The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 47. Kamar pasangan.


Sierra bersama Arthur saat ini tengah dalam perjalanan menuju ke makam Sophia.


" Kamu baik baik saja.??" Ucap Arthur.


" Aku baik baik saja, hanya sedikit lelah." Ucap Sierra.


" Kamu terlalu memaksakan diri untuk datang ke pengadilan dan mengunjungi Carine. Kemari, tidur disini." Ucap Arthur sembari menepuk pahanya.


Sierra pun patuh, ia merebahkan kepalanya di pangkuan Arthur. Arthur membelai rambut Sierra dengan sayang, hingga Sierra tertidur.


Tiba tiba Sierra bergumam dalam tidurnya. " Terimakasih.. " Gumam Sierra.


Arthur tersenyum melihat begitu lelapnya Sierra tidur di pangkuannya. Sambil satu tangan nya membelai kepala Sierra, satu tangannya lagi mengetik sebuah pesan kepada Malvin.


" Pesankan sebuah hotel di kota K, yang tidak jauh dari pemakaman. " Begitu isi pesannya.


Di tempat lain, Malvin yang sedang minum kopi sampai tersedak dan menyemburkan kopinya saat membaca pasan dari Arthur.


" Uhuk..uhuk, Astaga.. apakah hubungan mereka sudah sampai tahap itu??" Gumam Malvin.


" Tapi tunggu, kenapa dia meminta dekat pemakaman, apakah ada yang meninggal.? Malvin bodoh, belum tentubsaat ini Arthur sedang bersama Sierra kan." Gumam Malvin lagi.


Malvin membalas pesan Arthur, lalu memesankan kamar hotel untuk Arthur. Kini dirinya menjadi begitu sibuk. Sebagai Asisten, sekertaris, dan wakil Arthur, Malvin mengemban beban yang hampir sama dengan Arthur.


Malvin berdiri membuka kemejanya karena terkena muncratan kopi yang ia semburkan tadi, terlihat betapa berototnya tubuh Malvin dengan perut eight pack nya. Kulit cokelat eksotisnya benar benar menambah kesan seksi.


Tok.. tok.. Tok..


Pintu di ketuk, Namun belum sempat Malvin menjawab, si pengetuk pintu itu sudah lebih dulu membuka pintunya. Rupanya Carisa kembali masuk keruangan Arthur. Ya, saat ini Malvin berada diruangan Arthur.


" CEO, ada berkas yang harus di tanda.. tangani.." Ucap Suara Carisa melemah saat melihat pemandangan di hadapannya.


Carisa terkesima dengan tubuh atletis Malvin, selama ini Malvin selalu menggunakan stelan kemeja kerja dan jas, tidak pernah terpikirkan oleh Carisa bahwa Malvin akan memiliki tubuh indah dan mengagumkan itu.


" Siapa yang mengijinkanmu masuk? Kau belum di izinkan masuk tapi kau sudah menerobos masuk, apa kau tidak punya sopan santun.?" Ucap Malvin.


" A..asiten Malvin, maaf.. Sa..saya hanya ingin meminta tanda tangan CEO." Ucap Carisa yang tersentak kaget.


Malvin berjalan kearah Carisa dengan tatapan tajamnya.


" Kau mau meminta tanda tangan CEO atau menggodanya?! Kau Carisa Walter bukan.? Bukankah terakhir kali CEO sudah memperingatimu untuk tidak masuk sembarangan kemari.?!! APA KAU TIDAK PUNYA TELINGA?!!" Bentak Malvin.


Carisa sampai tersentak kaget dan berkeringat dingin, Ia baru tahu Malvin memiliki sisi seperti saat ini. Begitu tegas dan menyeramkan.


" Maaf.. saya.. saya.."


" Keluar." Ucap Malvin datar.


Carisa pun langsung berbalik dan pergi dari ruangan Arthur itu. Sejujurnya Carisa sangat terpesona saat melihat dada bidang Malvin itu, tetapi ketika ia melihat sisi lain Malvin, ia begitu ketakutan.


Setelah Carisa keluar, Malvin langsung memejamkan matanya.


' Hufft.. Hampir saja aku tidak bisa mengendalikan diriku. Untung dia bukan musuh, jika dia musuh sudah bisa dipastikan tinggal jasad.' Batin Malvin.


Malvin tidak suka orang lain melihat dirinya yang tidak menggunakan pakaian. Karena ada bekas luka sangat besar di punggungnya, seperti bekas luka pedang, begitu panjang dan mengerikan.


Sementara itu, Arthur telah sampai di sebuah hotel yang memang tidak begitu jauh dari pemakaman. Sudah bisa Arthur tebak, Sierra tidak mungkin bangun dari tidurnya karena terlihat begitu lelap.


Arthur menggendong Sierra ala bridal, dan menyembunyikan wajah Sierra di dadanya, hingga tak ada satu orang pun yang akan tahu atau bisa melihat wajah Sierra.


Semua orang yang melihat Arthur berjalan di loby hotel dengan menggendong seorang wanita pun ramai berbisik. Karena Arthur begitu tampan dan dingin, dan hal itu yang menarik perhatian kaum wanita disana.


Ditambah Arthur menggendong seorang gadis, pemandangan itu bagai di drama drama romantis saja. Meski dikagumi banyak wanita, Arthur sama sekali tidak merespon. Ia berjalan seakan tidak memperdukikan sekitarnya, fokusnya sekarang adalah agar Sierra bisa segera istirahat dengan nyaman di tempat tidur.


Hingga sampailah Arthur di depan sebiah kamar hotel, ia dibantu seorang petugas untuk membukakan pintu kamar hotel itu.


" Terimakasih." Ucap Arthur.


" Baik, sama sama tuan." Ucap petugas hotel itu, lalu menutup kamar yang di tempati Arthur.


Saat baru masuk, Arthur terkejut karena hotel yang di pesan oleh Malvin adalah hotel untuk pasangan.


" Malvinn.... " Geram Arthur.


Tapi Arthur tidak begitu mempermasalahkannya, Ia merebahkan Sierra dengan perlahan ke ranjang lalu menyelimutinya. Sementara dirinya langsung menyalakan AC lalu membersihkan bunga bunga dan hiasan lainnya yang sebelumnya tersusun rapi diatas ranjang.


dirinya pun ikut terlelap.


Beberapa saat kemudian, Sierra perlahan membuka matanya dan terkejut, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Arthur yang tengah tertidur sambil duduk.


' Dia menungguku, dia pasti lelah.' Batin Sierra bermonolog.


Sierra duduk dihadapan Arthur, ia menatap wajah tampan Arthur yang tengah terpejam. Sierra tidak begitu mempergatikan dengan detail wajah Arthur selama ini, rupanya Arthur memiliki tahi lalat di bawah ujung matanya, dekat dengan pelipis.


' Dia tampan bahkan saat ia sedang tidur, sungguh ciptaan Tuhan yang sangat sempurna. ' Batin Sierra.


Tiba tiba Arthur membuka matanya, Dan Sierra terkejut saat langsung bertemu tatap dengan mata hitam Arthur.


" Sudah selesai menatap kekasihmu ini hum.?? Ucap Arthur.


" Kamu tidur pun bisa tahu aku sedang menatapmu?" Tanya Sierra.


Arthur hanya tersenyum, lalu mengulurkan tangan nya membelai kepala Sierra.


" Aku tahu bahkan jika kamu menatapku dari jauh." Ucap Arthur.


" Bohong.." Ucap Sierra.


Arthur terkekeh, melihat Sierra memanyunkan bibirnya. Menggemaskan sekali menurut Arthur.


" Kamu lapar.?" Tanya Arthur.


" Mmm.. Iya, ini dimana?" Ucap Sierra.


" Di hotel, jika kamu lapar aku bisa pnggil orang untuk mengantar makanan kemari. Atau kamu mau melihat lihat di luar ?" Ucap Arthur.


" Kita keluar saja, aku tidak suka makan di kamar." Ucap Sierra.


" Baiklah, kamu mandi dulu saja. Bajumu belum sampai." Ucap Arthur.


" Kamu menyiapkan bajuku?" Tanya Sierra.


" Hum.. Mandilah, aku akan mandi setelah kamu." Ucap Arthur.


Sierra mengangguk patuh lalu berjalan masuk kekamar mandi, dan tak lama supir yang membelikan pakaian untuk Sierra dan Arthur pun menghubungi Arthur.


" Di depan? Tunggu disitu." Ucap Arthur


Arthur bangun dari ranjang dan membuka pintu kamar.


" Tuan ini bajunya." Ucap sang supir.


" Hm.. Terimakasih." Ucap Arthur.


Sang supir pergi, lalu Arthur kembali memasuki kamarnya. Dan tak berapa lama, Sierra membuka sedikit pintu kamar mandi dan berteriak.


" Arthur.. Apakah bajuku sudah datang?. " Teriak Sierra.


Namun tidak ada sahutan dari Arthur, Sierra pun mengintip keluar, karena saat ini dirinya hanya menggunakan bathrobe.


" Kemana dia.?" Ucap Sierra, karena tak melihat keberadaan Arthur.


Sierra melihat paper bag yang tertulis sebuah brand pakaian ternama di sebelah sofa, ia pun keluar dadi kamar mandi dan hendak mengambil paper bag itu. Tiba tiba Arthur muncul dari balkon kamar hotel, Sierra yang terkejut hendak lari kembali masuk kedalam kamar mandi justru terpeleset dan jatuh.


BRAK.!!


" AW.!! "


" Sayang kamu.."


" Janagn mendekat.!" Ucap Sierra menghentikan langkah Arthur.


" Tapi kamu jatuh, aku mau membantumu." Ucap Arthur.


" Ja.. jangan mendekat, ini memalukan." Ucap Sierra lemah sambil menutup dirinya rapat rapat.


TO BE CONTINUED..