
Beberapa hari berlalu...
Sierra dan Arthur tengah berada di taman rumah sakit, hampir satu minggu Sierra berada dirumah sakit, dan Arthur selalu setia menemaninya. Karena bosan, Sierra memohon pada Sammy agar mengijinkannya keluar untuk sekedar jalan jalan di taman.
Akhirnya Sammy mengizinkannya dengan syarat harus ada Arthur dan satu perawat yang menemaninya, karena jahitan di perut Sierra masih belum benar benar kering.
" Sayang, rumah sakit ini besar sekali.. kau akan bangkrut nanti jika membiarkan aku dirawat disini lebih lama." Ucap Sierra.
Tujuan Sierra saat ini adalah membujuk Arthur agar ia bisa segera pulang kerumah dan menjalani perawatan dirumah saja. Tapi Sierra belum tahu satu hal penting, bahwa Rumah sakit itu adalaah milik keluarga Edward, yang mana itu juga adalah milik Arthur.
Arthur terkekeh karena ucapan Sierra, bangkrut katanya.. apa Sierra tidak tahu bahwa kekayaan keluarga Edward itu melebihi apa yang ia sangka? Selain itu, Arthur adalah ketua mafia besar yang mana setiap bisnisnya pasti mengantongi banyak uang. Bagaimana bisa ia bangkrut hanya karena Sierra dirawat di rumah sakit..
Tapi Arthur tidak mau sombong, ia akan menemani kekasihnya itu bermain sandiwara saja.
" Jika aku bangkrut apa kau akan tetap bersamaku?" Ucap Arthur.
" Oh, tentu saja iya.. jika kau bangkrut, maka aku yang akan memberimu makan, dan menghidupimu" Ucap Sierra.
Arthur tersenyum mendengar jawaban kekasihnya itu, lalu mencium kepala sierra yang saat ini duduk di kursi roda yang sedang ia dorong.
" Benarkah?? Aku akan menjadi satu satunya laki laki yang dihidupi kekasihnya jika aku bangkrut." Ucap Arthur.
" Ya, aku akan senang menghidupimu. Kamu hanya perlu duduk di rumah dan memasak, lalu membuatkan aku apa itu.. wedang uwuh.. Wah, sudah lama tidak pernah membuat itu lagi.. " Ucap Sierra.
Seakan lupa akan tujuannya membujuk Arthur, kini Sierra justru membahas tentang menghidupi Arthur dan makanan.
" Kamu ingin itu? Jika kamu sudah sembuh, aku akan membuatkannya.. khusus untukmu." Ucap Arthur.
" Benarkah.. terimakasih.." Ucap Sierra.
" Kamu melanggar satu peraturan, maka harus dicium." Ucap Arthur.
" Eit.. ak.. aku lupa.. " Ucap Sierra gugup.
" Baik.. mari kita kumpulkan hukuman itu sampai kamu sembuh. Lalu aku akan menagihnya." Ucap Arthur.
' Ini kenapa malah melenceng jauh pembahasannya, bukankah aku sedang berusaha membujuknya agar aku bisa cepat pulang.? ' Batin Sierra setelah menyadari situasi.
" Hmm.. taman disini bagus juga.." Ucap Arthur.
Arthur mengeluarkan ponselnya lalu berjongkok dihadapan Sierra.
" Sayang, lihat kemari." Ucap Arthur.
" Kau mau foto.?? Tidak adil, aku tidak terlihat sama sekali." Ucap Sierra protes.
" Hahahaha.. maaf sayang, Aku tidak pernah mengambil foto selfie sebelumnya, jadi aku tidak mengerti." Ucap Arthur tertawa renyah, karena Sierra hanya terlihat bagian dari mata keatas, sisanya tidak terlihat.
" Ish.. payah, kemarikan." Ucap Sierra.
Arthur memberikan ponselnya kepada Sierra, lalu Sierra pun memposisikan ponsel Arthur.
" Satu... dua... cis.." Ucap Sierra.
" CKREK.!!! CKREK.!! CKREK.!!"
Suara jpretan kamera ponsel Arthur.
Dengan gaya yang berbeda beda, mereka mangambil gambar dengan bahagia tanpa mempedulikan sekitar mereka yang memandang kagum juga tidak menyangka. Seorang Arthur Edward, mau mengambil foto selfie dengan gaya gaya konyol khas anak remaja.
Bahkan perawat yang mengiringi mereka pun merasa dirinya menjadi nyamuk diantara Arthur dan Sierra. Tapi perawat itu tidak menyesal, karena bisa melihat pemandangan yang begitu romantisnya. Sangat manis dan membuat iri pasangan lain yang lewat.
" Nah... begini baru benar." Ucap Sierra, sembari menggeser layar ponsel itu guna melihat hasil jpretannya.
" Suster, boleh minta tolong.?" Ucap Sierra.
" Ah, iya nona.. ada apa.?" Ucap Suster itu.
" Tolong fotokan aku dengannya dari jarak jauh, hanya foto selfie tidak seru." Ucap Sierra.
" Baik nona." Ucap perawat itu.
Perawat itu terlihat sangat loyal dan tidak sedikitpun mencuri curi pandang pada Arthur, kebanyakan gadis mungkin akan mencuri curi pandang pada Arthur, tetapi dia tidak. Arthur pun tidak merasa begitu risih dengannya, jadi ia membiarkan perawat itu terus mengiringi mereka kemanapun.
" Sudah siap, saya hitung ya.. Satu.. dua.. tiga.." Ucap perawat itu.
" Suster seperti fotografer, hasilnya bagus." Ucap Sierra.
" Itu karena nona dan tuan merupakan visual yang bagus. Jadi mau di foto seperti apa juga hasilnya akan bagus." Ucap perawat itu.
" Bisa saja.. " Ucap Sierra.
" Ini sudah sore, sudah lewat waktunya nona makan siang." Ucap perawat.
" Benar sayang, kamu belum makan." Ucap Arthur.
" Tapi aku tidak lapar.. " Ucap Sierra.
" Jika kamu tidak makan, jangan harap kamu bisa segera pulang." Ucap Arthur.
Seketika wajah Sierra cerah..
" Benarkah? Aku boleh pulang.?" Ucap Sierra antusias.
" Kita lihat apakah lukamu sudah memungkinkan untuk perawatan dirumah atau tidak. Jika sudah memungkinkan, maka kita bisa pulang." Ucap Arthur.
" Sungguh.??" Ucap Sierra lagi.
" Iya sayang, aku tahu kamu bosan.." Ucap Arthur.
Sierra langsung merentangkan kedua tangannya, Arthur tahu apa maksudnya.. Sierra ingin di peluk. Arthur pun memeluk Sierra.
" Aku senang.." Ucap Sierra.
" Aku lebih senang melihatmu senang." ucap Arthur.
Mereka pun masuk kedalam ruangan Sierra, dan Arthur menyuapi Sierra dengan penuh kasih sayang. Setelah Sierra makan dan minum obatnya, Sierra tertidur. Arthur menyelimuti Sierra lalu mengecup keningnya.
" Selamat tidur sayang." Ucap Arthur.
Arthur membuka galeri ponselnya, ia melihat banya sekali fotonya dan Sierra yang mereka ambil tadi, Arthur memilih satu diantara yang paling bagus lalu ia membuka akun sosial medianya, dan mengunggah foto itu dengan caption.. " My Only Sunshine. "
Terlihat lebay mungkin jika itu yang mengunggah orang lain. Tapi ini adalah Arthur.. Arthur Edward, pria dingin tak tersentuh yang phobia terhadap wanita, hari ini, detik ini dia mengubah sejarah dunia dengan mengunggah foto selfienya bersama Sierra.
" Hmmm.. Sunshie, sebutan yang cocok untuk Sierra." Gumam Arthur.
Diluar sana, publik heboh dengan foto Arthur yang beredar di media sosial, bagaimana tidak, di dalam foto itu Sierra terlihat tersenyum dengan Arthur yang mengecup pipi Sierra.
Ada yang berfokus pada visual keduanya, ada yang berfokus pada keromantisan keduanya, ada juga yang berfokus pada pakaian rumah sakit Sierra.
Seketika unggahan Arthur itu mendapat banyak komentar dan doa supaya Sierra lekas sembuh.
" Banyak yang mendoakanmu sayang.." Ucap Arthur sambil mengusap kepala Sierra yang tertidur lelap.
Di tempat lain..
Calista tergeletak tak berdaya, wajah dan tubuhnya penuh luka memar, pakaiannya robek nyaris telanjang. Dia menangis pun tidak bersuara.
CKLEK.!
Suara pintu terbuka.
Calista lanhsung bangun dengan kesakitan dan ketakutan saat beberapa pria masuk kedalam.
" Pergi.!!" Teriak Calista.
" Pergi katamu? Kau itu budak disini, beraninya menyuruh kami pergi. Sekarang ayo kita bermain." ucap pria yang menggunakan topeng putih.
" Tidak, aku tidak mau.!! Pergi kalian.!" Teriak Calista.
Namun siapa yang peduli padanya, dua pria itu justru kian mendekat. Calista mundur dengan menahan kesakitan pada organ intimnya, Dan semakin Calista mundur, semakin dua pria itu tertawa.
" Sudahlah.. Percuma mundur, toh ujungnya satu, tertangkap kami hahaha.." Tawa renyah pria pria itu, sambil menarik kaki Calista.
Calista lagi lagi harus mengalami kesakitan, sakit karena mereka begitu kasar dan beringas bagai serigala kelaparan.
' Aku benci padamu Sierra, ini semua karena dirimu. Kau merebut milikku, kau membuat aku begini, aku akan membalas dendam padamu Sierra, kau harus mati.. Aku tidak terima hanya aku yang merasakan sakitnya.' Batin Calista dengan air mata yang menetes menahan perih.
TO BE CONTINUED...