The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 123. MEMBERI HUKUMAN YANG LEBIH.


Cornelius menangis sejadi jadinya, ia tidak menyangka dirinya menyelamatkan nyawa anak anak lain tetapi anaknya sendiri justru menjadi korban ped*fil kejam seperti Carol.


" Pi, kendalikan emosi papi, jangan sampai mami dan Sierra melihat papi seperti ini, terutama Mami. " Ujar Arthur.


" Leah... " Gumamnya sambil terisak.


" Aku sudah menangkap baj*ngan itu, jika papi ingin melakukan sesuatu padanya, mari ikut aku." Ujar Arthur.


" Menangkap, Carol??" Ujar Cornelius terkejut.


" Ya, Carol ada ditanganku. Dia bisa bebas dari hukuman penjara saat itu, tapi tidak akan pernah bebas dari tanganku." Ujar Arthur.


Cornelius menatap putranya itu, sejak dulu Cornelius selalu penasaran dengan putranya sendiri. Arthur bagai benda tajam tak tersentuh, tidak ada yang berani melawannya.


" Nak, apakah kamu menyembunyikan sesuatu dari papi dan mami selama ini?" Tanya Cornelius.


" Papi akan tahu, jika papi ikut denganku." Ujar Arthur.


Akhirnya Cornelius pun mengikuti putranya itu. Dengan Alasan ada pekerjaan, Cornelius meninggalkan Sahara dan Sierra di rumah berdua. Cornelius dan Arthur berkendara menuju ke hutan pribadi milik Arthur, dimana markasnya berada.


" Tempat apa ini nak?" Tanya Cornelius.


" Markasku, pi. Ayo.." Ujar Arthur.


Arthur turun dan semua anak buah TITANES menunduk pada Arthur. Cornelius sampai terkejut melihatnya, tetapi ia lebih penasaran dengan putra nya sendiri.


Arthur berjalan masuk, dan ada Zan dan Zen disana yang tengah berdiri di depan sebuah kaca besar yang tidak terlihat sama sekali apa isi di dalamnya. Arthur menekan sebuah tombol dan kaca itu menjadi terang.


Cornelius terkejut melihat siapa yang di dalam ruangan itu, adalah Carol dengan sebelah kaki yang tertembak dan tidak sama sekali diobati.


" Arthur, apa yang terjadi padanya?" Ujar Cornelius.


" Dia baru tertangkap semalam, setelah kemarin dia menyerang kediamanku, pi. Papi tahu, dia hampir membunuh istriku dan anak anak ku yang masih di dalam kandungan." Ujar Arthur dengan tatapan yang tajam menghunus kearah Carol.


" Apa!! Papi dan mami tidak tahu." Ujar Cornelius.


" Karena aku menyuruh orang orangku agar jangan sampai kalian tahu, aku tahu mami memiliki emosional yang tinggi." Ujar Arthur.


Arthur menggunakan topeng pada dirinya sendiri. Arthur menekan sebuh tombol lagi, dan Carol bisa melihat Cornelius yang berada disana. Carol pun menatap penuh dendam pada Cornelius.


" Cornelius! Kau yang menyuruh Lucifer menangkapku? Rupanya apa yang sudah aku lakukan padamu masih belum cukup sadis, huh!? Kau masih ingin terus menangkapku?" Ujar Carol.


" Kau benar benar Baj*ngan berhati keji Carol. Kau yang membunuh putriku, bodohnya aku tidak membunuhmu saja waktu itu." Ujar Cornelius.


" Ck! coba saja bunuh aku.. Biar aku beri tahu, rasa putrimu itu.. AAAARRRGG!!!" Teriak Carol kesakitan.


Arthur menyetrum Carol hingga Carol terlihat begitu lemas. Air mata Arthur tak bisa di bendung lagi, melihat psikopat gila di hadapannya yang telah membunuh kakak terkasihnya.


" Ar, kamu bisa membunuhnya." Ujar Cornelius.


" Dia tidak akan mati dengan mudah, papi. Dia akan mengalami siksaan yang lebih berat dari apa yang kakak alami saat itu." Ujar Arthur.


Carol terlihat sangat lemas, tapi memang benar, dia tidak mati. Setruman itu hanya membuatnya kesakitan saja.


" Arthur! Kau bayar Lucifer dengan tubuh istrimu bukan? Ck.. Ck.. Masih sok belagu. Lucifer tidak akan menerima pekerjaan dengan bayaran rendah." Ujar Carol.


Cornelius terkejut, Arthur terlibat dengan Lucifer? Pria kejam dan dingin ketua TITANES yang di takuti semua orang kaya.


" Karena kau akan mati di tanganku maka biar aku beri tahu kau satu hal. Aku lah Lucifer itu, selamat datang di markas TITANES." Ucap Arthur pada Carol.


Terlihat wajah Carol yang terkejut, terlebih lagi Cornelius. Cornelius terkejut mendengar apa yang Arthur katakan.


" Apa nak, kamu Lucifer?? " Ucap Cornelius.


" Ya, pi.. Aku adalah Lucifer. Maaf menyembunyikan hal ini dari papi, aku tidak ingin kalian dalam bahaya. " Ujar Arthur.


" Tuan besar?" Ucap Malvin terkejut.


" Malvin? Kamu juga disini? " Ujar Cornelius terkejut.


" Ya, saya disini." Ujar Malvin, ia menatap Arthur sekaan bertanya tanya.


" Papi sudah tahu, tidak apa apa. Apakah yang aku minta sudah kau lakukan?" Tanya Arthur.


" Sudah, tuan. Mereka ada di ruangan lain. " Ucap Malvin, dan Arthur mengangguk.


" Papi, apapun yang terjadi.. Tolong papi jangan terkejut. Aku adalah Lucifer, dan papi sudah tahu itu sekarang. Aku akan membuat Carol menerima lebih dari sebuah siksaan. Dia akan merasakan apa yang kakak rasakan, bahkan lebih pedih." Ujar Arthur pada Cornelius.


" Apa yang akan kamu lakukan, nak." Ujar Cornelius.


" Memberinya teman." Ujar Arthur. Arthur memberi kode pada Malvin untuk membawa apa yang di mintanya masuk.


" Tuan Lucifer.." Ucap beberapa pria pada Arthur.


" Lakukan sesuka kalian, dan rekam. Malvin buat dia melihat hasil rekaman dirinya sendiri sepanjang hari." Ujar Arthur.


" Baik, tuan." Ujar Malvin.


" Papi, ayo pulang. " Ujar Arthur, dan Cornelius pun mengangguk walau dia masih bingung untuk apa para pria berbadan besar tadi itu.


Sepeninggal Arthur dan Cornelius, Malvinlah yang memimpin. Sebagai wakil sekaligus asisten Arthur, dia memegang banyak kendali dan menjadi orang nomor dua yang di takuti setelah Arthur.


" Ingat! Rekam dengan baik, dia mungkin tua, tapi mungkin bisa menjadi mainan kalian. Selamat bersenang senang." Ujar Malvin dengan senyum dinginnya.


" Baik tuan." Ujar pria pria itu. Ada tiga pria dengan tubuh besar.


Mereka pun masuk, dan Malvin menekan sebuah tombol untuk membuat kaca itu terlihat gelap, dan tidak ada suara yang keluar dari ruangan itu. Masih ingat dengan Julia bukan? Ruangan itu adalah ruangan yang sama, dimana Julia akhirnya bunuh diri karena frustasi.


Berpindah ke Cornelius dan Arthur yang saat ini sedang dalam perjalanan, Cornelius masih tidak percaya bahwa putranya itu adalah sang Lucifer.


" Sejak kapan kamu mendiirikan TITANES, nak?" Tanya Cornelius.


" Sudah lama, pi.. tujuanku mendirikan TITANES adalah untuk mencari pembunuh sekaligus pemerk*sa kakak." Ujar Arthur.


" Nak, Mafia adalah hal yang membahayakan, Jika Sierra tahu.." Ucap Cornelius menggantung.


" Sierra sudah tahu pi, Sierra bahkan salah satu peretas terhebat yang membantu TITANES." Ujar Arthur dengan senyumnya. Cornelius tentu terkejut mendengarnya.


" Kamu bilang, Sierra adalah peretas hebat??" Tanya Cornelius, dan Arthur mengangguk.


" Anak dan menantu papi, adalah pasangan mafia." Ujar Arthur terkekeh.


Crnelius sampai kehabisan kata kata, Sierra yang terlihat lemah lembut dan baik hati itu.. juga terjun dalam dunia mafia.


" Lalu apa yang akan kamu lakukan pada Carol?" Tanya Cornelius.


" Mungkin saat ini dia sedang menerima kesakitan yang sama seperti yang kakak rasakan. Pria pria tadi adalah penyuka sesama jenis, Carol dulunya begitu bukan? Dia juga sudah merusak kakakku, maka aku memberikannya hal yang sama padanya." Ujar Arthur.


Cornelius menatap ngeri putranya itu, dia memberi Carol tiga pria untuk membuat Carol tersiksa. Cornelius yakin, saat ini Carol benar benar sedang tersiksa.


' Astaga, aku tidak tahu bahwa putraku ini begitu kejam.' Batin Cornelius.


Kembali ke markas..


Benar apa yang Cornelius pikirkan. Carol, sedang sangat tersiksa saat ini. Tubuh tua nya itu harus mendapat berbagai pukulan, tiga pria itu membuatnya begitu kehilangan harga diri dan kesombongannya.


Carol juga merupakan ketua Mafia, tapi melihat keadaannya saat ini, dia lebih seperti boneka yang sedang dimainkan oleh tiga anak anak. Ia teriak pun tidak menghentikan aksi pria pria besar itu. Kesombongan dan kekejaman Carol, kini sudah terampas.


TO BE CONTINUED..