The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 66. Berusaha menjadi seorang ayah. ( Menebus )


Sierra dibawa naik kedalam ambulance, dan langsung di tangani dokter sambil ambulance berjalan menuju rumah sakit.


" Kamu akan baik baik saja nak, kamu akan baik baik saja. Pak, tolong lebih cepat, anak saya mengalami luka yang sangat serius." Ucap Daniel sembari menciumi tangan Sierra.


Sirene ambulance memecah jalanan di kota Jakarta pada sore hari itu. Dimana didalamnya ada Sierra yang tengah berjuang antara hidup dan matinya disana.


Hingga akhirnya Ambulance pun tiba di halaman rumah sakit dan dengan segera Sierra dibawa ke ruang operasi karena darah di perut Sierra tidak kunjung berhenti.


" Maaf tuan, mohon tunggu diluar." Ucap perawat disana.


Daniel mundur, dan pintu langsung di tutup.


" Kamu harus tetap hidup nak, ayah tidak bisa kehilangan untuk yang kedua kalinya lagi." Gumam Daniel.


" Tuan, apakah anda ayah pasien.?" Ucap Perawat yang tiba tiba keluar dari ruang operasi.


" Ya, benar saya ayahnya." Ucap Daniel.


" pasien membutuhkan transfusi darah, apakah anda bersedia mendonor.."


" Ya, ya.. saya bersedia." Ucap Daniel memotong ucapan perawat itu.


" Mari kita melakukan tes terlebih dahulu ." Ucap perawat itu.


Daniel pun mengikuti kemana perawat itu pergi. Daniel melakukan pengecekan darah dan hasilnya adalah 99,9% cocok.


' Bahkan darahnya adalah darahku, betapa berdosanya aku menelantarkannya selama ini. Maafkan ayah nak.' Batin Daniel.


" Mari tuan, anda harus berada di ruangan operasi, karena darah anda dibutuhkan selama berjalannya operasi." Ucap perawat itu.


Daniel mengangguk, dan ia pun kembali keruang operasi dimana ada Sierra di dalam yang tengah terbaring dengan wajah pucat. Hati Daniel begitu sakit melihatnya, ia teringat dengan wajah mendiang Sophia yang meninggal saat itu.


" Tuan Daniel.?" Ucap Dokter yang rupanya adalah Sammy.


Sammy terkejut tatkala melihat Daniel disana, bukankah mereka memutuskan hubungan ayah dan anak, lalu apa ini?


" Ya.?" Ucap Daniel.


" Tidak ada, maaf. Tuan Daniel, jika anda merasa lemas dan pusing tolong beritahu kami, agar kami mengganti transfusi darah dengan stok darah rumah sakit." Ucap Sammy.


" Baik." Ucap Daniel.


Operasi pun dimulai, Daniel memiringkan wajahnya untuk melihat wajah Sierra yang saat ini tengah berjuang untuk hidup.


" Tetaplah hidup nak.. " gumam Daniel.


Sammy yang sesekali melihat bagaimana Daniel menatap penuh kasih sayang kepada Sierra pun tidak mengerti, bukankah Daniel dulu sangat membenci Sierra pikirnya.


Selama satu jam, Operasi itu berjalan, tetapi belum berakhir. Karena tusukan belati itu tepat mengenai arteri Sierra, dan hal itulah yang membuat Sierra kehilangan banyak darah. Daniel sudah mulai merasakan pusing tetapi ia memaksa bertahan.


" Tuan, ini sudah satu jam, anda akan kekurangan banyak darah jika anda memaksa, lebih baik kami ganti dengan darah rumah sakit." Ucap perawat.


" Tidak, jangan.. biarkan hanya darahku yang mengalir didalam tubuh putriku." Ucap Daniel namun dengan tatapan terus kearah Sierra.


" Baiklah.." ucap perawat itu.


' Kamu selalu merasakan sakit sendirian selama ini, kamu juga selalu menderita sendirian. Ayah ingin menebusnya tetapi ayah tidak tahu harus dengan apa menebus semua itu. Ayah harap dengan darah ayah kamu bisa tetap hidup dan menjalani hidupmu dengan bahagia putriku.' Batin Daniel.


Hingga operasi dinyatakan selesai, sekitar satu setengah jam operasi itu berjalan dan Daniel tetap setia mendonorkan darahnya sepanjang operasi berlangsung. Daniel akhirnya terpejam ketika telah mendengar bahwa operasi Sierra telah selesai dan Sierra berhasil selamat.


" Dok, tuan Daniel tak sadarkan diri." Ucap perawat.


" Beri infusan, lalu pindahkan keruang rawat agar beliau beristirahat." Ucap Sammy.


Saat Sammy membuka pintu ruang operasi, yang pertama terlihat adalah Arthur dengan wajah paniknya.


" Apakah Sierra baik baik saja.?" Ucap Arthur panik.


" Dia baik baik saja, berkat ayahnya." Ucap Sammy.


" Ayahnya.?? " Tanya Arthur terkejut.


" Ya, tuan Daniel Leon mendonorkan darahnya sepanjang operasi berlangsung, yakni satu setengah jam, dan ia baru saja tak sadarkan diri." Ucap Sammy.


" Sepertinya dia sudah berubah." Ucap Sammy. Yang Sammy maksud adalah Daniel.


" Berubah pun tidak akab bisa menutup keburukannya dimasalalu. Sierra sudah terlalu membencinya." Ucap Arthur.


" Rumit.." Gumam Sammy.


" Tapi aku sangat ingat pertama kali bertemu dengan Sierra, dia sendirian di rumah sakit ini, tidak ada yang menjemput, atau sekedar membayarkan biaya rumah sakitnya." Ucap Sammy.


' Aku menyesal karena tidak bertemu denganmu sejak di kehidupanmu yang dulu sayang. Kamu pasti sangat menderita dulu.' Batin Arthur.


" Aku akan menyusul Sierra." Ucap Arthur.


" Baiklah." Sahut Sammy.


Arthur berjalan mengiringi kemana Sierra di bawa pergi, dengan tangannya yang terus menggenggam tangan Sierra hingga mereka sampai di sebuah kamar rawat.


" Berikan kamar VVIP." Ucap Arthur.


" VVIP sedang penuh tuan, hanya VIP yang tersedia." ucap perawat wanita.


" Aku adalah pemilik rumah sakit ini, apakah kau ingin aku merobohkan rumah sakit ini sekarang.!!" Ucap Arthur emosi.


Mendengar kerasnya suara Arthur kepala rumah sakit langsung menghampiri Arthur.


" Tuan muda, anda datang.. Apakah ada yang bisa saya bantu tuan muda.?" ucap kepala rumah sakit.


" Aku minta kamar VVIP untuk calon istriku." Ucap Arthur.


" Ah, baik baik." Ucap kepala rumah sakit.


" Apa yang kau lakukan, dia adalah putra dari pemilik rumah sakit ini." Ucap kepala rumah sakit kepada perawat.


Perawat yang di bentak Arthur terkejut, karena dia sama sekali tidak tahu bahwa Arthur adalah putra pemilik rumah sakit.


" Maaf tuan muda, saya tidak tahu." Ucap perawat itu.


" Cepat siapkan, Sierra harus beristirahat dengan tenang." Ucap Arthur.


" Baik.. baik.. " ucap kepala rumah sakit.


Akhirnya Sierra pun di pindahkan keruang VVIP Rumah sakit itu. Arthut tak henti hentinya menciumi tangan Sierra yang masih taknsadarkan diri pasca operasi.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara pintu diketuk.


Masuklah Malvin dengan pakaian formal seperti biasanya.


" Bagaimana? Apakah sudah tertangkap.?" Tanya Arthur.


" Sudah tuan, tapi dia suruhan yang berani mati. Dia meledakkan dirinya sendiri dengan bom bunuh diri saat kami akan menangkapnya di jalan yang mengarah Ke perbukitan." Ucap Malvin.


" Siapa sebenarnya.. " Geram Arthur.


" Apakah kamu sudah mengcek cctv pinta rumah Sierra?" tanya Arthur.


" Ya, dan pria itu hanya mengatakan bahwa nona Sierra telah menyinggung orang yang seharusnya tidak ia singgung." Ucap Malvin.


" Orang yang seharusnya tidak Sierra singgung.. Apakah ayah kandung Carine.?" gumam Arthur.


" Kami sedang menyelidikinya tuan, di potongan potongan tubuh pelaku yang meledakkan diri pasti ada sebuah petunjuk." Ucap Malvin.


" Selidiki sampai dapat." Ucap Arthur.


" Baik tuan muda." Ucap Malvin.


' Beraninya menyakiti Sierraku, jika aku sudsh menangkap ekormu nanti, jangan harap kau bisa melihat mata hari terbit lagi.' Batin Arthur dengan tatapan terus menatap Sierra.


TO BE CONTINUED...