The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 65. Penyerangan


Arthur memeluk erat Sierra, hatinya sesak mendengar penolakan Sierra.


" Aku mengerti.. Tolong biarkan aku memelukmu lebih lama." Ucap Arthur.


Sierra yang di peluk begitu eratpun merasa sesak saking kencangnya pelukan Arthur.


" Arthur.. Aku.."


" Jangan katakan apapun, aku tahu.. Aku hanya ingin memelukmu lebih lama." Ucap Arthur memotong ucapan Sierra.


" Kamu salah paham.." ucap Sierra sambil mencoba menarik nafas.


Arthur melepas pelukannya dari Sierra dan menatap Sierra dengan wajah tidak mengerti.


" Apa maksudnya aku salah paham.?" Tanya Arthur.


" Kamu bilang aku tidak boleh katakan apapun jadi ya sudah aku diam." Ucap Sierra.


" Tidak, sayang.. Tolong jelaskan apa maksudnya aku salah paham.?" ucap Arthur.


" Aku ingin mengatakan bahwa.. aku tidak keberatan dengan pengakuanmu." Ucap Sierra.


Arthur masih tercenung.. Ia sampai tidak bisa mengatakan apa apa lagi, dan berakhir memeluk Sierra.


" Terimakasih sayang.. " Ucap Arthur penuh haru.


" Emmm... Itu, aku juga ingun jujur tentang satu hal kepadamu. Karena kamu bilang kita harus sama sama jujur, jadi aku ingin jujur padamu." Ucap Sierra takut takut.


" Kamu mau jujur tentang hal apa.?" ucap Arthur menatap Sierra.


" Emmm.. Itu, aku seorang hacker. Dan sepertinya aku sudah menyinggung bosku, karena akhir akhir ini aku tidak bekerja dengan baik." Ucap Sierra.


" Siapa bosmu?" Tanya Arthur.


" Dia menyebut dirinya sebagai Lucifer, tapi aku yakin itu adalah nama samaran." Ucap Sierra.


Arthur tersenyum melihat betapa lucunya wajah Sierra saat ini.


" Bagaimana menurutmu dengan Lucifer itu?" Tanya Arthur.


" Mmm... Sedikit aneh, dia langsung merekrutku sebagai bawahannya setelah aku meng hack data perusahaannya, dia juga memberiku gaji besar." Ucap Sierra antusias.


" Bukankah berarti dia baik?" Ucap Arthur.


" Ya, setidaknya dia baik. Dan karena dia aku jadi bisa keluar dari rumah itu dan membeli rumahku sendiri." Ucap Sierra.


" Aku adalah Lucifer itu sayang." Ucap Arthur.


" Ya, kamu adalah.. Eh? Kamu bilang apa tadi??" Tanya Sierra memastikan pendengarannya.


Arthur bangun dari posisinya lalu ia berjalan kearah meja kerjanya, ia mengambil laptopnya, kemudian mengambil laptop Sierra lalu memberikannya kepada Sierra. Arthur mengetik sesuatu di laptopnya dan..


TING.!


Suara notifikasi laptop Sierra.


" Bukalah.." Ucap Arthur.


Sierra membuka email yang masuk dan terkejut sampai ia menutup mulutnya.


" I- ini kamu.. ini.. Hah!??" Ucap Sierra tidak percaya.


Arthur tersenyum melihat Sierra yang terkejut sampai tidak bisa berkata kata.


" Aku adalah Lucifer, Lucifer adalah Arthur, kekasihmu sayang." ucap Arthur.


Sierra masih menatap Arthur tidak percaya, rupanya Arthur ini adalah Lucifer, atasannya. Sierra jadi mengingat ancaman yang Lucifer berikan.


" Arthur.. Apakah kamu membunuh??" Tanya Sierra.


Arthur menjadi dilema dengan pertanyaan Sierra kali ini.


" Aku tahu Mafia berarti berkaitkan dengan hal hal yang ilegal, tetapi apakah kamu membunuh?" Ucap Sierra lagi.


" Ya.. " Ucap Arthur mengakui.


Sierra memejamkan matanya, ia menjadi takut sendiri sekarang.


" Aku hanya membunuh orang yang terlalu kotor dan serakah sayang, orang orang yang kejam, seperti musuh musuh yang berusaha menguasaiku, dan yang mencoba mencelakai keluargaku." Ucap Arthur menjelaskan.


Sierra mengangguk angguk.. Bagaimanapun selama dengan Arthur, hanya cinta dan kasih sayang yang ia dapatkan. Ia sama sekali tidak pernah melihat sisi lain Arthur.


" Sayang, apakah kamu marah??" Ucap Arthur.


" Lalu kenapa kamu diam?" Ucap Arthur.


" Aku hanya terkejut saja.." Ucap Sierra.


" Katakan jika kamu marah atau keberatan sayang." Ucap Arthur.


Sierra menyingkirkan laptopnya, dan menghampiri Arthur yang duduk dihadapannya. Sierra memeluk Arthur erat..


" Itu adalah pekerjaanmu, kamu melakukan itu pasti ada alasannya, aku tidak berhak menentangnya." Ucap Sierra .


" Kamu berhak sayang, kamu berhak mengendalikan aku." Ucap Arthur.


" Aku hanya minta agar kamu tetap hidup dan baik baik saja." Ucap Sierra.


Arthur bernafas lega, kekhawatirannya tidak terjadi. Arthur memeluk erat Sierra, sembari mengecup kening Sierra berulang kali.


" Aku janji sayang, akan tetap hidup untukmu." Ucap Arthur.


Hari itu, penuh dengan haru dan ketegangan. Dua anak manusia itu akhirnya telah jujur satu sama lain mengenai sisi lain diri mereka masing masing.


Ke esokan harinya..


Sierra dan Arthur tengah berada di kediaman Sierra saat ini. Arthur ingin agar Sierra pindah ke kediamannya agar lebih aman. Sejak kejadian penyerangan di jalan itu, Arthur benar benar khawatir akan keselamatan Sierra.


" Sayang, apa kamu ingin sesuatu? Aku harus mengurus sesuatu di perusahaan." Ucap Arthur pada Sierra yang sedang sibuk mengepak barang barangnya.


" Mmm... Sepertinya sesuatu yang pedas dan berkuah akan nikmat untuk makan malam nanti, aku ingin menonton drama tentang Vampir malam ini di temani makanan pedas." Ucap Sierra.


" Oh.. Kamu suka menonton drama tentang hal hal mitos begitu?" Ucap Arthur.


"Itu menyenangkan, sebelumnya aku tidak pernah memiliki waktu untuk menonton atau bersantai, jadi maklumi bila aku sedikit norak." Ucap Sierra.


" Hei.. jangan bilang begitu, baiklah nanti aku bawakan makanan pedas dan berkuah untukmu." Ucap Arthur.


" Kamu harus menonton denganku, Vampir ini seru, mm... lebih seperti komedi. Berjudul Vampire 2022." Ucap Sierra antusias.


" Iya, baik.. nanti kita menonton bersama. Aku pergi dulu yah? Kamu jangan kemana mana sendiri." Ucap Arthur mengecup kening Sierra.


" Iya.." Sahut Sierra.


Arthur mengusap kepala Sierra dengan sayang dan tersenyum lalu pergi dari kediaman Sierra. Belum ada lima menit Arthur pergi, seseorang mengetuk pintu rumah  Sierra. Sierra yang mengira itu Arthur pun langsung membuka pintu tanpa melijat siapa yang datang.


" Apakah ada sesuatu yang terting... gal..  Siapa anda.?" Ucap Sierra karena yang berdiri di hadapan Sierra saat ini bukan Arthur.


" Orang yang akan mencabut nyawamu." Ucap pria itu dan langsung melayangkan sebuah belati menusuk perut Sierra.


" UKH." Sierra merasakan kesakitan.


Sierra menatap tangan pria itu yang menggenggam sebilah belati yang sudah menusuk keperut Sierra. Mata Sierra berkaca kaca karena merasakan sakit yang teramat sangat.


" Kau sudah mengusik orang yang seharusnya tidak kau usik, inilah akibatnya." Ucap pria itu sambil menarik kembali belati yang tertancap di perut Sierra, dan langsung berlari pergi.


" BRUK.!" Sierra terjatuh bersimpuh di lantai sambil menatap tangannya yang kini berlumuran Darah karena menyentuh bagian perut yang tertusuk oleh belati.


' Apakah aku akan mati.. Arthur.. ' Batin Sierra .


" SIERRA!!" Teriak seseorang, dan pria yang menusuk Sierra pun langsung pergi melarikan diri.


Sebelum Sierra hilang kesadaran, Ia melihat sosok yang berlari kearahnya dengan nada khawatirnya.


' Dia.. ' Batin Sierra, lalu hilang kesadaran.


" SIERRA!! Sierra sayang, nak.. tolong jangan tidur." Teriak pria itu dengan isakan tangisnya.


Pria yang memanggil Sierra adalah Daniel, Daniel ingin melihat Sierra, sebelum memutuskan untuk pergi dari kota itu, Daniel memutuskan untuk tinggal di kota yang sama dengan tempat Sophia dimakamkan.


Saat Daniel sampai disana, ia melihat mobil Arthur yang terparkir, jadi ia tidak berani mendekat. Namun ketika ia melihat mobil Arthur pergi, Ia sedikit memajukan mobilnya, sampai ia melihat seorang pria  berdiri tepat di depan pintu.


' Kebetulan penjaga Arthur tidak berada di sini.' Batin Daniel.


Daniel mengira mungkin dia kurir paket, tetapi Daniel terkejut ketika Sierra bersimpuh berlumuran darah. Daniel pun langsung berlari dan berteriak memanggil nama Sierra, dan pria itu pergi dari sana.


" Nak.. dengar ayah, tolong jangan tinggalkan ayah. TOLONG!! TOLONG!!" Teriak Daniel.


Seorang satpam yang tengah berpatroli langsung mendekat ketika mendengar Daniel berteriak meminta tolong.


" Astaga, pak apa yang terjadi.?" Ucap satpam itu.


" Tolong panggilkan Ambulance pak, anak saya ditikam orang." Ucap Daniel dengan terisak, sambil memeluk dan menciumi kepala Sierra dan sebelah tangannya mencuba menghentikan darah Sierra yang terus mengalir, walau percuma.


TO BE CONRINUED...