
Arthur dan Sierra tengah berada di mobilnya saat ini. Mereka hendak melihat kondisi Julia, anak buah Arthur mengatkan bahwa Julia telah menjadi gila, ia berbicara sendiri dan terus bergumam menyebut Hailey. Julia bahkan sering menagis tanpa sebab lalu tertawa tidak jelas.
Hingga akhirnya sampailah mereka di tempat penyekapan Julia. Seperti biasanya, Arthur menyuruh semua anak buahnya untuk bersembunyi agar Sierra tidak melihat keberadaan mereka.
Sierra menatap Julia yang saat ini tengah bergumam sendiri sambil tangannya seolah sedang membelai sesuatu. Julia menjadi depresi dan gila setelah mendengar kebenaran tentang Hailey, juga kabar Hailey dihukum mati.
' Kau, wanita keji yang sudah membunuh ibuku, mencuri ayahku, juga merusak hidupku.. rupanya ada hari dimana kau menjadi begitu menyedihkan. Jika aku tidak kuat dengan semua tekanan yang aku alami, mungkin aku juga menjadi gila sepertimu. ' Batin Sierra.
" Kamu mau apakan dia sayang.?" Tanya Arthur.
" Dia membunuh ibuku tanpa belas kasihan, dia wanita yang keji dan tidak berperasaan. Dia tidak pantas hidup di dunia ini." Ucap Sierra.
" Apakah kamu akan membunuhnya??" Tanya Arthur.
" Aku ingin dia merasakan lebih menderita dari ibuku. Dia sudah menghianati ibuku, memanfaatkan kebaikan ibuku dia membunuh ibuku." Ucap Sierra.
" Apakah kamu ingin menyiksanya.? Jika iya aku punya banyak cara untuk melakukannya " Ucap Arthur.
" Tidak.. aku tidak bisa menjadi sekejam itu. Tapi aku tidak ingin dia bebas dari sini karena di luar sana ayah kandung Carine pasti sedang mencarinya. " Ucap Sierra.
" Kalau begitu dia akan selamanya disini, sampai dia mati tersiksa." Ucap Arthur.
Arthur melupakan satu hal, Ayah kandung Carine.. ya, pasti ayah kandung Carine memang sedang mencari keberadaan Julia, Malvin telah mengintrogasi semua pria pria yang menyerang Sierra hari itu, tetapi mereka semua bunuh diri dengan racun yang tertanam di gigi mereka, hingga akhirnya menjadi buntu.
Ketika Sierra mengatakan hal itu, Arthur menjadi memiliki pikiran bahw kemungkinan Ayah kandung Carine lah yang menyuruh para pria itu menyerang Sierra, atas dendam karena Carine masuk penjara.
' Bisa bisanya aku lupa satu hal penting.' Batin Arthur.
" Ya, biarkan dia di penjara disini hinga ia tersiksa dan mendapatkan ajalnya." Ucap Sierra.
Arthur melirik kesebuah kaca hitam besar, di balik kaca itu sudah pasti ada anak buah Arthur yang tengah melihat Sierra dan Arthur disana. Tatapan Arthur itu seolah mengatakan ' kalian dengar itu? Lakukan.' Anak buah Arthur semuanya yang berjaga disana sudah yakin seratus persen bahwa Sierra adalah nyonya masa depan mereka.
" Baik, apapun yang ingin kau lakukan, katakanlah.. " Ucap Arthur.
Arthur menggenggam tangan Sierra, dan Arthur menekan sebuah tombol agar kaca dua arah itu menjadi satu arah. Julia melihat Sierra di cermin bagaikan anjing galak yang hendak menyerang lawan nya. Matanya memicing tajam, bibirnya mengerut penuh kebencian dengan nafas yang memburu.
Tiba tiba Julia lari dan menabrak kaca itu sampai Sierra kaget saking kerasnya suara tabrakan kaca dengan tubuh Julia. Kening Julia juga terlihat membiru seketika.
" Astaga, dia benar benar sudah gila." Gumam Sierra.
Arthur memasangkan headphone ke kepala Sierra, agar Sierra bisa mendengar apa yang Julia katakan.
" SOPHIA.. KENAPA KAU MASIH HIDUP, AKU SUDAH MEMBUNUHMU , KENAPA KAU MASIH HIDUP.!! KAU TIDAK BISA MENGAMBIL APA YANG SUDSH MENJADI MILIKKU.!!" Teriak Julia.
Rupanya Julia mengira Sierra adalah Sophia, karena wajah mereka begitu mirip. Julia tidak menyebut nama Sierra sama sekali.
" Ya , aku masih hidup.. aku hidup kembali untuk membalas dendam padamu." Ucap Sierra seolah dia adalah Sophia.
" TIDAK.!!! Kau tidak boleh mengambil apa yang sudah menjadi milikku, atas dasar apa kau dicintai banyak orang sedangkan aku tidak. Atas dasar apa kau mendapatkan cinta Daniel dan aku tidak, aku yang lebih dulu menyukainya, tapi dia malah menyukaimu. Atas daar apa kau mendapatkan semya kebaikan di dunia ini.!!! Hanya karena aku miskin, semua orang di fakultas menginjak injak diriku. Mereka mengatai aku sebagai pengemis yang mengemis padamu! Aku tidak terima itu.!!" Teriak Julia begitu marah.
Sierra mengerti tingkat kecemburuan Julia pada ibunya ini adalah di tingkat sakit jiwa. Julia cemburu pada Sophia sampai tega menghianati Sophia, tidak hanya menghianati.. Julia bahkan menyebar rumor tidak baik tentang Sophia ke publik, hingga perlahan publik percaya dan menganggap Sophia sebagai gadis kaya yang tidak terdidik.
" Kau akan mati Julia.. sama sepertiku. Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku yang sudah kau rebut." Ucap Sierra.
" TIDAKK.!!! KAU TIDSK AKAN BISA.!" Teriak Julia.
" Aku bahkan sudah membuat putrimu mendapatkan hukuman mati. Membunuhmu adalah hal mudah." Ucap Sierra.
Terlihat Julia diam.. matanya seperti orang yang tengah panik, tiba tiba ia bergumam nama Hailey dan menangis.
" Hailey... hiks.. hiks.. hiks.. anakku telah mati.." Tangis Julia.
" Dia mati karenamu Julia. Karena perbuatan burukmu, dia mengikutimu, lalu mendapatkan hukuman mati. Dia mati karenamu." Ucap Sierra.
Julia menutup telinganya sembari menjambak rambutnya sendiri. Sungguh, jika bisa dijabarkan.. Julia sudah persis seperti orang gila di pinggir jalan, pakaiannya lusuh, lenampilannya berantakan. Sangat jauh dengan Julia yang selalu menomor satukan penampilannya selama ini.
" ARRRGH.. DIAM.!! kau dan putrimu sama saja, perebut kebahagiaan kami.! Jika bukan karena putrimu, Haileyku pasti masih hidup." Ucap Julia.
" Tidak, itu karenamu.. kamu yang sudah membuatnya menderita sendirian. Kamu yang membuatnya merasa kurangvkasih sayang, sampai menjual diri demi mendapatkan kesenangan." Ucap Sierra dengan tatapan dingin nya.
Julia kembali menangis, Sierra mencopot headphone nya dan tersenyum melihat betapa frustasinya Julia saat ini.
" Ayo kita pulang." Ucap Sierra.
" Kamu sudah selesai.?" Tanya Arthur.
" Ya, aku puas melihat dia menderita." Ucap Sierra.
' Benar benar gadisku.' Batin Arthur.
Arthur mengangguk lalu menggandeng tangan Sierra dan melangkah pergi dari sana.
Ke esokan harinya...
Di sebuah rumah mewah yang berada di kawasan kota Jakarta selatan. Tengah diselenggarakan sebuah pesta ulang tahun pernikahan Sahara dan Cornelius yang ke 30 tahun. Semua tamu disana datang dengan pakaian pakaian mewahnya, memperlihatkan bahwa semua tamu adalah kalangan kelas atas.
Rumah itu dihias dengan sedemikian rupa, sangat mewah namun elegan. Bagai berada di tengah taman bunga, di seluruh ruangan dihias dengan bunga bunga segar berwarna warni di padu padakan dengan tirai berwarna putih.
Tema dekorasi itu adalah putih, namun tidak untuk penghuni rumahnya. Sahara muncul dengan gaun cokelat ke emasannya bergandeng tangan dengan Cornelius. Sungguh, mereka berdua adalah definisi suami istri ideal bagi semua orang.
" Terimakasih telah datang di pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke 30 tahun. Hari ini saya begitu bahagia karena bisa melewatinya dengan keluarga lengkap kami. Putra kami yang selalu sibuk itu, kini akhirnya memiliki waktu untuk merayakan ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya." Ucap Sahara.
" Selain itu, kami juga bahagia karena akhirnya putra kami sudah memiliki kekasih, ah.. itu adalah kado terbaik sepanjang tahun.. Sayang kemari." Ucap Sahara antusias.
TAK.. TAK.. TAK..
Suara langkah kaki menggunakan hils.
Munculah Sierra yang bergandengan tangan dengan Arthur. Sierra sangat cantik bagai dewi turun dari langit, dan Arthur sangat tampan bagai dewa yunani, sungguh pasangan yang sangat serasi.
TO BE CONTINUED...