The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 84. Menculik Sierra.


Di kota K, Daniel sangat emosi ketika mengetahui anak buahnya lagi lagi gugur saat hendak menyusup ke kediaman Arthur. Daniel tidak menyangka bahwa Arthur menempatkan banyak anak buahnya di setiap titik sudut kediaman itu.


" Kenapa bisa begitu sulit untuk menyusup ke kediaman Arthur, dia menyewa jasa keamanan dari mana sebenarnya. Anak buahku telah tewas beberapa, dan itu adalah anak buah Elit milikku." Gumam Daniel geram.


Daniel tentu tidak tahu bahwa Arthur adalah seorang Lucifer TITANES. Jika ia tahu mungkin ia tidak akan se berani itu melawan Arthur. Dia bahkan sedang mencari tahu siapa itu Lucifer, karena ia ingin bekerja sama untuk menjaga keamanan bisnisnya.


" Aku tidak percaya aku tidak bisa membawa pulang putriku sendiri. Aku memang bersalah, tapi aku sudah berkali kali minta maaf. Aku tidak mau Sophia kecewa kepadaku untuk kedua kalinya. Sierra harus menikah dengan Vian, hanya Vian." Gumam Daniel lagi.


" Aku harus mencari cara lain." Gumam Daniel.


Sementara itu, di kediaman Arthur. Sierra dan Arthur tengah duduk di ruang tengah saat ini. Mereka tengah menonton tv dan menyimak tentang perkembangan kasus Alden yang menghilang. Arthur menyerahkan bukti berupa foto Alden yang melakukan penerbangan pada Tobias, dan Tobias pun langsung melacaknya.


Mengapa Arthur berbuat demikian? Karena Tobias adalah aparat yang legal untuk menggeledah berbagai tempat lewat kedutaan, sementara anggota mafianya tidak. Sementara Tobias mencari Alden lewat jalur depan, Tim Arthur lewan jalur belakang, yang artinya jalur ilegal.


" Saudara, saat ini kami masih berada di rumah sakit dimana Alden menjalani perawatannya. Dan dia adalah dokter yang menangani Tersangka untuk melakukan bedah plastik." Ucap Reporter yang berbicara di tv.


" Bedah plastik..?" Gumam Sierra.


" Tidak heran kita tidak bisa menemukan dia dimanapun, rupanya dia mengubah penampilannya." Ucap Arthur.


Sierra mengingat kejadian saat di pusat perbelanjaan, saat dirinnya salah mengenali pria yang ia kira Arthur. Senyum pria itu sangat mirip dengan Alden, namun dengan wajah yang berbeda. Mungkin memang benar manusia memiliki tujuh kembaran, tapi Sierra yakin.. Senyum itu milik Alden.


" Sayang, apa kamu ingat dengan pria di Mall waktu itu?" Ucap Sierra.


" Ya, dan lebetulan dia adalah putra dari mitra kerjaku, pagi ini aku bertemu dengannya di perusahaan." Ucap Arthur.


" Putra mitra kerjamu?" Ucap Sierra.


' Apakah sungguh dia bukan Alden? Tapi aku yakin senyum itu adalah senyum Alden.' Batin Sierra.


" Ya.. Dari negara AS." Ucap Arthur lagi.


Sierra diam memikirkan apa yang di katakan Arthur. Seakan peka, Arrhur melirik Sierra yang saat ini tampak seperti orang yang sedang berpikir keras.


" Apakah kamu masih merasa bahwa senyum pria itu mirip Alden?" Ucap Arthur.


" Ya, aku masih merasa demikian." Ucap Sierra.


" Aku sedang menyelidiki pria itu, memang sedikit ganjil karena putra mitra kerjaku itu dulu terkenal sakit sakitan. Namun saat bertemu pagi tadi, ia tak terlihat sama sekali seperti orang sakit." Ucap Arthur.


RING.. RING..


Bunyi suara ponsel Arthur. Panggilan itu berasal dari Malvin.


" Halo, ya. Baiklah, aku akan kesana. Suruh dia menunggu." Ucap Arthur, panggilan pun diakhiri.


" Sayang, aku harus kembali keperusahaan. Kamu jangan kemana mana oke? Jika ingin pergi, bawa Zan dan Zen bersamamu." Ucap Arthur.


" Ya..hati hati dijalan." Ucap Sierra.


Arthur mendapat panggilan dari Malvin yang mengatakan bahwa Daniel ada perusahaannya saat ini dan mencari dirinya. Mungkin Daniel telah mencoba untuk mendatangi kediaman Arthur tetapi di tolak, jadi ia mendatangi perusahaan Arrhur.


Tak lama Arthur sampai di perusahaannya, dan langsung di sambut Malvin.


" Bagaimana dia bisa ada disini?" Ucap Arthur, sambil berjalan dengan langkah lebarnya.


" Dia terbang dengan helikopter, dan mendarat di gedung kita begitu saja. Kebetulan tuan besar sedang menggunakan helikoper perusahaan ini untuk menemui klien nya di kota lain." Ucap Malvin.


" Hm, aku mengerti. Lain kali jangan izinkan dia datang ke perusahaan, rumah, atau rumah utama Edward. Dia sudsh mengibarkan bendera perangnya padaku." Ucap Arthur.


CKLEK.


Pintu terbuka, dan terlihat Daniel yang tengah duduk di kursi ruang pertemuan.


" Ada apa lagi anda menemuiku?" Ucap Arthur tanpa sedikitpun rasa hormat.


" Kau melakukan tindakan ilegal Arthur, kau menahan putriku dirumahmu dan tidak mengizinkannya pulang. Kau bahkan tidak mengizinkan aku menemuinya." Ucap Daniel dengan senyum smirknya.


Arthur langsung pias, ia tahu apa maksud Daniel memanggilnya datang keperusahaannya, rupanya untuk mengecoh Arthur.


Arthur mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Tobias sambil berlari.


" Tobias, aku butuh bantuanmu, tolong datang kerumahku sekarang juga, dan lindungi Sierra, terimakasih." Ucap Arthur.


" Malvin! Cepat pulang kerumah." Ucap Arthur.


" Baik." Ucap Malvin, Mobilpun melaju pergi.


Arthur tidak bisa mengerahkan anak buahnya untuk berurusan dengan polisi, itu akan sangat beresiko untuknya. Rupanya, Daniel menggunakan jalur hukum untuk mengambil Sierra dari Arthur, karena menggunakan kekuatannya tidak berhasil.


Sementara itu di kediaman Arthur, sesuai dengan apa yang Arthur pikirkan. Sierra saat ini tengah di datangi pihak kepolisian, dan anak buah Arthur tidak bisa berkutik. Mereka hanya bisa bersembunyi di tempat mereka masing masing, dan hanya Zan dan Zen yang muncul.


" Nona, saya mendapat laporan bahwa anda si sekap disini. Kami datang untuk membantu anda pergi dari sini." Ucap oetugas polisi itu.


" Sekap? Ini adalah rumah calon suamiku. Dari mana anda mendapatkan laporan itu?" Ucap Sierra.


" Tuan Daniel, ayah kandung anda yang melaporkan. Nona, anda ridak perlu takut, kami akan membanru anda bebas dan pulang kerumah ayah anda." Ucap Polisi itu.


' Lagi lagi, dia.' Batin Sierra.


" Maaf, tapi saya benar benar tidak di sekap, dan saya sudah tinggal disini karena sebentar lagi saya dan calon suami saya akan menikah." Ucap Sierra.


Para polisi itu saling tatap dan tiba tiba menyerang Zan dan Zen dengan menembak kaki keduanya.


DOR! DOR!


" ARRGH!!" Teriak Zan dan Zen kesakitan. Naasnya mereka tidak membawa senjata apapun, karena berhadapan dengan polisi.


" Cepat nona, kita tidak punya banyak waktu." Ucap Polisi itu menarik tangan Sierra.


" Jangan sakiti nona kami! Atau kalian akan tahu akibatnya bersinggungan dengan tuan Arthur Edward." Ucap Zan.


" Berisik!" Teriak polisi itu.


DUAGH!!


" ARRGHHH!!" Teriak Zen ketika luka tembaknya di injak oleh polisi itu.


" Hentikan!!" Teriak Sierra.


" Kalau begitu ayo, ikut kami. Kami hanya akan menolong anda nona." ucap polisi itu, sambil kembali menarik tangan Sierra.


Sierra tentu tidak mudah di tarik begitu saja, ia melakukan perlawanan terhadap kedua polisi itu. Namun tiga lawan satu ditambah Sierra adalah gadis bertubuh kecil, tentu saja Sierra kalah jumlah.


PLAK.


Salah satu pria itu berhasil mengenai wajah Sierra hingga sudut bibir Sierra mengeluarkan darah.


" Kalian bukan polisi, benar?" Ucap Sierra.


" Nona sangat cerdas." Ucap salah satu pria berseragam polisi itu.


" UKH!" Sierra melemas ketika tiba tiba dirinya di bekap dengan obat bius.


" Cepat bawa dia!!" Ucap pria berseragam polisi itu.


Setelah sekitar dua menit mereka pergi membawa Sierra yang tak sadarkan diri, Tobias dan timnya tiba disana.


" Zan! Zen! Apa yang terjadi?" Ucap Tobias.


" Mereka membawa nona pergi, Zen pingsan karena lukanya di injak pria yang berpura pura menjadi polisi itu." Ucap Zan.


" S*al!!" Gumam Tobias.


TO BE CONTINUED..