The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 77. Mimpi Buruk.


Sierra bangun dari tidurnya, tapi ia tidak melihat siapapun disana.


" Arthur.." Panggil Sierra.


Sierra bingung karena sat ini dirinya berada di kediaman lamanya, kediaman Leon. Ia sangat yakin, sebelum ia tertidur ia bersama Arthur di kediaman besar keluarga Edward.


" Kenapa aku disini? Kemana Arthur?" Gumam Sierra.


" Sierra." Ucap Sebuah suara yang sangat Sierra kenal. Selama bertahun tahun di kehidupannya yang lalu, ia tinggal dengan pemilik suara itu.


" Al.. Alden! Kenapa kau disini?!" Ucap Sierra ketakutan.


Saat ini Alden membawa senjata api dan menodongkannya kearah Sierra.


" Kau sudah mati bukan?! Kenapa kau tidsk mati saja? Kenapa harus kembali hidup dan membuat semua rencanaku kacau berantakan! Sierra, aku akan membunuhmu." Ucap Alden.


" Tidak! Kau tidak bisa membunuhku." Ucap Sierra.


" Kau harus mati Sierra, karenamu aku harus di penjara. Kau seharusnya sudah mati!!" Ucap Alden berteriak.


" Tidak!" Ucap Sierra sambil dirinya mundur perlahan.


" Kau harus mati Sierra! Mati!!." Teriak Alden.


DOR.!!


" TIDAK!!!" Teriak Sierra.


" Sayang, hei.. Kamu kenapa?? Kamu mimpi buruk?" Ucap Arthur.


Sierra menatap sekelilingnya dan itu adalah kamar Arthur, Sierra melihat Arthur lalu langsung berhambur kepelukan Arthur.


" Aku takut." Ucap Sierra.


" Sayang.. Tenangkan dirimu, itu hanya mimpi. Minum dulu, ayo." Ucap Arthur memberikan sebotol air mineral pada Sierra.


" Kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya Arthur.


Sierra mengangguk walau nafasnya masih tidak beraturan dan tangannya masih sedikit gemetaran.


" Arthur, aku bermimpi Alden menangkapku dan membawaku ke kediaman lamaku. Dia berkata aku harus mati, lalu dia menembakku." Ucap Sierra.


" Ssttt... Sayang, itu hanya mimpi saja. Kamu akan baik baik saja, tidak akan ada yang terjadi kepadamu, aku akan melindungimu. " Ucap Arthur.


" Aku takut.." Ucap Sierra.


" Sayang, tolong jangan terlalu dipikirkan, itu hanya mimpi. Kemari, kita tidur lagi oke.. Aku ada bersamamu, aku tidak akan kemana mana." Ucap Arthur.


Sierra masuk kembali kedalam pelukan Arthur. Ia memeluk Arthur sangat erat, sangat sangat erat seakan Sierra takut Arthur akan pergi jauh darinya.


" Jangan tinggalkan aku." Ucap Sierra.


" Aku tidak pergi kemanapun sayang, aku akan menemanimu disini. Tidur ya.." Ucap Arthur lembut, sambil membelai rambut Sierra dan mengecup berulang kali pucuk kepala Sierra yang saat ini berada di pelukannya.


Arthur melihat jam rupanya masih sekitar pukul 3 dini hari. Ia pun kembali ikut terpejam sembari tangannya mengusap kepala Sierra dan menciumi Sierra.


Hingga matahari menyingsing tinggi, keduanya masih belum bangun dari tidurnya, posisi mereka pun masih sama, masih saling memeluk. Sampai Arthur bangun lebih dulu ketika merasakan panggilan alamnya di pagi hari ( buang hajat.)


Perlahan ia bangun dan menarik tangannya dari Sierra, lalu ia pun pergi ke kamar mandi diam diam. Di luar ruangan kamar itu, tepatnya di ruang tengah saat ini Malvin datang menunggu kehadiran Arthur.


Ia sudah menempatkan banyak anak buahnya unuk menjaga kediaman itu. Sampai sampai Sahara kebingungan sendiri, mengapa sepertinya semalam ia mendengar suara suara aneh di taman belakang, karena kebetulan kamar Sahara dan Cornelius menghadap taman belakang.


" Malvin! katakan kepada bibi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semalam seperri banyak sekali orang di luar rumah." Ucap Sahara pada Malvin.


' Astaga, bibi memang paling peka. Hal kecil pun di merasakannya.' Batin Malvin.


" Tidak apa apa bibi, mungin kucing liar yang sedang bermain disana." Ucap Malvin berbohong.


"Kamu pikir bibi bodoh? Kucing mana yang bisa masuk ke kediaman ini? Pagar rumah kita diluar sana sangat tinggi dan kokoh juga rapat tak ada sedikitpun lubang. Dari mana kucing itu masuk? Katakan dengan jujur Malvin, atau bibi akan kecewa kepadamu." Ucap Sahara.


' Ya Tuhan, dilema aku. ' Batin Malvin.


" Tuan muda, Anda belum bersiap?" Tanya Malvin.


" Aku akan bekerja dari rumah, kamu saja yang ke perusahaan dan tangani urusan disana. Jika ada pertemuan yang mengharuskan kehadiranku, kita lakukan secara online saja. " Ucap Arthur.


Sahara semakin curiga ada sesuatu yang terjadi. Baik Sahara atau Cornelius, tidak ada yang tahu babwa putra mereka itu seorang Lucifer, ketua mafia TITANES yang terkenal di luaran sana dan sangat di takuti


" Bisakah salah satu dari kalian jujur! Sebenarnya ada apa ini?? Mami semakin yakin bahwa ada sesuatu yang kalian sembunyikan, benar?" Ucap Sahara.


" Tidak ada mi, Arthur hanya ingin merawat Sierra, dia sakit." Ucap Arthur berbohong.


" Apa! Sierra sakit? Tiba tiba sekali, apakah dia sudah minum obat? Dimana dia, apakah belum bangun? " Tanya Sahara berentet.


" Mami, tenang. Sierra masih tidur, dia semalaman terus bermimpi buruk, jadi dia kurang istirahat." Ucap Arthur.


" Astaga! Kasihan sekali Sierra. Kalau begitu mami akan buatkan dia minuman penghangat tubuh." Ucap Sahara.


" Terimakasih, mi." Ucap Arthur.


Setelah Sahara pergi, Arthur pun kembali pada mode seriusnya dan duduk di depan Malvin.


" Tuan muda, semalam saya mendapatkan foto dari mata mata kita di bandara. Ada yang melihat Alden terbang dengan identitas palsu." Ucap Malvin formal.


" Jika dia mendapatkan identitas palsu dan bisa sampai terbang keluar, berarti ada yang membantunya. Dan orang itu sudah pasti kepala dari asosiasi pengedar obat obatan terlarang itu, yang sesungguhnya." Ucap Arthur.


" Saya sedang menyelidiki kembali akar akar yang saling bertautan ini. Tapi tuan muda, apakah mungkin ada Raja lain di balik Raja yang kita ketahui?" Ucap Malvin.


" Bisa jadi begitu. Kemana kira kira tujuan penerbangan Alden, Apa kau tahu? " Ucap Arthur.


" Incheon, Korea Selatan." Ucap Malvin.


" Kau sudah menghubungi orang orang kita disana?" Tanya Arthur.


" Sudah tuan, tapi saat di bandara tidak terlihat sama sekali keberadaan Alden. Entah dia kemana, mungkin dia langsung melakukan penerbangan ke kota lain di sana." Ucap Malvin.


" Baiklah, selama dia tidak ada di tanah air, itu bagus. Jika sampai aku menangkapnya nanti, aku pastikan kepalanya tidak berada di tempatnya." Ucap Arthur.


" Kembalilah keperusahaan, dan jangan buat gerakan yang mencurigakan. Mami adalah wanita terpeka." Ucap Arthur.


" Baik tuan muda, maaf. Kalau begitu saya pergi dulu." Ucap Malvin.


" Hmm.. " Sahut Arthur.


Setelah Malvin pergi, Arthur pun kembali ke kamarnya. Ia melihat Sierra ruoanya masih tertidur pulas.


" Dia tidur pun sangat menggemaskan, seperti kucing kecil." Gumam Arthur.


Arthur menciumi kening Sierra, hingga pipinya. Tujuan Arthur saat ini adalah untuk mengganggu tidur Sierra, agar Sierra bangun.


" Hmm.." Sierra bersuara.


" Bangun sayang, sudah pagi menjelang siang. Kamu harus sarapan dan meminum obatmu." Ucap Arthur.


Mendengar kata pagi menjelang siang, Sierra langsung membuka matanya. Dan yang pertama dilihatnya adalah Arthur.


" Selamat pagi sayang." Ucap Arthur.


" Pagi.." Gumam Sierra dengan suara serak sambil tersenyum.


" Bersiaplah, kita sarapan bersama." Ucap Arthur.


" Astaga sayang! aku bangun kesiangan lagi." Ucap Sierra.


" Tidak apa apa, kamu butuh istirahat. Aku tunggu di bawah oke?" Ucap Arthur.


" Iya." Ucap Sierra.


Sierra seakan lupa dengan mimpi buruknya semalam, ia sama sekali tidak terlihat kacau seperti saat dia mengalami mimpi buruk.


TO BE CONTINUED..