
Arthur dan Sierra serta yang lainnya tengah berada di meja makan saat ini, mereka baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Walaupun Sierra dan Arthur begitu terkejut dengan kenyataan bahwa rupanya Sammy sudah menikah bahkan memiliki seorang putra, tapi mereka tetap membaur seperti teman lama yang bertemu kembali.
" Jadi.. kamu adalah mataharinya Tuan Arthur yang sering suamiku ceritakan?" Tanya Jane pada Sierra.
" Matahari?" Ucap Sierra bingung.
" Ya, suamiku sering bercerita tentang teman temannya, terutama tuan Arthur yang phobia terhadap wanita. Awalnya aku beranggapan mungkin tuan Arthur.. E.. maaf, tidak normal." Ucap Jane tidak enak.
" Tapi rupanya ada satu gadis spesial yang memang sudah di takdirkan untuk menjadi pendamping tuan Arthur." Ucap Jane lagi.
" Jadi kau sering menjadikan aku bahan ceritamu?" Ucap Arthur pada Sammy.
" Hahaha.. Ya, terkadang. Suruh siapa kau selalu membuatku kesal. Aku ini dokter, tapi ibumu itu selalu memarahiku jika kau terluka. Jadi aku berkeluh kesah pada istriku." Ucap Sammy tanpa dosa.
" Ck, pria berkeluh kesah." Sindir Arthur.
" Eh, kau belum tahu saja rasanya berbagi cerita dengan pasanganmu, hati kita yang gundah menjadi tenang, beban yang tadinya terasa sangat berat menjadi ringan. Menikahlah, maka kau akan tahu rasanya." Ucap Sammy.
" Sierra, kamu butuh istirahat.. Mari kuantar ke kamar." Ucap Jane.
" Oh, ya." Ucap Sierra.
Saat Sierra bangun, Arthur juga ikut bangun. Dan hal itu membiat Jane bertanya tanya.
" Aku juga ingin beristirahat." Ucap Arthur.
" Oh, sayang.. Kamu antar tuan Arthur, aku mengantar Sierra." Ucap Jane.
" Aku tidur satu kamar dengan Sierra." Ucap Arthur datar.
Dan hal itu berhasil membuat wajah Sierra memerah. Walaupun memang mereka setiap hari tidur bersama dan mereka tidak melakukan apapun, tapi jika Arthur berkata demikian pada orang lain, maka orang lain pasti akan berpikiran lain.
Dan benar saja, Sammy sampai menyemburkan air yang tengah di teguknya, Jane pun terkejut dengan ucapan spontan Arthur itu hingga wajahnya menjadi kaku seketika.
" Uhuk!! Uhuk!! Wah.. Kau!! Apa kau merusak anak gadis orang sebelum kau menikahinya, huh!? Pria kurang ajar!" Ucap Sammy.
" Kalian berpikir apa? Aku dan Sierra hanya tidur, tidak melakukan apapun. Lagi pula sebentar lagi kami menikah, Ayo. " Ucap Arthur santai.
Jane hanya bisa mengangguk dan tersenyum kaku dan mengantar Arthur dan Sierra ke kamar mereka. Sementara Sammy hanya bisa menunjukan jari telunjuknya pada Arthur tanpa bisa berkata apa apa..
" Wah.. Benar benar! Begitu katanya phobia wanita. Aku sampai tak bjsa berkata apa apa." Ucap Sammy.
" Tuan Arthur, Sierra.. Selamat beristirahat." Ucap Jane setelah sampai di kamar yang di tempati Arthur dan Sierra.
" Terimakasih, kak Jane." Ucap Sierra.
" Ya, jangan sungkan. Oiya, Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Jane.
Setelah Jane pergi, Arthur langsung menutup pintu dan memeluk Sierra erat erat. Sierra sampai bingung dengan arrhur yang tiba tiba memeluknya begitu erat itu.
" Ayo kita menikah." Ucap Arthur.
" Eh?" Ucap Sierra terkejut.
" Aku juga ingin memiliki satu." Ucap Arthur tidak jelas.
" Memiliki satu? Memiliki apa?" Tanya Sierra semakin bingung.
" Anak." Ucap Arthur.
Sierra sampai tidak bisa berkata kata, Terkadang Arthur begitu sangat berwibawa dan tegas walaupun saat bersamanya menjadi begitu penyayang. Tapi siapa yang sangka bahwa Arthur memiliki sisi seperti ini, dia bicara tidak pakai filter.
" Sayang?" Ucap Arthur sambil melepas pelukannya dari Sierra.
Arthur melihat wajah Sierra yang seperti orang linglung itu, dan perlahan berubah menjadi merah padam. Entah apa yang ada di pikiran Sierra saat ini.
" Sayang.." Ucap Arthur lagi.
" Eh, Ya?" Sahut Sierra yang sadar.
" Kamu melamun apa?" Tanya Arthur.
" Itu.. Kamu bilang ingin punya anak, memangnya kamu mau cepat cepat punya anak setelah kita menikah?" Tanya Sierra. Arthur terkekeh mendengar ucapan Sierra.
" Sayang, aku ingin menikah denganmu tentu saja juga karena aku ingin memiliki anak darimu. Tapi.. Apakah kamu belum siap memiliki anak? Jika kamu belum siap, maka kita bisa menundanya." Tanya Arthur. Sierra menggelengkan kepalanya.
" Aku juga ingin memiliki anak darimu. Aku hanya tidak menyangka kamu akan secepat itu ingin memiliki anak." Ucap Sierra terharu.
" Ya." Ucap Sierra dengan senyum manisnya.
Arthur senang mendengar jawaban Sierra, lalu langsung memeluk Sierra lagi. Tiba tiba ponselnya berdering, dan itu panggilan dari Cornelius. Sierra pun melepaskan diri dan duduk di ranjang, karena perutnya merasa keram.
" Ya pi?" Ucap Arthur.
" ..."
" Sierra sudah bersamaku, tapi aku tidak kembali ke jakarta, kami ke Bali." Ucap Arthur lagi.
Tiba tiba panggilan itu beralih menjadi panggilan Video. Jika sudah begitu, sudah bisa di pastikan itu adalah Sahara. Arthur pun mengangkatnya, dan benar saja.. Terlihat Sahara dengan wajah basahnya.
" Anak nakal, dimana Sierra?" Ucap Sahara setelah video itu tersambung.
" Dia sedang beristirahat mi." Ucap Arthur datar.
" Mami merindukannya, berikan ponselnya pada Sierra." Ucap Sahara.
Arthur menurut, dan kini duduk disebelah Sierra.
" Mami.." Ucap Sierra.
" Sayang.. Astaga.. hiks.. hiks." Tangis Sahara pecah.
" Mami, Sierra sudah bersama Arthur dan baik baik saja, mami tidak perlu khawatir." Ucap Sierra.
" Astaga sayang, mami ingin terbang kesana dan memelukmu." Ucap Sahara.
" Mami boleh terbang kemari, tapi nanti.." Ucap Arthur menyambar ponselnya dari Sierra.
" Kenapa?!" Ucap Sahara tidak terima.
" Untuk sekarang kami sedang membuat alibi agar Daniel mengira Sierra berada dijakarta. Tolong mami bekerja sama sedikit, oke?" Ucap Arthur.
" Baiklah.. " Ucap Sahara akhirnya.
" Sudah dulu ya mi, Sierra butuh istirahat." Ucap Arthur.
" Tapi mami masih merindukan Sierra." Ucap Sahara.
" Mi... Sierra pasti kelelahan saat ini." Ucap Cornelius.
" Baiklah.. " Ucap Sahara mengalah.
" Dah, mami.." Ucap Sierra.
" Dah, sayang.. Baik baik ya? Sampai ketemu nanti." Ucap Sahara.
Panggilan pun di akhiri, dan kini Sierra dan Arthur hanya duduk dan saling menatap.
" Ayo kita menikah besok." Ucap Arthur setelah menimbang nimbang.
" Hah, apakah itu tidak terlalu mendadak?" Ucap Sierra.
" Aku tidak mau kehilanganmu lagi sayang, selama kamu menghilang kemarin, duniaku begitu hancur. Aku yakin ayahmu pasti akan berusaha untuk mendapatkanmu kembali, jika kita sudah menikah maka ayahmu tidak akan memiliki hak untuk memisahkan kita." Ucap Arthur.
" Aku tahu, tapi ini di Bali.. Dimana kita bisa menikah dengan begitu mendadak? " Ucap Sierra bingung.
" Aku sudah menyiapkan sebuah tempat. Sejujurnya itu untuk kejutan, tetapi kejadian begini diluar perhitunganku. Jadi.. Karena kita sudah di Bali, mengapa tidak sekalian aku beri tahu saja kejuran itu." Ucap Arthur.
" Kejutan??" Ucap Sierra.
" Ya, aku ingin melakukan pemberkatan pernikahan kita di Bali, lalu menggelar resepsi kita di Jakarta. Begitu rencana awalnya, tapi rupanya tadir berkata lain. Besok.. Ayo kita kesana." Ucap Arthur.
" Kamu serius??" Tanya Sierra.
" Hm.. Sekarang, ayo kita tidur. Kamu butuh istirahat." Ucap Arthur.
Arthur merebahkan dirinya di ranjang, lalu merentangakan kedua tangannya. Baginya hal itu seperti sudah menjadi kebiasaan, saat bersama Sierra. Sierra pun masuk kedalam pelukan Arthur, lalu mereka pun memejamkan mata. Arthur yang mengusap kepala Sierra dengan sayang, dan menciumi kening Sierra.
" Selamat malam sayang." Ucap Arthur.
" Hmmm.. " Sahut Sierra sembari mengeratkan pelukannya dengan mata terpejam.
TO BE CONTINUED..