Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Saling Memanfaatkan


Setelah malam tiba, mau gak mau Reva pulang bersama Nico. Dia tidak ingin terus-terusan mengganggu adiknya dan membuat suaminya khawatir terus, meskipun dia masih kesal dengan mereka.


"Kamu masih lapar? Kita singgah sebentar ke food court didepan sana yah, aku mau beliin kamu makanan.." ujar Nico sambil tersenyum.


"Kamu kenapa sih?! Dari tadi sibuk mikirin makanan terus! Aku gak lapar Nico, tadi juga makannya banyak banget. Stok makanan diperut masih banyak!" ujar Reva kesal.


Dari siang sampai malam ini sikap Nico begitu aneh menurutnya, semenjak dia makan dengan lahapnya suaminya itu begitu perhatian soal makanannya.


"Apa dia khawatir ya? Tapi kenapa? Masa iya hanya karena aku makan dengan lahap dia mikirnya aku kelaparan terus, aneh nih anak" gumam Reva dalam hatinya.


Sementara di apartemen, Rendy masih mengingat kejadian tadi siang. Dia masih sangat penasaran apa yang dia dengar tadi tidak salah kan? Itu benar-benar adiknya!


"Besok katanya dia akan datang lagi ke yayasan, aku juga harus menemuinya. Aku harus memastikan jika dia benar-benar adikku atau hanya seorang penipu" ujarnya.


Tiba-tiba dia juga teringat dengan kejadian menjijikan tadi siang juga, dimana dia harus menyaksikan adegan tak pantas pak Herman dengan sekretarisnya.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Andriana, dia memintanya untuk mencari data pribadi pak Herman dengan sekretarisnya itu. Rendy akan mencari kelemahan mereka, untuk membuat mereka sadar diri agar tidak berkhianat ataupun mencoba mengambil keuntungan satu sama lainnya.


//


Sementara itu, dikamar Ericka sedang memikirkan rencana selanjutnya. Dia beberapa kali membuka laptopnya dan mencari data informasi tentang perusahaan dan yayasan mendiang ibunya.


"Aku harus membantu kedua kakakku untuk mengurus perusahaan dan yayasan itu, tapi bagaimana caranya agar tidak ketahuan. Aku tak ingin mereka menyadari kehadiranku.


Aku takut, ketika bertemu dan melihat mereka hatiku goyah dan aku tidak fokus. Aku merindukan mereka, tapi aku tak ingin pikiranku terpusat dengan mereka.


Nanti, suatu saat nanti aku akan datang dan menemui mereka langsung tapi tidak sekarang ini. Saat semuanya sudah selesai, saat semuanya sudah berakhir, aku berjanji akan menemui mereka lagi" gumamnya.


Ting!


Dia mendapatkan sebuah pesan dan email dari salah satu anak buahnya, dia terkejut mendapat kabar jika kedua kakaknya sudah mengetahui kehadiran dirinya.


"Aku harus bagaimana ini? Apa aku harus pergi saja dari tempat ini? Tidak! Aku tidak ingin pergi begitu saja. Aku harus memberi mereka pelajaran dan sadar diri, siapa mereka sebenarnya di rumah ini.


Terutama para pelayan di rumah ini, selama ini mereka menganggapku sebagai tuan Putri sampah! Akan aku tunjukkan seperti apa sampah yang sebenarnya" ujarnya geram.


Setelah itu dia beranjak pergi dari kamarnya turun ke lantai bawah menuju ruang kerja pribadi ayahnya itu, saat dia melewati ruang keluarga dia mendengar percakapan antara Elena dengan Pramudya.


"Ibu, sampai kapan anak itu terus berada disini? Terus terang aku merasa tidak nyaman dengannya. Aku khawatir dia akan berbuat macam-macam dengan kita" ujar Pramudya.


"Kau tak usah takut ataupun berpikir hal yang bukan-bukan, dia bukan siapa-siapa di rumah ini. Sampai kapanpun rumah ini adalah rumahku, rumah kita!


Aku akan menyingkirkan anak itu, aku akan mengusirnya dari sini seperti aku mengusir mendiang ibunya itu! Hal yang mudah bagiku melakukan semua itu" ujarnya tersenyum sinis.


Ericka terkejut mendengar sebuah fakta yang tak dia ketahui selama ini, dia benar-benar marah dengannya tapi dia harus mengontrol emosinya. Untung saja dia selalu membawa ponselnya, jadi dia bisa merekam setiap momen aneh di rumah itu sebagai alat untuk menghancurkan mereka semua.


"Tunggu saja pembalasanku nanti, aku akan membuatmu menderita lebih sakit dibandingkan apa yang dirasakan oleh mendiang ibuku.


Aku akan membuat kalian satu persatu hancur sampai kebawah, dimulai dari anak-anakmu dulu, setelah itu kau kuhancurkan" gumamnya sambil memperhatikan mereka.


"Ibu, kapan Pricilia akan keluar? Calon tunangannya akan datang minggu depan, jangan sampai pertunangan mereka batal karena mereka mengetahui statusnya saat ini" ujar Pramudya.


"Aku akan usahakan dia keluar beberapa hari ini, aku punya kenalan orang dalam kepolisian ini. Seperti biasa, kekuatan uang tak ada yang bisa mengalahkannya" ujar Elena sambil tersenyum sumringah.


Ericka menggelengkan kepalanya mendengar penuturan mereka, dia tak habis pikir dengan pikiran licik otak mereka itu.


"Kalau harus menunggu karma, tidak tau kapan akan datangnya. Jika ada cara lain yang lebih cepat untuk membalasnya, kenapa tidak!" gumam Ericka.


"Tapi, kenapa Pricilia ditahan? Apa yang terjadi sebenarnya?" ujarnya lagi heran.


Setelah selesai memperhatikan mereka diam-diam dan merekam percakapan itu, ia langsung menuju ke ruangan ayahnya tanpa disadari oleh Elena maupun Pramudya.


"Mau apa lagi, Ericka?! Ayah tak ada waktu untuk berdebat denganmu lagi, kau lihat pekerjaanku masih banyak, kasihan Bram harus pulang larut lagi" ujar pak Dewantoro pelan.


Sepertinya dia benar-benar sudah merasa lelah, mungkin dia stress frustasi karena kedatangannya atau ada hal lain, Ericka tak tahu. Satu hal yang membuatnya sedikit terenyuh, saat pak Dewantoro tanpa sadar sudah mengakuinya sebagai putrinya.


"Kalau begitu, biarkan mas Bram istirahat Ayah.. Kasihan harus lembur tiap hari, pasti anak istrinya menunggunya pulang" ujar Ericka berusaha lembut bicara dengan pak Dewantoro.


"Tapi pekerjaan ini--" pak Dewantoro masih pusing dengan ribetnya tumbukan berkas yang tak ada habis-habisnya ini.


"Soal ini aku bisa membantumu, Ayah harus percaya padaku. Setidaknya beri aku kesempatan untuk membuktikan diri" ujar Ericka berusaha menyakinkan dirinya.


Pak Dewantoro nampak sedang berpikir, dia juga melihat mas Bram sepertinya juga sudah kelelahan. Ericka berpikir, lebih baik mendekati ayahnya ini dengan lembut seperti yang dilakukan oleh Elena.


Dengan mengambil hatinya, mungkin dirinya akan lebih mudah menyingkirkan Elena dan anak-anaknya. Setelah itu dia akan membuat ayahnya menyesal seumur hidupnya dengan apa yang dia lakukan selama ini.


"Aku selama di London, berkuliah dengan baik. Para guruku adalah yang terbaik, mereka semua berasal dari berbagai universitas terkenal dan terbaik dari seluruh dunia.


Ayah juga tak perlu khawatir dengan kinerjaku, aku bisa membuktikannya sekarang juga. Karena sambil belajar teori, aku juga langsung praktek di lapangan kok" ujar Ericka lagi.


Karena melihat ayahnya masih terlihat ragu, dia langsung mengambil beberapa berkas diatas meja itu, dan langsung mengerjakannya dibawah bimbingan dan arahan mas Bram.


Tidak butuh waktu lama, dia langsung bisa melakukan itu semua, dia menyerahkan hasil pekerjaannya kepada pak Dewantoro. Ayahnya itu nampak berdecak kagum dengan hasil kerjanya itu, pekerjaannya jauh lebih tersusun rapi dibandingkan dengan dirinya sendiri.


"Baiklah kalau begitu, kau sudah membuktikan dirimu bisa bekerja dengan baik dan sempurna. Dan Bram, kau bisa pulang dan beristirahat di rumah.


Besok kau bisa libur beberapa hari, luangkan waktumu dengan keluargamu. Aku akan memberikan bonus kepadamu atas kinerjamu selama ini" ujar pak Dewantoro senang.


"Benarkah? Wah, terimakasih Pak! Saya senang sekali atas kebaikan Bapak selama ini, tapi.. Saya hanya libur kan, bukan dipecat?" ujar mas Bram masih ragu.


"Kau libur, Bram! Tenang saja, aku takkan membuang orang kepercayaanku begitu saja apalagi kau sangat loyal dalam bekerja" ujar pak Dewantoro menyakinkannya.


Setelah yakin dan percaya, mas Bram langsung pulang setelah membereskan pekerjaannya dengan senang, melihat itu Ericka juga ikut senang melihatnya.


"Dan kau, Ericka... Katakan padaku, apa maumu?" tanya pak Dewantoro.


"Aku minta tidak terlalu banyak padamu, satu hal yang pasti dan kau tahu betul itu apa. Aku tidak hanya diakui olehmu saja, tapi aku juga ingin diakui oleh semua orang yang ada di rumah ini.


Dan beri aku hak yang sama seperti yang lainnya di rumah ini, dan satu hal lagi... Biarkan bi Mirna dan Mirah kembali ke posisinya seperti dulu.


Jika kau mengabulkan permintaanku, aku akan membantumu bekerja di perusahaanmu itu. Aku tau dari orang-orang jika usaha dan bisnismu itu menurun semenjak ditinggal kak Rendy.


Dan ayah juga tau, istri dan anak-anak tirimu itu tidak bisa apa-apa kecuali membuang-buang waktu dan uangmu saja" ujar Ericka bernegosiasi dengan pak Dewantoro.


Terlihat pak Dewantoro sedang berpikir, Ericka berharap ayahnya itu bisa mengabulkan permintaannya itu. Karena itu salah satu jalan paling mudah menjalankan misi balas dendamnya.


"Tidak salahnya mengikuti saran anak ini, karena aku yakin dia juga anakku.. Soal urusan rumah ini memang pantas bi Mirna dan asistennya itu mengerjakannya, anak baru itu bisanya membuat masalah saja, jika bukan Elena atas bujukan Pricilia dulu, mana mau aku menggantikannya.


Dan urusan kantor aku juga harus mencoba percaya dengannya, aku yakin dia bisa mengembalikan kejayaan usaha dan bisnisku lagi.


Aah! Maafkan aku, Elena. Aku yang tak bisa menjaga sikap dan omonganmu, jangan salahkan aku lebih memilih anak-anakku. Karena mereka lah selama ini membuatku jaya" pikir pak Dewantoro.


Dia tersenyum sumringah, merasa bisa memanfaatkan Ericka tapi tidak sadar jika dirinya lah yang dimanfaatkan.


"Baiklah, aku setuju! Mulai besok kamu bisa melakukan apa yang kamu mau, aku juga akan memberikan perintah dan surat keputusan untuk menunjuk kembali bi Mirna sebagai kepala pelayan lagi" ujar pak Dewantoro mantap dengan keputusannya.


Keduanya tersenyum puas dengan keputusan itu, masing-masing larut dengan pikirannya. Sama-sama berpikir untuk memanfaatkan satu sama lain.


...----------------...


Bersambung