The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 98. Makan malam


Malam hari di hotel.


Sierra berjalan dengan anggunnya menyusuri hotel, ia bergandengan tangan dengan Arthur yang juga terlihat sangat tsmoan seperti biasanya.


Sierra mengenakan gaun berwarna merah sesuai tema Natal. Gaun itu sepanjang betis Sierra, dengan lengan pendek. Rambut panjang Sierra di gerai, wajah asia kulit seputih susu, sungguh bagai dewi tiongkok.


" Tuan Arthur.." Ucap seorang wanita yang entah datang daei mana, menyapa Arthur.


Arthur yang pada dasarnya tidak suka di dekati wanita lain selain Sierra pun hanya menatap datar wanita itu. Wanita dengan gaun mencolok berwarna emas dengan rambut sebagu itu berjalan dengan di buat se anggun mungkin mendekat kearah Arthur.


' Siapa bibi ini, dia kenapa terlihat seperti.. Tebar pesona pada suamiku.' Batin Sierra menatap wanita itu.


" Tuan Arthur, rupanya anda menginap di hotel ini?" Ucap wanita itu.


" Hm.." Hanya itu sahutan Arthur, tetapi ia sama sekali tidak menatap wanita itu.


" Kebetulan sekali, apakah nyonya dan tuan Edward juga datang?" Ucap wanita itu.


" Tidak." Balas Arthur singkat.


Sierra tersenyum melihat interaksi keduanya itu, seperti wanita tua pencinta berondong yang tengah mengejar perhatian Arthur yang berusia lebih muda.


" Oh, lalu anda datang dengan siapa?" Ucap wanita itu.


' Apa yang wanita ini inginkan sebenarnya?' Bayin Arthur kesal.


" Halo tuan dan nyonya Arthur. Silahkan, kursi kalian berada di bagian sana." Ucap GM hotel itu ramah.


" Nyonya?? Dimana? Aku tidak melihat nyonya Edward." Ucap wanita tadi.


" Dia, adalah nyonya muda Edward, ayo sayang." Ucap Arthur, menggandeng tangan Sierra.


" Ya." Sahut Sierra.


Arthur dan Sierra pun berjalan masuk, mereka melewati begitu saja wanita tadi dengan GM hotel itu. Wanita tadi sampai melongo tak percaya, sejak kapan Arthur menikhah pikirnya.


" Kenapa tuan Arrhur menyebut gadis iru nyonya muda Edward? Kau juga menyapanya dengan sebutan nyonya Arthur, memang siapa dia?" Tanya wanita tadi.


" Nyonya Sisi tidak tahu? Dia adalah nyonya Sierra, istri tuan Arthur. Mereka menikah disini minggu lalu, dan masih menetap disini untuk honeymoon." ucap GM hotel.


'WHAT!!! Arthur Edward menikah di hotelku dan aku tidak tahu itu?!!' Ucap wanita bernama Sisi itu.


' Apa apa an ini, aku menolak semua pria hanya agar bisa mendekatinya, tapi malah dia menikah dengan wanita lain. Kelihatannya juga wanita itu masih sangat muda.' Batin Sisi lagi.


" Kau boleh pergi." Ucap sisi pada GM.


" Baik nyonya." Ucap GM.


Sisi melihat betapa manisnya Arthur memperhatikan dan memperlakukan Sierra. Bahkan untuk hal kecil seperti tempat duduk pun, Arthur menarikkan nya untuk Sierra.


' Seharusnya aku yang di perlakukan begitu. Ja*ang kecil itu! Beraninya merebut mangsa besarku.' Batin Sisi.


" Sayang, siapa wanita tadi?" Tanya Sierra.


" Entahlah, aku tidak mengenalnya." Ucap Arthur, jujur.


" Hmm.. Tapi kelihatannya dia sangat tertarik dengan suamiku ini." Ucap Sierra.


" Kamu cemburu?" Ucap Arthur.


" Sebagai sorang istri tentu saja aku cemburu, tapi mengingat bahwa suamiku ini memiliki phobia terhadap wanita selain aku dan mami.. Sudah terlihat wanita tadi yang mengejarmu." Ucap Sierra.


" Nyonya Arthur sangat pintar." Ucap Arthur.


Mereka pun menikmati acara yang sudah di selenggarakan. Makan malam bersama seluruh penghuni hotel, juga menampilkan sebuh pertunjukan dari anak anak panti asuhan dengan bertemakan malam Natal.


Ada juga pemain biola yang mengiringi malam Natal itu sehingga terasa lebih romatis. Hingga tibalah pemilik hotel iru menunjukan satu persatu wajahnya, dan salah satunya adalah wanita bernama Sisi tadi.


" Rupanya dia putri pemilik hotel ini." Gumam Sierra.


" Sepertinya mereka juga menjujung sosial sangat tinggi, bagus untuk peduli pada anak anak yatim yang kesulitan di luar sana." Ucap Sierra lagi.


" Baiklah, ini sudah larut. Ayo kita kembali." Ucap Arthur.


Saat Arthur berdiri mengulurkan tangannya pada Sierra, Sisi datang menghampiri mereka dengan membawa dua gelas bir untuk Sierra dan Arthur.


" Tuan Arthur, nyonya Sierra. Apakah kalian sudah ingin kembali? Padahal aku membawakan minuman untuk kalian. Kalian adalah tamu terhormat bagi kami, bagaimana jika kita makan malam bersama keluargaku." Ucap Sisi.


" Terimakasih bibi, kami ingin beristirahat." Ucap Sierra, dan hampir membuat Arthur tergelak.


'WHAT!! Beraninya dia memanggilku bibi!' Batin Sisi.


" Nyonya Sierra bisa saja saat bercanda. Saya belum menikah, juga usia saya tidak setua itu." Ucap Sisi.


" Tidak masalah, jadi apakah tuan dan nyonya Arthur bersedia?" Ucap Sisi.


" Baiklah." Ucap Sierra, Arrhur menatap Sierra dan Sierra hanya tersenyum mengangguk.


" Oh, itu bagus. Kalau begitu mari , ikut saya." Ucap Sisi.


" Terimakasih." Ucap Sierra.


" Sayang kenapa kamu menerima ajakannya?" Ucap Arthur.


" Aku ingat pria pemilik hotel ini adalah salah satu rekan kerja papi yang membelaku saat di acara pertunangan kita." Ucap Sierra.


" Jadi aku hanya ingin menghormati niat baiknya saja. Lagi pula kita menikah di hotelnya, akan tidak sopan menolak ajakan bibi itu." Ucap Sierra


" Istriku memang baik." Ucap Arthur.


Akhirnya mereka sampai di lantai bawah, dimana ada ruangan khusus untuk pertemuan besar. Rupanya pria pemilik hotel itu memiliki empat orang putri dan semuanya sudah menikah kecuali Sisi. Padahal Sisi adalah yang tertua.


" Ayah, lihat.. Ternyata tuan Arthur Edward berada di hotel kita." Ucap Sisi pada ayahnya.


' Dia tidak menyebut istriku, beraninya.' Batin Arthur.


" Oh, Astaga.. Tuan muda Arthur rupanya menginap disini. Sebuah kehormatan bagi saya melihat anda di hotel kami." Ucap pria itu.


" Terimakasih, saya lebih berterimakasih dengan hotel ini. Hotel ini telah menjadi saksi pernikahan kami." Ucap Arthur merangkul Sierra.


" Oh, Astaga! Nona Sierra Leona. Kalian telah menikah?" Tanya pria itu.


' Sierra Leona? Kenapa namanya tidak asing.' Batin Sisi.


" Ya, kami menikah disini seminggu yang lalu." Ucap Arthur.


" Kalau begitu selamat untuk pernikahan kalian. Astaga, saya sangat sibuk sampai tak memperhatikan kalian ada disini." Ucap Pria itu lagi.


" Tidak masalah, tuan. Oiya, maaf saya tidak bisa ikut makan malam bersama kalian. Aku berjanji untuk menemani istriku makan malam romantis." Ucap Arthur.


" Oh, tidak apa - apa, tidak apa - apa. Nimakti saja honeymoon kalian. Sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian berdua." Ucap pria itu.


' Ayah... Kenapa malah membiarkan dia pergi!' Batin Sisi kesal.


" Kalau begitu kami permisi, ayo sayang." Ucap Arthur, Sierra mengangguk dan tersenyum pada semua orang.


" Kami permisi." Ucap Sierra.


" Ya, ya.. Selamat menikmati bulan madu kalian. " Ucap pria itu lagi.


Arthur dan Sierra pun pergi. Arthur melepas jasnya dan memakaikan nya di tubuh Sierra. Mereka pasangan muda yang yerlihat sangat manis. Setelah Arthur dan Sierra pergi, Sisi menunjukan wajah aslinya.


" Kenapa ayah mengizinkannya pergi? Dia Arthur Edward ayah. Status hotel ini bisa naik jika tersebar kabar bahwa Arthur Edward menginap disini." Ucap Sisi.


" Ayah sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Si, apa kamu masih kukuh ingin memiliki Arthur? Dia sudah menikah, kau melihatnya sendiri bukan?" Ucap ayah Sisi.


" Tetap saja, siapa tau aku bisa menggeser posisi istrinya itu." Ucap Sisi tak tahu malu.


" Mereka tidak akan terpisah, ayah mengenal Mereka berdua. Di tambah lagi, siapa yang tidak tahu Arthur memiliki phobia terhadap wanita." Ucap ayah Sisi.


" Ish!!" Desis Sisi kesal.


Sierra dan Arthur telah sampai di kamar hotel mereka. Entah mengapa Arthur jadi begitu manja dan terus bergelayut di tubuh Sierra.


" Sayang... " Ucap Sierra.


" Hm.." Sahut Arthur.


" Kenapa tiba tiba begitu manja?" Ucap Sierra.


" Ayo kita kembali saja ke Jakarta, kita gelar resepsi pernikahan kita. Agar seluruh dunia tahu bahwa kamu adalah istriku, istri Arthur Edward." Ucap Arthur. Sierra merasa aneh sendiri dengan suaminya itu.


" Beraninya dia tidak menyambutmu, aku akan membuat seluruh dunia mengenalmu, Sierra Leona, istri Arthur Edward." Ucap Arthur lagi sambil bergelajut di pundak Sierra.


Akhirnya Sierra menyadarinya, suaminya itu emosi karena Sisi hanya menyambut Arthur dan tidak menyambut dirinya, Sierra pun terkekeh.


" Astaga, suamiku rupanya memiliki sisi seperti ini. Baiklah.. aku menurut kamu saja." Ucap Sierra.


" Kamu istriku, tidak ada yang boleh merendahkanmu di dunia ini." Ucap Arthur bersungguh sungguh.


Sierra begitu terkesan dengan suaminya itu. Tidak menyangka hanya hal kecil saja dia bisa begitu melindunginya.


TO BE CONTINUED..