
Sierra tengah menyantap sarapan paginya, tentu saja di suapi oleh Arthur. Berulang kali Sierra menolak, berulsng kali juga Arthur memaksa untuk menyuapi Sierra. Sampai akhirnya Sierra pasrah saja, Arthur yang puas karena bisa menyuapi Sierra pun tersenyum senang.
" Suapan terakhir.. Aaa.... " Ucap Arthur.
" Astaga.. Sayang, yang sakit itu perutku bukan tanganku. Kedua tanganku sehat dan baik baik saja." Ucap Sierra.
" Patuh yah.. Aku tidak mau kamu lelah, dan aku juga ingin merawatmu." Ucap Arthur sembari mengelap mulut Sierra yang terkena noda bubur.
' Kalau begitu apa gunanya aku punya dua kaki dan dua tangan? Berjalan tidak boleh, memegang sesuatu juga tidak boleh..' Batin Sierra tak habis pikir.
RING.! RING.! RING.!
Bunyi suara telepon masuk.
" Sebentar ya, Malvin menghubungku. Jangan kemana mana ingat..?" Ucap Arthur masih sempat sempatnya memperingati Sierra.
" Hmm.." Sahut Sierra sambil mengangguk.
Arthur punberjalan kesisi balkon yang tak jauh dari sana.
" Halo, ada apa ?" Tanya Arthur..
" .... .... "
" Kau tidak sedang bercanda kan.?" Ucap Arthur.
"... "
" Baiklah, datangi putrinya.. Beritahu apa yang terjadi lalu bereskan." Ucap Arthur.
Panggilan pun diakhiri, Arthur menghela kan nafasnya, ia menatap Sierra yang kini tengah menonton tv. Arthur pun mengambil nafas, lalu masuk kedalam.
" Sayang.." Ucap Arthur.
" Ya.." Ucap Sierra.
" Aku akan mengatakan sesuatu, tapi tolongbkamu kendalikan emosimu oke, jangan sampai apa yang akan aku katakan membuat lukamu terbuka lagi." Ucap Arthur.
Sierra yang tadinya tersenyum riang mendadak sendu mendengar Arthur bicara demikian.
" Ada apa.?" Tanya Sierra.
" Berjanji dulu.. Kamu bisa mengendalikan emosimu." Ucap Arthur.
" Ya, aku janji.. Ada apa.?" Tanya Sierra penasaran.
" Julia.. meninggal." Ucap Arthur.
Sierra terpaku.. Lagi.. Ia harus mendengar kabar tentang orang yang seharusnya mendapatkan hukuman darinya itu mati begitu saja.
" Sayang.. " Ucap Arthur khawatir.
" Aku tidak apa apa.." Ucap Sierra.
" Apakah dia juga meninggal bunuh diri.?" Tanya Sierra.
" Hmm.. " Arthur mengangguk.
" Dengar, tolong jangan memikirkan apapun selain kesembuhanmu, aku tidak mau kamu memikirkan hal itu dan membebanimu." Ucap Arthur.
" Aku.. Baik baik saja, manusia punya rencana, tetapi Tuhanlah penentunya." Ucap Sierra.
Arthur memeluk Sierra dan mengusap usap punggung Sierra.
Di tempat lain..
Di pusat tahanan kota Jakarta, Carine mendapat satu pengunjung. Setelah sekian lama tak ada yang mengunjunginya, kini akhirnya ada yang menjenguknya di penjara.
Carine yang semula berwajah murung dan sendu, seketika menjadi cerah. Ia dengan semangat mengikuti petugas polisi yang memanggilnya. Carine berpikir mungkin itu ibunya, atau ayahnya, atau mungkin Daniel..
Namun wajah cerah itu seketika pudar ketika melihat rupanya yang datang bukan salah satu dari yang ia harapkan. Carine tidak mengenal pria itu.
" Halo Carine." Ucap seorang pria, yang ternyata Malvin.
" Siapa kau.?" Ucap Carine.
" Tidak penting siapa saya, saya datang untuk memberikan mu kabar duka, ibumu telah meninggal.. Dia bunuh diri." Ucap Malvin.
" DEG."
Malvin di tugaskan oleh Arthur untuk memberitahu Carine bahwa Julia telah meninggal. Arthur ingin agar Carine merasakan duka dan sendirian, semakin menderita Carine di penjara, semakin bagus.
Julia telah meninggal dunia dengan kepala yang berdarah darah nyaris retak, Julia membenturkan kepalanya berulang kali ke dinding. Tidak ada yang melihat atau mendengar apapun , di ruangan Julia di sekap karena begitu kedap suara.
Carine berkaca kaca, mendengar bahwa ibunya telah meninggal. Ia bertanya tanya kemana ibunya selama ini, rupanya sudah meninggal. Hanya saja ia tidak tahu bahwa ibunya baru saja meninggal.
" HIKS.. HIKS.. HIKS.. "
" Kau sendirian sekarang Carine, ayah kandungmu pun sekarang tengah terjerat kasus, apa kau tahu.?" Ucap Malvin.
" Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau tahu tentangku.? " Ucap Carine dengan tatapan menyalak.
" Bicara padaku dengan baik baik, atau kau akan bernasib sama seperri ibumu dan Calista, sahabatmu." Ucap Malvin.
" Kau sendirian sekarang Carine, ayah kandungmu pun sekarang tengah terjerat kasus, apa kau tahu.?" Ucap Malvin.
" Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau tahu tentangku.? " Ucap Carine dengan tatapan menyalak.
" Bicara padaku dengan baik baik, atau kau akan bernasib sama seperti ibumu dan Calista, sahabatmu." Ucap Malvin dengan tatapan dingin kepada Carine.
" Apakah kau orang suruhan Sierra? Apa Sierra yang membunuh ibuku? Ibuku tidak mungkin bunuh diri, dia tidak mungkin melakukannya.!" Ucpa Carine.
" Kau tidak tahu bahwa ibumu gila bukan? Ibumu gila karena kematian Hailey, kakakmu. Dan dia menyalahkan dirinya atas kematian Hailey " Ucap Malvin.
Carine jadi teringat, Hailey.. ya, Hailey telah meninggal. Lalu dia dengan siapa di dunia ini, waktu di penjara bahkan terasa begitu lama.
" Kalau begitu saya permisi, silahkan nikmati hari harimu." Ucap Malvin.
Malvin pun pergi dari sana, Sementara Carine hanya menunduk.. air matanya menetes tidak beraturan lalu ia terisak pelan.
" Hiks.. hiks.. hiks.. " Pecah sudah tangis Carine.
" Jam sudah selesai, ayo kembali ke sel." Ucap petugas. Dan Carine menurut saja di bawa petugas.
Di sisi lain...
Sierra akhirnya di perbolehkan pulang setelah di cek terlebih dahulu oleh Sammy. Arthur khawatir jika Sierra terus terusan dirumah sakit maka akan semakin mempengaruhi suasana hatinya, apa lagi dia telah mendengar kabar kematian Julia. Dan saat ini mereka tengah berada di dalam mobil, menuju ke kediaman Arthur.
" Sayang.. " Ucap Sierra yang saat ini bersandar di dada Arthur.
" Hmm.. ada apa.? " Ucap Arthur yang tangannya mengusap kepala Sierra.
" Aku lapar.." Ucap Sierra dengan suara kecil.
Arthur tersenyum mendengarnya.. Sierra sekaan malu mengatakan lapar di hadapan supir yang tengah mengendarai mobilnya.
" Baik, kamu mau makan apa.?" Tanya Arthur.
Wajah Sierra langsung sumringah mendengarnya.
" Tapi jangan yang pedas, berminyak, dan asam." Ucap Aerthur lagi.
Dan hal itu membuat wajah Sierra yang sebelumnya sumringah menjadi sedih.
" Kamu belum sembuh sayang, patuh yah.. Kamu boleh makan apapun, asal bukan tiga itu. Kamu mau cepat sembuh kan.?" Tanya Arthur.
" Ya.. " Sahut Sierra lemah.
Arthur terkekeh mendengarnya, Sierra bagai anak kecil yang di marahi ibunya saat ini.
" Mau ke restoran mami? Sepertinya mami ada disana." Tawar Arthur.
" Tidak mau, perut ku sakit terlalu lama duduk. Bagaimana jika kamu saja yang masak." Ucap Sierra.
" Baik, tapi kamu bisa menahan laparnya atau tidak.?" Tanya Arthur.
" Bisa.. aku akan makan buah untuk mengganjal nanti." Ucap Sierra.
" Baiklah, nanti aku masak untukmu.. " Ucap Arthur sembari mengecup kening Sierra.
Hingga akhirnya mereka pun sampai di kediaman Arthur. Kini Sierra tinggal disana, bersama Arthur.
" Kemari." Ucap Arthur, sambil merentangkan kedua tangannya.
" Apa.? " Ucap Sierra.
" Kamu tidak lupa ucapan dokter Sammy kan? Dia bilang kamu jangan terlalu banyak bergerak, jadi kemari.. aku akan menggendongmu." Ucap Arthur.
" Astaga.. Aku hanya tidak boleh banyak bergerak, bukan tidak boleh bergerak sama sekali.." ucap Sierra tak habis pikir.
" Sayang... patuh yah.." Ucap Arthur.
" Haihh.. " Sierra menghela nafas.
Akhirnya Sierra pun mau digendong oleh Arthur. Arthur menggendong Sierra ala bride style, hingga semua pelayan Arthur ikut tersenyum melihatnya, mereka sangat romantis.
" Kapan kiranya tuan muda dan nona Sierra menikah.? Mereka sangat cocok, dan saling melengkapi satu sama lain." Ucap pelayan pria yang tengah membersihkan kaca.
" Stt.. cepat selesaikan, tuan muda tidak suka ada orang lain di kediamannya, apalagi jika nona Sierra di lirik oleh orang lain. Kau mau di pecat.?" Ucap yang lain .
" Oh iya, benar. Aku akan segera menyelesaikannya." Ucap pelayan pria tadi.
TO BE CONTINUED ..