
Arthur tengah berkutat di dapurnya, tidak ada sama sekali yang membantunya, hanya ada Arthur yang tengah memasak dengan Sierra yang duduk manis di meja dapur sambil memperhatikan Arthur yang berjalan kesana kemari, sibuk dengan bahan makanannya.
' Suami idaman.' batin Sierra.
' Astaga, apa yang aku pikirkan..' Batinnya ketika menyadari kelakuannya sendiri, ia menutup wajahnya yang merona dengan kedua tangannya.
Arthur menyadari pergerakan Sierra itu dan tersenyum manis.
'Ah.. Meleleh hatiku..' Batin Sierra lagi.
" Kamu sudah lapar ya sayang, wajahmu sampai memerah begitu." ucap Arthur yangvsalah menyangka.
" Emm.. Iya." ucap Sierra. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya tengah malu sendiri karena mengagumi Tunangannya itu.
" Sabar yah.. Sedikit lagi pasta ini selesai, hanya tinggal mengguyur sausnya saja." ucap Arthur.
" Ya.." Ucap Sierra.
Arthur menatap Sierra, karena ia merasa ada yang aneh dengan Sierra. Sierra hanya mengucapkan Iya saja dengan wajah merahnya. Arthur pun mendekati Sierra dan menyentuh keningnya.
" Kamu tidak sedang sakit kan.?? Apakah luka ya terasa sakit karena kamu duduk di meja terlalu lama.?" Ucap Arthur khawatir.
" Tidak, aku tidak apa apa.. " Ucap Sierra.
Sierra menatap mata, hidung, dan bibir Arthur. Lalu ia mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Arthur.
" Aku.. Hanya sedang mengagumi tunanganku. Dia tampan, baik, perhatian, pandai memasak, dan yang terpenting.. Dia sangat mencintaiku, dan menyayangiku. Aku sedang bersukur atas apa yang Tuhan beri setelah aku kembali hidup." Ucap Sierra.
Arthur melepas celemek yang melekat di tubuhnya, lalu ia kembali mendekat kepada Sierra. Arthur meletakan kedua tangannya di kanan dan kiri Sierra, saat ini Sierra di kurung oleh kesua tangan Arthur.
" Kamu mengagumiku.? Coba katakna sekali lagi.." Ucap Arthur dengan tatapan dalam dan senyum manisnya.
" Ak.. aku.. tidak mau." Ucap Sierra, ia malu sendiri karena posisi mereka seperti itu.
" Syaang..." Ucap Arthur.
" Apa yang aku katakan, tidak ada siaran ulang." Ucap Sierra dengan mata yang menatap ke segala arah.
" Sayang... " Ucap Arthur lagi.
Sierra menatap mata Arthur lagi, dan tersenyum.
" Aku mencintaimu.." Ucap Sierra.
" Kamu tahu sayang, saat ini di dalam dadaku.. jantungku bergemuruh, ia berdetak tidak beraturan. Hanya karena satu kata darimu, kamu membuatnya menjadi tidak terkendali." Ucap Arthur.
" Tidak terkendali bagai.. um.." Ucap Sierra terpotong karen saat ini Arthur menyatukan bibirnya dengan bibir Sierra.
Arthur mencium Sierra sangat lembut seakan ia takut menyakiti Sierra.
" Kamu segalanya bagiku, sayang. Segala galanya.. sebelum aku bertemu denganmu, hidupku gelap. Tapi setelah kamu hadir, aku bisa menjadi diriku yang sekarang. " Ucap Arthur setelah melepaskan ciumannya.
Sierra sampai tak bisa berkata kata, ia tenggelam dalam dalamnya tatapan Arthur saat ini..
" Kamu duniaku, aku mencintaimu." Ucap Arthur lagi sambil membenarkan anak rambut di kening Sierra.
" Nah, sekarang mari kita makan.. bukankah kamu lapar.?" Ucap Arthur.
" Hmm.. iya." Ucap Sierra.
Arthur menuangkan saus pastanya, lalu mengaduk aduk pasta itu sehingga muncullah aroma yang begitu memanjakan hidung.
" Nah.. Aa..." Ucap Arthur.
Dan kali ini Sierra sangat patuh, ia membuka mulutnya dengan bahagia tanpa ptotes seperti saat di rumah sakit.
" Kamu tidak makan.?" Tanya Sierra.
" Aku belum lapar sayang." Ucap Arthur.
Sierra mengangguk tanda mengerti. Arthur menyuapi Sierra dengan penuh ketelatenan hingga pasta itu habis tak tersisa di piring.
" Nah .. sekarang kamu mau melakukan apa.? " Tanya Arthur.
" Aku ingin duduk di sofa saja, perutku kekenyangan." Ucap Sierra, dan hal itu berhasil membuat Arthur terkekeh.
" Kamu terlalu kurus, harus banyak makam supaya sedikit berisi." Ucap Arthur.
" Aku tidak bisa gemuk, walau mau makan sebanyak apapun.." Ucap Sierra.
" Benarkah, kalau begitu aku akan memasak setiap hari agar kamu hanya makan makananku, aku yakin kamu akan gemuk dalam satu mjnggu." Ucap Arthur , sambil ia menggendong Sierra.
" Arthur, yang terluka adalah perutku.. kenapa aku sama sekali tidak boleh melakukan apapun.?" Ucap Sierra kembali protes.
" Aku bahkan ingin agar kamu sama sekali tidak menyentuh lantai. Aku ingin menggendongmu kemanapun, bahkan ingin mengantongimu dan aku bawa kemanapun aku pergi." Ucap Arthur menggoda Sierra.
" Kamu pikir aku gantungan kunci.?" Ucap Sierra sewot.
" Tidak sayang... aku hanya ingin kamu bergantung padaku, kamu terlalu mandiri. Aku ingin menjadi bagian hidupmu, menjadi orang yang kamu andalkan, setiap hari, setiap jam, menit, detik, aku ingin kamu mengandalkan aku selamanya." Ucap Arthur.
Sierra tersenyum sendiri mendengarnya. Jika Sierra tidak tahu bahwa Arthur tidak pernah sekalipun dekat dengan gadis lain, mungkin Sierra akan menganggap Arthur swbagai pembual atau playboy ulung. Karena setiap kata yang Arthur ucapkan begitu manis, tidak akan ada yang menyangka bahwa seorang Arthur bisa berkata manis.
Wajahnya dengan mulutnya sangat kontras, wajah Arthur memang tampan tetapi sangat dingin dan tegas, sedangkan mulutnya begitu manis saat berucap kata kata pada Sierra.
"BRUM.. BRUM."
Terdengar suara motor yang sangat menggelegar, bahkan milik Sierra saja tidak semenggelegar itu.
" Siapa yang datang dengan motor besar.?" Tanya Sierra.
Arthur berfikir sejenak, lalu kemudian ia teringat dengan Malvin.
" Sepertinya Malvin.." ucap Arthur.
" Malvin.?? " ucap Sierra.
Dan rupanya benar, Malvinlah yang datang dengan motor besar milik brand mobil ternama.
" Selamat malam tuan muda dan nona Sierra." Ucap Malvin.
" Kenapa kau kemari.?" Tanya Arthur.
" Memgantarkan laporan, tuan muda." Ucap Malvin.
" Malvin kau mengendarai motor sekarang.?" Tanya Sierra.
" Ya nona, anda benar. Jakarta begitu macet, agar lebih cepat memang lebih baik menggunakan motor." Ucap Malvin dengan senyum bangga nya.
" Jika sudah mengantarkan laporan, maka pulanglah." Ucap Arthur dingin.
" Ya Astaga Ar, aku bahkan belum duduk kau sudah mengusirku.?" Ucap Malvin tidak formal.
" Kau ada perlu apa lagi.?" ucap Arthur.
" Ish.. Keterlaluan sekali dia ini. Aku kan datang untuk menjenguk calon kakak ipar, kau tidak lihat aku bawa banyak makanan.?" ucap Malvin sewot.
Jika Malvin sedang dalam mode formal arau sedang dalam jam kerja, maka ia akan menurut saja saat di usir. Tapi kini dirinya sudah tidak formal yang artinya sudah lewat jam kerja, jadi dia menunjukan sifat aslinya.
" Aku juga datang membawakan contoh undangan pernikahan kalian, Astaga bibi benar benar membuat kepalaku sakit. Aku lebih baik berhadapan dengan seratus musuh dari pada menghadapi bibi seorang." Ucap Malvin lagi.
Wanita dengan sejuta ke rempongannya, adalah Sahara. Dia sangat antusias memilih i i dan itu untuk acara pernikahan Arthur dan Sierra. Dia bahkan sudah mengundang beberapa desaigner ternama untuk membuatkan gaun pernikahan Sierra.
" Undangan pernikahan.??" Tanya Sierra bingung.
" Benar, bibi memilihkan beberapa undangan, dan ia meminta nona untuk memilihnya yang paling bagus." Ucap Malvin sembari memberikan contoh contoh undangan pernikahan kepada Sierra.
Sierra sampai terperangah, ia bahkan belum memikirkan kapan akan menikah, tapi Sahara seakan sudah siap semua hal.
" Sayang ini.." Ucap Sierra kehabisan kata kata.
" Jika kamu belum mau menikah dalam waktu dekat, maka kembalikan saja pada Malvin, agar dia mengembalikannya kepada mami. Mami memang terlalu terburu buru. " Ucap Arthur.
" Bukan, aku hanya tidak menyangka mami benar benar antusias dengan pernikahan kita." Ucap Sierra.
" Jadi kamu mau menikah dalam waktu dekat.??" tanya Arthur.
Sierra mengangguk sambil tersenyum, Arthur pun mengusap kepala Sierra dengan sayang.
" Kalau begitu pilihlah contoh undangannya, agar kita bisa menhiapkan yang lain." ucap Arthur.
' Ya Tuhan.. Pernikahan.. Aku dulu begitu mendambakan pernikahan karena selama aku bertunangan dengan Alden di kehidupan lalu, aku hanya di gantung dengan status tunangan saja.. bahkan sampai aku mati. Akhirnya aku bisa menikah dengan pria yang benar benar mencintaiku.' Batin Sierra sambil menatap haru contoh undangan di tangannya.
" Sayang, mengapa kamu justru terlihat sedih.?" ucap Arthur.
" Aku tidak sedih, aku terharu.. Banyak yang menyayangiku." Ucap Sierra.
Arthur memeluk Sierra erat, dan mengusap punggung Sierra.
" Di dunia ini.. Apa yang kamu inginkan, katakan itu kepadaku. Aku akan memenuhinya untukmu." ucap Arthur.
' Woah.. belajar dari mana dia, mengatakan kata kata yang begitu gombal itu.' Batin Malvin.
" Ekhem, jadi apakah kalian akan memilih ini.?" Tanya Malvin.
" Ya, letakan saja disini.. Kamu boleh pulang." Ucap Arthur.
" Ya Astaga.. apalah daya aku yang jomblo ini." Ucap Malvin, dan itu berhasil membuat Sierra tertawa.
" Carilah kekasih, maka kau tidak akan jomblo lagi." Ucap Sierra dengan kekehannya.
" Masalahnya tidak ada gadis yang sesuai dengan tipeku." Ucap Malvin.
" Tipemu? Ada ada saja mencari kekasih harus yang setipe. Memang seperti apa tipe kekasihmu?" Tanya Sierra.
" Pertama dia haruslah cantik sepertimu, cantik tanpa make up. Dia harus baik sepertimu, kuat sepertimu, dan aktraktif sepertimu, terutama.. Dia bisa mencintaiku apa adanya, seperti kamu mencintai Arthur.." Ucap Malvin dengan senyumnya.
Malvin tidak menyadari bahwa saat ini.. Arthur tengah menatapnya begitu tajam. Mungkin jika di drama drama Vampir, matanya akan menyala karena emosi saat ini.
" Beraninya kau menginginkan Sierraku." ucap Arthur.
Malvin melihat kearah Arthur dan merinding sendiri, Arthur terlihat bagai banteng yang 100% siap menyeruduk sesuatu berwarna merah.
" Eit.. Itu.. Maksudku kan seperti kakak ipar, bukan maksudku menginginkan kakak ipar. Aku hanya mengagumi kakak ipar saja, sepertinya tidak ada gadis yang sama seperti kakak ipar." Ucap Malvin.
"GLEK.!" Malvin sampai kesulitan menelan ludahnya sendiri.
" Sayang, kau menakutinya.." Ucap Sierra.
" Biarkan saja, pulang kau sana.!" Ucap Arthur pada Malvin.
" Ish.. Cemburumu itu lo.. Tidak bisa dikondisikan. Aku tidak akan merebut kakak ipar darimu." Ucap Malvin.
" Pulang sana.." Ucap Arthur.
" Iya.. Iya.. Astaga." Ucap Malvin kesal sendiri.
" Kau menggerutu.??" Ucap Arthur.
" Eh.. Hehehehe.. Tidak berani. Kalau begitu saya pulang dulu tuan muda, nona Sierra.. Selamat malam." Ucap Malvin dengan bahasa formalnya.
" Selamat malam asisten Malvin." Ucap Sierra.
Arthur menatap Sierra, ia tidak terima Sierra berkata begitu manis pada orang lain. Sedangkan Malvin langsung berlari perhi ketika melihat tatapan tajam Arthur itu, ia tidak mau kepalanya lepas dari tubuhnya.
" Kamu kenapa.?" Tanya Sierra.
" Lain kali, jangan bicara begitu manis pada siapapun. Kamu hanya untukku seorang." Ucap Arthur.
Sierra terkekeh dengan ucapan Arthur, Arthurnya saat ini tengah cemburu tingkat lemon hijau, sangat masam.
" Astaga.. Cemburu.??" Ucap Sierra.
" Ya, aku cemburu.. Apakah seharusnya aku mengurungmu saja didalam rumah? Agar tidak ada yang melirikmu, siapapun itu." Ucap Arthur.
" Hahaha.. " Tawa Sierra pecah.
Sepanjang dia hidup bahkan di dua kehidupan, tidak ada yang begitu protektif dan seposesif itu padanya, Arthur adalah yang pertama. Tapi melihat Arthur begitu cemburu, wajah Arthur sangat lucu.
" Sayang.. " Ucap Arthur.
" Iya.. Iya.. Aku milikmu seorang." Ucap Sierra dengang kekekhannya.
Arthur tersenyum mendengarnya, Kata Milikmu seorang membuatnya tersenyum begitu manis.
" Aku ingin sekali mengantongimu, kamu begitu menggemaskan." Ucap Arthur sambil menyangkup kedua pipi Sierra yang masih terkekeh hingga bibir Sierra maju seperti ikan.
" Hayang..( Sayang.)" Ucap Sierra yang kesulitan bicara.
Arthur justru mengecup bibir Sierra, lalu berlanjut menjadi ciuman yang dalam. Sierra dan Arthur sudah mulai mahir berciuman, mereka mengikuti naluri.
" Mhh.." Lenguh Sierra ketika merasakan sakit karena bibirnya digigit Arthur. Dan ciuman itu pun terlepas.
" Kenapa kamu menggigit bibirku." Ucap Sierra protes.
" Kamu terlalu mengemaskan." Ucap Arthur.
" Ish.. Sakit tahu." Ucap Sierra.
" Sakit ya? Maaf ya sayang.. Mana biar aku lihat." Ucap Arthur.
Dan Sierra yang polis itu nurut saja memajukan bibirnya. Arthur justru semakin jahil, ia kembali menyatukan bibirnya ke bibir Sierra dan berlanjut menjadi ciuman kedua yang dalam.
Ke esokan harinya..
Sahara datang ke kediamanan Arthur, Ia datang sendiri tidak bersama Cornelius. Sahara melihat semua pelayan tidak ada di kediaman, yang berarti Arthur masih dirumah.
" Anak itu tumben belum pergi bekerja." gumam Sahara.
Ia masa bodo dan langsung berjalan menuju ke kamar Sierra. Karena semalam Malvin mengucapkan bahwa Sierra tidak menolak menikah dalam waktu dekat, jadi tujuan Sahara datang adalah untuk mengajak Sierra mengukur badannya.
Ia membuka kamar Sierra dan terkejut melihat pemandangan dihadapannya. Putranya, Arthur.. Saat ini tengah tidur sambil memeluk Sierra, walau mereka sama sama berpakaian, tapi sahara justru salah paham.
Ia mengira Arthur dan Sierra mungkin sudah melewati malam panas bersama, ia tersenyum senang melihatnya.
' Memang tidak salah aku merencanakan pernikahan mereka, mereka sudah memproses calon cucu untukku.' Batin Sahara sambil terkikik sendiri.
' Aku tidak boleh mengganggu keromantisan mereka, lebih baik aku buatkan mereka sarapan, dan membuatkan Sierra ramuan leluhurku.' Batin Sahara.
Pelan pelan, Sahara keluar dari kamar Sierra. Ia menuju ke dapur dan mulai beraksi membuatkan sarapan untuk mereka. Sahara dulunya bukan gadis manja seperti gadis kebanyakan, ia juga kurang lebih bernasib seperti Sierra, hanya saja ia mungkin bisa dikatakan lebih baik dari pada Sierra.
Satu jam berlalu, dan Arthur terlihat leluar dari kamar Sierra, ia berjalan kedapur dan mendapati Sahara yang tengah mengaduk sup di panci.
" Pagi mi, tumben pagi pagi sudah datang.?" Ucap Arthur.
Tapi Sahara hanya mentapnya sambil tersenyum senyum sendiri. Arthur yang tidak peka hanya acuh saja, Ia membuka lemari es dan meneguk air di botol.
" Bagaimana semalam? Apakah kalian sudah membuatkan mami calon cucu.?" Ucap Sahara dengan wajah tersenyum senyum dan itu berhasil membuat Arthur tersedak.
" UHUK.!! UHUK.!! UHUK.!! "
" Ish, anak ini.. Minum saja tersedak." Ucap Sahara.
" Apa maksud mami berkata begitu.?" Ucap Arthur.
" Bukankah kalian tidur bersama semalam.?" tanya Sahara.
" Ya.. Tapi kan bukan berarti aku melakukan itu dengan Sierra mi." Ucap Arthur.
" Ish.. Masih malu ya? Tidak apa apa.. Mami tahu anak muda zaman sekarang, Mami tidak begitu kuno." Ucap Julia.
Arthur menepuk keningnya sendiri mendengar apa yang maminya itu katakan. Seandainya Arthur memang laki laki breng*ek mungkin Arthur akan santai santai saja berbuat demikian pada setiap gadis, untungnya Arthur bukan laki laki seperti itu.
" Astaga.. Mami." Ucap Arthur.
" Mami juga membuatkan sup supaya Sierra bisa lebih kuat mengimbangimu." Bisik Sahara.
" Mami.. " Ucap Arthur kehabisan kata kata.
" Aku dan Sierra belum melakukan itu mi, kami sepakat untuk melakukannya nanti ketika kami sudah menikah." Ucap Arthur.
" Masa.." Ucap Sahara menelisik Arthur.
" Iya mi, aku sangat menghormati Sierra . Aku tidak akan merusaknya, aku ingin hubungan kami suci hingga di pernikahan nanti." Ucap Arthur.
Tiba tiba Sahara menatap bangga pada putranya itu, ajaran yang saat kecil dia ucapkan kepada Arthur, rupanya di jalankan oleh Arthur. Arthur begitu menghormati wanita yang ia sayangi.
" Bagus nak, kamu memang anak mami." Ucap Sahara sembari menepuk pundak Arthur.
" Apakah Sierra sudah bangun? Ajak dia sarapan, dia harus makan makanan bergizi agar mempercepat pemulihannya." Ucap Sahara.
" Dia masih tidur, aku akan mandi terlebih dahulu." Ucap Arthur.
" Baiklah.." Ucap Sahara.
Arthur pergi meninggalkan Sahara di dapur, ia menuju ke kamarnya sendiri yang gerletak tak jauh dari kamar Sierra. Dan tak lama, Sierra pun turun dan menghpiri Sahara di dapur, karena Sierra mengira Arthur yang saat ini tengah memasak.
" Mami.??" Ucap Sierra terkejut melihat Sahara berdiri di dapur sambil mengaduk makanan.
" Pagi sayang, kamu sudah bangun.?" Ucap Sahara tanpa menengok karena ia sibuk dengan rumisan brokoli di tangannya.
" Mami datang sejak kspan.?" Ucap Sierra.
" Sejak... Pagi." Ucap Sahara terjeda saat melihat apa yang ada dibibir Sierra.
' Anak itu, katanya mau menghormati Sierra, tapi apa itu.. Tanda cintanya begitu kentara.' Bagon Sahara.
Sahara melihat bekas luka gigitan Arthir di bibir Sierra, dan itu membangunkan pikiran absurd Sahara.
Arthur muncul dan mengecup pucuk kepala Sierra dari belakang.
" Pagi sayang, kamu sudah bangun.?" Ucap Arthur.
" Mh.. Kamu tidak bilang mami datang." ucap Sierra.
" Kamu tidur, mana mungkin aku membangunkanmu." ucap Arthur mengusap kepala Sierra dengan sayang.
' Putraku memang lain dari yang lain, dia seperti papinya, penyayang dengan pendamping hidupnya.' Batin Sahara.
" Nah, makanan sudah jadi.. Mari kita sarapan bersama. " Ucap Sahara.
" Mami masak banyak makanan sehat untukmu, makan ya." ucap Arthur.
" Iya, terimakasih mi." ucap Sierra pada Sahara.
" Tidak masalah sayang.. makanlah." ucap Sahara.
Sierra mendapatkan kehangatan lagi, kebersamaan yang selalu ia rindukan dan bayangkan di kehidupan lalu terbayar saat ini. Walau Sahara adalah orang lain, tapi Sahara begitu menyayangi Sierra.. Ia merasakan kehangatan sebuah keluarga bersama mereka.
" Aw.!"
" Kenapa sayang.?" Ucap Arthur khawatir..
' Astaga.. Bekas gigitan Arthur dibibirku sangat perih, oh Astaga.. apakah mami melihatnya.? Memalukan sekali..' Batin Sierra.
" Sayang, kamu kenapa.? Apakah luka di perutmu sakit.?" ucap Sahara.
Sierra menggeleng, lalu mendekat kearah Arthur dan berbisik..
" Bibirku yang kamu gigit apakah behitu kentara.? Ini terasa perih." Bisik Sierra.
Arthur memandangi bibir Sierra dan tersenyum. Memang besar, dan sedikit memerah, sangat kontras dengan warna bibir Sierra.
" Tidak kok, tidak terlihat." Ucap Arthur berbohong.
" Kamu yakin? " Bisik Sierra.
" Iya sayang, kamu makan pelan pelan saja oke." Ucap Arthur.
Dan Sierra mengangguk, Sahara tentu tahu apa yang dibahas oleh Arthur dan Sierra, karena ia memperhatikan interaksi keduanya itu.
' Anak nakal ini..' Batin Sahara menatap Arthur.
TO BE CONTINUED...