The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 113. Roti sobek delapan.


Arthur dan Sierra tengah berada di salah satu kamar hotel itu. Sahara tidak memperbolehkan Sierra terlalu lelah, jadi ai menyuruh agar Arthur menemani Sierra beristirahat di kamar hotel itu.


" Sayang, kenapa kamu membuatkan hotel ini untukku?" Ucap Sierra.


" Hotel ini memang sejak awal milikmu sayang. Ayahmu berinvestasi dalam pembangunan hotel ini dan aku hanya mengakui sisi hotel ini untukmu." Ucap Arthur.


" Rupanya begitu." Ucap Sierra.


" Kemari.." Ucap Arthur sambil merentangkan kedua tangannya.


Sierra berjalan menghampiri Arthur yang tengah bersender di ranjang sambil terkekeh.


" Aku ingin di peluk sayang." Ucap Arthur.


" Ya, ya, bayi besar sedang manja." Ucap Sierra sambil memeluk suaminya itu.


Di tempat lain.. Seseorang terlihat sangat begitu marah setelah menghadiri acara ulang tahun Sahara. Ia membanting semua barang barang yang ada di atas meja riasnya dan nafasnya terlihat kian memburu.


" Aku yang memenangkan tender untuk pembangunan hotel itu, aku juga yang merencanakan pembangunan hotel itu. Sekarang setelah hotel itu jadi, Sierra mengakui sisinya hanya karena ayahku kekurangan dana." Gumamnya sambil di penuhi amarah.


" Dia telah merebut Arthur dariku, lalu sekarang ia merebut hotel itu dari ku juga. Sierra... Hanya karena mendiang ayahmu berinvestasi sangat banyak kau jadi begitu tebal muka." Gumamnya lagi.


Wanita yang terlihat sangat marah itu adalah Sisi. Dia menghadiri acara ulang tahun Sahara di hotel yang seharusnya menjadi miliknya. Ia tidak tahu bahwa Arthur telah mengakuisisi hotel itu, karena ayahnya tidak memberi tahunya lebih dulu.


Tetapi, karena Arthur mengatakan bahwa hotel itu milik Sierra, jadi Sisi beranggapan bahwa Sierra lah yang telah mengakuisisi hotel itu.


" Tidak, aku tidak akan membiarkan dia nyaman nyaman saja. Sierra Leona, aku membencimu. Akan aku pastikan kamu menderita setelah ini." Gumam Sisi.


" AAARGH!!" Teriak Sisi sambil membanting benda lain di sekitarnya.


Malam kian semakin larut, Andra datang ke hotel mengantarkan pakaian untuk Arthur dan Sierra.


" Malam Andra? " Ucap salah seorang penjaga yang berjaga di depan pintu kamar hotel Arthur dan Sierra.


" Malam, aku ingin mengantar pakaian nyonya dan tuan." Ucap Andra.


" Baik, silahkan. " Ujar pengawal itu.


Andra mengetuk pintu kamar, dan terlihat Arthur yang keluar membuka kan pintu.


" Malam, tuan. Ini adakah pakaian nyonya dan tuan." Ucap Andra.


" Hm, terimakasih." Ucap Arthur, lalu mengambil koper yang Diandra bawa.


Setelah Arthur kembali masuk, Andra ikut berdiri di deoan kamar Arthur dan Sierra. Anak buah Arthur semuanya mengenal sosok Andra. Andra di beri julukan sebagai tangan iblis, karena ketika Diandra bertindak, tidak peduli siapa dia jika Arthur memerintahkan untuk bunuh maka Andra alan langsung mengayunkan senjatanya.


" Andra, sebaiknya kamu beristirahat saja. Kamu harus mengikuti kemanapun nyonya pergi besok. Kami bisa berjaga disini." Ucap salah satu pengawal.


" Kenapa tuan menugaskan kalian? Kemana kak Zen dan Zan?" Tanya Andra.


" Mereka berjaga di markas, kamu ingat wanita yang di kurung tuan di markas? Dia hampir mengelabuhi salah satu rekan yang tengah menyetubuhinya untuk kabur. Beruntungnya langsung ketahuan oleh kak Zen." Ucap anak buah Arthur.


" Benar, kak Zen membuat kedua kaki ya lumpuh, dan kini perempuan itu tidak bisa berjalan." Ucap yang satunya.


Diandra hanya mengangguk angguk saja, Wanita yang mereka bahas adalah Calista. sejujurnya ia merasa ngeri sendiri melihat nasib Calista yang di gilir banyak pria.


Andra pernah melihat sekali ketika ia mengunjungi markas setelah menyelesaikan misinya. Ia melihat dimana Calista melayani tiga pria sekaligus, dan setelah tiga pria itu selesai, masuk pria pria lainnya yang kemudian berlanjut menyetubuhi Calista. dan itu membuat Andra mual melihatnya.


Herannya, selama ini Calista melayani banyak pria, tetapi dirinya tidak pernah sekalipun mengandung. Padahal tak terhitung jumlah anak buah Arthur yang pernah mencicipi tubuhnya itu.


" Kenapa perempuan itu tidak hamil? Bukankah kalian menyetubuhinya tidak berkesudahan? " Tanya Andra.


" Karena dia kami paksa meminum pil kontrasepsi." Ucap penjaga itu.


" Kalau begitu aku akan beristirahat. aku ada di kamar sebelah, jika ada apa apa langsung bangunkan aku." Ucap Andra.


" Baik." Ucap kedua penjaga itu bersamaan.


Sementara itu di dalam kamar Sierra dan Arthur kini tengah saling bermesraan. Sierra duduk diatas pangkuan Arthur dan melakukan hal hal anehnya dengan dada Arthur yang saat ini tidak menggunakan apapun.


" Sayang, sampai kapan kamu mau duduk dan meraba raba tubuhku?" Ucap Arthur terkekeh.


Arthur tertawa mendengarnya, roti sobek delapan kata Sierra. Arthur mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Sierra dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sierra.


" Kamu tahu, sejak tadi aku menahan sesuatu di bawah sana." Ucap Arthur dengan tatapan sayu.


Sierra langsung merona sendiri, walau sudah sering melakukannya dengan Arthur tetapi saat mendengar Arthur berbicara begitu ia menjadi kikuk sendiri. Suara bass Arthur begitu menggelitik di hati Sierra.


" Apakah boleh?" Tanya Arthur.


" Aku sudah bertanya pada dokter lewat pesan. Dokter bilang boleh melakukannya, asal pelan pelan dan kondisi kehamilanku sehat." Ujar Sierra.


" Kalau begitu aku berjanji akan melakukannya dengan pelan. Aku sangat merindukanmu, bolehkah?" Ucap Arthur.


Sierra mengangguk, Arthur pun mencium Sierra. Ia bangun dari sofa dan menggendong Sierra menuju ranjang. Tatapan keduanya begitu sayu, terlihat mereka sama sama mendambakan hal itu.


" Pumpkin nya Daddy, daddy akan sedikit mengganggu tidurmu, jangan marah ya? Daddy janji akan pelan pelan, agar kamu tidak kesakitan di dalam sana." Ucap Arthur sambil mengecup perut Sierra, dan Sierra terkekeh mendengarnya.


Arthur melanjutkan ciumannya, hingga akhirnya mereka pun melewati malam itu dengan saling bersahutan nafas. Dan sesuai janji, Arthur melajukannya dengan sangat pelan. Tapi walau begitu, ia tidak merasa kecewa sama sekali.


Ke esokan harinya, Sierra membuka matanya dan merasakan sebuah tangan besar melingkar di perutnya sambil mengusap usap perutnya.


" Sudah bangun sayang?" Tanya Arthur.


" Emh.. Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Sierra, sambil tangannya menyentuh tangan Arthur.


" Meminta maaf, pada Pumpkin." Ujar Arthur. Sierra pun terkekeh dibuatnya, ada ada saja tingkah Arthur itu.


" Pumpkin baik baik saja daddy, daddy tidak menyakiti pumpkin." Ucap Sierra dengan suara anak kecil.


" Benarkah? terimaksih pumpkin nya daddy." Ucap Arthur, sembari kembali mengusap perut Sierra.


Akhirnya Arthur dan Sierra pun membersihkan diri mereka, Sierra menggunakan dres selutut berwarna biru muda dan Arthur sendiri telah rali dengan stelan jas kantornya.


"Sayang, ikut aku ke kantor, ya? " Ucap Arthur.


" Mmm.. boleh, lagi pula di rumah bosan." Ucap Sierra.


" Tapi bagaimana jika aku lapar? Kamu tahu sendiri aku sekarang mudah lapar." Ucap Sierra.


" Aku sudah menyuruh Malvin untuk meletakan sebuah kulkas besar di ruanganku, jadi sewaktu waktu kamu datang kamu tidak akan kelaparan." Ucap Arthur.


" Bagus, ayo.." Ucap Sierra antusias.


Akhirnya mereka berdua pun keluar dari kamar hotel, dan pergi menuju perusahaan Arthur. Sudah beberapa minggu ini Arthur bekerja dari rumah karena permintaan Sierra tentunya.


Dan kini ia ingin agar Sierra ikut dengannya ke perusahaan, jadi ia bisa bekerja sambil tetap menjaga Sierra bersamanya.


Tak lama, mereka pun sampai di perusahaan Arthur, Arthur menggandeng tangan Sierra dan berjalan sambil sesekali tersenyum pada istrinya itu. Semua karyawan menunduk menyapa Sierra dan Arthur, mereka semua sudah mengenal nyo ya boss mereka yang sebenarnya.


" Selamat pagi tuan, nyonya." Ucap karyawan yang tak sengaja berpapasan dengan Arthur dan Sierra.


" Pagi.." Ucap Sierra tersenyum ramah.


Hingga sampailah mereka di ruangan Arthur.


" Aku lapar daddy." Ucap Sierra.


Arthur terkekeh mendengarnya, baru saja sampai Sierra sudah mengatakan lapar.


" Mau makan apa, sayang?" Tanya Arthur.


" Mmm.. Buah." Ucap Sierra.


Arthur membuka kulkas, dan sudah ada berbagai macam makanan disana, bahkan snack pun ada.


" Uah.. Aku akan mengambilnya sendiri, kamu sibuk saja dengan kerjaanmu." Ucap Sierra. Arthur hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


Arthur mencium kepala Sierra, kemudian ia pun duduk di kursi kebesarannya lalu mulai sibuk dengan kerjaan nya.


TO BE CONTINUED..