal kau mendengarkan aku, mungkin ini semua tidak akan terjadi!" gerutunya kesal.
"Kenapa? Kau menyesal?! Terlambat, bukankah kau juga begitu bersemangat saat ingin mencari surat-surat itu!" Zacky pun tak terima disalahkan, tanpa harus ditutup-tutupi lagi dia menceritakan semuanya yang terjadi dan tak mau disalahkan sendirian.
Para penyidik membiarkan mereka saling berdebat dan saling menyalahkan, secara tidak langsung keduanya mengakui perbuatannya dan malah membocorkan semua rencananya termasuk dalang dibalik semua ini.
Sedangkan om Adjid dan tante Sarah merasa malu dengan tingkah keduanya, mereka terus menunduk enggan menunjukkan wajah keduanya, apalagi di sana juga ada wartawan terus merekam wajah mereka.
Sedangkan William dan beberapa rekan pengacaranya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bodoh mereka berdua, setidaknya para penyidik itu tak perlu lagi banyak bertanya karena sudah mereka ceritakan semuanya.
.
.
.
Sedangkan dikediaman Wijaya Mansion, acara sudah selesai, terpaksa diakhiri lebih cepat dari jadwal semula. Akibat kejadian itu, mereka tak bisa menghindari dari berbagai pertanyaan dari para tamu ataupun wartawan, sehingga harus dibubarkan begitu saja.
"Maaf yah, jadinya begini.." ucap Rendy merasa tak enak.
"Gak apa kok, lagian ini juga bagian dari rencana kita. Sudah pasti ini semua akan terjadi, jadi.. Jangan merasa bersalah seperti itu, lagian aku juga udah capek banget ini! Kaki rasanya nyut-nyutan gak biasa pakai heels!" ujar Andriana sambil memijit-mijit kakinya pegal.
"Makasih yah, mungkin kedepannya kita juga bakalan ngadepin hal beginian lagi," ujar Rendy.
"Tau, udah biasa! Dari awal aku kerja sama almarhum pak Dewantoro, udah sering ngadepin kayak gini.. Jadi tenang aja, aku siap dengan segala kemungkinan yang ada, hehe!" jawab Andriana santai, berusaha rileks.
Dia tidak mau Rendy merasa tidak enak hati dengannya, dia juga senang bisa melakukan segalanya untuk keluarga itu, setidaknya dia bisa membalas budi kebaikan pak Dewantoro dulu kepada mendiang ayahnya.
"Aku bersyukur bisa menemukanmu, jika itu gadis lain mungkin mereka sudah pergi karena tidak akan pernah bertahan ataupun mampu melewati ini semua bersamaku," ucap Rendy lagi.
"Makanya Allah menjodohkan kamu denganku karena segala kekuranganmu bisa aku terima, dan segala kelebihanmu bisa aku dapatkan, haha!" jawab Andriana sekenanya, dia paling malas digombalin seperti itu oleh Rendy, gak kuat!
"Dasar, padahal aku lagi terharu dan mencoba suasana romantis sama kamu.." sungut Rendy.
"Apa itu romantis? Makanan kah, ah! Aku lapar..." jawab Andriana semakin membuat Rendy kesal.
Dia berlalu pergi meninggalkan Andriana yang disangka gadis itu dia lagi ngambek, dan ternyata balik lagi dengan semangkuk Zupa soup.
"Makan ini aja, enak dan lumayan bikin kenyang. Jangan makan yang berat-berat kalau malam, ingat untuk memakai gaun ini katanya kamu butuh perjuangan!" ucap Rendy sambil menyodorkan semangkok soupnya.
Andriana jadi teringat kembali saat dia memakai gaun pesta malam ini, dia sampai bersusah payah karena ukurannya kurang pas, dia merutuki dirinya sendiri kenapa tak menjaga berat badannya sejak dulu.
"Aku,, gemuk yah..." ujarnya sambil mengaduk-aduk soupnya tanpa dimakan.
"Yah, salah ngomong lagi dah gw.." gumam Rendy sambil tepok jidat.
...----------------...
Bersambung