
Sierra menatap Daniel yang berdiri tak jauh darinya, begitupun Arthur.
Entah mengapa suasana hati Sierra yang semula baik baik saja menjadi buruk seketika. Perlahan lahan, tangan nya mengepal erat. Arthur yang melihat itu pun langsung menggenggam tangan Sierra seakan menenangkan Sierra.
Daniel berjalan perlahan kearah Sierra, wajahnya terlihat lesu dan lebih kurus dari terakhir kali Sierra melihat Daniel.
" Kamu disini.?" Tanya Daniel.
" Apakah aku juga tidak boleh disini tuan.? Aku sudah keluar dari rumahmu, apakah belum cukup.?" Ucap Sierra dengan wajah dinginnya.
" Bukan begitu, ayah hanya bertanya." Ucap Daniel.
Sierra tersenyum dingin mendengar Daniel menyebut kata ayah.
" Ayah.? apakah anda melupakan sesuatu tuan? Kuarasa anda pernah mengatakan bahwa selamanya anda tidak akan menganggapku putrimu." Ucap Sierra.
Daniel menunduk lesu, ia menyesali semua kata dan umpatan, juga perbuatannya kepada Sierra, tetapi sepertinya Sierra sudah terlalu banyak tersakiti hingga tidak lagi menerima perlakuan hangat Daniel.
" Maaf.." Gumam Daniel.
DEG.!
Sierra terkejut mendengar Daniel menangis.
Sierra langsung membuang wajahnya, menatap kearah lain, ia tidak ingin tiba tiba hatinya menjadi lemah melihat Daniel menangis.
Daniel berbalik pergi, ia tidak kuat menahan air matanya. Bagaimanapun di restoran hotel itu cukup ramai, Daniel sudah cukup terkenal karena kasus yang disandung oleh Carine dan Hailey.
' Jika saja kau mengatakan kata maafmu itu di kehidupanku yang sebelumnya, mungkin aku akan memaafkanmu. Tapi sayangnya Sierra yang dulu sudah mati, mati dengan sia sia menyandang status kriminal.' Batin Sierra bermonolog.
' Dulu hanya sebuah pengakuan darimu saja yang aku inginkan, pengakuanmu menyebut dirimu ayahku, dan aku putrimu. Tapi kau tetap menganggapku pembunuh, juga secara terang terangan meminta pihak polisi menghukum mati aku tanpa sedikitpun berempati kepadaku. Kini kau menyebut dirimu ayah, kau terlambat.' Batin Sierra lagi..
Sierra hanya menunjukan wajah dingin, tanpa mempedulikan Daniel. Yang pergi dengan hati yang patah.
" Sayang.." Ucap Arthur.
Sierra menatap Arthur dan berkaca kaca, padahal sebelumnya ia begitu tegar dan dingin.
" Kuta makan malam di kamar saja.?" Tanya Arthur.
Sierra menggeleng. " Aku tidak apa apa.." Ucap Sierra sambil tersenyum.
" Kamu yakin.?" Tanya Arthur.
" Emm.. " Sierra mengangguk.
Arthur menuruti keinginan Sierra, akhirnya mereka memesan makanan dan makan malam di restoran hotel itu walau terkadang Arthur melihat Sierra sedikit melamun.
Hingga akhirnya makan malam berakhir, dan kini mereka kembali kekamar. Arthur menggendong Sierra dan memindahkan Sierra ke atas ranjang dengan perlahan.
Ranjang.. Ya, ranjang adalah permasalahan sekarang, Sierra mendadak merasa kikuk sendiri. ranjang di kamar itu hanya satu, bagaimana mereka akan tidur nanti.?
" Ar.. Arthur, apakah kamu hanya memesan satu kamar.?" Tanya Sierra.
" Ehm, iya. Malvin yang memesan, apakah kamu ada kurang sesuatu.?" Ucap Arthur tidak peka.
" Bukan, itu.. Kamu, apakah akan tidur disini.?" Ucap Sierra.
Arthur akbirnya mengerti ke khawatiran Sierra. Ia malah tersenyum jahil menatap Sierra.
" Kenapa kamu tersenyum seperti itu.?" Ucap Sierra takut.
Situasinya bagai kelinci yang tengah di kepung serigala, Sierra menatap Arthur takut takut. Tapi kemudian Arthur tidak tega membuat Sierranya ketakutan. Akhirnya ia merebahkan dirinya di sisi Sierra yang yengah terduduk.
Sierra menatap Arthur yang justru memejamkan matanya, 5 menit.. 10 menit.. Hingga 15 menit.. Arthur tidak membuka kembali matanya. Sierra pun mengulurkan tangannya untuk mencolek pipi Arthur.
" Arthur.. Kamu tidur.??" Ucap Sierra, namun Arthur tidak menjawab.
Dengan gerakan pelan dan susah payah, Sierra menarik selimut untuk menyelimuti Arthur. Ia melihat kesekelilingnya dan Sierra melihat sebuah sofa. Ia hendak bangun dan menuju ke sofa itu, namun tiba tiba tangannya di tarik oleh Arthur hingga Sierra terjatuh di atas dada bidang Arthur.
" Jangan kemana mana sayang, tidurlah.. Aku tidak akan melakukan apapun padamu." Ucap Arthur dengan mata yang terlihat lelah.
Sierra yang ditatap begitu intens pun bingung harus berbuat apa. Perlahan tangan Arthur menyentuh kepala Sierra dan mengusapnya dengan sayang.
" Jangan takut, tidurlah.." Ucap Arthur dengan nada sayang lalu Arthur membawa Sierra kedalam pelukannya.
" Selamat malam sayang." Ucap Arthur sambil mengecup kening Sierra.
" Malam.." Sahut Sierra.
Akhirnya mereka pun tidur sambil berpelukan satu sama lain.
Ke esokan harinya..
Sierra bangun dari tidurnya, ia terkejut karena ia bisa tidur begitu nyenyak saat di pelukan Arthur, Sierra menatap wajah damai Arthur yang masih terpejam.
' Tuhan.. Apakah Arthur adalah hadiah darimu untukku? Aku merasa sangat beruntung bisa bersama dengannya. Tanpa bantuannya aku mungkin tidak akan bisa semudah itu menyelidiki pembunuh sebenarnya yang membunuh ibuku. Bersamanya.. Aku bisa tenang, bahagia, nyaman, terlindungi, dia memberi apa yang tidak pernah aku dapatkan dikehidupan sebelumnya, yaitu kasih sayang.' Batin Sierra bermonolog.
Sierra mengulurkan tangannya dan menyinkirkan rambut Arthur yang menutupi kening Arthur lalu berkata ..
"Arthur .. Apakah aku bisa berterus terang padamu tentang diriku." Gumam Sierra.
" Maka berterusteranglah.. " Ucap Arthur dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Sierra terkejut dan hendak menarik tangannya dari Arthur, namun Arthur menahanya. Perlahan Arthur membuka matanya dan bertemu tatap dengan Sierra.
" Aku mencintaimu, mencintai semua tentang dirimu, tidak peduli apapun itu.. Manis, pahit, semua tentangmu, berterus teranglah.. Aku akan mendengarkannya. Jangan khawatir aku akan pergi darimu, karena itu tidak akan mungkin terjadi sayang." Ucap Arthur.
" Kamu tidak akan meninggalkan aku.??" Tanya Sierra.
" Tidak akan... " Ucap Arthur.
" Aku akan menceritakannya nanti, saat aku siap. Apakah kamu akan keberatan.?" Tanya Sierra.
" Tidak sama sekali, kapanpun kamu mau bercerita, aku akan siap mendengarkannya. Dan jika kamu belum siap, maka aku akan tetap diam dan menunggu hingga kamu siap." Ucap Arthur , dan mengusap kepala Sierra.
" Bersiaplah, kita akan sarapan lalu kemakam ibu." Ucap Arthur.
" Emh.. Iya. " Ucap Sierra sambil mengangguk.
" apakah kakimu masih sakit.?" Tanya Arthur.
" Hanya sedikit, aku sudah tidak apa apa . " Ucap Sierra.
" Kamu yakin? Apakah mau aku gendong.?" Ucao Arthur bangun dari posisi tidurnya.
" Tidak, jangan. Aku akan berjalan sendiri saja. " Ucap Sierra.
" Baiklah, jika butuh sesuatu kamu teriak saja. Aku akan menelepon Malvin." Ucap Arthur.
" Iya.." Ucap Sierra.
Sierra pun berjalan masuk dengan sedikit pincang kedalam kamar mandi, sementara Arthur berjalan kebalkon dan menghubungi Malvin.
" Ada apa.?" Ucap Arthur.
" .... "
" Biarkan saja dulu, paksa dia makan. Kematian terlalu bagus untuknya. Tunggu hingga Sierra memberi keputusan." Ucap Arthur.
"...."
" Hm.. Kamu kendalikan semua pekerjaan hari ini." Ucap Arthur, lalu panggilan pun diakhiri.
" Jika bukan karena aku menghormati keputusan Sierra, wanita keji itu sudah pasti menjadi jasad." Gumam Arthur.
Semalam ponsel Arthur terus bergetar, ada puluhan pesan masuk dari Malvin. Malvin melaporkan tentang pekerjaan, tentang kelompok mafianya, juga tentang Julia. Julia rupanya ditahan oleh Arthur dimarkasnya.
" Sierra, aku janji akan selalu melindungimu.. Tidak ada yang boleh menyakitimu." Gumam Arthur.
TO BE CONTINUED..