The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 117. Tugas yang tak bisa di gantikan.


Sierra memakan makanan nya bersama Arthur dan di temani Hwan. Entahlah, mungkin Hwan memiliki pikiran bahwa Sierra tengah mengandung, dia sama sekali tidak bertingkah terhadap Sierra.


" Sayang, apakah kamu memiliki jurus jitu untuk menaklukan binatang? Sejujurnya aku selalu penasaran. Karena kamu adalah yang pertama kali menjinak kan Hwan dulu " Ucap Arthur.


" Tidak ada.. Hanya dulu aku pernah bekerja paruh waktu menjinak kan binatang." Ucap Sierra.


" Kamu pantas di juluki mommy lion." Ucap Arthur, dan mereka berdua pun terkekeh.


Andra yang mendengarnya pun sampai terkesima, sebenarnya dulu nyonya nya itu berprofesi sebagai apa pikirnya, bisa melakukan segala hal.


" Tuan." Ucap Malvin yang tiba disana.


" Ada apa?" Ucap Arthur.


" Tobias mengatakan hari ini Carine mendapatkan pengunjung. Dia seorang pria tua, bernama Carol." Ucap Malvin.


" Carol, dia adalah pria yang selama ini kita cari, sayang." Ucap Sierra.


" Sayang, kamu jangan ikut ikut berpikir tentang ini oke, kamu disini saja aku akan bicara dengan Malvin." Ucap Arthur.


" Tidak mau, aku mau dengar." Ucap Sierra protes.


" Sayang.. patuh ya? Aku tidak mau kamu banyak pikiran." Ucap Arthur.


" Daddy... " Ucap Sierra, Dan Arthur akhirnya menunduk. Dia tidak kuat jika Sierra sudah memanggilnya Daddy, Sierra terlalu menggemaskan.


" Baiklah, tapi janji jangan ikut berpikir." Ucap Arthur.


" Mh.. janji." Ucap Sierra.


' Astaga, bahkan tuan yang bengis seperti Iblis saja patuh pada nyonya.' Batin Andra.


" Apalah kamu sudah menyelidiki hal itu?" Ucap Arthur.


" Rekaman cctv menunjukan wajahnya, namun di ruang pertemuan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Mereka berbicara dengan suara sangat pelan, namun Carine juga terlihat bergetar hebat." Ucap Malvin.


" Tim sudah menyelidiki identitasnya, dan dia adalah teman baik tuan besar dulunya." Ucap Malvin.


" Teman baik ayahku?" Ucap Arthur terkejut.


" Ya, tuan. Namun entah mengapa tuan besar menjadi menjauhinya sekitar 18 tahun yang lalu." Ucap Malvin.


" Akan aku tanyakan pada papi nanti. Lalu stabilkan rekaman cctv itu, agar suara mereka terdengar. Aku yakin mereka membicarakan sesuatu yang penting, karena Carol mengunjungi Carine secara langsung." Ucap Arthur.


" Sedang di kerjakan tuan." Ucap Malvin.


" Bagus.." Sahut Arthur.


" Oiya, ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan tuan, juga.. Tuan memiliki janji temu dengan client di Negara C dua hari lagi." Ucap Malvin.


" Apakah tidak bisa kau saja yang pergi?" Tanya Arthur.


" Tidak bisa tuan, karena ini pertemuan para pimpinan, dan tuan wajib datang." Ucap Malvin.


Hal ini yang Arthur khawatirkan, Dia bisa saja sibuk seharian full di depan laptopnya agar tidak harus meninggalkan Sierra. Tetapi jika ada pertemuan, dia menjadi berat karena harus meninggalkan Sierra sendirian.


" Aku tidak apa apa, sayang.." Ucap Sierra, seakan dia mengerti isi hati Arthur.


" Berapa lama aku harus berada disana?" Tanya Arthur pada Malvin.


" Paling lama lima hari, paling cepat tiga hari." Ucap Malvin.


Mungkin bagi sebagian orang lima hari adalah waktu yang cepat, tetapi bagi Arthur.. lima hari itu sangat lama. Jangankan lima hari, satu hari tidak bersama Sierra dia tidak akan merasa tenang sedikitpun.


Apalagi semenjak Sierra hamil, dia tak sedikitpun meninggalkan Sierra ke luar negeri. Ia terus bersama dengan Sierra.


" Kalau begitu buat secepat mungkin, dan kembali dalam tiga hari." Ucap Arthur, sambil menandatangani berkas berkas itu.


" Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Ucap Malvin, dan Arthur mengangguk.


" Sayang, apakah kamu mau ikut saja? Sekalian kita berlibur." Ucap Arthur.


" Tapi perutku terlalu besar, apakah tidak beresiko? " Ucap Sierra.


Arthur begitu dilema sekarang. Jika musuh mencari tahu kelemahan Arthur, maka mereka akan langsung tahu bahwa Sierra lah kelemahan Arthur. Untungnya tidak ada yang tahu siapa itu sosok Lucifer, mereka hanya mendengar nama besarnya saja tanpa tahu wajah sang Lucifer yang sebenarnya.


Sejujurnya Sierra juga tidak ingin di tinggalkan, karena ia sudah rerbiasa melakukan apa apapun itu bersama Arthur. Tapi dia juga tidak bisa menjadi egois, Arthur adalah pemimpin, jadi dia harus merelakan membagi waktunya.


" Berjanjilah kamu akan baik baik saja, bersama pumpkin's." Ucap Arthur.


" Aku janji sayang.." Ucap Sierra.


Mereka pun melanjutkan makan mereka, walau sedikit merasa tidak se enak sebelumnya, karena kabar kepergian itu.


Dua hari kemudian..


Arthur mengusap usap perut besar Sierra, dan mengajak dua bayi nya berbicara.


" Pimpkin's nya daddy, daddy harus pergi untuk mengurus pekerjaan. Tidak lama, hanya tiga hari daddy akan kembali. Kalian baik baik bersama mommy ya? Jangan menyusahkan mommy kalian." Ucap Arthur, dan lalu di respon oleh tendangan di dalam perut Sierra.


" Mereka meresponmu." Ucap Sierra terkekeh.


" Pumpkin's kalian mendengar daddy ya? Dengar, jaga mommy kalian ya? Jangan nakal di dalam perut mommy." Ucap Arthur, dan lagi lagi Arthur merasakan tendangan dari perut Sierra.


" Mereka anak anak yang baik daddy, tidak akan menyusahkan mommy sedikitpun." Ucap Sierra.


Arthur mencium Sierra, lalu mencium perut besar Sierra. Berat rasanya harus meninggalkan istri dan anak anaknya.


" Daddy pergi dulu, ya? Mommy jangan melakukan hal yang membahayakan." Ucap Arthur.


" Ya, daddy. hati hati di penerbangan." Ucap Sierra.


Arthur memeluk Sierra sangat lama. Ia tidak mengizinkan Sierra mengantarkan dirinya ke bandra, karena itu hanya akan semakin membuat hatinya begitu berat meninggalakn Sierra.


" I love you, sayang." Ucap Arthur.


" I love you too, sayang." Ucap Sierra.


Akhirnya Arthur pun bangun, dan pergi dari sana. Malvin yang ikut menyaksikan itu pun ikut terharu, seandainya pertemuan itu bisa dia wakili, mungkin dia akan mewakilinya agar Arthur dan Sierra tidak berpisah.


" Ayo jalan." Ucap Arthur.


" Baik tuan." Ucap Malvin.


Arthur pergi dari sana, dan Andra pun masuk kedalam untuk menemani Sierra.


" Nyonya, anda baik baik saja?" Ucap Andra, karena Sierra terlihat murung.


" Andra, suamiku baru saja pergi.. Dan aku sudah merindukannya." Ucap Sierra, sambil menangis, padahal sejak tadi saat masih ada Arthur dirinya terlihat begitu tegar.


" Hiks.. Hiks.. Hiks. " Sierra terisak.


Ternyata Arthur masih berada di ambang pintu, dan mendengar isakan istrinya. Ia pun berlari kembali masuk kedalam dan memeluk Sierra.


" Sssttt... Sayang, kamu jangan menangis." Ucap Arthur, sambil memeluk Sierra.


Sierra memeluk Arthur erat, seakan enggan lepas. Dia terisak di dalam pelukan Arthur.


" Apakah aku tidak usah pergi saja? Jika begini aku juga tidak sanggup meninggalkan kamu, sayang." Ucap Arthur. Dan Sierra menggelengkan kepalanya.


" Jangan, banyak nyawa yang bernaung di perusahaanmu. Kamu pergi saja.. aku tidak apa apa." Ucap Sierra sambil mencoba berusaha tegar, walau nyatanya air matanya terus mengalir.


" Jangan menangis sayang, hatiku sakit melihatnya." Ucap Arthur sambil menciumi kening dan kedua mata Sierra.


" Aku hanya terbawa suasana.." Ucap Sierra, sambil mencoba tersenyum.


" Kamu akan baik baik saja kan? Jangan menangis lagi, oke?" Ucap Arthur, dan Sierra mengangguk.


" Pergilah.. Aku akan baik baik saja, tidak akan menangis." Ucap Sierra.


Arthur memeluk Sierra lagi, lalu kembaki mencium kening Sierra dan perutnya.


" Aku pergi, sayang." Ucap Arthur, dan Sierra mengangguk.


Kali ini Arthur sungguhan pergi, dan Sierra hanya sesekali menitikkan air matanya. Ia tidak lagi terisak, karena ia takut Arthur semakin merasa tidak tenang..


TO BE CONTINUED..