
Setelah melewati senja di pantai, Arthur dan Sierra memutuskan untuk kembali ke hotel karena tiba tiba saja cuaca jadi begitu dingin dan turun hujan.
" Kita makan malam di hotel saja ya?" Ucap Arthur.
" Oke" Ucap Sierra.
Hingga tak lama mereka pun sampai di pintu masuk Resort. Arthur memarkirkan mobilnya, dan turun menggunakan payung. Mereka tiba di kamar mereka yang ternyata sudah kembali rapih. Arthur masuk kekamar mandi, lalu memanaskan air.
" Sayang, mandilah, airnya sudah aku hangatkan." Ucap Arthur.
" Emh.." Ucap Sierra, lalu berlalu kekamar mandi.
Arthur menghubungi pihak resort untuk memesan makan malam, dan diantarkan ke kamar mereka. Arthur melihat hasil foto totonya bersama Sierra dan tersenyum.
" Cantiknya." Gumam Arthur.
Di Jakarta.
Daniel tengah berada di halaman kediaman Sahara dan Cornelius. Ia nekat ingin menemui Sierra, paling tidak ia ingin memastikan kondisi Sierra terlebih dahulu.
" Tuan Daniel, Sierra tidak mau menemuimu lagi. Mengapa anda sangat sulit di beri tahu. Lagi pula ayah mana yang memaksa anaknya menikahi pria yang bahkan tidak di kenalnya, anda benar benar.. " Ucap Cornelius.
" Tuan Cornelius, anda pasti tahu bukan bahwa menyembunyikan orang atau memisahkan ayah dari anaknya itu tindakan kriminal? Jika anda tidak ingin saya melaporkan anda maka lebih baik anda biarkan saya menemui Sierra." Ucap Daniel.
" Sayangnya Sierra sudah menikah dengan Arthur, jadi Sierra telah menjadi milik Arthur. Arthur lebih berhak atas keselamatan istrinya." Ucap Cornelius. Dan hal itu berhasil membuat Daniel terkejut.
" Ap- apa? Anda bercanda kan tuan Cornelius?" Ucap Daniel.
" Saya serius tuan Daniel. Arthur telah menikahi Sierra, semalam. Saat Sierra sudah sembuh, baru melakukan resepsi pernikahan." Ucap Cornelius.
" Bagaimana bisa anda memaksa putriku menikah!! Anda menikahkan Arthur dan Sierra tanpa kehadiran saya sebagai ayah Sierra?!!" Ucap Daniel emosi.
" Anda memang ayah kandung Sierra, tetapi anda sama sekali tidak layak menjadi walinya." Ucap Cornelius.
" TAPI AKU AYAHNYA!!" Teriak Daniel emosi.
" Tuan, tolong jaga bicara anda." Ucap Malvin yang melindungi Cornelius.
" Pergilah tuan Daniel, anda sudah tidak memiliki hak untuk mengambil Sierra dari kami." Ucap Cornelius.
" Tuan Daniel, tidak bisakah anda membiarkan Sierra memilih jalan hidupnya sendiri. Dia bahagia bersama Arthur, apakah anda akan setega itu merusak kebahagiaan Sierra dengan memaksanya menikah dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai?" Ucap Cornelius.
" Mengapa anda tidak pernah bangun dan melihat kenyataan? Janji perjodohan itu hanya ucapan antara dua wanita yang belum melihat anaknya bertumbuh dewasa. Saya yakin mandiang nyonya Sophia juga bahagia saat ini, melihat putrinya hidup bahagia dengan pria yang dicintainya." Ucap Cornelius lagi.
" Semua orang tua mengutamakan kebahahiaan anaknya, tetapi anda mengutamakan janji istri anda yang bahkan sudah meninggal. Dan janji itu pun di buat saat Sierra masih bayi." Ucap Cornelius.
" Beraninya anda bicara tentang istriku yang telah meninggal." Ucap Daniel.
" Kenyataan nya memang istri anda telah meninggal tuan Daniel. Bangunlah dan terima kenyataan, mengapa anda selalu hidup dalam bayang bayang istri anda. Saya tahu mungkin anda mencintainya, tapi dengan anda berbuat begitu juga anda sama saja menyakiti mendiang nyonya Sophia." Ucap Cornelius.
" Jangan menceramahi saya, tuan Cornelius. Anda tidak akan mengerti." Ucap Daniel, sambil menunjuk wajah Cornelius.
" Terserah, sebagai sesama seorang ayah.. Aku juga pernah memiliki seorang putri yang sangat kami cintai, dia meninggal dengan cara tagis. Walau kami mencintai putri kami, tetapi kami mengikhlaskannya pergi. Bukankah berarti Tuhan lebih menyayanginya? Pergilah tuan Daniel, Sierra sudah bahagia disini." Ucap Cornelius, lalu berlalu pergi.
Daniel masih berdiri menatap kosong, di pikirannya saat ini benar benar kacau. Sierra nya rupanya lebih memilih menikah diam diam tanpa sepengetahuannya, ia bahkan tidak melihat bagaimana wajah Sierra saat menikah.
" Tuan Daniel, pergilah. Yang di katakan tuan Cornelius benar, Sierra sudah bahagia." Ucap Malvin, yang ikut kesal dengan ayah satu ini.
" Apakah aku sebegitu egoisnya?" Ucap Daniel.
Malvin menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Daniel, lalu berkata..
" Anda lebih dari egois, tapi sangat sangat egois. Dan kebodohan anda, tidak tertolong lagi." Ucap Malvin lalu benar benar pergi meninggalkan Daniel.
Daniel masuk kedalam mobilnya, dan pergi dari sana dengan pikiran yang menerawang jauh. Ia berpikir, apakah memang dirinya itu kejam dan egois? Ia berkendara sambil memikirkan semua perbuatannya, hingga tak terasa ia telah sampai di kediamannya.
"UHUK!! UHUK!! " Daniel terbatuk tanpa sebab, hingga ia memukuli dadanya yang sesak.
" Paman, anda sudah datang? Aku baru saja akan pulang, mengira paman tidak akan pulang malam ini." Ucap Vian ( Alden ) yang keluar dari kediaman Daniel.
" Oh, Vian? Kamu sejak kapan datang?" Tanya Daniel.
" Belum lama paman, sekitar sejam yang lalu." Ucap Vian ( Alden ).
" Astaga , itu sudah sangat lama. Maafkan paman ya? Paman baru pulang dari kediaman Edward." Ucap Daniel.
" Oh, apakah paman akhirnya bisa menemui Sierra? Aku sangat merindukannya paman, apakah dia baik baik saja?" Tanya Vian ( Alden ) antusias.
Daniel menjadi bingung sendiri, jika ia mengatalan pada Vian bahwa Sierra sudah menikah dengan Arthur, Vian pasti akan sedih. Tetapi memikirkan semua ucapan Cornelius dan Malvin, Daniel jadi memiliki sedikit pandangan.
" Ya dia baik baik saja." Hanya itu yang Daniel ucapkan. Ia masih ingin memantapkan lagi hatinya.
" Sukurlah, apakah paman baik baik saja? Paman terlihat seperti batuk batuk." Ucap Vian ( Alden )
" Ya, cuaca yang terus terusan turun juhan membuat tubuh tua ini semakin mudah sakit." Ucap Daniel.
Namun percaya atau tidak, Vian ( Alden ) terlihat tersenyum smirk dengan tatapan licik kearah Daniel sebelum akhirnya ia menunjukan wajah khawatirnya.
" Paman rajin rajin lah meminum teh herbal dari ayahku, ayahku terlihat selalu sehat mungkin karena meminum teh itu." Ucap Vian ( Alden ).
" Ah, iya." Ucap Daniel.
" Kalau begitu aku pulang dulu, paman. Mendadak ada pertemuan dengan rekan kerja." Ucap Vian ( Alden ).
" Oh, iya. Maaf telah membuatmu menunggu tidak jelas disini. Lain kali datanglah lagi." Ucap Daniel.
" Ya, paman. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Vian ( Alden ).
" Ya.." Ucap Daniel.
' Kenapa aku merasa mengenal punggung itu' Batin Daniel, menatap punggung Vian ( Alden ) yang menjauh.
Tidak mau ambil pusing, Daniel pun berjalan masuk ke dalam rumah sambil memebangi dadanya yang sedikit sesak.
Di kediaman Edward, Malvin tengah mengotak atik laptopnya dengan pandangan mata nya yang begitu fokus. Ia berkutat sangat lama disana, sejak Daniel pergi beberapa jam yang lalu, Ia mengklik sebuah tombol dan..
" Holly S**t!!! Jadi kecurigaan Sierra benar? Vian adalah Alden." Gumam Malvin.
Di layar laptop Malvin saat ini menampilkan sebuah surat kematian milik Vian Muyera yang sebenarnya beserta penyebab kematian Vian yaitu gagal jantung bawaan dari lahir.
TO BE CONTINUED...