Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Upik Abu Menjadi Cinderella


Pricilia tidak bisa melupakan momen itu, hal yang begitu memalukan.


Dia berniat membalaskan dendamnya, dia menelpon seseorang. Seorang pria, yang sepertinya menyukai Reva.


Cinta bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakiti hatinya, dia bekerja sama dengan Pricilia untuk menjatuhkannya.


"Halo Nico, ini aku Pricilia." Kata Pricilia.


"Hai, ada apa meneleponku?" Kata pria bernama Nico itu datar.


"Aku menelpon karena ada urusan penting denganmu, jangan lupa berjanjian kita" kata Pricilia.


"Tentu saja aku ingat, tapi sayang kau lupa dengan janjimu sendiri" ucap Nico dengan nada sinis.


"Hei, aku sudah berusaha. Sabarlah... jika aku berhasil menjadi Model, dan lolos seleksi Brand Ambassador produk milikmu, makanya lebih cepat kau mendapatkannya" ujar Pricilia.


"Masalah itu gampang, berusahalah menjadi lebih baik lagi. Kalahkan Reva, rebut posisinya.


Setelah dia terpuruk, dia akan kembali ke pelukanku" kata Nico.


Nico Abraham salah satu pengusaha yang memiliki bisnis-bisnis besar di kotanya, salah satu bisnisnya di bidang fashion and beauty.


Dimana salah satu model Brand Ambassador-nya itu adalah Reva, untuk sekian lama dia menyukai seseorang, dia menemui Reva di cara Grand Opening produk terbarunya.


Dia terpukau dengan kecantikan Reva, tetapi sayangnya cintanya ditolak mentah-mentah oleh Reva.


Dia tak biasa menerima penolakan, apalagi ini masalah hati dan perasaan. Dan tentunya rasanya lebih sakit daripada penolakan lainnya.


Reva saat ini belum memikirkan perasaannya, urusan cinta baginya tidak ada gunanya. Dia trauma dengan pernikahan orangtuanya.


Penderitaan mendiang ibunya, pengkhianatan ayahnya membuatnya takut untuk memulai hubungan dengan lelaki.


Apalagi Reva pernah mendengar desas-desus soal Nico yang seorang psikopat itu, dia tidak mau mendekatinya apalagi menjalin hubungan dengannya.


"Sabarlah sedikit, kalau sudah ada waktunya aku akan menjalankan rencana ku.


Kau tak perlu mendikte ku, kau tahu siapa aku. Jangan coba-coba memberi perintah padaku atau ku hancurkan hidupmu!" Tegas Nico memberi peringatan Pricilia.


"Tenang guys, aku cuma mengingatkan rencana kita yang tak kunjung terlaksana ini.


Oke? Jangan marah." Nyali Pricilia menciut dengan bentakan Nico.


Nico pria yang berbahaya, jangan sekali-kali berurusan dengannya. Selain seorang pebisnis, ada usaha lain yang dia rahasiakan.


Pria tinggi memiliki tubuh atletis itu, dengan kulit sedikit gelap, rambut hitam yang selalu rapi itu dengan sedikit jambang diwajahnya.


Hidung mancung dengan bibir tipis, serasi dengan mata hitam kecoklatan itu. salah satu tipe pria eksotis idaman wanita.


Sangat sulit untuk mendekatinya, seleranya sangat tinggi, makanya dia tak pernah terlihat menggandeng wanita lain.


Satu-satunya wanita yang membuatnya terpikat hanya Reva, tapi sayangnya dia juga seorang mafia kejam.


Dia juga tak segan-segan menghajar bahkan menghilangkan nyawa lawannya.


Pengaruhnya cukup besar di bisnis ini, dan hanya seorang Reva lah yang bisa membuatnya jatuh hati.


Sekaligus mendapat penolakan pertama kali seumur hidupnya.


"Si*l, gadis itu harus kudapatkan agar dapat aku memberinya pelajaran. Biar dia tahu bagaimana rasanya berurusan dengan orang yang salah" katanya dengan nada datar.


**


Ditempat lain, di sekolahnya Ericka.


Ericka bersekolah di Internasional School, sekolahnya para kalangan elit.


Sebenarnya orang tuanya tak ingin menyekolahkannya di sana, terlalu mahal dan bergengsi hanya untuk seorang Ericka saja, menurut mereka.


Tetapi mereka juga harus memikirkan reputasi keluarga, mereka tak ingin dipandang rendah hanya karena salah satu anggota keluarganya yang bersekolah ditempat biasa.


Tetapi itu tak berpengaruh bagi Ericka, dimana saja dia berada dia tetap jadi bahan hinaan semua orang.


Karena ulah Ibu dan saudara tirinya, semua orang tahu identitasnya, tentu saja identitas palsu yang mereka sebar.


Ericka lega, paling tidak hari ini dia terakhir masuk sekolah dan melupakan semuanya yang ada disini.


"Siapa dia? Cantik banget"


"Apa dia bersekolah disini? Kenapa aku tak pernah melihatnya?"


"Hai, cantik"


"Mau kemana sayang? Mau aku temani?"


Begitulah reaksi teman-teman sekolahnya pertama kali melihatnya berdandan seperti itu.


Mereka tidak tahu bahwa dia adalah Ericka, gadis yang selalu mereka bully.


Begitu banyak mata memandang kearahnya, ada tatapan kagum, tatapan iri dan juga tatapan heran.


Saat itu Ericka ditemani bi Mirna, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Tidak biasa baginya diperhatikan seperti itu.


Sedangkan beberapa temannya, banyak tidak tahu dengan bi Mirna. Bayangkan jika mereka tahu, bahwa Ericka ditemani seorang pengasuh dihari kelulusan dan wisudanya itu.


Tak ayal dia akan menjadi bahan tertawaan dan olokan lagi. Hanya beberapa guru dan wali murid saja yang tahu.


Mereka mengetahui perihal bi Mirna saat menghadiri rapat internal wali murid atau pengumuman dari gurunya langsung.


Ada yang bersimpati, dan banyak juga yang mencemoohnya.


"Bi, lebih baik kita duduk di sana saja. Aku tak nyaman menjadi pusat perhatian begini" kata Ericka sambil menunjuk salah satu sudut di auditorium gedung sekolahnya, tempat itu sengaja dijadikan tempat kelulusan dan wisuda mereka.


Tiba-tiba ada yang menghampiri mereka, yaitu salah satu murid sekolah yang berprestasi dan cantik.


Siapa lagi kalau bukan Julia and the gang, Julia dan teman-temannya suka sekali merundung Ericka.


Mereka menghampiri Ericka dan bi Mirna, karena dia mendengar tentangnya yang berubah cantik itu.


"Hai Upik Abu, wah! Benar kata mereka, sekarang kau berubah sekali" kata salah satu teman Julia.


"Ah, paling juga bertahan sehari aja, setelah itu akan selamanya menjadi Upik Abu" timbal yang lainnya.


"Kecuali kalau dia tidak mau menghapus make up nya selamanya, haha!" Ledek juga yang lain.


"Sudah, sudah! Jangan ganggu dia lagi, kasihan. Hari ini terakhir kita bertemu dengannya.


Mari kita beri kesan terakhir yang mengesankan untuknya," setelah itu Julia menyiram Ericka dengan air jus yang ada di gelasnya.


Otomatis Ericka basah kuyup dan make up nya luntur, kebaya yang dia pakai menjadi kotor oleh noda jus itu.


"Hentikan, apa yang kau lakukan?!" hardik bi Mirna, dia tak tega melihat Ericka dirundung Julia dan teman-temannya itu.


Mereka tertawa puas bisa mempermalukan Ericka, teman-teman yang lain yang tadi tidak tahu itu Ericka mereka mencibirkan bibir mereka.


"Aku pikir putri kayangan, ternyata putri khayalan"


"Iya, putri khayalan. Putri yang kerjaannya mengkhayal menjadi putri raja"


Mereka terus menghujani cacian dan cemoohan kepada Ericka, dia hanya diam saja.


Dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, tetapi tidak dengan bi Mirna. Dia tidak terima Ericka diperlakukan seperti itu.


"Ayo kita ke kamar mandi, bersihkan dulu dirimu" kata bi Mirna.


"Tapi Bi, sebentar lagi acara akan dimulai?" Ericka panik dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Tenanglah, masih ada waktu, setidaknya keringkan tubuhmu dulu" ujar bi Mirna.


Saat Ericka sedang sibuk membersihkan diri, bi Mirna menelpon Reva dan menceritakan apa yang terjadi pada adiknya itu.


"Baiklah Bi, aku akan mengutus beberapa orang ke sana. Tidak akan lama, mereka akan sampai.


Sampaikan permohonan maaf ku pada Eri. Aku tak bisa menghadiri acara penting itu untuknya ..." kata Reva lirih.


Bi Mirna cukup lama menunggu orang-orang yang dikirim Reva untuknya, dia khawatir tidak punya waktu lagi sebelum acara dimulai.


Ternyata benar, selang beberapa menit kemudian datang tiga orang berpakaian rapi menghampirinya.


"Ini Bi Mirna, pengasuh nona Ericka?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya benar, apa kalian orang yang diutus non Reva?" tanya bi Mirna.


"Benar, tunjukan pada kami dimana nona Ericka berada." Pinta mereka.


Tanpa menunggu lama, bi Mirna membawa mereka ke kamar mandi dimana Ericka masih sibuk dengan baju kotornya.


"Bi, bagaimana ini? Nodanya sulit hilang" ujar Ericka panik.


Baju kebayanya yang basah dan terlihat jelas noda kotornya, make up sudah tak rapi dan sanggulnya berantakan.


"Tenang Nona, kami akan membantumu" ucap orang-orang tadi.


Ericka terlihat kebingungan dengan kedatangan tiga orang wanita asing ini, mereka membawa tiga tas besar. Dan siap mendandani Ericka kembali.


Awalnya Ericka ragu, tapi bi Mirna menjelaskan semuanya. Sehingga Ericka lebih tenang dan bahagia.


Karena kakaknya Reva masih ada untuknya meskipun dia tak hadir, dengan bantuannya ini sudah lebih dari cukup baginya.


***


Acara sudah dimulai, beberapa kata sambutan sudah disampaikan.


Berbagai tampilan seni sudah dilakukan oleh adik kelas jurusan seni untuk persembahan terakhir mereka.


Sekarang tibalah saatnya pengumuman murid berprestasi tahun ini, murid dengan nilai terbaik.


Satu persatu murid berprestasi maju ke depan menerima penghargaan dan piagam bergengsi mereka.


Salah satunya Julia, dia bangga dan memamerkan piagam nya. Orang tuanya yang hadir sangat bangga dengannya.


"Baiklah para hadirin semuanya, saatnya waktu pengumuman Student In The Year.


Acara yang ditunggu-tunggu oleh para siswa dan wali murid tentunya. Dan tentunya penghargaan ini menentukan siapa dirimu yang sebenarnya" kata MC tersebut.


Semuanya berharap cemas, tidak dengan Julia. Dia sudah pasti menduga bahwa dirinya lah yang akan mendapatkannya.


Apalagi dia mendapat dukungan yang banyak dari para siswa, bahkan para guru terang-terangan memuji kepintarannya.


"Baiklah, penghargaan bergengsi tahun ini akan diberikan kepada-" MC sengaja menggantung kalimatnya agar para siswa bersiap-siap dengan nama tersebut.


"Ericka Victoria Wijaya!" Dengan lantang MC itu menyebut namanya.


Semua orang tidak percaya, mereka terperangah dengan keputusan tersebut.


Bahkan tak sedikit para murid ataupun wali murid lainnya yang tak terima.


Apalagi Julia, hatinya remuk redam penghargaan yang ditunggu-tunggu olehnya berhasil direbut oleh si upik abu tak berguna itu.


Dia ingin berdiri dan mengungkapkan rasa tak terimanya dia dengan keputusan itu, tetapi dihalangi orang tuanya.


Mereka tak ingin anaknya membuat malu mereka dengan tingkahnya.


"Sudahlah, tenangkan dirimu. Kita lihat saja seperti apa dia saat melangkah keatas podium nanti" ujar mamanya Julia, ibu sosialita itu nampak begitu meremehkan Ericka.


Tentu saja Julia ingat saat dia dan temannya menyiram air kearah Ericka, betapa menyenangkannya membuatnya malu.


Dia ingin melihat Ericka berpenampilan buruk didepan semua orang.


Tetapi mereka semua lupa, bahwa Ericka juga gadis pintar dan berprestasi. Banyak penghargaan yang dia dapatkan dari berbagai kompetisi.


Karena tidak punya teman dan tidak punya waktu bermain, dia habiskan hari-harinya dengan belajar.


Dan tentunya, kerja keras akan membuahkan hasil.


Tiba-tiba pintu gerbang samping auditorium itu terbuka, mereka melihat sosok wanita cantik bergaun mewah.


Gaun berwarna soft pink dengan payet ber manik pearl, sangat elegan dengan sepatu high heels warna senada.


Rambutnya sedikit terurai, dibentuk dengan indah dipadukan dengan tiara kecil di kepalanya.


memakai perhiasan mahal dan mewah ditambah make up yang soft natural elegan, menambah kecantikan dan aura yang luar biasanya.


"Saudara-saudara, mari berikan tepukan meriah pada Nona Ericka Victoria Wijaya!" Sekali lagi MC itu mengenalkannya.


Tepuk riuh gemuruh memenuhi seisi auditorium itu, Ericka berhati-hati melangkah saat naik keatas podium.


Dia terharu, tak menyangka akan mendapatkan respon yang luar biasa dari mereka semuanya.


Bi Mirna menangis terharu dengan pencapaian anak asuhnya itu.


"Lihat, si upik abu telah menjadi Cinderella" ucap yang lain.


Melihat perubahan Ericka yang begitu drastis ditambah respon semua orang yang menyambutnya, membuat perasaan Julia hancur tak karuan, semakin benci dia dibuatnya.


Dibalik semua itu, ada seseorang yang memperhatikannya di bangku para undangan.


Orang itu tersenyum bangga pada Ericka.


...----------------...


Bersambung