
Ke esokan harinya, di sebuah perusahaan besar milik Daniel Leon.
Hari ini sesuai janji Daniel kepada para wartawan kemarin, mengatakan bahwa ia akan menggelar konferensi pers , untuk meluruskan desas desus yang beredaran di luar sana tentang dirinya juga keluarganya.
" Selamat pagi, saya Daniel Leon. Saya mengadakan konferensi pers ini untuk meluruskan desas desus dan kesalahpahaman yang beredar diluaran sana tentang keluargaku. Silahkan kalian tanyakan apapun yang ingin kalian tanyakan, jika saya bisa menjawab maka akan saya jawab." Ucap Daniel setelah berdiri di podium.
" Tuan Daniel, apakah benar Sierra adalah putri kandung anda.?" Tanya salah satu wartawan.
Daniel sudah menebak, pertanyaan pertama pastilah tentang Sierra. Karena begitu santernya desas desus yang beredar diluar tentang hubungan antara dirinya dan Sierra. Danil menatap wartawan itu, dan dengan yakin mengatakan..
" Benar, dia adalah putri kandung saya." Jawab Daniel.
Wartawan dan publik tentu saja langsung heboh, tidak menyangka bahwa rupanya kabar Sierra adalah putri kandung Daniel nyata adanya.
" Lalu, dari mana dia selama ini tuan, apakah benar anda menyembunyikan identitasnya.? " Ucap wartawan itu lagi.
" Ya.." ucap Daniel mengakui.
Konferensi pers itu digelar secara live, dan saat ini seluru kota Jakarta tengah digemparkan dengan pengakuan Daniel.
" Apakah kabar yang beredar bahwa anda tidak mengakuinya sebagai putri kandung anda itu benar tuan Daniel? Banyak yang bertanya tanya dengan kebenaran ini." Ucap wartawan itu lagi.
Daniel sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan itu, tetapi demi menebus keslaahan nya pun mengangguk.
" Ya, itu benar." jawab Daniel.
" Apakah anda bisa memberi tahu kami alasan kenapa anda melakukan itu pada putri kandung anda sendiri tuan?"
" Ada kesalahpahaman yang terjadi antara kami, dan saat ini saya sedang berusaha menebus kesalahan saya. Sierra Leona, adalah putri kandung saya, putri pertama dan satu satunya dari pernikahan saya dengan Sophia Adeline istri pertama saya yang sudah meninggal." Ucap Daniel.
" Lalu Mendiang nona Hailey dan Carine, apakah mereka putri kandung anda.?" Ucap wartawan.
" Mereka putri tiri saya, dari pernikahan saya yang kedua." Ucap Daniel.
" Tuan Daniel, mengapa anda lebih menyayangi putri tiri anda dari pada putri kandung anda. Bahkan anda menyembunyikan keberadaan putri kandung anda selama ini." Tanya wartawan.
Daniel diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena pertanyaan itu mengenai langsung hati Daniel.
" Maaf, konferensi pers sudah selesai, silahkan kalian bubar." Ucap pengawal Daniel.
" Tuan Daniel.."
" Saya akan memberitahu sesuatu, saya sedang mengurus perceraian saya, oleh karena itu apapun yang terjadi dengan mantan istri saya tolong jamgan tanyakan kepada saya, dia pergi setelah kedua puteinya masuk penjara." Ucap Daniel.
" Apakah itu sebabnya anda memakamkan Hailey di pemakaman umum.?" Tanya Wartawan.
" Ya.." Ucap Daniel singkat.
Setelah mengatakan itu, Daniel pergi meninggalkan keramaian disana. Tangannya sudah bergemetar hebat. Padahal itu bukan pertama kalinya Daniel menghadap kamera, yang membuat tangannya bergetar adalah pertanyaan pertanyaan wartawan tentang Sierra.
Di tempat lain..
Sierra mematikan tv nya setelah ia melihat siaran langsung konferensi pers yang Daniel lakukan.
' Kau bilang ingin menebus kesalahanmu? Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi. Aku sudah terlalu sakit untuk menerimanya. Aku memberimu banyak kesempatan, satu kali.. dua kali.. hingga ratusan juta kali, kau tidak hanya tidak peduli padaku tapi kau selalu ringan tangan padaku. Hingga di kesempatan terakhir saat aku ada di rumahmu, kau masih tetap menganggap hanya aku yang bersalah. Bahkan kau berniat menyingkirkan aku sepenuhnya.' Batin Sierra bermonolog.
Saat ini Sierra masih berada di kediamannya sendiri. Semalam ia dan Arthur makan dengan begitu bahagianya sampai ia lupa waktu. Karena sudah larut malam, Sierra meminta Arthur untuk menginap dirumahnya saja, Arthur pun menuruti Sierra. Dan saat ini arthur sudah di perusahaannya.
" Dendamku sudah terbalas, Carine sudah masuk penjara, Hailey sudah mati, dan kurasa Julia juga sudah gila saat ini. Daniel.. sudah mendapatkan penyesalannya. Aku sudah bisa menjalani hidup baruku." Gumam Sierra sambil menatap foto masa kecilnya dengan Sophia.
" Ibu.. apakah akhirnya aku sudah menang sekarang?" Gumam Sierra lagi.
Hingga hari sudah menjelang malam, Arthur pulang dengan stelan jasnya yang terlihat tetap rapih. Sierra jatuh cinta berkali kali saat melihat Arthur dengan stelan jasnya itu, Arthur terlihat sangat tampan.
" Sayang, kamu kenapa ada diluar.?" Ucap Arthur.
" Menunggumu." Ucap Sierra.
Arthur tersenyum lalu mencium kening Sierra.
" Maaf yah.. sudah membuat kamu menungguku, kamu pasti lelah." Ucap Arthur dengan lembut.
" Aku tidak le..akh.." teriak Sierra ketika tiba tiba Arthur menggendongnya ala bride.
" Arthur, kamu mengejutkanku." Ucap Sierra.
" Maaf sayang.." Hanya itu ucap Arthur.
Arthur membawa Sierra masuk kedalam rumah, lalu dengan perlahan menurunkan Sierra ke sofa. Tetapi tangan Sierra justru mengalung erat dileher Arthur, Arthur yang melihat Sierra menatapnya dalam dalam pun tersenyum.
" Ada apa sayang.?" Tanya Arthur.
" Tidak ada.. hanya sedang mengagumi kekkasihku." Ucap Sierra.
Arthur terkekeh mendengar ucapan Sierra, bisa bisanya Sierra menggoda dirinya.
" Aku baru tahu mulutmu sangat manis." Ucap Arthur.
" Mana ada mulutku manis.. aku jujur, aku sedang mengagumimu." Ucap Sierra.
" Tidak, mulutmu sangat manis, bahkan terlalu manis.. "
Ucap Arthur lalu mencium Sierra. Mereka berciuman dengan posisi Sierra yang duduk di sofa sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Arthur yang menunduk kearah Sierra.
" Aku mencintaimu." Ucap Arthur.
" Aku juga mencintaimu." Sahut Sierra.
" Aku lebih.. lebih.. mencintaimu sayang." Ucap Arthur.
Arthur mengecuk kilas bibir Sierra, lalu bangun dari posisi bungkuknya.
" Bersiaplah, kita akan kerumah tuan Daniel kan.?" Ucap Arthur.
" Ehm.. iya." Ucap Sierra.
Sierra pun bangun dari duduknya dan bersiap, 40 menit kemudian Sierra kembali keluar dari kamarnya. Sierra berpakaian sangat elegan ia juga menata rambutnya. Sierra menggunakan dres panjang berwarna hitam dengan lengan panjang, namun bagian belakangnya terbuka sehingga bisa terlihat punggung putih mulus Sierra, karena Sierra mengepang rambut panjangnya itu kesamping.
Arthur yang melihat itu pun sangat terpesona dengan pemandangan di hadapannya saat ini. Sierranya menjelma menjadi begitu mengagumkan, walaupun sebenarnya Sierra memang selalu mengagumkan.
" Apakah aku terlihat aneh? Sejujurnya ini kali pertama aku menggunakan dres panjang terbuka." Ucap Sierra.
" Kamu cantik sayang. " Ucap Arthur.
Sierra tersenyum, ia senang mendengar Arthur memujinya.
" Ayo.." Ucap Arthur.
" Ayo." Sahut Sierra.
Arthur menggandeng tangan Sierra dan keluar menuju mobil mereka, lalu pergi dari sana.
Di tempat lain..
Di kediaman Leon, Daniel menyiapkan banyak makanan. Sejujurnya ia sama sekali tidak tahu apa yang Sierra suka. Kini ia menyesal sendiri, karena ia sama sekali tak mengetahui kesukaan putrinya sendiri.
" Tuan, semuanya sudah siap." Ucap pelayan rumah.
" Bagus, jika nona datang keluarkan semuanya." Ucap Daniel.
" Baik tuan." Ucap sang pelayan.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Sierra sampai disana, Daniel sudah tahu pasti Arthur akan ikut dengan Sierra dan benar saja Sierra muncul bersama dengan Arthur.
" Selamat datang dirumah nak.." Ucap Daniel ramah.
' Rumah.. aku selalu menganggap tempat ini rumah dulu, tapi jika aku ingat ingat semua yang aku lalui rumah ini lebih seperti neraka bagiku. ' Batin Sierra.
" Apakah ada perayaan sesuatu? Anda menyambutku begitu ramah " ucap Sierra.
" Tidak ada, ayah hanya ingin menyambut putri ayah saja." Ucap Daniel.
" Putrimu.?? " Ucap Sierra tersenyum smirk.
" Ayo ayo masuk, pelayan.. hidangkan makan malamnya." Ucap Daniel.
Tak lama beberapa pelayan datang dan membawakan banyak makanan, sungguh.. yang tidak tahu akan mengira ada acara makan malam besar besaran. Meja makan di kediaman Daniel itu bisa dibilang sangat besar, dan semuanya penuh dengan makanan.
" Anda yakin hanya mengundang saya dan Arthur.?" Tanya Sierra kepada Daniel.
" Maaf, ayah tidak tahu apa makanan kesukaanmu nak.. jadi ayah menyuruh pelayan untuk membuat banyak makanan, semua ini umtukmu." Ucap Daniel tersenyum ramah.
" Mubazir.. " ucap Sierra.
" Eh.?" Ucap Daniel.
" Apakah anda tahu betapa sulitnya orang kecil mencari makan? Mereka rela bekerja keras hanya demi sesuap nasi dan anda membuat begitu banyak makanan hanya karena tidak tahu makanan kesukaanku.?" Ucap Sierra.
" Ayah hanya mencoba memberikan yang terbaik yang ayah bisa, Sierra." Ucap Daniel.
" Kenapa tidak anda lakukan saat aku masih menjadi Sierra yang dungu? Atau.. saat aku masih menjadi Sierra kecil yang menangis memanggil namamu dipemakaman." Ucap Sierra.
Daniel terdiam , ia tidak pernah sama sekali menyangka bahwa dirinya akan salah mengambil keputusan. Ia begitu egois dulu.
" Maaf.. " Ucap Daniel.
Satu butir air mata lolos dari pelupuk mata Daniel.
" Maaf? Untuk apa.??" Tanya Sierra.
" Semuanya.. ayah minta maaf Sierra. Jika kamu mau menghukum ayah atau melaporkan ayah kepada polisi atas penelantaran anak pun ayah rela. Asalkan kamu tidak menjauhi Ayah, ayah ingin menebus kesalahan ayah padamu." Ucap Daniel.
Arthur hanya diam melihat interaksi antara Sierra dan Daniel, bisa Arthur lihat dimata Sierra masih ada rasa sakit yang tertinggal, mungkin kesakitan Sierra yang selalu diabaikan oleh Daniel dulu.
" Mari kita makan malam dulu, Arthur.. apakah kamu ada makanan yang tidak bisa dimakan.?" Tanya Daniel.
" Apa yang Sierra suka, saya menyukainya juga." Ucap Arthur.
Daniel menatap iri kepada Arthur, Arthur yang belum lama ini bersama Sierra saja bisa sebegitu besar mencintai Sierra, hingga apa yang Sierra suka, ia pun menyukainya. Arthur bahkan bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan Sierra.
" Silahkan dimakan.." Ucap Daniel.
TO BE CONTINUED..