The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 82 Kebodohan yang tidak tertolong.


Sierra dan Arthur telah sampai di kediaman mereka. Saat mereka turun, rupanya ada Daniel disana. Daniel telah menunggu disana selama satu jam lamanya, baik pawang atau penjaga rumah tidak ada yang berani mengusir, karena Daniel mengatakan bahwa dirinya adalah ayah Sierra.


Sierra kaget melihat keberadaan Daniel disana. Namun ia tak begitu menunjukan keterkejutannya dan berjalan menghpiri Daniel dengan wajah dinginnya.


" Ada apa anda kemari?" Ucap Sierra.


" Sierra, ayah.."


" Anda bukan ayahku, apa anda lupa? Tolong jangan membuat aku mengulang kalimat yang sama setiap kita bertemu, tuan." Ucap Sierra tanpa perasaan memotong perkataan Daniel.


" Baiklah.. Maaf. Tapi bisakah kita bertemu besok? Aku menghubungi nomormu tetapi tidak tersambung." Ucap Daniel.


" Karena aku sudah memblokirnya. Dan tidak lagi ingin memiliki hubungan apapun denganmu. Ngomong ngomong, terimakasih karena telah mendonorkan darah anda kepadaku. Berapa harga yang harus aku bayar untuk itu?" Ucap Sierra menatap intens mata Daniel.


' Apakah bahkan aku tidak boleh mendonorkan darahku untuk putriku sendiri?' Batin Daniel.


" Aku mendonorkan darahku untuk setidaknya menebus rasa bersalahku padamu. Aku memang ayah yang buruk, menyadari semuanya sangat terlambat, hingga tidak ada sedikitpun pintu maaf darimu untukku." Ucap Daniel.


" Lalu apakah rasa bersalah anda berkurang?? " Ucap Sierra, dan daniel menggeleng.


" Anda hanya mendonorkan darah anda, jangan terlalu menilai tinggi jasa anda. Itu tidak sebanding dengan apa yang telah anda perbuat padaku sejak aku kecil." Ucap Sierra.


" Aku tahu.." Ucap Daniel.


" Pulanglah, antara aku dan anda sudah tidak ada hubungan apapun." Ucap Sierra.


" Sierra, bisakah kamu mendengarku berbicara lebih dulu? Aku tahu aku bersalah kepadmu, tapi bisakah kau mendengar apa yang akan aku ucapkan?" Ucap Daniel sedikit meninggikan suara.


Arthur pun maju berdiri disisi Sierra, berjaga apabila Daniel hendak menyakiti Sierra lagi.


" Baik, katakan." Ucap Sierra.


" Sierra, mendiang ibumu telah menjodohkan dirimu dengan putra sahabatnya sekaligus adik angkatku, dan kini mereka datang untuk melanjutkan perjodohan itu lagi bisakah.."


" Hahahahaha" Tawa Sierra pecah, Sierra tertawa sangat keras hingga Daniel menghentikan ucapannya.


" Lucu! Atas dasar apa kau memintaku untuk melanjutkan perjodohan konyol itu, tuan?" Ucap Sierra.


" Itu adalah janji ibumu dan sahabatnya, aku tidak ingin mengecewakan ibumu untuk yang kedua kalinya." Ucap Daniel.


" Ibuku sudah mati, tuan. Dia tidak lagi ada kaitanya dengan dunia ini. Lalu janji konyol yang anda katakan itu, apakah anda sama sekali tidak berpikir menggunakan otak anda? Siapa anda beraninya memerintahku melanjutkan perjodohan itu." Ucap Sierra tegas dan dingin.


" Sierra! Itu adalah keinginan ibumu." Ucap Daniel.


" Ibuku sudah mati!! Berhenti mencoba mengendalikan aku, aku bukan boneka hidup kalian lagi!" Teriak Sierra.


Daniel sampai tersentak mendengarnya, Sierra dengan lantang mengatakan ibunya mati. Walau memang benar demikian, tapi Daniel tidak percaya Sierra begitu saja mengatakan hal itu.


" Kau benar benar sudah berubah Sierra." Ucap Daniel.


" Benar! Aku memang sudah berubah. Anda yang mengubahku menjadi Iblis tidak berhati, jika anda lupa. Semua perbuatan anda, membuat aku yang seorang gadis baik menjadi Iblis jahat." Ucap Sierra emosi.


" Sekarang keluar dari sini, aku tidak akan mengikuti apapun keinginanmu. " Ucap Sierra lagi.


Sierra langsung berlalu pergi masuk kedalam rumahnya, emosinya benar benar membuncah saat ini. Daniel hendak mengejar Sierra, namun tangannya di cekal Arthur.


" Arthur, aku tahu aku ayah yang buruk. Tapi bagaimanapun janji adalah hutang, Ibu Sierra telah menjodohkan Sierra dengan orang lain, bisakah kau melepas Sierra?" Ucap Daniel tanpa perasaan.


" Tidak akan aku lepaskan Sierra , apapun yang terjadi." Ucap Arthur.


" Tapi, Arthur dia.."


" Dia sudah sangat membenciku, maka biarkan saja. Tujuanku kali ini adalah untuk memenuhi keinginan Sophia. Jika kau menghalangiku dan tidak mau melepas Sierra, maka saat ini kita menjadi lawan." Ujar Daniel.


" Bagus, anda sendiri yang mengatakannya. Tapi aku! Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Sierra lagi. " Ucap Arthur.


" Bukankah anda sendiri yang mengucapkan untuk agar aku menjaga dan mencintai Sierra dan tidak menyakiti hatinya lagi? Apakah anda melupakan ucapan anda sendiri saat di rumah sakit tuan?" Ucap Arthur.


" Itu karena aku tidak tahu bahwa pria yang dijodohkan dengan Sierra akan datang. Sudahlah! Jika kau tidak mau mundur, maka kita lihat saja siapa yang akan memenangkan Sierra." Ucap Daniel.


" Sierra bukan piala bergilir, Tuan Daniel Leon!! Bisakah anda jaga kata kata anda!! Sekarang pergi daei kediamanku, anda benar benar ayah paling burik didunia ini." Ucap Arthur Emosi.


" Penjaga! Antar tamu pergi. Lain kali jika dia datang jangan biarkan masuk." Ucap Arthur emosi.


Arthur masuk kedalam rumahnya, dan melihat Sierra yang tengah duduk di ruang tengah sambil tatapannya begitu lurur.


" Sayang, apa yang kamu pikirkan?" Ucap Arthur.


" Aku tidak ingat di kehidupanku yang dulu aku di jodohkan dengan seseorang. Kenapa tiba tiba ada pria yang datang mengaku ngaku sebagai pria yang dijodohkan denganku?" Ucap Sierra.


" Takdir tampaknya telah benar benar berubah. Tidak apa apa.. Aku selalu bersamamu, apapun yang terjadi. Tidak perlu takut." Ucap Arthur memeluk Sierra.


" Aku tidak takut, hanya saja tidak pernah menyangka akan ada hal seperti ini." Ucap Sierra.


" Jangan di pikirkan, lebih baik kita makan malam, ayo." Ucap Arthur. Sierra mengangguk lalu dia bangun berjalan menuju ke meja makan.


Disisi lain Daniel tengah berada di dalam mobilnya dan menelepon seseorang.


" Culik Sierra dan bawa ke kediaman ku di kota K. Jangan sampai Arthur tahu aku yang menyuruh kalian." Ucap Daniel.


" Jikapun Sierra membenciku, aku tidak akan menyesal. Itu adalah keinginan Sophia, dan satu satunya. Aku tidak mau mengecewakan Sophia." Gumam Daniel.


Kebodohan yang sama tampaknya tidak bisa dihindarkan. Daniel yang masih terus saja terikat dengan Sophia yang bahkan sudah tidak ada di dunia ini. Tidak salah memang untuk terus mencintai orang yang bahkan sudah meninggal. Tetapi apakah harus mengaitkan kejadian yang bahkan tidak diketahui kebenarannya itu.


Ke esokan harinya, di perusahaan Arthur.


" Tuan, perwakilan dari perusahaan MC dari AS telah datang." Ucap Malvin.


" Baik, Suruh dia masuk kemari saja." Ucap Arthur.


" Baik tuan." Sahut Malvin.


Malvin pun membuka pintu dan mempersilahkan sosok pria yang merupakan perwakilan dari AS itu.


" Silahkan tuan." Ucap Malvin.


" Oh, ya. Terimakasih." Ucap pria itu.


Saat pria itu masuk, Arthur langsung mengernyit kan keningnya, ia mengingat sosok pria itu. Pria yang bertemu dengannya dan Sierra di pusat perbelanjaan saat membeli pohon Natal.


" Anda?" Ucap Arthur.


" Halo tuan Edward, saya Vian Muyera. CEO baru perusahaan MC. Tampaknya kita sudah saling bertemu sebelumnya." Ucap Vian.


Entah mengapa Arthur tidka menyukai kedatangan Vian itu, ia seperti memiliki siasat tersembunyi.


" Halo, saya Arthur Edward. Sialahkan duduk tuan Muyera." Ucap Arthur formal.


' Kau akan segera hancur, Arthur Edward.' Batin Vian.


TO BE CONTINUED...