Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kekhawatiran Nico


Nico bersama Erick datang ke rumah sakit tempat Ericka dirawat, mereka diiringi oleh beberapa pengawal menuju ruang inap tempat Ericka ditempatkan, di sana ada Azka dan beberapa temannya yang masih menungguinya.


Mereka nampak terkejut dengan kedatangan seorang lelaki bertubuh tegap dengan wajah datar dan dingin masuk ke ruangan itu, mereka sangat khawatir dan was-was dengan kedatangan Nico dan Erick, bersiap memberikan barikade terhadap Ericka untuk melindunginya.


"Siapa kalian?! Mau apa kalian disini?!" tanya Azka dengan tegasnya sambil menatap tajam kearah Nico dan lainnya.


"Kau sendiri siapa, anak kecil?!" tanya Nico sambil menatapnya remeh.


"Aku bukan anak kecil, Kek?! Tinjuku cukup kuat untuk menonjok mukamu itu!" balas Azka tak ingin dianggap remeh.


"Haha! Lucu juga, jadi kalian yang telah menyelamatkan adikku? Boleh juga.." ucap Nico menatap Azka dan teman-temannya.


Azka dan lainnya saling tatap heran, apa yang dimaksud oleh orang ini? Mereka sedikit mundur dari langkahnya dan menurunkan kepalan tinju mereka.


"Anda siapa, Kek eh! Kak!" tanya Azka sedikit gugup.


"Sudah aku bilang tadi, kalau aku ini kakaknya. Mau bukti, ini aku kasih tau foto-foto kita bersama dengan keluarga lainnya.." ucap Nico sambil menyodorkan tabletnya kearah Azka dan teman-temannya.


Mereka melihat Ericka tersenyum ceria bersama Nico dan kedua kakaknya, saat dia hendak menggesernya lagi mau melihat foto berikutnya, Nico langsung merebut tabletnya, padahal foto berikutnya adalah foto dimana Nico dan Ericka juga berfoto dengan papanya Azka, om Richard.


"Aku rasa cukup, baiklah adik-adik! Terima kasih atas kebaikan kalian telah menolong dan menemaninya, aku dan lainnya akan mengambil alih tanggung jawab ini, kalian boleh pulang nanti akan diantar oleh orang-orangku.." ucap Nico sedikit merendahkan nada bicaranya, meskipun masih ada ketegasan di sana.


"Tapi, kita baru saja pesan makanan, Kak! Laper nih.." sahut Ray temannya Azka.


"Nanti aku ganti makanan kalian, kalian ada enam orang kan? Kasih mereka tanda terima kasihku, maaf aku belum menyiapkan apa-apa, sebagai gantinya, ambil saja ini.


Setelah ini, kalian boleh pulang. Langsung di kawal oleh anak buahku, diluar masih belum aman, kalian masih dikategorikan anak-anak, kalau ada apa-apa pikirkan orang tua kalian!" ujar Nico memberitahu mereka keadaan situasi diluar sana.


Anak-anak itu diberi masing-masing amplop coklat lumayan tebal, mereka ingin melihat apa isinya rasanya tak enak saja, tapi tatapan Azka menandakan rasa tak nyamannya, bukan masalah amplop itu, tapi dia merasa Ericka direbut darinya.


"Kakak bisa kembali lagi besok pagi, sore dan malam ini biar aku yang menemaninya, bagaimanapun ini adalah tanggung jawabku karena aku yang pertama kali bersamanya.." ucap Azka, dia seperti anak kecil yang direbut mainannya saja.


"Hei, apa-apaan kau ini! Dia ini kakaknya, biarkan saja. Lagian kewajiban kita sebagai sesama manusia sudah selesai, ayo kita pulang!" ujar Ray, temannya menarik tangan Azka, dia malu melihat tingkah temannya itu.


"Kenapa? Apa kau tergiur oleh isi amplop itu? Aku bisa memberimu dan kalian semua ini dua kali lipat daripada itu! Lagian, apa betul dia kakaknya?!" ucap Azka menatap curiga Nico.


Plak!


"Auh! Sakit Ray!!" ujar Azka, dia meringis kesakitan sambil menatap tajam kearah temannya itu.


"Itu pantas buatmu karena meremehkan aku dan lainnya hanya karena sebuah amplop ini, emangnya kau mau memberi kami pakai uang siapa? Papamu?!


Ayo, jangan ngadi-ngadi! Mereka itu jelas bersaudara, cemburumu itu udah kelewat batas, sadar diri coy!" ujar Ray sambil menarik tangan Azka.


Setelah meletakkan amplop pemberian Nico, Azka terlihat malas mengikuti teman-temannya keluar dari ruangan itu, membuat Nico dan Erick juga beberapa pengawal yang ada di sana, hanya tersenyum lucu melihat tingkah anak muda itu.


"Tidak disangka, cinta pertamanya adalah seorang kakak yang lumayan jauh usianya dari dirinya sendiri.." ucap Nico sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalian semuanya, tolong berjaga didepan ruangan ini. Dan tolong panggilkan dokter yang menangani Ericka ini, aku mau tau bagaimana perkembangannya.." ucapnya kepada para pengawalnya.


Mereka mematuhi perintahnya dengan sigap, dan menjalani tugas mereka dengan segera, Nico memasukkan kembali amplop coklat yang ditinggalkan oleh Azka tadi, dia cukup salut dengan ketegasan anak itu.


"Erick, apa kau membawa beberapa peralatanmu? Coba kau kembali akses keberadaan opa Harja beserta antek-anteknya itu.." tanya Nico lagi.


"Baik, laksanakan!" ucap Erick bersemangat.


Dia meletakkan ranselnya dan mengeluarkan beberapa alat tempurnya, berupa laptop, ponsel dan juga software lainnya untuk mendukung kerja alatnya itu.


Mereka melihat opa Harja saat ini berada di rumah bersama oma Mariani, dan juga anak mantu juga cucu-cucunya, kecuali tante Sonia, om Seno dan tentu juga William dan Erick sendiri.


"Sepertinya mereka sedang merayakan sesuatu, terlihat dari raut wajah mereka yang nampak ceria dan bahagia sekali!" ucap Erick.


"Pasti mereka merayakan kemenangan mereka atas apa yang terjadi dengan Ericka, bangs*t memang! Aku harus menghubungi William, aku ingin dia yang menangani kasus kecelakaan Ericka.


Mari kita lihat, apa reaksi mereka setelah mengetahui bahwa target mereka selamat dan ternyata salah satu anggota keluarganya yang membantunya juga!" ucap Nico geram.


"Bukan satu, Kak. Tapi dua!" protes Erick.


"Iyaaaa..." sahut Nico lagi.


Selang beberapa saat kemudian, Nico mendapat kabar dari rekannya yang bekerja di kepolisian, jika lelaki yang ditangkap saat berada di tempat kecelakaan Ericka, dicurigai terlibat dalam kecelakaannya.


"Kami memeriksa pisau yang dibawa olehnya, bentuk dan ukuran mata pisau itu bisa dikatakan sama persis dengan alat yang merusak ban mobil ditumpangi oleh korban.


Kami juga memeriksa jalur mobil yang dilewati korban, sama dengan jalur yang dilewati oleh tersangka, itu ada tersimpan Gps masing-masing mobil korban dan tersangka.


Dan anehnya, saat korban menuju panti asuhan kasih bunda, tersangka juga berada di sana, bukankah itu sangat mencurigakan? Menurutmu, siapa dalang dari ini semua, Nico? Aku yakin, tersangka hanyalah pesuruh saja.." ucap rekannya dari kepolisian itu.


"Kami tak menemukan apapun, kecuali jalur alamat yang dia lewati melalui Gps didalam mobilnya, dan tentu saja pisau itu. Dan liciknya, dia menghancurkan ponselnya tepat saat kami hendak memeriksa ponselnya itu!" ucap rekannya itu nampak kesal.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya, Bro! Nanti kabarin aku lagi jika ada informasi lagi dari pemeriksaanmu ini.." ucap Nico.


"Oke, tapi kamu juga jangan mengambil sikap yang gegabah jika terjadi sesuatu, aku gak mau mengurus dirimu jika masuk penjara, ingat?!" ucap rekannya itu.


"Haha! Tidak akan, baiklah! Terima kasih.." ucap Nico mengakhiri telponnya.


"Bagaimana, Kak?" tanya Erick lagi.


"Sesuai dengan kecurigaan kita, ini pasti ada hubungannya dengan opa Harja, karena lelaki itu langsung menghancurkan ponselnya begitu saja jadi polisi tidak bisa memeriksanya.." ucap Nico kesal.


"Tak apa ponselnya hancur, asalkan memorinya masih utuh, masih bisa diselidiki. Kalau pihak sana tak bisa, biar aku saja yang melakukannya.." ucap Erick percaya diri.


"Mereka itu bekerja secara profesional, percayakan saja kepada mereka!" ucap Nico lagi.


"Erick, aku penasaran apa yang dicari oleh Ericka di panti asuhan. Bisakah kita melakukannya sekarang, mencari tahu apa yang ingin dia cari?" tanya Nico penasaran.


"Siap! Beri aku waktu untuk memecahkan sandinya agar aku bisa masuk ke alamat email ketua panti itu, sekaligus meretas ponselnya juga," ucap Erick sambil menghisap permen lollipop kesukaannya.


Selang beberapa menit kemudian, dia berhasil menyadap isi ponsel si ketua panti, awalnya tak ada yang aneh, hanya biasanya saja.


Tapi ada beberapa pesan dari media lain di ponsel itu, ada pesan berisi sebuah transaksi, bukan transaksi jual beli barang, tapi lebih ke jasa, membuat Nico dan Erick saling pandang tak mengerti.


"Bagaimana, Bu? Apa harganya cocok? Jika cocok besok kita bertemu lagi membicarakan soal tugas dan tanggungjawabnya di sana nanti, ini masih muda, masih fresh, lagi sehat-sehatnya, aku yakin dia cocok ditempatkan dimana saja!"


"Apakah Bapak suka kinerjanya? Bagus! Jangan lupa kirimkan bonusnya ke rekening saja, ya Pak! Hahaha!"


"A-apa? Kabur?! Anak itu kabur?! Ba-baiklah, saya akan mencoba menggantikannya yang baru, Ibu tak perlu memikirkannya lagi, karena saya akan kirimkan penggantinya!"


"Haha! Hati-hati, Pak! Jangan sampai hamil anaknya, bisa repot jadinya, haha!"


Itu adalah sebagian isi pesan dari ibu ketua panti, tapi mereka tak menemukan pesan masuk dari orang yang dia kirimkan pesan itu, setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Erick menemukan folder dimana dia menyimpan semua pesan itu, sepertinya wanita paruh baya itu sengaja menyimpan pesannya seperti itu, entahlah, mungkin dia ingin memeras para pelanggannya atau apa, hanya dia yang tau.


"Pantasan Ericka begitu ngotot ingin mencari sesuatu dari ketua panti ini, mungkin saat dia berkunjung, dia menemukan sesuatu di sana!" ucap Erick sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap watak asli ketua panti itu.


"Scan dan print semua pesan keluar dan masuk itu, kita cocokkan dari semua kalimat yang kira-kira nyambung dengan pesannya itu, ini bisa kita jadikan bukti perbuatan kriminalnya itu.


Ini sudah kelewatan, dia bukannya melindungi anak-anak, malah menjual juga! Aku yakin dia juga memiliki niat jahat lainnya, Erick! Cepat, periksa lagi mungkin dia menyimpan dana gelap lainnya!" ujar Nico geram.


"Sabar, Bos! Di ponselnya ini hanya berisi percakapannya ini saja yang sudah kita temukan, dan juga beberapa foto dan video penyiksaan terhadap anak panti di tempat mereka bekerja!" ucap Erick juga ikutan kesal.


Dia menyimpan banyak foto dan video bukti kejahatan ibu panti itu, dia benar-benar jahat sekali, bisa memanipulasi semuanya dengan rapi, padahal dia sudah belasan tahun bekerja di sana.


Entah sudah berapa banyak anak yang sudah menjadi korbannya, mereka jadi mengkhawatirkan kondisi anak-anak itu, dan ada juga rasa bersalahnya karena terlambat menyadari semuanya.


"Aku gak tau bagaimana reaksi Reva dan Rendy jika mengetahui semua fakta ini, karena yang kutahu mereka sangat mempercayai ketua panti ini.." gumam Nico pelan.


Sementara itu, dalam tidurnya Ericka sangat gelisah sekali, keringat dingin mengucur deras di dahinya, dia meremas kuat selimutnya dan terbangun dengan cepat.


"Azzam!!" teriaknya.


Dia langsung terduduk dari tidurnya, menatap sekelilingnya dengan nanar, Erick dan Nico yang berada di sana kaget dibuatnya, membuat para pengawal yang berjaga diluar ikut masuk juga.


"Ericka, ada apa?!" tanya Nico khawatir.


"Azzam, kak! Azzam!" ucap Ericka panik.


Melihat itu Erick berinisiatif memberikannya air minum, setelah meminum air Ericka bisa sedikit tenang, dia dibaringkan kembali ke kasurnya. Tidak lama kemudian, dokter datang memeriksanya lagi.


"Dia mengalami sedikit syok, Pak. Kemungkinan ini disebabkan oleh kecelakaan itu, tidak ada luka yang berarti, karena saat berkendara dia menggunakan sabuk pengaman dan kepalanya dilindungi oleh safety ball..


Untuk saat ini, biarkan saja dia istirahat dulu. Jika ingin bertanya, pelan-pelan saja, kemungkinan dia masih terkejut dengan apa yang menimpanya.." dokter itu kemudian berlalu pergi.


"Huft, kasihan dia.. Apa kak Nico yakin tak ingin memberitahukan keadaan Ericka ke kak Reva dan Rendy?" tanya Erick lagi.


"Aku akan memberitahu Rendy, tapi tidak dengan kakak perempuannya.. Aku tak ingin dia syok, apalagi dia juga pasti akan mencari tahu penyebab semua ini, aku tak ingin Reva juga mengetahui fakta dari panti asuhan dibawah pimpinan bu Weni langsung!


Kau sudah tau apa alasannya aku tak ingin dia tau, aku tak ingin bayi kami kenapa-kenapa. Itu saja, aku tak peduli mau dikatakan kurang peka ataupun egois, selama ini berhubungan dengan istri dan anakku juga keluarga yang lain, aku takkan bisa membiarkannya.." ucap Nico serius.


Sementara itu, Ericka setelah diberi obat penenang dari dokter kembali tertidur, dalam tidurnya dia terus mengigau menyebutkan nama adik angkatnya itu, sebenarnya.. Apa yang dimimpikannya itu, sehingga membuatnya begitu khawatir?


...----------------...


Bersambung