Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Pembalasan Dari Sebuah Pengkhianatan


"Halo semuanya, saya Revalina Wijaya. Mulai hari ini saya adalah CEO dan juga pemimpin di perusahaan ini, Senang bisa berkenalan dengan kalian dan tolong kerjasamanya.


Saya sudah bertemu dengan beberapa orang di perusahaan ini, dan saya sangat senang dengan penyambutannya yang sangat hangat.


Bahkan saya sudah berkenalan dengan salah satu direksi perusahaan ini, perkenalkan yang sangat mengesankan, dan tentu saja itu akan menjadi kenangan terindah buat saya" Reva menyampaikan kata-kata dengan lembut dan seramah mungkin.


Tapi semua orang yang diruangan itu tahu kata-katanya penuh dengan sirat makna, yaitu sebuah sindiran pedas untuk mereka semuanya yang sempat merendahkannya tadi.


Terutama lelaki tua tambun itu, dia yang pertama bertemu dengannya setelah Grace si selingkuhannya itu. Dia sudah mati kutu karena sudah ketahuan berselingkuh dan tidak kompeten.


"Untuk hari ini, aku akan berkeliling saja ingin melihat-lihat isi kantor ini sekalian bagaimana cara kerja kalian.


Tidak usah menemaniku, biarkan aku bersama orang-orangku yang berjalan sendiri. Dan jangan pernah mencoba mencegahku ataupun mencoba menutupi sesuatu karena aku pasti akan mengetahuinya.


Dan satu lagi rahasiakan pertemuan ini termasuk siapa aku, jika ada yang mencoba melakukan kesalahan ini, kalian akan tahu akibatnya" ucap Reva dengan dingin, ekspresi yang sangat berbeda dengan yang tadi.


"Wanita aneh"


"Psikopat"


"Menakutkan sekali dia"


Terdengar banyak gumaman yang terdengar oleh Reva dari mulut-mulut itu, dia menghiraukan ocehan mereka tentang dirinya. Dia tak peduli karena dia juga tak ingin mereka semua ada di perusahaannya juga.


"Baiklah, aku akan pergi berkeliling. Silakan kembali ke ruangan kalian, dan bekerjalah dengan baik" ucapnya dengan ada sedikit penekanan dikata terakhirnya.


Mereka semuanya keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk, wajah-wajah tegang terlihat saat mereka keluar dari ruang rapat itu. Orang-orang yang diluar ruangan itu menatap mereka dengan penasaran, apa yang terjadi didalam sehingga membuat mereka semua nampak tegang begitu?


"Sayang, ada apa? Kenapa kau nampak tegang begitu?" tanya Grace kepada kekasihnya itu.


"Aku tidak apa-apa, dan bersikap begitu padaku. Hubungan ini cukup kita saja yang tau, jangan diumbar dan juga jangan panggil aku sayang dikantor.


Tidak enak jika dilihat sama yang lain, kita harus profesional" ujar pak Anto, lelaki tua itu.


"Apaan sih kamu! Biasanya juga begitu, lagian mereka semua sudah tahu kok. Malah aneh jika kita tiba-tiba berubah sikap begitu didepan mereka.


Nanti dikiranya kita sudah putus lagi, aku gak mau kehilangan kamu. Kamu tau kan, disini banyak yang mau jadi pacar kamu, aku gak mau itu terjadi" ucap Grace dengan nada manjanya yang sedikit merajuk.


Melihat itu pak Anto langsung sumringah merasa dia sangat diperlukan dan merasa sangat keren sekali, padahal Grace hanya ingin menahannya saja.


Kalau boleh jujur, dia jijik menjalani hubungan dengan lelaki tua itu tapi karena kebutuhan hidup dia rela melakukan hal itu. Hidup penuh dengan hedonisme membuatnya lupa apa yang dia lakukan saat ini.


Semua orang sudah keluar dari ruangan rapat itu tinggal Reva dan para pengacaranya juga orang-orangnya, dua orang bodyguardnya menjaga pintu keluar agak tak ada yang mencoba memasuki ataupun mendekati ruangan itu.


"Baiklah, apa rencana selanjutnya?" tanya pengacara Reva.


Di sana juga sudah ada beberapa orang kepercayaan Reva, orang-orang yang pernah bekerja di perusahaan itu di jaman ibunya dulu hingga dipecat oleh Elena karena tak mengikuti perintahnya.


"Sesuai dengan rencana kita sebelumnya, orang-orang lama yang pernah bekerja dengan mendiang ibu saya, mereka yang masih aktif dan punya etos kerja tinggi juga orang-orang yang masih setia pada mendiang ibu, silakan hubungi mereka kembali.


Berikan apa yang mereka minta asalkan tidak membebani perusahaan ini, pastikan mereka akan setia dan loyal pada perusahaan ini. Aku pun akan memberikan apresiasi atas kerja mereka yang baik" ujar Reva memberikan penjelasannya.


Semuanya mengerti dan mulai menjalankan misi dan pekerjaan mereka, mereka akan menghubungi orang-orang itu dan juga mulai menyeleksi para direksi dibawah naungan Elena dulu.


Dia tidak ingin langsung membabat habis anak buah Elena, dia yakin masih banyak orang-orang yang mau bekerja jujur dan mau mengikuti peraturan perusahaan dengan baik.


Maka dari itu, dia ingin melihat langsung pekerjaan mereka tanpa tau sedang diawasi. Dia ingin melihat kejujuran mereka semua.


Reva keluar dari ruangan itu, dia dikejutkan dengan suara berisik dari luar ruang rapat itu. Dia melihat bodyguardnya kewalahan mencegah beberapa orang yang memaksa masuk ke ruangan itu.


Reva melihat Grace dan teman-temannya tampak marah melihatnya, dia menghampiri mereka dengan tenang dan tersenyum sinis.


"Ada apa ribut-ribut begini, apa kalian pikir ini pasar berisik sekali!" ucap Reva ketus.


"Heh, apa yang kau lakukan disini?! Apa yang kau buat sehingga para bos kami langsung berubah begitu dan mendadak membuat peraturan aneh!


Apa kau juga bagian dari wanita simpanan direktur yang lain dan membuat ancaman? Kau punya kekuatan besar apa sehingga membuat mereka semua berubah?!" teriak Grace meluap-luap mengeluarkan emosinya.


Plak!


Tamparan keras mendarat di wajah mulusnya, Susy asisten Reva sudah tak tahan lagi dengan mulutnya itu. Reva sedikit takjub dan ngeri-ngeri sedap melihat perbuatan asistennya itu.


"Tak salah aku memilih orang" gumamnya.


Dia memang sendiri mencari dan menyeleksi orang-orang yang akan bekerja dengannya, baik itu urusan kantor ataupun pribadinya. Susy dan Mona merupakan bagian dari dirinya, dia tahu mereka dapat dipercaya. Dia sengaja mencari orang-orang yang memiliki misi dan sifat sepertinya agar bisa menjalankan misi dan tugasnya dengan baik ketika dia sedang down atau sedang tidak bekerja.


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Grace ketika wajahnya dapat tamparan oleh Susy.


"Jaga sifatmu itu, jika tidak kau akan menyesal" ujar Susy geram.


"Aku tidak akan pernah menyesal, malah aku akan bangga melakukannya!" jawab Grace dengan angkuhnya sambil tersenyum sinis.


Braak!!


Seseorang datang melalui lift itu sambil menggebrak pintu lift itu dengan kencang membuat mereka semua terkejut, apalagi yang datang seorang wanita bertubuh tambun dengan penampilan yang sangat glamor, rambut disanggul keatas, make up tebal dengan perhiasan memenuhi tubuhnya.


Dia datang bersama tiga orang lelaki, salah satunya masih terlihat sangat muda. Wanita itu menatap nanar disetiap sudut ruang koridor itu, dia seperti mencari seseorang.


"Siapa disini yang namanya Grace?!" teriak wanita itu dengan murka.


"Mampus gw!" gumam Grace berusaha bersembunyi dibelakang bodyguard Reva.


Melihat itu Reva langsung punya ide untuk memanggil wanita tua itu, dia memberi kode pada wanita itu dengan menunjukkan arah Grace bersembunyi. Wanita itu berjalan dengan emosinya yang meluap-luap.


"Ah! Ampun Bu, ini hanya salah faham saja!" teriak Grace kesakitan.


"Salah faham, Salah faham! Cocotmu itu salah faham yah, kau sudah tidur dengan pria tua itu, kau juga sudah ambil banyak uangku darinya!


Dasar wanita murah*n! Sini kau, tak unyel-unyel ndasmu!" teriak wanita tua itu murka.


"Ada apa ini, kenapa ribut-ribut disini!" pak Anto keluar dari ruangannya karena mendengar keributan diluar.


"Mas! Mas! Tolongin aku! Akh, sakit!" teriak Grace kesakitan rambutnya masih dijambak oleh nyonya itu.


"Oh ini toh orangnya, hem!" nyonya itu melihat suaminya dengan pandangan murka.


Pak Anto tak menyangka akan kedatangan istri tua dan anaknya bersama kerabatnya yang lain, dia hanya terdiam tanpa berkata apapun badannya gemetar malu diperhatikan oleh semua orang.


Apalagi di sana ada Reva, ditambah tingkah istri dan pacarnya itu benar-benar membuatnya tidak berkutik dia sudah pasrah dengan keadaan itu.


"Mas, kenapa diam saja?! Istrimu ini menyakitiku!" bentak Grace kesal karena melihat pak Anto diam saja.


"Tentu saja dia diam saja, karena sudah ketangkap basah! Mulai sekarang Pah, jangan kamu pulang lagi ke rumah! Aku dan anak-anak tak sudi bertemu denganmu!" teriak wanita itu.


"Pah, kenapa Papah tega khianati Mamah juga bohongi kami semua, hiks!" anak lelaki remaja itu menangis melihat kelakuan bapaknya itu.


Terlihat dari sorot pandangnya bahwa dia sangat kecewa dengan bapaknya itu, dia menatap benci kepada pak Anto dan Grace.


Melihat itu, hati Reva terenyuh. Dia mengingat waktu dulu ayahnya mengkhianati ibunya dengan membawa Elena ke rumahnya. Hanya saja ibunya tak sekuat nyonya itu, andaikan ibunya berani melawan, mungkin mereka masih tetap bersama meskipun tak bersama ayahnya.


Dan mungkin saja segala masalah dan musibah takkan pernah mereka alami, dan adiknya Ericka akan dijaga dan dilindungi, mereka akan bahagia dengan limpahan kasih sayang sang ibu, tapi sayang... Itu sudah tak mungkin lagi.


"Pak Anto, siapa wanita dan orang-orang ini?" tanya Reva kepada pak Anto dengan sorot mata tajam.


"I-ini istri dan anak saya juga saudara-saudara saya, Bu" jawab pak Anto terbata-bata.


"Apa maksudmu dengan Ibu? Wanita ini bukan siapa-siapa! Dan kau diam saja, jangan ikut campur!" teriak Grace kepada Reva sambil menahan genggaman tangan nyonya itu mencengkeram rambutnya.


Plak!


Sekali lagi wajahnya kena tamparan Susy, dia ingin membalas tapi tangannya ditahan oleh Mona. Dia sudah tak berkutik lagi karena ditahan oleh nyonya itu juga Mona.


"Pak Anto, anda sungguh mengecewakan. Baru saja aku mengatakannya di rapat tadi tapi anda sudah melanggarnya.


Maaf Pak Anto, secara tidak hormat anda saya pecat! Dan kau juga Grace, kau juga saya pecat!


Bereskan barang-barang kalian, saya ingin kalian angkat kaki sekarang juga. Aku tak ingin ada yang berbuat tak baik di perusahaanku.


Jika ada urusan pribadi, silakan lakukan diluar jangan di kantor, saya tak melarang kalian berhubungan asmara sesama karyawan, tapi saya ingin kalian profesional kalau ditempat kerja.


Dan satu hal lagi, aku paling benci perselingkuhan, pengkhianatan, ataupun perbuatan mesum lainnya. Jika kebelet lakukan diluar!" teriak Reva, dia teringat kelakuan Grace saat keluar dari ruangan pak Anto.


Dengan pakaian sedikit berantakan dan rambut kusut pasti mereka tadi habis indehoy didalam, gumam Reva.


"Siapa kau sampai berani melakukan hal itu?!" bentak Grace.


"Dasar wanita bodoh! Orang lain dengan melihatnya saja sudah tahu kalau dia pemilik perusahaan ini!" ujar nyonya itu tadi semakin kencang menarik rambutnya.


"Akh!" Grace berteriak sakit, dan langsung dilepaskan oleh nyonya itu tadi.


"A-apa maksudnya?" Grace memucat memandang kearah Reva.


"Apa kau buta?! Dia tak datang sendiri, dia bersama asisten dan sekretaris juga pengawalnya, berarti dia orang penting.


Tapi kau dan lainnya bersikap tak sopan, setidaknya hormati dia sebagai tamu. Apakah kalian memperlakukan setiap tamu seperti ini?!


Bayangkan jika tamu itu orang biasa dan datang sendiri, apakah kalian akan melemparnya dari gedung ini?!


Kalian tak pantas berada disini! Sikap kalian mencerminkan isi otak kalian itu!" bentak Susy.


Grace dan lainnya terdiam menunduk, dia malu dengan perlakuannya selama ini. Hanya karena dia kekasih sang direksi yang menjabat di posisi tinggi, dia lupa akan segalanya.


Bahwa dia adalah selingkuhan, bahwa dia adalah karyawan biasa, seharusnya dari kejadian di mall itu cukup menyadarkannya, tetapi karena keangkuhannya membuatnya lupa diri.


"Pecat saja mereka, Bu. Aku tak peduli dengan lelaki tua itu, kami akan bercerai. Anak-anakku akan terjamin hidupnya dan bahagia bersamaku meskipun tanpa Papahnya" ujar nyonya itu dengan berkaca-kaca.


Dia memeluk anak lelakinya dengan dikuatkan oleh saudara-saudaranya yang lain.


"Mas, kamu bikin malu keluarga. Kalau bukan karena mbak Dewi, keluarga kita tak akan sesukses ini!" kata salah seorang lelaki yang bersama nyonya tadi, bu Dewi.


"Maafkan, Mas... Mas khilaf" ujar pak Anto lirih.


Dia ingin mendekati istri dan anaknya, tetapi mereka pergi menjauh darinya. Mereka memilih pergi dari sana, sebelum masuk kedalam lift bu Dewi sempat menoleh kearah suaminya itu.


"Aku harap setelah ini Mas sadar dan tak pernah melakukan kesalahan lagi, ingat Mas hanya karena wanita itu kau menghancurkan karir juga rumah tanggamu.


Dan kau wanita murahan, apa yang kau dapatkan dari semua ini? Kau dipecat, dan pacar tuamu itu juga dipecat! Kalian berdua sekarang pengangguran miskin!


Semua orang sudah tahu kelakuan busuk kalian, apa yang kalian miliki sekarang? Tak ada!" ucapnya sambil menatap sinis keduanya.


Dengan menahan air matanya nyonya itu pergi bersama anak dan saudara-saudaranya.


...----------------...


Bersambung