Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Diam Bukan Berarti Tak Tahu


Nico sedari tadi diam memperhatikan Reva dari balik pintu balkon itu menghampirinya..


"Kamu lagi mikirin apa, sayang?" tanyanya sambil mengecup kening Reva.


"Gak ada.." jawab Reva pelan.


"Bosen gak di rumah terus? Mau aku temani main keluar? Makan ke resto kesukaan kamu?" tanya Nico lagi.


"Tidak, aku lagi tak mood keluar. Biarkan aku sendiri dulu, Nic.." pintanya.


"Hemm.. Kalau kamu maunya begitu, ya udah.. Tapi, aku tak ingin menjadi penghambat bagimu, Reva. Kamu sudah lama tak pergi ke kantor, aku tak bisa terus-terusan mengawasinya meskipun ada orangku yang berjaga dan mengawasi perusahaan dan yayasan milikmu itu" ujar Nico.


"Tak apa, aku percaya padamu... Lagian, ada Rendy kok. Kalau ada masalah di perusahaan dan yayasan lapor saja ke dia, tak perlu lapor segala ke aku" sahut Reva sambil menyeruput tehnya.


Nico memperhatikan istrinya itu, Reva jadi berbeda setelah pulang dari rumah sakit itu. Dia lebih banyak mengurung diri di rumah, dan mulai tak peduli masalah dengan pekerjaannya, padahal dia sangat tekun dan rajin dalam mengurus semuanya.


"Apakah kamu.. Masih marah padaku?" tanya Nico.


"Hemm, apa alasanku marah padamu.. Kamu sangat baik, semuanya permasalahanku kamu selesaikan dengan baik. Jadi aku tak perlu repot-repot mengurus semuanya.


Ternyata enak juga yah menikah, ada yang ngurusin. Semua jadi tanggung jawab dan pekerjaan suami semuanya, sedangkan istri hanya duduk diam saja" ujar Reva sambil menyunggingkan bibirnya.


"Apakah masih tentang itu? Kamu masih tidak percaya denganku, Reva? Aku dan Rendy sudah menjelaskan semuanya apa yang terjadi.


Tidakkah kamu mengerti semua ini, Reva. Kau memang wanita hebat dan kuat, tapi ingat bekerja sendiri dan memikul beban tanggung jawab sendiri juga tak baik denganmu.


Kau itu tak sendiri, Reva.. Kau masih punya orang-orang yang peduli dan perhatian padamu. Apakah kamu gak memperhatikan sedikit saja Rendy?


Dia berusaha memendam semuanya sendiri, dia memikirkan kakak perempuannya yang selalu bekerja keras sendirian demi dia dan demi orang lain.


Dia takut kamu kenapa-kenapa, Reva.. Aku datang dalam kehidupan kalian untuk mengurangi beban yang kalian tanggung. Aku hanya ingin membantumu, Reva... Karena aku sayang sama kamu.." ujar Nico berusaha menjelaskan semuanya kembali.


"justru itu menjadi beban baru bagiku!" teriak Reva.


"Apakah aku selemah itu bagimu? Apa kamu pikir aku tak bisa apa-apa hingga harus kamu bantu? Jadi, Rendy tak percaya dengan kakaknya sendiri?!" cecar Reva dengan berbagai pertanyaan itu.


"Kamu tuh salah faham, Reva! Kami sama sekali tak berpikir begitu, ah! Kamu bisa mengerti sedikit saja gak sih?!" ujar Nico mulai pusing dengan keributan ini.


"Gak, aku gak mengerti dan tak mau mengerti!" sahut Reva sambil beranjak dari tempat itu.


"Aakh!" Nico menjambak rambutnya pusing.


Semenjak kejadian itu, hubungan mereka semakin renggang. Setiap kali berbicara yang ada hanya perdebatan saja, bahkan Reva tak ingin sekamar dengan Nico, alasannya belum siap.


Nico mencoba mengerti keadaan Reva yang masih syok dengan keadaannya sekarang, tapi menurutnya Reva juga sudah keterlaluan yang tak pernah mau mengerti dirinya.


"Kamu seharusnya tau, apa yang aku lakukan semua ini demi kau, adik-adikmu dan kita semua. Tak sedikitpun aku mencoba mengambil keuntungan semua ini.


Aku merindukanmu, Reva.. Sungguh, aku rindu" ucap Nico sambil termenung di balkon teras itu.


Sementara itu, Reva yang berdiri didepan pintu kamar itu menatap Nico dengan pandangan sedih, dia pun pergi meninggalkan Nico sendirian di kamar itu.


"Aku tahu semuanya, Nico... Hanya saja aku belum siap dengan semua ini, aku merasa semua hak ku dirampas, kebebasanku direnggut..


Aku takut, Nico.. Jika apa yang menimpa ibuku, akan aku alami juga" ujar Reva dalam hati sambil keluar rumah menuju mobilnya.


//


Rendy masih berdiam diri didalam apartemennya, dia sekarang mengurus perusahaan dan yayasan milik mendiang ibunya, dia sudah tak peduli lagi dengan usaha dan bisnis ayahnya.


Dia sudah tak bisa menahannya lagi, diabaikan, diremehkan bahkan tak dianggap oleh ayahnya sendiri. Pak Dewantoro lebih mementingkan kebutuhan ataupun keperluan istri dan anak-anak tirinya itu, dia sibuk mengambil hati mereka tanpa memperdulikan hati yang lain tersakiti.


"Untuk apa aku ke kantor, tak ada gunanya. Toh aku juga di sana gak ngapa-ngapain juga. Daripada jadi kacung Pramudya dan dihina terus di kantor, lebih baik aku memperhatikan kantor dan yayasan milik ibu saja.


Setidaknya Elena tak bisa leluasa dia di sana, dasar tak tahu malu! Sudah diusir bahkan dilaporkan, masih saja dia datang dengan berbagai alasannya.


Aku juga heran, pengacara mana yang mau membantunya terus menerus seperti ini? Apakah bayarannya sebesar itu, hingga mereka rela memanipulasi semua bukti-bukti itu?


Ting! Tong!


Terdengar suara bel pintu, Rendy penasaran siapa yang datang. Dia melihat ke layar monitor pada pintu itu, ada Reva di sana.


"Kakak ngapain kesini yah? Tumben-tumbenan dia datang, apa jangan-jangan aku bakalan diceramahin ama dia yah.." gumamnya khawatir.


Ting! Tong!


Bel pintu kembali dipencet oleh Reva, terlihat dari layar sepertinya dia mulai kesal karena Rendy lama membukakan pintu itu.


Ceklek!


Rendy membuka pintu itu pelan-pelan, dengan perasaan masih kesal dengannya, Reva langsung mendorong pintu itu kencang hingga Rendy langsung terdorong kebelakang.


"Kak! Ish, kasar banget sih namu ke rumah orang!" ujar Rendy kesal.


"Rumah siapa emangnya? Ini apartemen aku yang beli!" ujar Reva kesal.


"O iya, yah.. Hehe! Lupa diriku" ujar Rendy cengengesan.


Dia menuju dapur untuk mengambilkan air minum untuk kakaknya itu, dia melihat Reva terlihat begitu sedih, raut wajahnya nampak berubah bagi Rendy.


"Kenapa datang kemari? Ribut lagi sama kak Nico?" tanya Rendy penasaran.


"Bukan urusanmu! Kau sendiri kenapa gak ngantor?! Ini udah siang loh" jawab Reva.


"Lagi males kak... Aku gak mau ngantor ditempat ayah lagi, buat apaan kalau cuma jadi kacung Pramudya! Lelaki brengsek itu.." ujarnya kesal.


"Terserah kamu aja kalau soal itu, kamu bisa gantikan aku di kantor dan yayasan milik ibu.." balas Reva.


"Baik, tapi ada satu syarat.." ujar Rendy sambil menatap kakaknya dengan senyum liciknya.


"Apaan?! Jangan aneh-aneh yahh!" delik Reva.


"Aku tak bisa mengurus dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan, bagaimana jika aku mengurus perusahaan dan kakak mengurus yayasan.


Adil kan?? Adil dongg.. Masa tega ama adiknya sendiri, lagian sampai kapan kakak bersembunyi terus? Kakak harus kuat dalam menjalani hidup, jangan terus-terusan meratapi nasib" ujar Rendy sok tahu.


Plak!


Kembali, Reva menggunakan jurus andalannya dalam memberikan pukulan pada Rendy. Dia menggeplak kepala Rendy dengan kesal.


"Kak, sakit ini! Ntar otakku geser gimana?! Mahal otak punya Rendy putra Wijaya yang sangat brilian ini!" ujarnya meringis kesakitan.


"Otakmu itu emang udah geser dari sononya, Babaaang! Jadi adek kok lucnut amat yah, gak sok tau lu sama hidup gw!" ujar Reva terpancing emosinya.


Rendy hanya terkekeh melihat reaksi kakaknya itu, setidaknya kakaknya mulai ada sedikit perubahan meskipun hanya segitu, tidak seperti sebelum-sebelumnya, dia hanya diam saja dan irit berbicara.


"Ya udah, aku mau keluar sebentar! Mau beli makanan, Kakak mau nitip apaan?" tanyanya.


"Apa aja, yang penting pedes dengan level 10! Aku lagi pengen makan yang pedas-pedas saat ini, buat ngilangin stress!" ujar Reva.


"Njirr! Gila lu yee! Yang ada Kakak moncrot-moncrot ntar nya.. Jangan repotin aku minta dibeliin obat kalau anda itu beserr muluuu!" teriak Rendy kesal dengan nafsu makan kakaknya yang tak berubah itu.


"Bodo!" ujar Reva cuek.


Reva duduk bersantai di ruang TV itu, sambil mengemil makanan yang ada disana, sampai dia dikejutkan oleh sebuah kiriman foto yang dikirimkan oleh seseorang.


Apa kamu masih mengenalinya?


foto itu berisi caption seperti itu, membuat Reva tak berkedip dengan apa yang dia lihat. Wajah difoto itu nampak tak asing baginya, hanya saja gadis itu penampilannya berbeda dengan gadis yang dia kenal.


...----------------...


Bersambung