
Sierra berkutat dengan laptopnya, ia kini di izinkan Arthur untuk menjadi salah satu hacker di TITANES, dengan catatan jangan sampai kelelahan. Dan Sierra pun meng-iya kan nya.
Malvin sudah kembali ke perusahaan setelah memberi tahukan dimana Diandra akan tinggal. Diandra akan tinggal di sebuah apartemen yang tak jauh dari kediaman Arthur, karena Arthur benar benar tidak suka kediamannya banyak orang.
" Nyonya, makan siang sudah siap." Ucap Diandra.
" Baik." Ucap Sierra, lalu menutup laptopnya dan bangun.
" Andra, ayo kita makan siang bersama." Ucap Sierra.
" Maaf nyonya, saya tidak berani." Ucap Diandra.
" Kenapa? Kamu takut Arthur marah?" Ucap Sierra.
" Ya, dan terlebih lagi saya bawahan, tidak sepantasnya duduk di tempat atasan." Ucap Diandra.
" Eih.. Kuno, ayo." Ucap Sierra dsn menarik paksa Diandra untuk duduk di meja makan.
" Makan. jika tidak makan, berarti kamu tidak menganggapku." Ucap Sierra.
' Astaga, aku benar benar beruntung bertemu orang orang baik seperti nyonya dan tuan. Aku sudah putuskan, akan melindungi nyonya dan tuan apapun yang terjadi.' Batin Diandra.
" Terimakasih, nyonya." Ucap Diandra.
Akhirnya mereka pun makan siang bersama, sambil sesekali mengobrol. Rupanya Diandra orang yang asik di ajak mengobrol walau kelihatannya sangar dan seram. Membuktikan bahwa jangan menilai seseorang dari siluet wajahnya, karena wajah seseorang tidak mencerminkan sikap dan sifatnya.
" Aduh, aku kekenyangan." Ucap Diandra sambil menepuk perutnya.
" Astaga, Andra.. " Kekeh Sierra.
" Oiya, nyonya.. asisten Malvin memberi tahuku bahwa nyonya akan di jemput malam ini." Ucap Diandra.
" Ya, Arthur sudah memberi tahuku."
" Andra, bisakah kamu ceritakan awal mula kamu ikut di TITANES?" Ucap Sierra lagi.
" Oh, Itu.. " Ucap Diandra.
Flashback on..
Diandra pun menceritakan kisah masalalu nya, kisah awal mula bertemu dengan Arthur dan berakhir sebagai salah satu anggota TITANES. Saat itu Diandra hanya seorang gadis kecil biasa berusia 13 tahun , ia di jual oleh ibunya sendiri ke sebuah klub malam.
Diandra di paksa menari menggunakan pakaian minim nyaris telanjang, di hadapan para tamu klub VVIP, yang kebetulan adalah Arthur dan para rekan kerjanya. Diandra yang dulunya periang menjadi pendiam, bahkan menaripun seperti mayat hidup.
Para rekan kerja Arthur pun merasa kesal karena pertunjukan menari itu hanya begitu begitu saja, kemudian salah satu rekan kerja Arthur menyiram diandra dengan segelas bir dan tertawa terbahak bahak melihat tubuh Diandra yang basah terkena bir.
Saat itu, Diandra yang sudah tidak tahan mengangkat satu botol bir dan menghantamkan nya pada kepala pria yang menyiramnya dengan bir. Diandra pun langsung di ringkus, tetapi Diandra melawan, rupanya dia jago bela diri dan berkelahi dengan beberapa penjaga bar itu.
Hingga tiba tiba tangan Diandra menarik pistol dari salah satu anak buah bar itu dan menembaknya tepat di dahinya. Diandra lari keluar dari klub itu, dan malah berakhir bertemu dengan preman.
Diandra sudah kelelahan itu tak sanggup lagi berkelahi dengan para preman itu, terlebih mereka membawa tongkat bisbol. Diandra hampir di perk*sa oleh para preman itu, dan saat ia menyerah dan putus asa, Malvin datang.
Malvin melawan semua preman itu hingga babak belur, dan kemudian Arthur turun dari mobilnya dan berkata, 'Lakukan apa yang ingin kau lakukan pada preman itu ' Kemudian Diandra mengambil tongkat bisbol dan memukul kepala ketua preman itu, hingga tewas.
Dari sana, Anak buah Arthur membawa Diandra ke TITANES atas perintah Arthur, dan Diandra di perlakukan sangat manusiawi oleh anak buah Arthur. Ia di latih, hingga kian menjadi tangguh dan kembali menjadi periang, lalu ia pun terjun dalam misi misi besar TITANES hingga sekarang, setelah dirinya berusia 21 tahun.
Flashback off..
" Begitulah awal mula saya bertemu tuan, Nyonya. Dia adalah orang berhati malaikat, walau dia kejam dan dingin dan dia juga phobia terhadap wanita.. Tapi bagi saya dia adalah malaikat penolong saya. Dan saya tidak akan melupakan kebaikannya." Ucap Diandra.
Sierra rupanya menangis, ia begitu terharu dengan cerita masalalu Diandra.
" Eh, nyo- nyonya kenapa menangis? Astaga! Nyonya.." Ucap Diandra.
" Cerita hidupmu benar benar membuatku tak bisa menahan air mataku." Ucap Sierra.
" A- anu itu, nyonya.. Jangan menangis, jika tuan melihat, dia akan salah sangka padaku nanti." Ucap Diandra panik.
" Tidak akan." Ucap Sierra.
Tiba tiba Malvin tiba disana lebih cepat dari perkiraan. Malvin yang melihat Sierra menangis pun langsung menatap tajam Diandra.
" Nyonya, apa yang terjadi?" Tanya Malvin.
" Aku tidak menyakiti nyonya, sungguh." Ucap Diandra panik.
" Jika bukan kau, lalu siapa?" Ucap Malvin.
" Malvin, Andra tidak menyakitiku, aku hanya sedang terharu saja. Kau jangan menyalahkan nya." Ucap Sierra.
" Baik, ini adalah gaun yang tuan pesan. Saya hanya mengantarkan ini, nanti Andra yang akan mengantarkan anda ke tempat dimana tuan menunggu nyonya." Ucap Malvin.
Andra yang mendengarnya pun menunjuk dirinya sendiri dengan bingung kearah Malvin seakan bertanya.
" Siap!!" Ucap Diandra tegas.
" Malvin, jangan terlalu keras padanya." Ucap Sierra.
" Tidak apa apa nyonya, itu memanglah tugas saya untuk memastikan keamanan dan keselamatan nyonya." Ucap Diandra dengan cengiran khas nya.
" Ini kunci mobilmu, gunakan ini saat mengantar nyonya nanti. Aku harus kembali ke perusahaan." Ucap Malvin.
" Baik, hati hati di jalan asisten Malvin." Ucap Diandra sambil melambaikan tangan.
Malvin hanya melengos mendengarnya, Sierra tersenyum melihat interaksi keduanya yang seperti kucing dan tikus, saling meledek.
" Kau menyukai asisten Malvin?" Tanya Sierra tiba tiba.
Mendengar itu, Diandra tertawa renyah sekali. Sierra sampai bingung sendiri melihat Diandra yang tertawa sampai mengeluarkan air mata.
" Maaf nyonya, saya tidak bisa menahan diri." Ucap Diandra.
" Kenapa kamu tertawa begitu?" Tanya Sierra penasaran.
" Saya menganggap asisten Malvin seperti ayah saya sendiri. Dia sangat cerewet, juga sangat tegas. Dia menyaksikan pertumbuhanku sejak aku kecil hingga aku seperti sekarang, dia benar benar seperti seorang ayah bagiku." Ucap Diandra.
Sierra sampai melongo, jarak usia mereka kemungkinan sama seperti jarak usia Sierra dan Arthur, tetapi Diandra menganggap Malvin malah seperti seorsng ayah.
" Nyonya, jangan beri tahu asisten Malvin. Karena dia selalu menolak tua, dan menolak ku panggil ayah." Ucap Diandra dengsn kekehan nya.
" Astaga anak ini." Ucap Sierra tak habis pikir.
Malam pun tiba, Diandra sudah rapi dengan pakaian serba hitamnya. Memang dasarnya dia adalah gadis tomboy, tidak mungkin mengubah penampilannya begitu saja.
Dan muncullah Sierra yang menggunakan gaun panjang yang terlihat begitu indah berwarna soft nude. Sierra hanya mengurai rambut panjangnya untuk menutupi bagian belakang gaun yang mengekspos bagian belakang tubuhnya.
' Astaga, nyonya bagai dewi turun dari langit. Pantas saja tuan begitu terpikat.' Batin Diandra.
" Aku sudah siap." Ucap Sierra.
" Kalau begitu, mari kita berangkat nyonya." Ucap Diandra.
Mereka pun pergi menuju ke tempat dimana Arthur berada. Setelah beberapa saat berkendara, tibalah mereka di kantor perusahaan Arthur. Para karyawan sudah tidak terlihat disana, karena sudsh bukan jam kerja lagi.
" Kakak ipar, kau sudah sampai?" Ucap Malvin tidak formal.
" Eih, kau memanggil nyonya dengan sebutan kakak ipar?" Tanya Diandra, kaget.
" Ya, karena memang dia kakak ipar ku." Ucap Malvin.
" Ayo kak." Ucap Malvin.
Diandra hanya bisa kebingungan dengan hal itu. Ia belum tahu bahwa di luar jam kerja, Malvin selalu berlaku demikian pada Sierra dan Arthur. Sierra pun terkekeh melihat Diandra yang kebingungan.
" Andra, ayo." Ucap Sierra.
" Ah! ya, baik." Ucap Diandra langsung mengikuti Sierra dsn Malvin.
Hingga sampailah mereka di atap gedung perusahaan yang sudah di buat sedemikian indah oleh Arthur. Sierra sampai menutup mulutnya melihat pemandangan itu.
" Sayang, kamu sudsh datang?" Ucap Arthur.
Arthur langsung memeluk dan mencium kening Sierra, dan itu di saksikan oleh Diandra juga Malvin.
' Manisnya..' Batin Diandra.
" Bagaimana? Apakah kamu suka kejutanku?" Ucap Arthur.
" Ya, aku menyukainya." Ucap Sierra, memeluk Arthur.
" Aku menatanya sendiri, aku juga memasak steak untuk makan malam kita, ayo." Ucap Arthur.
Sierra sampai benar benar terharu di buatnya, Arthur begitu manis dan romantis.
" Ayo." Ucap Malvin pada Diandra.
" Kemana?"
" Tentu saja pergi dari sini, kau mau menjadi penonton keromantisan mereka?" Ucap Malvin.
" Ehehehe.. Pemandangan ini terlalu langka." Ucap Diandra.
" Kau mau kepalamu tidak berada di tempatnya? Cepat pergi." Ucap Malvin. Diandra pun pergi dari sana mengikuti Malvin.
TO BE CONTINUED...