
Setelah selesai makan malam kini Sierra, Arthur dan Daniel duduk di ruang tengah. Pelayan menyiapkan bebrapa kue sebagai makanan penutup.
" Terimaksih sudah menyempatkan untuk pulang kerumah nak, ini rumahmu sering seringlah datang kemari." Ucap Daniel.
" Oh, apakah sekarang rumah ini menjadi rumahku? Aku ingat seseorang mati matian mencoba mengusirku dari rumah ini dulu. " Ucap Sierra.
" Sierra, bisakah kamu tidak membahas masalalu dan.."
" Tidak.. aku tidak bisa melupakan semua rasa itu. Sakit hatiku, sakit fisik, kekecewaanku, semuanya. Aku tidak bisa melupakannya. Dan jika aku melihat anda, hanya luka luka itu yang aku ingat." Ucap Sierra dingin, memotong ucapan Daniel.
Daniel terdiam, memang dirinya pun menyadari bahwa ia sama sekali tidak layak dan tidak pantas menjadi ayah untuk Sierra, ia terlalu sering menyakiti Sierra dulu.
" Bukankah ada yang ingin anda bicarakan? Katakanlah, aku sudah tidak punya banyak waktu." Ucap Sierra.
" Ayah hanya ingin memohon maaf padamu." Ucap Daniel.
Sierra tersenyum, tetapi bukan senyum bahagia, melainkan senyum penuh kekecewaan dan merasa lucu dengan sosok ayah kandungnya itu. Kata maafnya datang sangat sangat terlambat.
" Apakah anda sudah menghitung berapa kali anda memukulku sejak aku kecil hingga aku berusia 20 tahun?" Tanya Sierra.
Daniel menatap Sierra, pandangannya penuh dengan penyesalan.
" Terakhir kali anda menamparku saat kita bertemu dirumah ini, dan aku sudah mengatakan untuk anda menghitungnya. Apakah sudah terhitung kira kira berapa kali anda menamparku dengan tangan anda itu??" Ucap Sierra lagi.
( Ada di EPS.30.)
" Nak.. maaf. " Ucap Daniel.
" Aku juga sudah katakan, pada saat anda mengetahui kebenarannya nanti, jangan meminta maaf padaku, aku tidak bisa memaafkanmu." Ucap Sierra.
Mengingat betapa kasarnya Daniel padanya dulu, membuat Sierra kembali merasa emosi saat ini. Tatapannya dingin, dan tidak tersentuh sama sekali dengan pengakuan maaf Daniel.
" Jika hanya itu yang ingin anda katakan, maka seharusnya saat ini aku bisa pergi. Tolong jangan ganggu hidupku lagi tuan Daniel, seperti ucapanmu dulu kau tidak menganggapku putrimu, maka teruslah lakukan itu. Sebab aku sendiri sudah tidak mengharapkan dirimu menganggapku sebagai putrimu. Aku sudah tidak membutuhkan pelukan sosok ayah yang dulu sangat aku rindukan. Diantara kita, tidak ada hubungan ayah dan anak lagi, seperti apa yang selalu kau ucapkan dulu." Ucap Sierra tegas.
" Sierra..." Ucap Daniel.
" Sayang, ayo pulang. Aku sudah lelah." Ucap Sierra kepada Arthur.
" Ayo.. " Ucap Arthur dengan lembut.
" Sierra, ayah sudah mengakuimu dihadapan publik bahwa kamu adalah putri kandung ayah, seluruh dunia sudah tahu kamu putri ayah. Apakah kamu akan tetap keras kepala dan pergi.?" Ucap Daniel.
" Tuan Daniel, sadarkah anda disini sebenarnya siapa yang keras kepala.? Itu anda tuan, Sierra sudah tidak lagi membutuhkan pengakuan darimu bahwa dia adalah putrimu. Sierra sudah diam dengan semua tentang dirimu, ia tak lagi mencari dirimu atau menginginkan sosok ayahnya. Tidak bisakah anda menghormati keputusannya? Lagi pula sejak awal anda yang sudah membuang Sierra, apakah anda tidak ingat itu.?" Ucap Arthur.
Arthur sudah menahan emosinya sejak tadi, mendengar apa yang dikatakan Sierra, ia menjadi ikut marah pada Daniel. Arthur menjadi teringat dengan cerita Sierra yang mengatakan saat dikehidupan Sierra sebelumnya, Daniel meminta pihak polisi untuk mengeksekusi Sierra secara langsung.
Melihat wajah Daniel yang begitu merasa bersalah dan menyesal pun Arthur tidak tersentuh sama sekali. Yang Arthur ingat adalah bagaimana Sierra nya menderita di kehidupannya yang lalu.
" Kenapa kamu ikut campur Arthur, ini adalah urusan kami." Ucap Daniel.
" Urusan Sierra, adalah urusanku. Apalagi jika itu menyangkut tentang dirimu tuan Daniel. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya lagi, atau membuatnya menangis lagi. Sudah cukup kalian semua menyakiti Sierraku." Ucap Arthur Tegas.
Arthur menggandeng tangan Sierra dengan lembut.
" Kami permisi." Ucap Arthur.
Arthur dan Sierra pergi dari kediaman Leon meninggalkan Daniel yang masih berdiri mematung.
' Jika saja kau bukan ayah kandung Sierra, sudah aku pastikan kau tidak akan melihat hari esok lagi .' Batin Arthur.
KLAP.!!
Suara pintu mobil ditutup.
Saat ini Arthur dan Sierra sudah berada didalam mobil.
" Huffft...." Arthur menghembuskan nafas, ia hampir tidak bisa mengontrol emosinya tadi.
Arthur menatap Sierra yang duduk di sebelahnya saat ini. Tiba tiba Arthur memeluk Sierra.
" Kamu kenapa.??" Tanya Sierra bingung.
Padahal Sierra yang menghadapi masalah, tapi Arthur yang justru terlihat lebih emosi saat ini.
" Berjanjilah sayang, apapun kesakitan dan kesedihan yang kamu alami bagilah itu denganku. Jangan kamu menanggungnya sendirian lagi, kamu punya aku sekarang, berjalnjilah." Ucap Arthur sambil memeluk Sierra.
" Mh.. aku janji." Ucap Sierra.
Sierra bahagia, setelah sekian lama menginginkan tempat berlindung, kini akhirnya ia memilikinya juga. Arthur, bagaikan malaikat penjaganya saat ini.
" Aku mencintaimu." Ucap Arthur.
" Ya, aku juga mencintaimu. Kamu sudah mengatakan itu berkali kali." Ucap Sierra.
" Karena aku semakin mencintaimu, dan tidak pernah berkurang sedikitpun. Bahkan rasa Cinta itu kian bertambah setiap detiknya." Ucap Arthur.
Arthur melepas pelukannya, dan ia pun mengemudikan mobilnya sambil sebelah tangannya menggenggam tangan Sierra erat.
Sementara Daniel sendiri kini ia terduduk lesu di kursinya, semua usahanya tidsk membuahkan hasil, justru sierranya menekankan agar dirinya tidak mengganggu Sierra lagi. Daniel semakin terpukul, penyesalannya semakin dalam dan dalam saja.
" Sophia.. aku kehilangan putri kita." Gumam Daniel sambil menatap foto Sophia.
Daniel teramat sangat menyesali semua perbuatannya kepada Sierra. Semakin hari semakin ia menyesal, karena semakin banyak sikap buruknya terhadap Sierra yang ia ingat.
Beberapa hari telah berlalu..
Sierra sedang berada di sebuah ruangan yang terlihat penuh dengan gaun gaun mewah. Saat ini dirinya bersama dengan Sahara di sebuah toko dengan brand ternama.
" Sayang, kamu sudsh dapat gaunnya?" Tanya Sahara.
" Belum mi, ini terlalu banya Sierra tidak tahu harus pilih yang mana." Ucap Sierra.
" Astaga sayang, kalau begitu biar mami bantu carikan yang sesuai dengan tubuhmu." Ucap Sahara.
" Nah.. yang ini sepertinya sangat cocok denganmu sayang, cobalah.." ucap Sahara.
Sahara mengambil sebuah gaun berwarna cokelat ke emasan dengan bertabur berlian di sekelilingnya. Gaun itu memiliki lengan panjang berbahan tile polos.
" Baik mi, Sierra masuk dulu." Ucap Sierra dan masuk kedalam ruang ganti.
" Mi, dimana Sierra.?" Tanya Arthur yang datang menyusul.
" Dia sedang mencoba gaun, kamu bantulah dia memilih gaun. Apakah kamu dan papi sudah mendapatkan tuksedo yang pas dengan tema kita besok malam.?" Tanya Sahara.
" Sudah , papi sudah mengurusnya." Ucap Arthur.
Tiba tiba ruangan terbuka, dan Sierra muncul dengan gaun ke emasan yang Sahara pilihkan tadi.
" Aaa.... Ya ampun sayang, kamu cantik sekali. Wah.. mami tidak salam memilih gaun ini." Ucap Sahara.
Arthur tertegun dengan penampilan Sierra, Sierra bagaikan mempelai pengantin wanita yang siap untuk dinikahinya.
" Arthur, lihat.. gaun yang mami pilih ini bukankah sangat cocok dengan Sierra.? " Ucap Sahara.
" Ya, Sierra sangat cantik." Gumam Arthur
Sahara mengernyit bingung, dirinya bertanya apa tapi Arthur menjawab apa.
" Eih.. dasar yang sedang mabuk cinta." Gumam Sahara.
TO BE CONTINUED..