
Dokter tengah menangani Sierra, di tengah berjalannya tindakan dokter, Sierra tersadar dan mendengar bahwa dirinya harus kembali mendapat donor darah. Perawat mengatakan bahwa Daniel sudah siap mendonorkan darahnya, Sierra langsung mencekal tangan dokter dan berkata..
" Aku tidak mau dia mendonorkan darahnya padaku, Dokter. Tolong gunakan saja darah rumah sakit." Ucap Sierra.
" Tapi nona, anda sudah benar benar kehilangan banyak darah." Ucap sang dokter.
" Tolong.. Aku tidak mau Daniel Leon mendonorkan darahnya padaku. Jika itu terjadi maka aku lebih baik mati." Ucap Sierra kukuh.
Rupanya Daniel mendengar itu, Sierra menolaknya. Menolak darah ayah yang akan ia berikan pada putri kandungnya sendiri. Daniel menatap sang dokter dan mengangguk, agar dokter mengiya kan permintaan Sierra.
" Baik nona, suster tolong carikan golongan darah yang sama dengan nona Sierra." Ucap sang dokter.
" Baik, Dok." Ucap sang perawat.
" Nona, untuk mengurangi rasa sakit anda, saya akan melakukan tindakan anastesi, anda tidak akan sadar selama operasi kecil ini berlangsung ." Ucang sang Dokter.
" Jangan! Tolong buat aku tetap sadar." Ucap Sierra.
Sierra tidak mau sampai kecolongan lagi, jikapun ia harus melihat lukanya di jahit ulang, itu tidak masalah. Selama ia tidak mendapatkan donor darah dari Daniel lagi. Dokter pun mengangguk, dan mulai melakukan tindakan.
Perawat datang membawa dua kantong darah untuk Sierra, selang mulai di pasang pasangkan, perlahan Sierra mengalami mati rasa di bagian perutnya, ia bisa melihat bagaimana Dokter itu melakukan tindakan. Sierra sama sekali tidak merasa takut atau apapun. Di pikirannya saat ini, ia hanya ingin segera pergi dari sana dan kembali pada Arthur.
Membicarakan Arthur, Arthur sudah berada di kota K. Ia dan timnya menyebar untuk menemukan Sierra diseluruh tempat di kota K. Saat ini ia tengah berdiri di depan makam Shopia, dengan tatapan sendunya.
" Ibu, tolong berkati aku, agar aku bisa menemukan putrimu." Ucap Arthur, lalu melangkah pergi dari sana.
Arthur bahkan tidak menggunakan jas formalnya lagi, ia menggunakan pakaian serba hitam saat ini. Ia tidak mungkin menggunakan identitasnya mencari Sierra, karena Daniel pasti akan menghalalkan segala cara untuk menghalangi Arthur.
" Tuan muda, aku menemukan kediaman Daniel." Ucap Malvin.
" Bagus, ayo kesana!" Ucap Arthur, bergegas.
Malvin dan Arthur menggunakan motor besar mereka masing masing. Mereka pun langsung berangkat menuju kediaman Daniel yang rupanya tak jauh dari pemakaman itu. Sekitar setengah jam, mereka sampai di jalan yang tak jauh dari kediaman Daniel.
" Ar, ini adalah kediaman lama milik orang tua Daniel. Seharusnya Sierra benar ada disini." Ucap Malvin tidak formal.
" Retas keamanan cctv rumah itu." Ucap Arthur.
" Oke." Ucap Malvin.
" Lebih baik kita cari tempat yang pas untuk sembunyi, ayo masuk kedalam hutan." Ucap Malvin lagi.
Arthur mengangguk, lalu masuk kedalam hutan kecil yang berada tak jauh dari kediaman Daniel. Kini Malvin mengeluarkan laptopnya dan duduk di batu besar, ia mulai meretas cctv kediaman Daniel. Sementara Arthur kini dirinya berada diatas pohon sembari mengintai kediaman Daniel menggunakan teropongnya.
" Vian, kenapa ada disini." Gumam Arthur.
" Vin, kemarin aku memintamu untuk menyelidiki pria yang akan di jodohkan dengan Sierra apakah sudah ketemu?" Ucap Arthur.
" Oh, iya aku lupa. Ini, ada di map ini. Semua data diri dan fotonya, kau pasti mengenal dia." Ucap Malvin sembari menyodorkan map pada Arthur.
" Vian Muyera, putra Bernard Muyera. Rupanya Bernard ini adalah adik angkat Daniel, sungguh dunia sangatlah sempit. " Gumam Arthur.
' Apakah karena hasutan adik angkatnya ini?' Batin Arthur.
Arthur kembali mengintai kediaman Daniel, dan saat ini ia melihat pakaian Vian terkena noda darah. Arthur juga melihat Vian menghubungi seseorang dan wajahnya terlihat begitu emosi, kemudian Vian membanting ponselnya.
" Tempramen yang buruk, tapi noda darah siapa yang ada di bajunya itu. Kenapa aku tidak melihat ada Daniel disana." Gumam Arthur.
" Ar, aku berhasil meretasnya, di kediaman itu tidak ada Daniel, hanya ada.."
" Vian." Ucap Arthur memotong ucapan Malvin.
Arthur melihat Vian pergi mengendarai mobilnya, dengan kecepatan tinggi. Arthur tidak peduli kemana Vian akan pergi, fokusnya ia akan mencari Sierra nya.
" Baik, berhati hatilah." Ucap Malvin.
Arthur pergi berlari menuju kediaman Daniel, ia naik keatas pohon yang terletak tak jauh dari dinding pagar pekarangan Daniel, dan dengan gerakan lincahnya, Arthur melompat dan berguling langsung sembunyi di balik semak.
" Bagaimana keadaan disekitarku?" Tanya Arthur pada Malvin yang terhubung lewat ear piece nya.
" Aman." Sahut Malvin.
" Oke, aku akan bergerak." Ucap Arthur.
Arthur berjalan mengitari kediaman itu guna mencari pintu masuk kedalam rumah. Tiba tiba Malvin menyuruhnya berhenti dan segera sembunyi, karena ada beberapa pelayan yang datang.
Arthur pun bersembunyi di balik pohon kecil.
" Tadi itu sangat menegangkan, bagaimana bisa nona menyakiti dirinya sendiri. Aku takut saat melihat perut nona mengeluarkan banyak darah tadi." Ucap seorang pelayan.
DEG!
Arthur yang mendengarnya jadi begitu khawatir. Yang di maksud oleh para pelayan itu pasti adalah Sierra. Arthur ingin sekali rasanya berlari langsung kedalam dan mencari keberadaan Sierra.
' Sayang, maaf aku terlambat.' Batin Arthur.
" Aku pun sama, tidak menyangka nona menolak perjodohan sampai menyakiti dirinya." Ucap pelayan yang lain.
' Itu berarti darah di baju Vian adalah darah Sierra. Daniel Leon, kau tidak pantas berada di dunia.' Batin Arthur
" Semoga nona tidak apa apa, tuan sangat khawatir tadi saat menggendong nona menuju rumah sakit." Ucap pelayan itu.
' Rumah sakit, rumah sakit mana?" Batin Arthur bermonolog, tentu saja tidak bisa langsung bertanya pada pelayan itu.
" Arthur! hati hati, orang orang Daniel ada di sekitar sana." Ucap suara Malvin dari ear piecenya. Arthur pun kembali fokus dan menyembunyikan dirinya ke semak.
" Sedang apa kalian! Bekarja yang benar! Gara gara kalian melepas tali ikatan di tangan nona, nona jadi kabur dan menyakiti dirinya sendiri. Bubar!!" Bentak pria yang selalu berada di sisi Daniel.
Arthur mendengar itu, Sierra nya di ikat. Nafasnya menjadi memburu ia begitu emosi saat ini.
' Beraninya!! Beraninya mereka mengikat Sierra. Bahkan di rumah ayah kandungnya sendiri.' Batin Arthur.
Pelayan pun bubar ketakutan, dan setelah para pelayan pergi, Arthur mengeluarkan belatinya perlahan, tatapannya menatap lurus pria yang berdiri memunggunginya itu.
" Ar, jangan gegabah! Disana banyak orang orang Daniel." Ucap Malvin memperingati Arthur.
Namun seakan tuli, Arthur tidak menghiraukan ucapan Malvin. Dirinya saat ini begitu emosi karena mendengan Sierra nya begitu menderita sendirian. Dengan gerakan cepat, Arthur membekap mulut pria itu dan menikamkan belatinya tepat di jantung pria itu.
" UGH!!" Suara pria itu kesakitan.
Dengan gerakan cepat, Arthur memukul lehernya dan pria itu tewas. Arthur menarik pria itu dan meninggalkannya di semak semak. Ia sudah tidak memiliki lagi kesabaran. Seakan di rasuki iblis, tatapannya menggelap saat ini.
Setiap ada anak buah Daniel yang muncul, Arthur langsung membunuhnya tanpa ampun.
" Beraninya kalian menyakiti Sierra!! DANIEL!!! Kau tidak akan aku biarkan hidup setelah ini." Ucap Arthur.
Malvin yang melihat dari cctv pun ikut tegang, Arthur membunuh puluhan anak buah Daniel yang berjaga disana sendirian. Setelah tidak ada orang orang Daniel yang tersisa, Arthur pun pergi. Ia hanya menyisakan para pelayan wanita yang berteriak histeris ketakutan.
" Jika kalian masih ingin hidup, tutup mata dan telinga kalian! juga tutup mulut kalian. Atau kalian akan bernasib seperti mereka!" Ucap Arthur lalu pergi meninggalkan kediaman Daniel yang menjadi lautan darah.
Iblis, adalah sebutan yang pas untuk Arthur. Seperti nama lainya yaitu Lucifer, yang berarti Iblis. Arthur tidak sedikitpun ragu membunuh orang orang itu. Semua sisi baiknya hilang ketika mendengar Sierra nya terluka.
TO BE CONTINUED..