The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 58. Manusia serakah.


Sierra membuka satu persatu Email dari Lucifer, dan ia semakin merinding karena lucifer mengatakan untuk tidak macam macam dengannya.


" Bagaimana ini.. sudahlah, aku balas saja." Ucap Sierra.


" Halo tuan Lucifer, maaf karena saya baru membalas email anda. Saya ada sedikit masalah jadi melalaikan tugas." Email Sierra untuk Lucifer.


Di tempat lain...


TING.!


Sebuah notifikasi Email masuk berbunyi, dan pemilik laptop itu tersenyum saat ini.


Arthur, adalah orangnya. Ia tahu tujuan Sierra ke kediamannya pasti adalah untuk laptopnya.


" Haih.. jika aku jujurkan kepadamu siapa aku sebenarnya apakah kamu akan tetap bersamaku, Sierra.?" Gumam Arthur.


Sejujurnya itu yang masih menjadi ganjalan dihati Arthur, ia takut jika suatu hari Sierra mengetahui bahwa dirinya adalah ketua sebuah mafia dan Sierra pergi meninggalkannya. Sierra sudah menjadi hidup dan matinya Arthur.


Tiba tiba Malvin masuk, dan memberi tahu bahwa Ruslan sudah berada di ruang bawah tanah.


" Tuan muda, Ruslan Walter sudah disini." Ucap Malvin..


" Hm, ayo kesana." Ucap Arthur.


Ruslan Walter, rupanya meminta bantuan kepada kelompok mafia untuk menghabisi Arthur dan keluarganya termasuk Sierra. Ruslan berencana ingin menguasai semua milik keluarga Edward, tentu saja dengan cara memusnahkan keluarga Arthur.


Tetapi kelompok yang Ruslan Walter bayar ini rupanya adalah salah satu anak buah Arthur, dan mereka langsung memberi tahu Arthur. Arthur pun menyuruh anak buahnya untuk membawa Ruslan Walter ke markasnya, dan disinilah Ruslan berada, di ruang bawah tanah markas TITANES.


" Siapa kau? Kenapa kalian menangkapku.?" Ucap Ruslan.


Ruslan tidak mengenali Arthur, karena Saat ini Arthur menggunakan topengnya.


" Tebak siapa aku.." Ucap Arthur.


DEG.!!


Ruslan tentu saja mengenali suara itu. Suara yang tidak asing lagi, Suara Arthur.


" Ar..Arthur.." Ucap Ruslan.


" Oh, kau mengenaliku rupanya ? Kenapa tuan Ruslan? Kau terkejut.?" Ucap Arthur.


" Sedang apa kau disini? Kau... "


" Aku adalah Lucifer, ketua dari orang yang kau sewa untuk menghabisi Arthur Edward." Ucap Arthur.


" Tidak mungkin.. " Ucap Ruslan pias.


Ruslan tidak menyangka bahwa rupanya Arthur diam diam memiliki kekuatan dunia bawah.


" Aku memberimu kesempatan hidup dengan baik, tapi lagi lagi kau mencoba untuk serakah.. Tidak hanya serakah, kau bahkan berencana melenyapkan semua keluargaku, kau pikir kau siapa Ruslan Walter.? " Ucap Arrhur.


" Arthur, tolong maafkan aku.. aku hanya terhasut bisikan setan. Tolong biarkan aku hidup." Ucap Ruslan.


" Lalu kau akan menyewa kelompok lain untuk menghabisi keluargaku? Apa kau pikir aku orang bodoh.? " Ucap Arthur dengan senyum dinginnya.


" Oiyah.. orang yang sudah melihat wajahku, tidak ada yang hidup jika bukan aku yang menginginkannya tetap hidup. " Ucap Arthur.


" Tidak , Arthur.. tolong maafkan aku. Aku berjanhibaku tidak akan memberi tahu siapapun bahwa kau Lucifer yang di takuti semua orang. Tolong Arthur, aku masih ingin hidup." Ucap Ruslan memohon dan bersimpuh di kaki Arthur.


DUAK.!


Malvin menendang Ruslan hingga Ruslan jatuh ketanah.


" Jangan berani beraninya kau menyentuh tuan muda." Ucap Malvin.


" Kedua putrimu, sudah menyinggung kekasihku. Bukan hanya menyinggung, Salah satu putrimu bahkan telah terang terangan menghina kekasihku di hadapan umum, menurutmu apa yang pantas untuk mereka.?" Ucap Arthur dwngan senyum dinginnya.


" Ja..jangan sentuh mereka, tolong... Mereka tidak bersalah sama sekali." Ucap Ruslan.


" Aku tidak punya banyak waktu, apakah kau ada kata kata terakhir.?? " Tanya Arthur.


" Tolong Arthur, tolong maafkan aku, aku...ukh.."


" Panggil aku Lucifer." Ucap Arthur dingin.


Rupanya Arthur sudah menyambarkan belati kecilnya di leher Ruslan, darah bermuncratan dari leher Ruslan, dan ia pun sekarat.


" Bereskan dia, jangan ada sisa." Ucap Arthur pada anak buahnya.


Sadis, berdarah dingin dan tanpa ampun.. itu adalah Arthur dimata anak buah dan musuh musuhnya. Tidak ada yang berani menyinggung seorang Lucifer.


Arthur telah selesai membersihkan dirinya dari percikan darah Ruslan, dan rupanya waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Arthur yakin Sierra nya sedang menunggu dirinya di rumahnya.


Arthur langsung mengendarai mobilnya dan pergi dari sana tanpa Malvin. Arthur mengemudi dengan kecepatan tinggi, karena ia tidak ingin Sierra terlalu lama menunggunya. Dan tak lama, ia pun sampai di kediaman Sierra dan langsung masuk kedalam, karena sekarang kunci pintu rumah Sierra menggunakan sandi, hanya Arthur dan Sierra yang tahu sandinya.


" Rupanya dia tidur." Gumam Arthur.


Arthur mendekat dan duduk di sebelah Sierra, ia mengangkat laptop yang berada di pangkuan Sierra dengan pelan pelan. Dan dengan gerakan pelan Arthur membawa Sierra kepelukannya, ia menciumi kening Sierra dan ikut terpejam.


Dua jam setelahnya, Sierra terbangun saat merasakan tangan besar memeluknya. Ia terkejut melihat Arthur yang rupanya sudah datang dan yang lebih kagetnya lagi Arthur tengah tertidur sambil memeluknya.


" Kamu sudah bangun.?" Ucap Arthur.


" Emh.. kamu sejak kapan datang.?" Ucap Sierra.


" Sekitar dua jam yang lalu." Ucap Arthur sambil melihat arlojinya.


" Kamu sudah makan malam?" Tanya Arthur.


Sierra menggeleng " Belum, aku menunggumu." Ucap Sierra.


" Maaf yah, kamu jadi lapar karena menungguku, ada pekerjaan dadakan yang harus aku selesaikan tadi." Ucap Arthur.


" Tidak masalah, lagi pula aku tidur." Ucap Sierra sambil senyum.


Cup..


Arthur mengecup singkat bibir Sierra.


" Aku merindukanmu sayang." Ucap Arthur.


" Kita hanya berpisah beberapa jam.." Ucap Sierra.


" Tetap saja aku merindukanmu." Ucap Arthur memeluk Sierra erat.


" Kamu suka makanan pedas.?" Tanya Sierra.


" Suka, apakah kamu mau memasak makanan pedas.?" Tanya Arthur.


" Tidak, aku punya rekomendasi makanan pedas." Ucap Sierra.


" Oh ya? apa itu.??" Tanya Arthur.


" Tapi... Aku tidak tahu apakah kamu akan suka atau tidak." Ucap Sierra.


" Apa yang kamu suka, aku pasti suka." Ucap Arthur.


Sierra tersenyum mendengarnya.


" Baiklah, ayo.." Ucap Sierra.


Arthur menurut saja kemana Sierra membawanya pergi. Mereka keluar dari kediaman Sierra dan berjakan keluar dari gerbang perumahan.


Hingga sampailah mereka di sebuah restoran Seafood yang dulu sempat Sierra singgahi untuk makan malam.


" Nah, disini.. Apakah kamu keberatan jika kita makan disini.?" Tanya Sierra.


" Tidak sama sekali." Ucap Arthur.


" Benarkah.?" ucap Sierra antusias.


" Iya sayang." Ucap Arthur.


Padahal seumur hidup selama 28 tahun usianya, ia sama sekali belum pernah makan di pinggir jalan, ia pencinta kebersihan, kerapihan, dan tidak suka makanan yang berminyak juga tidak higenis.


Namun ia tidak mau membuat Sierranya kecewa, jadi ia ikut saja kemauan Sierra.


" Paman, ikan bakar 2, cumi bakar 1 porsi, pakai nasi, ekstra sambal." Ucap Sierra lihai.


Sudah bisa Arthur tebak, Sierra pasti sering datang ke tempat tempat seperti ini.


" Baik.. Oh, kamu rupanya nak, sudah lama tidak pernah datang." Ucap pemilik kedai.


" Iya paman, sibuk." ucap Sierra.


" Baiklah, mohon ditunggu ya nak." Ucap pemilik kedai.


" Sip." Ucap Sierra.


Arthur senang melihat Sierra bisa ceria dan menjadi dirinya sendiri. Sesungguhnya Sierra memiliki sifat yang riang, tetapi karena tekanan keadaan hingga membuatnya menjadi tampak murung.


' Tersenyumlah selalu sayang, tertawalah selepas mungkin. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut senyum indahmu lagi darimu.' Batin Arthur.


 


TO BE CONTINUED..