
Sierra dan Arthur telah berada di dalam mobil menuju ke makam mendiang Sophia. Sepanjang perjalanan itu, Arthur tak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya dari Sierra.
" Apakah kamu tidak sibuk.?" Tanya Sierra.
" Tidak begitu, semua sudah di kendalikan oleh Malvin. Ada apa sayang.?" Tanya Arthur.
" Tidak ada, hanya heran saja.. Kamu seharusnya kan bekerja, semua karyawanmu akan menangis jika tahu bos mereka malah liburan denganku." Ucap Sierra.
Arthur terkekeh mendengar ucapan Sierra.
" Liburan denganmu tidak akan membuat aku jatuh miskin sayang, lagi pula untuk apa aku membayar ribuan karyawan kalau mereka tidak bisa menghandle pekerjaan selama aku tidsk ada." Ucap Arthur.
" Benar juga.. " Ucap Sierra.
Akhirnya mereka sampai di komplek pemakaman elit itu, dimana Sophia di makamkan. Arthur menggandeng tangan Sierra dan berjalan menuju makam Sophia.
Setelah sampai, Arthur meletakan sebuket bunga Edelweis di samping makam Sophia, yang terdapat bunga segar lain disana. Sierra tentu tahu siapa orang yang mengunjungi Sophia sebelumnya, orang itu sudah pasti Daniel. Karena yang tahu kesukaan Sophia, adalah Daniel.
" Halo ibu.. Sierra datang. Apakah ibu disana bahagia sekarang? Sierra sudah mengambil jalan hidup Sierra sendiri." Gumam Sierra.
" Aku harap ibu tidak marah denganku, karena aku tidak bisa memaafkan dia ( Daniel ). " Gumam Sierra lagi.
Arthur melihat kesekelilingnya, dan melihat sosok Daniel yang berdiri tak jauh dari sana. Tatapan Arthur dan Daniel bertemu selama beberapa detik, namun kemudian Arthur memutuskan tatapan itu dan menghadap Sierra.
' Anda menyesalpun sudah terlambat, Tuan Daniel. Sierra sudah bukan Sierra kecil yang menderita mencarimu lagi. Dia sudah berubah menjadi kupu kupu kecil yang indah, dan aku yang akan memastikan dia akan terbang bebas tanpa memiliki masalah apapun lagi. Bersamaku, aku akan memastikan dia tidak akan disakiti siapapun atau di sia siakan lagi.' Batin Arthur bermonolog.
Daniel menatap sendu kearah Sierra, dulu ia melarang Sierra datang mengunjungi makam Sophia karena bagi Daniel Sierra pembunuh, dan tidak pantas mengunjungi makam Sophia. Bagi Daniel, Sierra yang telah membuat Sophia meninggalkanya di dunia.
Sekarang jika di pikir baik baik, Daniel sendirilah yang meninggalkan Sophia. Ia menikahi Julia tanpa menyelidiki apapun kebenarannya. Hanya satu kata atas nama Sophia, dia rela begitu saja menikah dengan Julia walau tidak didasari rasa cinta.
" Ayah benar benar ayah yang buruk Sierra. Sejak kamu kecil, kamu selalu mencari perhatian pada ayah, tapi ayah selalu mengabaikanmu. Tangan kecilmu dulu yang selalu terangkat meminta ayah menggendongmu, tapi ayah menepisnya berulangkali. Ayah sangat menyesal Sierra.. Jika saja waktu bisa di putar kembali, ayah ingin memeluk tubuh kecilmu dulu. Tubuh kecil yang sudah begitu banyak menderita karena ayahmu yang bodoh ini." Ucap Daniel sambil terisak.
" Masihkah ada kata maaf yang tersisa sedikit saja dihatimu nak, ayah sungguh sungguh ingin memelukmu sekarang, dan meminta maaf atas semua perbuatan ayah dulu." Gumam Daniel sambil menatap Sierra yang berlalu pergi dadi makan Sophia.
" Apakah kamu juga membenciku Sophia.? Aku telah menelantarkan buah hati kita, harta berharga peninggalanmu yang dulu paling kita sayangi. Kebutaan hati karena kejadian itu membuat aku gelap akan kebenaran. Sophia.. Tolong jangan kamu membenciku juga." Gumam Daniel lagi.
Hari itu, Setelah Sierra selesai mengunjungi makam Sophia, ia dan Arthur memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Seluruh stasiun tv saat ini masih di hebohkan oleh berita Hailey yang akan dihukum mati. Publik juga masih penasaran dengan hubungan ayah dan anak antara Daniel dengan Sierra.
Ke esokan harinya..
Sierra dan Arthur berada di jalan saat ini, mereka tengah menuju ke kediaman orang tua Arthur, yaitu Sahara dan Cornelius. Sierra mendapat telepon dadi Sahara yang mengatakan bahwa Sahara membutuhkan bantuannya.
Entah bantuan apa yang Sahara maksud, ia tidak mengucapkannya dan Sierra pun mengiyakannya. Dan disinilah mereka berdua, di dalam mobil menuku kediaman Sahara.
Sierra melihat layar ponselnya, dan ia masih heran dengan pencarian terpanas internet saat ini. Itu adalah berita tentang dirinya yang adalah putri kandung Daniel Leon. Bahkan kabar itu lebih santer terdengar dari pada kabar Hailey yang akan dihukum mati.
" Kenapa mereka masih mencari tahu tentangku Arthur.?" Ucap Sierra.
" Karena mereka penasaran, publik tidak ada yang mengetahui kebenaran bahwa Daniel leon memiliki satu putri bernama Sierra. Daniel menyembunyikan fakta kamu adalah putrinya dengan rapat dari publik. Jadi saat kabar kebenaran bahwa kamu adalah putri kandung Daniel Leon meledak, publik pun ikut meledak mencari tahu." Ucap Arthur.
" Aku merasa menjadi seorang artis saja, wajahku muncul di segala tempat." Ucap Sierra sambil menggeser geser layar ponselnya.
" Kamu akan lebih terkenal lagi nanti, Saat kamu menjadi nyonya Arthur Edward." Ucap Arthur.
" Cih.. Seakan aku benar benar akan menjadi istrimu." Ucap Sierra.
Arthur langsung mencangkup kedua pipi Sierra, dan menatap mata Sierra dalam dalam.
" Pasti dan harus. Kamu akan menjadi istriku kelak, istri seorang Arthur Edward." Ucap Arthur bersungguh sungguh.
Sierra langsung bersemu merah mendengar perkataan spontan Arthur.
" Dengar sayang, di dunia ini.. Hanya aku yang boleh menikah dengamnu, setelah kamu siap untuk menikah, aku akan langsung membuatkan pesta megah untuk pernikahan kita." Ucap Arthur.
Sierra tersenyum, lalu mengangguk. Ia kehabisan kata kata untuk sekedar membantah. Arthur begitu mempesona, baik, dan selalu menjaga Sierra. Tidak ada celah untuk menolak seorang Arthur.
Hingga akhirnya mereka pun sampai di depan kediaman Sahara dan Cornelius. Sierra memandang kagum gerbang di hadapannya itu, saat gerbang besar itu terbuka, ia lbih kagum lagi dengan penampakan banginan dihadapannya itu.
Mobil pun masuk ke halaman kediaman Sahara, butuh sekitar 3 menit untuk tepat di depan rumah mewah itu. Saking besarnya pilar rumah itu, Sahara yang berdiri di depan pun sampai tak terlihat.
" Sayang... Ambirnya kamu datang juga." Teriak Sahara.
" Mami.. " Ucap Sierra dan memeluk Sahara.
" Ayo kita masuk.." Ucap Sahara.
Sahara langsung menggandeng Sierra dengan antusias, bahkan ia tak memperdulikan Arthur yang berdiri di belakang Sierra. Sierra masuk kedalam rumah itu dan kembali terkagum dengan penataan ruangan disana, begitu mewah dengan gaya khas oriental.
" Ar, kamu datang.." Ucap Cornelius.
" Hmm.. Apa kabar ayah." Ucap Arthur.
" Baik, sudah sangat lama kamu tidak pernah kemari, akhirnya kamu pulang juga kerumahmu." Ucap Cornelius memeluk putranya itu.
" Ayah, kau memalukan." Ucap Arthur.
" Memeluk putra ayah sendiri apanya yang memalukan. Sudahlah.. Ayo, ibumu begitu antusias memilih dekorasi ulang tahun pernikahan kami, ayah sampai pusing melihatnya berjalan kesana kemari dan mendengarnya berteriak ini dan itu. Dia benar benar antusias." Ucap Cornelius, Arthur hanya tersenyum mendengarnya.
" Kapan kalian menikah.?" Tanya Cornelius.
" Doakan saja secepatnya ayah, setelah Sierra siap, kami akan menikah." Ucap Arthur.
Mereka berjalan dan melihat dua wanita yang mereka cintai sedang sibuk melihat contoh dekorasi demi dekorasi yang ada diatas meja besar disana.
" Kelak setelah menikah, sayangi dan lindungilah Sierra nak, jangan sakiti dia seperti ayahnya menyakitinya ." Gumam Cornelius.
" Itu pasti." Ucap Arthur..
TO BE CONTINUED..