
Sierra dan Sahara telah kembali ke kediaman Arthur. Sahara telah memilihkan sebuah saksopon untuk Cornelius, dan ditangannya saat ini menggantung banyak sekali tas belanja dari berbagai brand ternama. Bahkan bodyguard yang mengawal mereka pun berkahir menjadi pembawa tas belanjaan.
Sementara Sierra sendiri tidak membeli apapun, selain sebuah bros pria. Sierra ingin memberikan bros itu untuk Arthur nanti.
" Nah, mami taruh semua nya disini." Ucap Sahara.
" Hah, kenapa mami tinggal belanjaan mami.?" Tanya Sierra bingung.
" Itu untukmu sayang, mami sudah ada di mobil bodyguard mami." Ucap Sahara.
" Hah, tapi mi, ini terlalu banyak, Sierra.."
" Jangan menolak sayang, ini adalah hadiah pertemuan kita. Mami sedikit terlambat memberikanya, jadi anggap saja yang lain sebagai bonus." Ucap Sahara, memotong ucapan Sierra.
" Tap.. "
" Oke, mami pulang dulu yah? Papimu pasti sudah mnunggu mami. Bye Sierra sayang." Ucap Sahara lagi lagi menotong ucapan Sierra.
Sierra sampai tak bisa berkata kata, ia hendak bicara lagi, tetapi Sahara langsung melangkah pergi.
" Ma..mami.." Ucap Sierra dengan tangan yang terulur.
" Kamu sudah pulang sayang? Bagaimana jalan jalannya.? " Ucap Arthur yang tiba tiba muncul dari belakang dan memeluk Sierra.
" Arthur, mami membelikan begitu banyak barang untukku, aku tidak tahu mami membeli ini semua untukku, aku tidak bisa menerima hadiah pertemuan yang sebegitu banyaknya." Ucap Sierra pada Arthur.
" Mami adalah karakter yang suka belanja, di tambah saat ini dia memiliki teman belanja, dia pasti terlalu bahagia." Ucap Arthur.
" Iya, tapi.."
" Terima saja sayang.. Kamu akan menyakiti hati mami nanti." Ucap Arthur memotong ucapan Sierra sambil mengusap kepala Sierra.
" Huft.. Baiklah." Ucap Sierra.
Sierra tidak pernah memakai barang mewah atau barang barang dari brand mahal, semua pakaian nya dulu adalah dari toko pakaian biasa di pinggir jalan. Semuanya karena ia tidak memiliki banyak uang dulu.
" Ayo kita bersiap." Ucap Arthur.
" Brsiap untuk apa.?" Tanya Sierra.
" Makan malam sayang.." Ucap Arthur.
Sierra melihat jam besar di dinding, rupanya memang sudah waktunya makan malam. Selama Sierra tinggal di kediaman Arthur beberapa hari ini, pola makan dan jam makan nya benar benar di pantau boleh Arthur. Sierra tidak boleh sedikitpun melewatkan jam makan nya.
" Tapi aku masih kenyang, mami membelikan aku banyak sekali camilan manis tadi." Ucap Sierra.
" Astaga mami.. Ya sudah kalau begitu segera minum obat saja." Ucap Arthur sambil menyentuh kening Sierra.
" Kamu sudah tidak pusing atau demam lagi kan.?" Ucap Arrhur.
Sierra menggeleng sambil tersenyum, Sungguh selama 27 tahun dia hidup di kehidupan sebelumnya, dirinya tak pernah sekalipun mendapatkan perlakuan manis dan perhatian yang sebegitu besarnya dari orang lain.
Walau pernah mendapatkannya pun itu hanya kepura puraan, selebihnya hanya pemanfaatan atas keluguan Sierra.
Dan di kehidupan ini, Tuhan seakan membayar kontan atas apa yang dialami Sierra di kehidupannya sebelumnya.
Tuhan menghadirkan Arthur di kehidupan Sierra kini, agar Sierra bisa hidup bahagia, dan disayangi dengan tulus.
" Kenapa kamu tersenyum senyum begitu hum.??" Ucap Arthur.
" Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih.." Ucap Sierra.
" Terimakasih untuk apa.?" Tanya Arthur bingung.
" Terimakasih karena sudah baik padaku, terimakasih karena sudah menyayangiku, mencintaiku begitu besarnya.. Terimaksih un.."
Cup.
Arthur mengecup bibir Sierra sekilas.
" Kan sudah aku bilang, jangan ada kata terimakasih diantara kita sayang.. Kamu lupa lagi.?" Ucap Arthur.
" Tidak, aku tidak lupa. Tapi aku sungguh sungguh.. Kya.!!" Teriak Sierra ketika tiba tiba Arthur menggendongnya begitu saja.
Arthur menggendong Sierra ala koala. Karena terkejut dan takut jatuh, Sierra refleks mengalungkan tanganya dileher Arthur, dan melingkarlan kakinya di pinggang Arthur. Posisi mereka saat ini berhadap hadapan, dengan wajah Sierra yang kini lebih tinggi karena Arthur mengangkatnya di gendongan tangan nya.
" Astaga Arthur, kamu membuatku terkejut." Ucap Sierra.
" Mana bisa begitu, hei turunkan aku.. aku berat, nanti punggungmu sakit." Ucap Sierra menepuk pundak Arthur berkali kali.
" Kamu begitu enteng, aku sampai merasa sedang mengangkat sekarung kapas." Ucap Arthur.
" Enak saja aku di bandingkan dengan kapas." Ucap Sierra, tidak terima.
" Hahaha..." Arthur tertawa.
Dan Sierra terkejut melihatnya, karena itu adalah pertama kalinya ia melihat tawa lepas Arthur. Sangat lepas seperti anak kecil yang mendapatkan hiburannya. Sierra sampai terkesima melihatnya.
Cup..
Lagi, Ciuman Arthur mendarat di bibir Sierra.
" Kamu melamun apa.??" Ucap Arthur.
" Aku tidak melamun, aku hanya sedang mengagumi makhluk Tuhan yang sangat sempurna." Ucap Sierra.
" Kamu sedang mengagumi siapa.?" Ucap Arthur tidak peka.
" Mengagumi kekasihku." Ucap Sierra, Dan hal itu berhasil menarik sudut bibir Arthur tinggi tinggi. Untuk pertama kalinya, Sierra mengklaim dirinya sebagai kekasih saat mereka hanya berdua.
" Aku mencintaimu Arthur Edward." Ucap Sierra.
Arthur lebih terkejut lagi, Sierra nya menyatakan apa tadi.??
" Kamu bilang apa sayang.??" Ucap Arthur dengan wajah berseri seri.
" Tidak ada kata ulang." Ucap Sierra sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sierra begitu merasa konyol saat ini, Ia hanya ingin mengutarakan perasaan nya, tetapi kini ia merasa konyol sendiri, apalagi saat ini dirinya berada di gendongan Arthur.
" Hei, ucapkan sekali lagi.. Tolong.." Ucap Arthur, namun Sierra menggeleng kuat kuat.
" Tidak." Ucap Sierra.
" Sierra... Sayang.." Ucap Arthur.
" Tidak mau." Ucap Sierra kukuh.
Arthur berjalan menuju sebuah meja mini bar di kediaman nya, meja itu tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Arthur mendudukan Sierra di meja bar itu, namun dirinya tetap masih berada dihadapan Sierra.
" Hei.. Kenapa kamu menutup wajahmu begini.? Bisakah kamu mengulang kata yang tadi.? " Ucap Arthur yang mencoba membuka kedua tangan Sierra.
" Tidak ada siaran ulang." Ucap Sierra.
Sierra merasa sangat malu saat ini, karena Arthur tidak mendengar ucapannya sebelumnya.
" Aku juga mencintaimu Sierra Leona, sangat.. " Bisik Arthur di telinga Sierra.
DEG.!!
Sierra terkejut, rupanya Arthur mendengar ucapannya sebelumnya.
Sierra membuka tangan nya perlahan dan dia langsung bertatapan dengan manik mata Arthur yang begitu dalam, sangat dalam seakan mampu menenggelamkan Sierra di dalamnya.
" Aku sangat mencintaimu, sangat sangat mencintaimu." Ucap Arthur lagi.
Arthur mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Sierra dengan pelan. Perlahan lahan, kecupan itu berubah menjadi ciuman yang dalam. Mereka berdua hanyut dalam perasaan mereka saat ini.
Tangan Arthur melingkar di pinggang ramping Sierra, dan Sierra pun mengalungkan kedua tangannya di leher Arthur. Hingga beberapa menit berlalu, mereka melepas ciuman mereka.
" I love you Sierra, more and more. Jangan pernah malu untuk mengucapkan isi hatimu sayang, aku akan sangat bahagia jika mendengarmu mengucapkan itu setiap hari." Ucap Arthur.
" Aku mencintaimu.." Ucap Sierra pelan.
" Aku lebih lebih mencintaimu.." Ucap Arthur, lalu memeluk erat Sierranya itu.
Begitu manis pemandangan yang terlihat, hingga Malvin yang hendak masuk untuk memberikan laporan saja harus mengurungkan niatnya ketika melihat pemandangan yang begitu romantis itu.
Dua anak manusia yang saat ini tengah mengutarakan rasa cinta mereka , satu sama lain..
" Sierra memang orang yang tepat untuk Arthur, semoga Arthur bisa selalu tertawa bahagia bersama Sierra." Gumam Malvin.
TO BE CONTINUED..