
Sehari sudah berlalu, Sierra terlihat sangat gusar. Entahlah.. perasaan nya tidak baik baik saja, seperti akan ada hal besar yang terjadi.
" Andra, bisa lepaskan Hwan dan bawa dia padaku?" Ucap Sierra pada Andra.
" Baik, nyonya." Ucap Andra.
Andra pun menyuruh pawang untuk melepaskan Hwan, dan seperti biasanya Hwan selalu berada di sekeliling Sierra. Herannya Hwan juga tampak seperti gelisah dan terus menggeram dan sesekali mengaum.
" Kenapa Hwan begitu gelisah, nyonya?" Ucap Andra.
" Entahlah.. apakah kalian selalu membawa senjata di tangan kalian?" Ujar Sierra.
" Ya, kami membawa senjata. Semua anak buah tuan memegang senjata api." Ucap Andra.
" Perasaanku mengatakan akan terjadi hal besar, tolong kalian siap siaga." Ujar Sierra.
Andra menjadi panik, katnya orang.. ucapan wanita hamil itu biasanya tepat sasaran.
" Baik, nyonya." Ucap Andra dan ia pun menghubungi semua tim yang berjaga di kediaman itu untuk bersiaga melalui Ear piece nya.
" Kode hitam, siapa siaga." Ucap Andra.
" Berikan aku sebuah senjata, Andra." Ucap Sierra.
Andra semakin yakin, Sierra tidak main main, matanya bahkan terlihat tidak tenang. Andra memberikan sebuah senjata api pada Sierra, dan Sierra menggenggam senjata api itu di tangan nya.
Di belahana dunia lain.
Arthur yang tengah melakukan pertemuan penting dengan Klien nya terlihat begitu tidak tenang. Entahlah, sejak tadi Arthur terlihat terus berdehem dan gelisah.
" Tuan, apakah anda baik baik saja?" Tanya Malvin.
" Hm, aku baik baik saja." Ucap Arthur dan berusaha fokus pada materi pembahasan yang tengah di terangkan oleh Client nya.
' Sayang, pumpkin's.. Tolong jangan terjadi sesuatu pada kalian. Daddy akan segera pukang setelah ini berakhir. ' Batin Arthur.
Arthur berusaha untuk menyelesaikan semua tugasnya di sana hari ini, bahkan ia sama sekali tidak tidur dengan baik selama dua hari ini. Dia hanya tidur sekitar satu jam, kemudian ia kembali bangun dan bekerja lagi.
Malvin bisa melihat raut kegelisahaan diwajah Arthur, Malvin yakin ada sesuatu yang Arthur rasakan karena ia tidak pernah melihat Arthur begitu gelisah.
Kembali di tanah Air.
Sierra yang tengah memakan buah bersama Hwan di kejutkan oleh suara tembakan di bagian depan kadiamannya.
" Nyonya, cepat sembunyi." Ujar Andra.
Tapi saat Sierra bangun, ia melihat beberapa orang yang menyusup ke kediaman melalui dinding belakang. Andra dengan sigap perang baku tembak dengan orang orang itu.
Sierra mencoba berlari dari sana sambil menangis, bukan karena apa apa, tapi ia tidak ingin sesuatu terjadi pada kedua bayinya yang masih didalam kandungan.
' Pumpkin's.. tolong kalian kuat ya, sayang. Bantu mommy untuk menyelamatkan kalian.' Batin Sierra.
Hwan juga mengaum menggelegar menyerang semua penyusup yang hampir menyakiti Sierra.
" GROOAR!!" Auman Hwan menggelegar.
Sierra berlari menuju ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya, tapi tiba tiba sebuah suara mengejutkan nya.
" Yo.. Nyonya Arthur, apakah anda ketakutan?" Ujar suara itu.
Sierra berbalik, dan melihat seorang pria paruh baya yang tengah memegang senjata api di tangannya. Sierra mengenal wajah itu, itu adalah wajah Carol.
" Ck.. Sayang sekali kau harus mati ditanganku, Sierra." Ucap Carol.
" Kau mengenalku?" Ucap Sierra sambil melindungi perutnya dengan kedua tangan nya.
" Putri Daniel Leon, siapa yang tidak kenal? " Ucap Carol.
" Apa maumu, kenapa kau menyerangku?" Ucap Sierra menodongkan senjata apinya pada Carol.
" Wow.. Wow.. Wow.. Memang seorang nyonya Arthur, dia bahkan memegang senjata." Ujar Carol.
" Sebenarnya aku tidak ada dendam denganmu, tapi pada suamimu dan keluarganya. Tapi berhubung kamu sudah menjadi anggota keluarganya, jadi kau juga jadi targetku." Ucap Carol dengan senyum smirk nya.
" Mereka pasti akan begitu terpukul jika menantu kesayangan mereka dan kedua anak dalam kandungan nya mati. Hahahah.. Aku tidak sabar melihatnya." Ucap Carol seperti psikopat.
Carol mengarahkan senjata apinya pada Sierra, dan Sierra pun sama, sambil sebelah tangannya melindungi perutnya. Andra melihatnya dari luar dan hendak menolong Sierra tetapi lagi lagi anak buah Carol menyerangnya. Anak buah Carol sangat banyak, hingga Andra sedikit kualahan.
Dan sekaan mengerti, Hwan yang tengah mencabik cabik musuh itu menatap kedalam, ia menggeram melihat seseorang mengarahkan senjata pada ibunya, Sierra.
Hwan mengendap endap sambil tatapan matanya tertuju pada pria yang saat ini mengarahkan senjata pada Sierra. Sierra melihat Hwan, yang mengendap di belakang Carol.
" Selamat tinggal, nyonya Arthur." Ucap Carol.
Carol tersenyum smirk, dan hendak menembak Sierra tetapi tiba tiba Hwan menerkamnya. Carol dan Hwan saling bergelut, dan Sierra langsung berlari untuk sembunyi di sebuah tempat dengan buru buru.
Saat Sierra sudah bersembunyi di tempat yang aman, tiba tiba terdengar suara tembakan dan suara Hwan yang mengaum kesakitan. Sierra yakin Hwan sudah tertembak.
" Nyonya, singamu sudah aku lumpuhkan.. Kau mau mati dengan mudah, atau mau kucing kucingan terlebih dahulu? Boleh.. biar aku temani." Ucap Carol mencari keberadaan Sierra.
" Apakah kau mau tahu mengapa aku menargetkanmu? Sebenarnya memang kamu tidak ada kaitannya dengan semua ini.. Tapi kemudian aku tahu bahwa kau begitu berharga bagi mereka jadi aku menargetkanmu." Ucap Carol.
" Kau tidak keberatan bukan? Mati lebih dulu sebelum mereka. Sierraaa.." Ucap Carol semakin menjadi, ia memukuli setiap lemari yang berada disana.
Sierra memeluk perutnya, sambil menangis tertahan. Jika keadaan nya tidak sedang hamil mungkin dia bisa melawan Carol, tetapi sekarang dirinya tengah membawa kedua anaknya bersama dirinya.
' Sayang, tolong bamtu mommy.. Tolong tenang didalam sana, ya.. Daddy pasti akan mengirim bantuan.' Batin Sierra.
Sierra mempersiapkan senjatanya dan berjaga jaga bila Carol menemukan dirinya. Sierra bersembunyi di lemari penyimpanan koper yang berada di kamarnya. Lemari itu memiliki lebar hanya satu meter, dan sama sekali tidak ada pencahayaan disana.
Lemari itu di desain tidak memiliki handel pintu dari luar, dan terlihat samar dengan dinding kamar yang di pasangi panel kayu seluruhnya. Yang tidak tahu, tidak akan mengetahui bahwa disana terdapat lemari yang disamarkan dengan panel dinding.
" SIERRA!! " Bentak Carol begitu emosi karena tak kunjung menemukan Sierra.
Diluar, Andra dengan wajah bengisnya menghabisi semua anak buah Carol, yang mempersulitnya. Seluruh tubuhnya kini terkena begitu banyak noda darah karena selain ia berkelahi menggunakan senjata api, ia juga menggunakan belatinya yang selalu ia simpan di bawah sepatunya.
" Cuih! " Andra meludah karena mulutnya terdapat banyak darah.
Andra berlari dan melihat Hwan yang seperti sekarat. Dengan gerakan cepat ia berlari ke ruangan Arthur dan menyalakan alarm kode darurat yang berada di ruang kerja Arthur, ia memanggil pasukan TITANES.
Masa bodo jika ia akan di hukum nanti, prioritasnya saat ini adalah melindungi Sierra.
" Kerja bagus Hwan, tapi bisakah kamu bertahan dan sekali lagi bantu aku lindungi ibumu, pria jahat di dalam sedang berusaha menyakiti ibumu.." Ucap Andra pada Hwan.
Hwan mendengus, dan entah mengapa sudut matanya mengeluarkan air mata seakan sedih. Andra pun mengendap endap dan menyiapkan senjata apinya dan mengintai Carol.
DOR.
Rupanya Carol merasakan kedatangan seseorang, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Andra.
" Sierra.. Kau tidak bisa sembunyi lebih lama dariku." Ucap Carol.
' Dia mengira aku adalah nyonya, berarti nyonya aman. Aku harus memancingnya keluar. ' Batin Andra.
Andra mengurai rambutnya dan melepas jaket hitamnya, kemudian ia menarik cardigan milik Sierra yang berada di sofa, dan memasukan bantal sofa kedalam kaosnya agar terlihat seperti Sierra yang tengah hamil.
" Sierra..." Panggil Carol.
BRAK!
Andra menjatuhkan benda agar menarik Carol keluar, dan rupanya berhasil.
DOR! DOR!
Carol menembak Andra yang berlari, untungnya tidak terkena. Carol pun berlari mengejar Andra yang dikira Sierra.
Andra hanya harus mengulur waktu sampai pasukan TITANES datang membawa bala bantuan. Andra kemudian bersembunyi di taman belang, di tempat biasa Sierra dan Arthur berolah raga.
" Sierra.. Kau tidak bisa lari dariku." Ucap Carol.
' Ya Tuhan, tolong jangan sampai terjadi sesuatu pada nyonya.' Batin Andra.
Carol melihat bahu Andra yang ruoanya tidak sembunyi dengan sempurna, Carol pun tersenyum dan hendak menembak Andra. Tetapi kemudian terdengar suara helikopter yang thrun disana.
DOR!!
Carol dengan terburu, menembak bahu belakang Andra yang dikira Sierra, kemudian langsung berlari keluar dari sana. Andra langsung terkapar, ia tertembak di bahu kiri yang bertepatan dengan jantngnya.
' Akhirnya.. Nyonya selamat.' Batin Andra, dan perlahan pandangannya menjadi buram dan gelap.
TO BE CONTINUED..