The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 40. Alam bawah sadar Sierra. ( mengandung bawang. )


Arthur menggendong Sierra masuk kedalam kamar, Dengan penuh hati hati Arthur meletakan Sierra di ranjang.


" Sayang.. Sierra.. " Ucap Arthur berusaha menyadarkan Sierra, namun Sierra tak kunjung sadar.


Akhirnya Arthur menghubungi Sammy, agar datang ke kediaman nya. Sementara itu di luar kamar, Julia tengah bersimpuh di kaki Daniel saat ini.


" Daniel, aku mohon jangan tinggalkan aku disini.Tolong.."


" Lepas.!" Ucap Daniel memotong ucapan Julia.


"Daniel.. Aku mohon.." Ucap Julia lagi.


Tiba tiba Sammy muncul dengan seorang dokter lain, dan terkejut melihat begitu ramainya kediaman Arthur.


" Ada apa ini.? Dimana Arthur dan Sierra.?" Ucap Sammy.


" Tuan Arthur membawa Sierra ke kamar, dia tak sadarkan diri." Ucap Sunny.


" Astaga, jangan sampai mimpi itu datang padanya lagi." Gumam Sammy, namun masih bisa di dengar Daniel.


Daniel hendak bertanya namun Sammy dan dokter lain itu langsung berlari masuk.


' Mimpi.. Mimpi apa.?' Batin Daniel.


Malvin menyuruh anak buahnya menarik Julia, Julia memberontakpun tidak ada gunanya.


" Daniel.. Daniel.. tolong aku, Daniel.. Daniel.." Teriak Julia.


Daniel hanya berdiri tidak bergeming, saat ini hatinya benar benar seperti baru saja terkena badai, hacur terporak porandahkan.


" Nyonya Sunny dan tuan Jacob, makan malam sepertinya tidak bisa di lanjutkan, kondiri nona Sierra tidak baik baik saja." Ucap Malvin.


Malvin tidak berbicara kepada Daniel, karena sejujurnya Malvin juga begitu kesal dengan sifat dan sikap Daniel kepada Sierra.


" Tidak masalah, tetapi apakah saya boleh menjenguk Sierra.? " Ucap Sunny.


" Maaf, tuan muda melarang siapapun menjenguk untuk sekarang." Ucap Malvin.


" Baiklah.. " Ucap Sunny.


" Mari saya antar kedepan, nyonya dan tuan." Ucap Malvin.


Sunny dan Jacob pun diantar keluar oleh Malvin. Setelah mengantar Mereka berdua, Malvin kembali dan melewati Daniel yang masih berdiri bagai patung disana.


" Asisten Malvin.. " Ucap Daniel.


Malvin berhenti dan menatap Daniel yang saat ini menatapnya.


" Ya, tuan Daniel." Ucap Malvin.


" Apa.. Yang terjadi kepada Sierra.?" Ucap Daniel.


" Nona Sierra mengalami gangguan mental, diakibatkan oleh serangan dan dorongan emotional yang dialaminya sejak kecil. Seharusnya anda tahu siapa yang menyebabkan itu bukan.?" Ucap Malvin.


" Malvin, apa yang kau katakan.!" Ucap Arthur yang muncul setelah keluar dari kamar Sierra.


" Maaf tuan muda, saya hanya terlalu emosi melihat seorang ayah yang menelantarkan anak kandungnya sendiri." Ucap Malvin.


" Kau terlalu banyak bicara." Ucap Arthur.


" Tuan Daniel, kebenaran sudah di ungkap. Kau sudah tahu siapa pembunuh mendiang nyonya Sophia. Saya harap anda tidak lagi mengatai Sierraku sebagai pembunuh." Ucap Arthur datar.


" Apakah Sierra sungguh sakit mental.?" Ucap Daniel.


Entah mengapa ada perasaan bersalah kepada Sierra. Ada penyesalan mendalam di hati Daniel.. Ia ingat betul saat Sierra masih berusia 5 tahun, Sierra kecil hendak meminta bergandengan tangan dan Daniel selalu menepisnya berulang kali.


" Dia tidak sakit mental, Sierraku baik baik saja." Ucap Arthur.


Bohong jika Arthur mengatakan kondisi Sierra baik baik saja, ia hanya tidak mau orang luar tahu keadaan Sierra, bahkan jika itu Daniel sekalipun.


" Bo..bolehkah aku menemuinya.?" Ucap Daniel.


Saat ini Daniel hanya ingin melihat wajah putri kandungnya yang sudah ia sia sia kan selama ini. Ia ingin menggenggam tangan nya, atau jika bisa, Daniel ingin memeluknya. Sejak dulu yang Sierra minta adalah pelukan Daniel, namun Daniel selalu mendorongnya.


Mengingat itu penyesalan dihati Daniel kian makin bertambah. Rasanya ia begitu berdosa kepada putrinya itu.


" Maaf, dia sedang dalam penanganan dokter." Ucap Arthur.


Daniel mengangguk mengerti, Bagaimanapun ia tidak mungkin menerobos masuk.


" Kalau begitu saya permisi.." Ucap Daniel.


Daniel menyadari kebodohannya, ia merasa tidak pantas menemui Sierra. Ia mengingat semua perlakuannya selama ini kepada Sierra, semuanya.. Dan semua itu hanya perlakuan kasar dan menyakuti hati Sierra berulang ulang.


Arthur kembali ke kamar Sierra, dan psikiater tengah menangani kondisi Sierra saat ini. Benar saja, Sierra kembali terus bergumam, seolah ia adalah Sierra di usia 5 tahun ysng tengah berulang kali di tuduh sebagsi pembunuh.


" Bagaimana.??" Ucap Arthur.


" Apakah anda mengizinkan untuk menggunakan metode hipnotis tuan? Nona Sierra saat ini sedang tenggelam diantara sadar dan tidak sadar." Ucap dokter itu.


" Lakukan apa saja, asal Sierra bisa sembuh." Ucap Arthur.


Dokter itu kesulitan, karena untuk menghipnotis Sierra, Sierra harus sadar terlebih dahulu. Tetapi saat ini Sierra masih terus bergumam tidak jelas.


" Maaf tuan, nona Sierra menolak sadar." Ucap Dokter itu.


Arthur langsung duduk di sisi Sierra, ia membelai kepala Sierra dengan sayang dan mengecup keningnya layaknya seorang ayah kepada putri kecilnya.


" Sayang.. Sierra.. Apa kamu mendengarku.? Bisakah kamu kembali? sayang.. semua sudah berakhir, kebenaran sudah di ungkap. Kamu bukan pembunuh.. " Ucap Arthur berbisik di telinga Sierra.


Sementara itu dialam bawah sadar Sierra..


Sierra kembali menjadi anak kecil, itu adalah Sierra saat berusia 5 tahun yang menangis di tengah acara pemakaman karena mencari Daniel. Tetapi rupanya Daniel pergi meninggalkan nya tepat setelah pemakaman berakhir.


" Ayah... Siella mau ayah.." Tangis Sierra kecil.


Terdengar begitu memilukan, seorang anak kecil yang masih lugu dan tidak tahu apa apa, harus menanggung beban tuduhan pembunuhan atas kematian ibunya sendiri oleh ayahnya.


Tanpa menoleh atau pun menghiraukan Sierra kecil yang berlari mengejar nya, Daniel terus melangkahkan kakinya dan memasuki mobil. Saat mobil itu jalan, Sierra kecil berlari dengan sekuat tenaga mengejar mobil Daniel namun mobil itu melesat dengan cepat dan pergi meninggalkan Sierra kecil.


" Ayah... " Teriak Sierra kecil, hingga terjatuh di jalanan yang tiba tiba diguyur hujan.


Hujan dihari itu seakan mengiringi tangisan Sierra kecil, tangisan pilunya memanggil sang ayah namun tidak di hiraukan.


Tiba tiba adegan beralih begitu saja, kini Sierra tengah duduk menunggu sang ayah yang belum juga keluar dari kamarnya.


" Ayah.. " Ucap Sierra pelan.


Pelayan sudah memberi tahu Sierra berulang kali untuk terlebih dahulu makan, tetapi Sierra kecil tidak menghiraukannya. Ia hanya menunggu ayahnya seorang, Daniel.


Saat akhirnya Daniel membuka pintu kamar, tatapannya begitu dingin saat bertatapan dengan Sierra kecil. Sierra yang masih belum tahu bahwa ayahnya membencinya itu berulang kali mengangkat kedua tangannya meminta untuk di gendong, namun Daniel tidak menghiraukannya.


Saat Sierra kecil meraih tangan Daniel, Daniel langsung menghempasnya dengan kasar hingga Sierra menabrak ujung meja hias di dekat kamar Daniel dan berteriak..


" JANGAN SENTUH AKU PEMBUNUH.!!" Teriak Daniel begitu menggelegar.


Sierra kecil tersentak kaget dan berkaca kaca, itu adalah pertama kalinya Daniel membentaknya. Biasanya Daniel akan selalu memanjakannya.


" Ayah.. " Gumam Sierra kecil kesakitan sembari memegang belakang kepalanya yang berdarah.


" Jangan panggil aku ayah, kau pembunuh istriku, kau membunuh Sophia istriku.!" Ucap Daniel kasar.


" Siella tidak membunuh ibu.. " Ucap Sierra kecil.


" Kau pembunuh.!" Ucap Daniel lalu meninggalkan Sierra kecil.


" Aku bukan pembunuh.. Siella bukan pembunuh.. " Gumam Sierra kecil.


" Sierra sayang.. " Tiba tiba ada terdengar suara yang memanggil Sierra.


" Siapa.. Siapa itu.. " Ucap Sierra


" Sayang.. Sierra.. Apa kamu mendengarku.? Bisakah kamu kembali? sayang.. semua sudah berakhir, kebenaran sudah di ungkap. Kamu bukan pembunuh.." Suara itu lagi, Suara yang tampak tak asing di telinga Sierra.


" Kembalilah sayang.. ayahmu sudah tahu kamu bukan pembunuh ibumu.. " Ucap suara itu lagi.


" Benarkah.. Tetapi ayah masih marah kepadaku.." Gumam Sierra sedih.


Sayangnya mereka tidak bisa berkomunikasi dengan baik, karena nyatanya Sierra ada di alam bawah sadarnya, dan Arthur ada di dunia nyata.


" Sierra.. Kamu mengenali suaraku kan, aku Arthur.. Kekasihmu. " Ucap Suara itu lagi.


" Arthur.. " Gumam Sierra..


Kembali ke dunia nyata..


Arthur tersenyum saat Sierra menggumamkan namanya dalam mimpinya.


" Dia merespon.. Ar, teruskan berkomunikasi dengannya. Bujuk dia untuk kembali." Ucap Sammy.


" Arthur.. " Gumam Sierra lagi.


TO BE CONTINUED...