
Keesokan harinya, semuanya berkumpul dan sarapan bersama. Nico sengaja mengumpulkan mereka, karena semalam mereka begitu sibuk melayani para tamu yang ingin berjumpa dengan baby R.
"Sorry, aku baru bisa ngobrol sama kalian seperti ini lagi. Beberapa hari ini aku disibukkan dengan urusan si Ryonza dan bisnis lainnya yang sempat tertunda.." ucap Nico kepada mereka semua.
"Santai aja bos, semuanya sudah aman terkendali jadi gak usah mikirin semuanya. Soal kita jarang ngumpul dan mengobrol seperti ini, harap masing-masing bisa memaklumi semuanya. Karena kita semua memiliki kesibukan tersendiri.." sahut William.
"Aku senang sekarang kita tak pusing lagi memikirkan semuanya lagi, yah.. Meskipun pekerjaan lainnya masih banyak menanti, setidaknya kita gak pusing mikirin segala konflik ataupun masalah lain diluar pekerjaan.
Aku capek selalu berurusan dengan hukum dan penjahat, aku ingin hidup tenang sekarang bersama istri dan anakku. Rendy sudah menikah, aku harap kau juga cepat menyusul, Will.. Jangan sampai Erick ataupun Ericka yang mendahuluimu," ucap Nico menggoda William.
"Aku sedang berusaha, bos.. Tinggal menunggu waktu tepat untuk menyatakan perasaanku untuk melamarnya.." ucap William lagi.
"Kalau kau terus mencari waktu, kau takkan pernah menemui waktu yang tepat seperti itu, tapi jika kau memiliki suatu keinginan maka wujudkanlah, jangan menunggu lagi.. Jangan sampai waktu itu pergi sendiri sehingga kau menyesal sendiri," ujar Nico memberikan saran kepada William.
"Percuma kamu ngomong sama dia, sampe mulut berbusa dia gak bakalan ngeh!" sahut Erick yang sedari tadi hanya mendengarkan mereka saja.
"Betul tuh, liat tuh kak Nico udah ngelamar kak Reva berulang kali selalu ditolak, pas nikah saat kak Reva mengalami musibah. Apa lu mau kena musibah dulu baru nikah?" sahut juga Rendy.
"Gak lah! Oke, malam ini juga gw bakalan lamar dia!" tekad William penuh percaya diri, tapi disambut cibiran yang lain meragukan niatnya itu.
"Ngemeng aja lu, nih makan lagi!" ucap Erick sambil memasukkan sandwich kedalam mulut William sampai ditertawakan oleh Rendy dan Nico.
Mereka sedang sarapan bersama dibawah, tepatnya diruang makan keluarga. Sedangkan para wanita sedang menemani Reva menjemur baby R di taman belakang rumahnya.
Mereka sedang duduk-duduk di sebuah saung kecil yang sengaja untuk bersantai sambil menikmati beberapa cemilan dan makanan lainnya, sedangkan Reva dan Ericka diluar sambil menjemur baby R.
"Bagaimana rasanya setelah menikah, ada perubahannya gak?" tanya Geraldine menggoda Andriana.
Mereka berdua sedang duduk didalam saung itu sambil memperhatikan Reva dan Ericka diluar sana.
"Yah, masih baru.. Masih enaklah, tapi gak tau ntarnya gimana. Tapi kita sudah kenal lumayan lama, cukup bisa mengenali karakter masing-masing. Kata orang tua jalani saja dulu, nanti juga bisa saling mengerti dan memahami.." ucap Andriana.
Geraldine hanya mengangguk-angguk saja saat mendengar ucapannya Andriana, kemudian dia tersenyum sendiri sambil memikirkan sesuatu di kepalanya, dia berencana ingin bertemu dengan William nanti malam, berdua saja.
.
.
"Will, nanti malam bisa bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ucap Geraldine ketika semua sedang berkumpul.
"Be-bertemu? Kenapa?" tanya William gugup.
"Memangnya kenapa, gak boleh? Biasanya juga gak apa.." Geraldine bertanya balik.
"Bukan seperti itu, yah.. Oke, nanti aku jemput kamu dimana?" tanya William akhirnya.
"Gak usah, nanti kamu datang aja sendiri aku tunggu kamu di sana, aku kirimkan nanti alamatnya.. Em, Erick kamu bisa anterin aku pulang, mobilku lagi di bengkel soalnya.." ucap Geraldine.
"Bisa, kebetulan aku juga mau keluar. Ada urusan sebentar.." ucap Erick.
"Kenapa gak minta aku saja? Aku bisa kok nganterin kamu kemana saja hari ini, aku gak ada kegiatan lain hari ini.." tanya William terdengar kecewa.
"Gak apa, kamu disini aja dulu. Mungkin nanti Nico ada keperluan kamu bisa bantu dia juga, kok.. Ya udah, aku pulang dulu ya.. Bye!" ucap Geraldine sambil melambaikan tangannya.
Dia berlalu pergi dari sana menunggu Erick diluar, sedangkan yang lain terlihat bengong saat melihat semua yang terjadi.
"Awas, ntar ditikung lu! Kelamaan sih, jadi bosan kan dia nya," ucap Rendy mengompori William.
"Gw gak minat Geraldine, bukan tipe gw!" sahut Erick cepat, dia juga bersiap ingin pergi.
"Emang siapa tipe lu? Jamilah? Wkwkwk!" ucap William tak mau kalah.
"Ih, amit-amit cabang piyik! Ogah gw, mending gw bujang seumur hidup dah!" sahut Erick dan langsung kabur dari sana.
Kemudian William terlihat lesu sambil memikirkan Geraldine, melihat itu Reva dan Ericka juga Andriana memilih pergi daripada melihat kegalauannya itu.
"Makanya, lu harus lebih cepat! Gw takutnya nih tu cewek malah mau ngomong sesuatu ke lu ke hal yang gak enakin gitu.." ucap Rendy.
"Gw pamit pulang dulu!" ujar William sambil bergegas menuju pintu keluar mau pergi.
"Mau kemana lu?!" tanya Rendy dan Nico heran.
"Gw mau beli gelang buat ngelamar Geraldine nanti malam!" sahut William.
"Serius?!" tanya lagi kedua saudara iparan itu kompak.
"Dua rius malah, gw gak mau keduluan dia ngomong minta putus sebelum gw ngelamar dia!" teriak lagi William dari luar.
Sementara itu didalam kamar tamu tempat Ericka menginap, Ericka dan Andriana tertawa ngakak mendengar ucapan William tadi. Suara kenceng sampai kedengaran sama mereka. Untung saja Reva sudah masuk kedalam kamarnya baby R untuk memberinya ASI.
.
.
Geraldine meminta keduanya untuk membantunya bersiap menyambut kedatangan William, taman itu sudah disulap menjadi sangat cantik dengan berbagai hiasan lampu-lampu indah bergemerlapan seperti kunang-kunang.
Sedangkan Geraldine nampak begitu cantik dengan gaunnya, dia berdiri bak Princess dengan gaun mengembang lengkap dengan Tiara di kepalanya. Sangat cantik, dan tentu saja itu adalah karyanya si Jessy sang desainer dan make up artist terkenal di London, Ericka sengaja memintanya untuk membantu Geraldine.
"Kamu tunggu saja disini, sebentar lagi ia datang bersama Erick dan Rendy. Em, Reva dan Nico tak bisa datang karena mereka tak bisa meninggalkan baby R sendirian di rumah, yaahh.. Meskipun ada babysitter, mereka masih memilih untuk menjaga anaknya sendiri kalau malam.." ucap Ericka kepada Geraldine.
"Iya, aku mengerti kok. Btw, gak ada tau kan rencana aku ini kecuali kalian?" tanya Geraldine.
"Rahasia aman terkendali!" sahut Ericka dan Andriana kompak.
Tidak lama kemudian, William ditemani oleh Erick dan Rendy datang dengan perasaan sangat gugup. Ketiga wanita itu tercengang melihat penampilan William malam itu, dengan stelan tuxedo serba putih lengkap dengan dasi kupu-kupu nya dia datang dengan perasaan gundah gulana.
Ditangan William ada buket bunga mawar merah cukup besar diperlukannya, sedangkan gelang emas putih bertabur berlian sudah dia siapkan didalam saku jasnya, tapi ketiga lelaki itu juga tak kalah terkejutnya saat melihat Geraldine dan sekitarnya.
Tempat itu tak seperti yang mereka bayangkan, dikiranya taman itu tampak suram seperti suasana hatinya Geraldine, dan gadis itu pasti sedang memakai gaun berwarna hitam seperti sedang berduka karena harus berpisah dengannya.
Tapi Realitanya, mereka melihat seorang wanita cantik dengan gaun mewah bak princess sedang berdiri ditengah-tengah taburan kelopak bunga-bunga warna-warni mengelilinginya. Dia nampak bercahaya sekali apalagi di sekelilingnya ada kelap-kelip lampu yang menghiasi taman itu.
"Ge-geraldine.. Ini?" William nampak bingung dengan semua ini.
"Kamu datang dengan bunga cantik ini, untukku?" tanya Geraldine sambil mengulurkan tangannya berharap diberikan bunga oleh William.
"Ah, iya! Ini untukmu," ucap William canggung, dia begitu gugup sampai lupa memberikan bunga itu.
Sedangkan Rendy dan Erick yang ikutan bingung langsung ditarik duduk oleh Andriana dan Ericka , duduk agak jauh dari mereka sambil melihat pertunjukan yang akan diberikan oleh Geraldine kepada William.
"Ada apa ini? Aku pikir kalian berdua ada di rumahnya kak Nico?!" tanya Rendy penasaran.
"Ssst, diam saja! Nanti juga kalian tahu sendiri.." sahut Andriana tak mau diganggu karena mau melihat momen langka ini.
"William, aku mau ngomong sama mau menyampaikan sesuatu kepadamu.. Tapi sebelum itu aku ingin melakukan sesuatu dulu, aku harap kamu suka," ucap Geraldine sangat gugup, tapi dimata William itu seperti kata-kata terakhir baginya.
"Ta-tapi aku juga ada yang ingin disampaikan kepadamu," ucap William terbata-bata.
"Nanti aja yah.." pinta Geraldine lembut.
Mau gak mau William menurut, sambil menunggu harap-harap cemas. Tak disangkanya ternyata Geraldine sedang memainkan sebuah nada lagu di piano yang ternyata sudah ada di sana sejak tadi.
Alunan nada lagu begitu indah di jari-jari tangan Geraldine, dia begitu piawai memainkan nut-nut pada piano tersebut, membuat William hampir lupa dengan tujuan utamanya.
"Selesai, terima kasih.." ucap Geraldine sambil membungkuk hormat didepan William dan lainnya.
Kemudian William nampak berdiri ingin menghampiri Geraldine, tapi gadis itu kembali membuatnya duduk dan memberinya minuman agar sedikit lebih tenang.
"Geraldine, aku--" dia ingin mengatakan sesuatu tapi gadis itu tak memberinya sedikitpun waktu untuk berbicara.
"Ssst, dengarkan dulu yaa.." pinta Geraldine lagi.
Setelah itu dia mulai bercerita tentang masa kecilnya, dan berbagai masa lalunya yang kelam dan bertekad akan merubah dirinya menjadi lebih baik lagi.
"William, apa kamu masih mencintaiku aku yang seperti ini? Apa kamu tak malu memperkenalkan aku sebagai pasanganmu didepan orang banyak?" tanya Geraldine, sekali lagi dia bertanya untuk menyakinkan dirinya sendiri.
"Aku mencintaimu lebih dari apapun, aku tak peduli dengan semua ucapan orang-orang. Toh pendapat mereka tak akan merubah apapun, bagiku hanya kamu bisa membuatku bahagia, bukan mereka.." ucap William sambil memandang wajah Geraldine yang begitu cantik malam ini.
Tiba-tiba Geraldine yang tadinya berdiri dihadapannya, berjongkok dengan anggunnya didepan William, lelaki itu tambah bingung dengan kelakuannya. Kemudian Geraldine mengambil sesuatu dari Tiara yang menempel diatas kepalanya, dan itu adalah cincin!
"Will,,, Will you marry me?" ucap Geraldine tanpa sungkan dan ragu.
Tentu saja hal itu membuat William dan lainnya kaget dibuatnya, tentu saja kecuali Ericka dan Andriana yang sudah tau sejak awal rencananya itu. Rendy menatap Andriana meminta penjelasan semua itu, dan Andriana hanya mengangguk dan tentu saja itu semakin membuat Rendy dan Erick semakin kaget, karena kedua sontak faham dari anggukan si Andriana.
"Ma-marry me?" tanya lagi William, dia kurang yakin apa yang dia lihat dan dengar itu.
"Yes, i will!" teriak William tanpa malu langsung menggendong Geraldine saking senangnya, setelah itu ia menangis haru.
"Hiks, kamu ini bisa saja membuat aku sport jantung! Aku pikir kamu mau minta putus gara-gara tak kunjung aku lamar, makanya aku datang bersama dua bocah itu untuk membantuku melamarmu, huhuuuu.." ucap William tersedu-sedu sambil memperlihatkan gelang berlian yang dia bawa.
Bukannya terharu, tapi Geraldine malah tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil itu. Dan tentu saja tingkahnya William juga disambut gelak tawa dari lainnya, sedangkan Ericka dan Andriana juga nampak menangis terharu melihat keduanya.
"Akhirnya, Geraldine yang mencuri start duluan," ucap Rendy.
"Gak ada salahnya wanita mengungkapkan perasaannya duluan termasuk dalam melamar juga.." sahut Andriana, diamini oleh Ericka dan Erick sambil mengangguk-angguk mengerti.
...----------------...
Bersambung