
Ericka menemui kakaknya Rendy di ruang keluarga bersama Andriana, dia tak sabar ingin menceritakan semuanya tentang lelaki asing itu.
Tapi ketika dia melihat kakaknya sedang bermesraan dengan kekasihnya, dia urungkan niatnya, dan memilih menyimpannya dan menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu.
"Lebih baik nanti saja aku menceritakannya, untuk saat ini biarkan dulu mereka menikmati momen ini. Yang utama saat ini mereka harus akur dan kembali dulu, kalau urusan hati sudah selesai, maka untuk urusan yang lain akan lebih mudah diselesaikan juga" gumamnya sambil tersenyum melihat kakaknya nampak begitu bahagia.
Dia lebih memilih pergi ke kantor sekarang, bahkan bi Mirna sudah menyiapkan sarapannya, dia hanya diminta buatkan bekal saja, setelah mandi dan berpenampilan modis dan cantik, dia meluncur ke perusahaan milik ayahnya itu, yang sekarang dia pimpin.
Sementara itu, Rendy sangat bahagia saat Andriana mau memaafkannya. Memang cinta itu membutakan mata, dia tak sanggup pergi dan menjauh dari sang kekasih meskipun telah disakiti.
"Maaf, aku kemarin benar-benar khilaf. Aku tak bermaksud untuk menyakiti ataupun berkata kasar begitu kepadamu, saat ini aku benar-benar dalam keadaan terpuruk.
Aku benar-benar down, aku merasa sia-sia melakukan perbuatan bodoh itu jika akhirnya ayahku tetap pergi juga! Dan bodohnya lagi aku sampai putus asa dan membiarkan lain mempengaruhiku.." ucap Rendy, dia benar-benar menyesal atas perbuatannya kemarin-kemarin itu.
"Aku faham, sebenarnya aku juga sudah curiga dengan perubahan sikap kamu yang sangat drastis itu, dan aku pikir bukan hal yang wajar lagi jika kamu terus-menerus merasa sedih seperti itu.
Semenjak itu aku dan Ericka menyelidiki perubahan sikapmu, dan akhirnya kami menemukan satu kejanggalan, yaitu lelaki yang selalu datang secara diam-diam itu, dan sikap dan gelagatnya sangat aneh sekali.
Kenapa kamu tidak curiga sekali dengan dirinya, meskipun dia teman terbaikmu sebaiknya kamu bertanya kenapa dia bersikap seperti itu kepada keluargamu apalagi datang ke rumah seperti orang mau maling saja!" ujar Andriana, gusar juga dia dengan sikap Rendy yang seperti itu.
"Itu karena..." terlihat Rendy begitu ragu untuk melanjutkan perkataannya itu.
"Karena apa?" tanya Andriana penasaran.
"Aku, aku tak tahu!" jawab Rendy frustasi.
"Kalau kamu begini terus, bagaimana bisa kami buat bantu kamu! Ayo, beranilah sedikit!" paksa Andriana kesal.
"Aku harus apa! Dia yang selama ini membantuku saat aku sendirian, disaat aku butuh pertolongan dia dan keluarganya datang menolongku, mereka sudah banyak berjasa dalam hidupku.
Aku tak ingin mereka datang menyakiti kamu dan keluargaku, aku tak ingin kalian terlibat dengan permasalahanku. Biarlah ini menjadi urusanku, biarkan aku menanganinya," ucap Rendy sambil mengacak-acak rambutnya.
"Tidak semuanya setiap masalah bisa kamu selesaikan sendiri, adakalanya kamu butuh bantuan orang lain. Buktinya kamu membiarkan dirinya berbuat seenaknya sama kamu.
Coba kalau kamu lebih berani dan tegas lagi, aku yakin dia takkan bisa berbuat seperti itu. Dia memanfaatkan kelemahanmu, dia membuatmu berhutang seumur hidupmu! Membiarkan kamu merasa bersalah terus menerus, dan akhirnya menyerah.
Dan memberikan semua keinginan mereka, dan aku yakin itu sudah dia atau siapapun itu merencanakannya sejak awal saat kamu bertemu dengannya" ucap Andriana lagi.
"Kenapa, dia setega itu? Padahal kami berteman baik sejak lama.." ucap Rendy pelan.
"Aku pikir hanya kamu menganggapnya teman, dia gak tuh! Buktinya dia bisa melakukannya padamu, seharusnya kamu lebih tau itu dibandingkan aku, karena kam sudah pernah mengalami yang namanya dikhianati.." ucap Andriana mengingatkan.
"Baiklah, aku mengerti.." sahut Rendy.
"Permisi, Tuan, Non... Sarapan sudah siap, ayo makan dulu nanti Tuan bisa minum obatnya," ucap bi Mirna yang baru datang menemui mereka.
"Baik, Bi. Terima kasih.." ucap Andriana sambil tersenyum.
Bi Mirna kembali lagi ke dapur dan meminta para pelayan menyiapkan sarapan pagi yang lainnya juga, Andriana melihat Rendy tercenung saat melihat bi Mirna.
"Kamu lihat kan, terlepas ini memang pekerjaannya tapi kita bisa melihat ketulusan bi Mirna dalam melayani kita, dan perhatiannya begitu besar kepadamu" ucap Andriana lagi.
"Dari sini aku harap kamu bisa mengerti lagi, dan jangan terus-terusan mencurigai orang-orangmu sendiri, yang begitu tulus menyayangi dan mencintaimu," Andriana menggenggam tangan Rendy untuk menguatkannya.
"Iya, aku mengerti. Maaf.." sahut Rendy pelan menatap matanya.
"Itu karena aku mencintaimu.." ucap Andriana menatap haru kekasihnya itu.
Tatapan itu lama-lama menjadi intens, Rendy mengecup lembut bibir dang kekasih, betapa bahagianya dirinya memiliki kekasih yang tak pernah menyerah mengenai dirinya.
"Baiklah, mari kita sarapan dan kembali ke kantor!" ucap Rendy bersemangat.
"Ke kantor? Hari ini, sekarang?" tanya Andriana kaget.
"Iya, aku harus punya kegiatan lain agar bisa melupakan sejenak permasalahan ini. Lagian aku sudah sembuh, dan kaki ini harus dilatih terus berjalan agar lebih kuat lagi" ucap Rendy.
Mereka sudah di ruang makan, dan hanya ada mereka berdua saja yang sarapan di sana, dilayani oleh beberapa pelayan di rumah itu termasuk bi Mirna.
"Em, Ericka mana bi? Gak sarapan?" tanya Andriana canggung, karena harus sarapan berdua saja dengan Rendy.
"Non Ericka sudah pergi ke kantor, katanya buru-buru ada begitu banyak pekerjaan di kantor.." jawab bi Mirna
"Gak sarapan dulu?" tanya lagi Rendy.
"Tadi minta dibuatkan bekal juga.." sahut bi Mirna sambil tersenyum.
"Kalau begitu nanti juga siapkan bekal buatku sama Andriana ya bi, aku mau pergi ke kantor hari ini" pinta Rendy sambil tersenyum.
"Loh, sudah mau ngantor lagi? Udah merasa lebih baik kah?" tanya bi Mirna kepada tuan mudanya yang tiba-tiba bilang ingin ke kantor.
"Iya, bi. Lihat Ericka begitu bersemangat, aku jadi ingin pergi ke kantor juga. Masa aku kalah dengannya, haha! Lagian kasihan dengan kak Reva jika dia sendirian handle perusahaan dan yayasan milik ibu juga.
Dia juga nyonya besar dan pemilik saham terbesar milik perusahaan yang di pimpin dan dikelola oleh suaminya, dia sudah pasti juga sibuk di sana.
"Baguslah, kalau kamu sudah sembuh dan bersemangat lagi. Bibi kadang suka sedih lihat Tuan muda suka melamun, jarang tersenyum. Dan kamu itu bukan beban buat bibi, malah bibi senang bisa merawatmu lagi, sudah sejak lama kan gak begini.." ucap wanita paruh baya itu sambil terkekeh.
Setelah selesai sarapan, Rendy kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap ke kantor ditemani Rendy.
Mereka menuju mobil yang akan membawa mereka ke kantor, kali ini ada sopir yang mengantar mereka, Rendy tak dibiarkan membawa mobilnya sendiri, Andriana tak membiarkannya karena kakinya masih sakit.
"Aku bukan anak kecil, And" gerutu Rendy.
"Justru kami bukan anak kecil, jangan ngeyel dibilangin! Sudah mulai sekarang sebelum kakinya belum bisa digerakkan secara sempurna, pakai jasa supir saja yang antar jemput kamu jika ingin berpergian.
Kalau tidak hubungi aku, meskipun belum punya mobil tapi aku bisa kok bawa mobil" ucap Andriana sambil tersenyum, tapi Rendy menangkapnya dengan hal lain.
"Daripada kamu kemana saja naik taksi atau ojek, kamu bisa bawa salah satu mobil punyaku, atau mau aku belikan yang baru?" tanya Rendy lagi.
"Apanya?" tanya Andriana pura-pura tak mengerti.
"Mobil!" jawab singkat Rendy.
"Apa aku terlihat sedang memintamu untuk membelikan mobil atau meminta mobil milikmu?! Aku tak berniat ataupun berpikir seperti itu, aku hanya menawarkan bantuan!" ucap Andriana kesal.
"Aku tau sayang, aku cuma memberikan sebuah perhatian saja sama kamu.." ucap Rendy gemas dan hendak mencium Andriana.
Tapi gadis itu buru-buru menghindari, dia memberitahu Rendy jika didepan mereka ada orang lain, yaitu si sopir.
Rendy hanya terkekeh, melihat tingkah lucu Andriana. Mobil itu melaju ke kantor pusat, dimana kakaknya sekarang berada.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" ucap Reva sambil sibuk membalikkan beberapa berkas didepannya.
"Permisi, bu.." ucap Rendy masuk bersama Andriana.
"Maaf, bu. Kami datang terlambat, jangan pecat kami, bu.." ujar Rendy dengan gaya memelas.
Membuat Andriana tertawa geli melihat tingkahnya, Reva yang semula kaget melihat kedatangan adiknya akhirnya ikutan tertawa geli melihat tingkah Rendy seperti itu.
"Haha.. Apa-apaan sih kamu?! Ini sudah datang aja, udah mendingan kamu? Kakinya udah bisa digerakkan dengan leluasa?" tanya Reva lagi.
"Udah mending kak, kaki juga harus dilatih terus agar aku bisa bergerak dengan bebas. Lagian bosen di rumah terus, kalah sama Ericka yang pagi-pagi sekali udah pergi ke kantor!" sahut Rendy sambil tersenyum sumringah.
"Iya sih, memang seharusnya begitu.." ucap Reva sambil tersenyum.
"Ayo buruan menikah sana, biar ada yang bantuin kamu di kantor sama yayasan, biar Andriana juga lebih enak kerjanya disini" mendadak Reva berkata seperti itu membuat keduanya gelagapan.
"Ka-kakak, kenapa tiba-tiba begitu?" tanya Rendy gugup.
"Gak tiba-tiba juga, kamu sudah lama melamarnya, kapan nikahnya? Jangan dianggurin lama anak gadis orang, Ren.. Gak baik" ucap Reva serius.
"Baik, kak. Secepatnya.." ucap Rendy sambil tersenyum melirik Andriana.
Keduanya tersenyum malu saat di goda oleh Reva, apalagi sudah membahas soal pernikahan, antara deg-degan dan tak sabar menghampiri mereka.
"Kamu tau kan, Ren. Kakak juga harus mengurusi perusahaan-perusahaan Nico yang lainnya juga, apalagi saat ini kakak sedang hamil, tenaga juga makin lama makin terbatas.
Setidaknya perusahaan dan yayasan milik ibu ini ada kamu yang urus bersama Andriana, jadi aku gak kepikiran terus. Sedangkan perusahaan ayah biarkan Ericka yang menanganinya" ucap Reva lagi menjelaskan semuanya.
Sepertinya dia benar-benar sedang lelahan, melihatnya begitu Rendy maupun Andriana menjadi kasihan, apalagi perut Reva yang semakin buncit itu jadi ngap sendiri melihatnya.
Setelah selesai urusannya dengan sang kakak, keduanya pamit untuk segera pergi ke yayasan. Rendy sudah tak sabar mau melihat kantornya itu, apa yang terjadi semenjak tak ada dirinya di sana.
Selama diperjalanan, keduanya saling diam karena masih memikirkan ucapan Reva tadi yang meminta keduanya cepat menikah, Rendy pun berpikir yang sama dengan kakaknya, dia sudah lama melamarnya, sudah saatnya menikah.
Saat keduanya sampai, didepan kantor yayasan ada keributan di sana. Terlihat security kantor terlihat kesusahan menenangkan orang-orang itu.
"Ada apa ini?" tanyanya bingung.
"Sebaiknya kita hampiri dulu, Ren. Dan hati-hati jalannya.." sahut Andriana.
"Ugh, yang terluka perutku tapi kenapa kaki juga ikutan sakit sih?!" gerutu Rendy kesal.
Mereka menghampiri keramaian itu, Andriana terkejut karena melihat seseorang yang dia kenal berada di sana, dan orang itu juga melihat kearahnya sambil tersenyum sinis. Kira-kira siapa orang itu?
...----------------...
Bersambung