
Sierra tengah merutuki kebodohannya sendiri, ia bersembunyi di kamar mandi cukup lama.
' Arthur... Beraninya dia membohongiku. Dia bilang bekas gigitannya tidak terlihat, tapi apa ini.. Bibirku hampir terlihat bengkak.' Batin Sierra.
" Sudahlah, aku tutup dengan plaster saja." Gumam Sierra.
Ia menutupi bibirnya itu dengan plaster, lalu kemudian ia pun berpakaian dan keluar dari kamar mandi. Terlihat Sahara yang sudah duduk manis di tepi ranjang.
" Sayang, kamu sudah siap.? " ucap Sahara.
" Mami sejak kapan disini? apakah mami menungguku.?" Ucap Sierra tak enak hati.
" Tidak kok, mami baru masuk." Ucap Sahara berbohong. Padahal sedari tadi ia mendengar Sierra tengah berkicau sendiri didalam kamar mandi karena merutuki kebodohannya. Sahara hanya tidak ingin membuat Sierra semakin malu nantinya.
" Ayo kita kerumah mami, semua desaigner sudah berkumpul disana. Kamu tinggal pilih saja mau menggunakan jasa siapa." Ucap Sierra.
" Oh, baik mi.. " Ucap Sierra akhirnya.
" Arthur sudah sudah pergi keperusahaan, dia bilang ada peryemuan mendadak. Jadi kita hanya berdua saja, kamu tidak apa apa kan.?" Ucap Sahara.
" Tidak apa apa mi, Sierra dengan mami saja." Ucap Sierra dengan senyumannya.
Mereka pun pergi dari kediaman Arthur menuju ke kediaman Sahara dan Cornelius.
Disisi lain, rupanya Arthur tidak ke perusahaan. Ia akan mendatangi sebuah jasa dekorasi pernikahan, ia ingin mendesain sendiri dekorasi itu. Dan saat ini dirinya tengah berada di bandara, karena ia ingin mengadakan pernikahannya di kota yang terkenal dengan keindahannya pantainya, Bali.
Setelah melalui penerbangan selama 1 jam 45 menit, ia pun mendarat di bandara International Igusti Ngurah Rai, Bali. Ia sengaja tidak menggunakan jet pribadinya, karena jika ia melakukan itu, Musuhnya akan mengetahui dirinya tidak berada di Jakarta saat ini.
" Selamat sore tuan muda, selamat datang di Bali.." Ucap Seorang pria paruh baya.
" Ya, terimakasih. Tolong antarkan aku ke tempat itu." Ucap Arthur pada pria paruh baya itu.
" Baik." Ujarnya.
Arthur pun memasuki mobil, dan melaju pergi dari sana. Sepanjang perjalanan ia menatap foto Sierra di ponselnya, ia merindukan Sierra nya padahal itu hanya beberapa jam saja ia pergi.
' Aku merindukanmu, sayang.' Batin Arthur.
Hingga ia tiba di sebuah hotel , hotel yang bernuansa seperti berada di desa. Begitu asri dengan adanya pemandangan alam alami.
" Selamat sore tuan, apakah anda tuan Arthur Edward.?" Tanya pria yang menyambut di depan.
" Ya, saya." Ucap Arthur singkat.
" Saya Made, saya yang akan menunjukan anda satu persatu kamar terbaik di hotel kami." Ucap Pria bernama Made itu.
" Ya." Ucap Arthur.
Arthur pun mengikuti Made melihat satu persatu kamar yang terbaik di hotel itu, Arthur sengaja memilih hotel yang bernuansa pedesaan dari pada hotel pada umumnya, ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Sierra tanpa gangguan siapapun.
" Aku pilih kamar ini, Pemandangannya bagus. Mungkin kami akan menginap disini cukup lama nanti." Ucap Arthur.
" Baik tuan, kira kira untuk bulan apa.?" Ucap Made.
" Bulan depan, seminggu sebelum Natal tiba." Ucap Arthur.
" Baik tuan.." Ucap Made.
" Lalu dimana tempat yang bisa alu gunakan untuk mengadakan acara pernikahanku.?" Tanya Arthur.
" Oh, mari saya tunjukan Tuan." Ucap Made.
Arthur kembali berjalan mengikuti Made, pelayanan disana sangat ramah, para pekerja disana juga sangat profesional, bahkan tukang sapu pun bisa berbahasa asing , menunjukan bahwa hotel itu memiliki nilai yang bagus.
" Ini adalah tempatnya tuan, anda bisa mengatakan kepada kami kira kira nuansa seperti apa yang tuan inginkan, lalu untuk berapa tamu yang kira kira datang." Ucap Made.
Arthur melihat sekelilingnya, memang sangat bagus, rencananya Arthur ingin melakukan pemberkatan disana, dan melakukan pesta resepsinya di hotel mewah Jakarta.
" Baik.. Aku ingin tempat ini dipenuhi bunga, berwarna putih.. Lalu disini kalian pasangi tirai tirai putih yang menjuntai, dan lampu lampu yang indah. Dan untuk tamu, kemungkinan hanya enam atau tujuh orang." Ucap Arthur.
" Baik tuan.." Ucap Made.
" Sisanya tolkng anda atur se indah mungkin. Aku ingin istriku nanti terkesima dengan tempat ini." Ucap Arthur.
" Baik tuan." Ucap Made.
Setelah melakukan pembayaran, ia pun kembali keluar dari sana dan kembali pergi menuju kebandara.
Di sisi lain, Sierra saat ini masih melakukan sesi memilih kain apa yang akan dia gunakan untuk membuat gaun pengantinnya, Pengukuran sudah dilakukan, ia bahkan memilih desaigner terkenal yang Sahara pilihkan.
" Sayang, gaun pengantin seperti apa yang kamu inginkan.?" Ucap Sahara.
" Simpel saja mi, Sierra tidak suka gain yang terlalu mewah dan besar." Ucap Sierra.
" Nona, ini adalah hasil desain yang baru saya buat sesuai dengan selera dan kepribadian nona." Ucap wanita Desaigner itu.
" Oh, wow.. Itu sangat bagus, anda pandai mendesain." Ucap Sahara .
" Terimakasih nyonya." Ucap Desaigner itu.
" Bagaimana menirutmu sayang.?" Ucap Sahara pada Sierra.
" Ya, ini bagus mi.. Sierra suka." Ucap Sierra.
Gaun yang di desain adalah gaun mermaid berlengan panjang, namun lengannya ini bisa buka dan pasang kembali, sehingga bisa dikatakan 2 in 1 dalam satu gaun. Sementara di gagian pinggangnya, di buatkan sayap gaun yang menjuntai indah.
Gaun full kristal Sierra pilih untuk menjadi gaun pernikahannya bersama Arthur nanti.
" Mami tidak sabar sayang, kalian akan segera menikah. Setelah menikah nanti, tolong berbahagialah dengan Arthur." Ucap Sahara penuh haru.
" Mami... Sierra akan menikah dengan Arthur tapi kenapa mami malah bersedih begini.?" Ucap Sierra.
" Nona, ibu anda benar benar mencintai anda, anda pasti bahagia karena memiliki ibu yang menyayangi anda." Ucap Desaigner itu.
" Ya, aku sangat bahahia memiliki ibu mertua yang sangat baik padaku." Ucap Sierra.
" Oh, apakah nyonya Edward adalah calon ibu mertua anda nona? anda sangat beruntung memiliki ibu mertua sebaik nyonya edward." Ucap Desaigner itu terkejut.
" Bukan, aku yang beruntung memiliki putri sepertinya. Dia adalah putri yang berharga, aku bahkan rela menukarkan seratus anak kandungku demi dirinya." Ucap Sahara.
Tak bisa dipungkiri betapa besarnya kasih sayang Sahara untuk Sierra. Sahara pernah memiliki seorang putri, namun harus terenggut oleh kejadian naas yang mengerikan. Ia kehilangan putrinya, dan cahaya hidupnya.
Hadirnya Sierra membuat apa yang hilang seakan terbayarkan, Sierra mengobati kerinduan Sahara terhadap putri kandungnya yang telah meninggal. Selain itu, Sierra mampu membuat seorang Arthur Edward yang dingin dan tak tersentuh oleh satupun wanita menjadi luluh..
" Ya Tuhan, semoga kalian selalu menjadi keluarga yang bahagia, saya jadi ikut terharu mendengarnya." Ucap Desaigner itu.
Hingga akhirnya mereka telah menyelesaikan semuanya dan hari sudah berganti menjadi malam. Sierra heran karena Arthur tak sekalipun menghubunginya atau sekedae mengiriminya pesan, biasanya Arthur akan selalu meneleponnya, atau mengirim pesan walau hanya sekedae bertanya sudah makan atau belum.
" Nona, saya sudah selesai dengan fitting ini, jika ada kurang kurangnya atau nona ingin menambahkan sesuatu pada detail gaun ini nanti nona bisa langsung menghubungi saya." Ucap Desaigner itu.
" Baik, terimakasih." Ucap Sierra.
" Ya nona, kalau begitu saya permisi." Ucap Desaigner itu.
Desaigner itu pun pergi. Sierra dan sahara menghabiskan waktu seharian itu hanya untuk sekedar mengukur pembuatan gaun pengantin, itu belum termasuk bagian Sahara dan Arthur.
" Mami.." Ucap Cornelius.
" Papi sudah pulang? tidak barengan dengan Arthur.?" Ucap Sahara.
" Arthur? Dia tidak ada di pertemuan tadi, papi juga bingung kemana dia." Ucap Cornelius.
Sierra semakin khawatir saja, karena tidak biasanya Arthur hilang kabar begitu. Setidaknya jika Arthur akan pergi ke suatu tempat dia akan memberi tahu Sierra.
" Sayang, Arthur tidak bilang sesuatu padamu.?" Tanya Sahara.
" Tidak mi." ucap Sierra.
Sierra jadi ketakutan sendiri, ia takut sesuatu terjadi pada Arthur mengingat Arthur adalah ketua mafia ia pasti memiliki banyak musuh diluar sana.
" Coba papi hubungi dia." Ucap Sahara.
" Hubungi siapa.?" Ucap Arthur yang tiba tiba masuk.
Sierra merasakan kelegaan di hatinya, ia langsung berlari memeluk Arthur tanpa memperdulikan adanya Sahara dan Cornelius disana.
" Sukurlah.. Kamu baik baik saya." Ucap Sierra.
TO BE CONTINUED..