The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 48. Menjagamu selayaknya seorang kekasih.


Arthur berjalan menghampiri Sierra, karena Sierra tampak begitu kesakitan.


" Sayang.." Ucap Arthur.


" Ja.. Jangan kemari." Ucap Sierra.


Namun Arthur tetap menghampiri Sierra. Tanpa aba aba Arthur menarik pergelangan kaki Sierra, hingga Sierra yang tengah memejamkan matanya kesakitan pun terkejut.


" Arth.."


" Ssttt.. Jangan bergerak sembarangan sayang, kakimu terkilir." Ucap Arthur.


" Aww.. Sst.." Teriak Sierra.


" Kenapa kamu harus lari??" Tanya Arthur sembari memijat pergelangan kaki Sierra yang membiru.


" Ak..aku mau mengambil bajuku, aku pikir kamu tidak di dalam kamar, tapi kamu muncul dari balkon jadi aku terkejut dan lari." Ucap Sierra menjelaskan.


" Astaga sayang.. Tapi kenapa juga kamu harus lari?, lihat.. Sekarang kamu malah jatuh dan terkilir." Ucap Arthur.


" Aku malu.." Ucap Sierra pelan.


Arthur tersenyum melihat Sierra yang seperti anak kecil yang tengah di marahi itu, Arthur menggeleng sambil terkekeh namun tangannya masih tetap memijat pergelangan kaki Sierra.


" Sierra.. Siapa aku?" Tanya Arthur.


" Kamu Arthur.." Ucap Sierra polos.


" Ya, Arthur ini siapa bagimu.?" Ucap Arthur.


Sierra menatap arthur sekilas, lalu kembali menunduk.


" Ke..kekasihku." Ucap Sierra dengan pelan.


" Nah.. Kenapa kamu harus malu dengan kekasihmu? Aku tahu kita belum menikah jadi wajar jika kamu masih malu.. Tapi untuk hal sepenting ini, kamu mau tidak mau harus meminta tolong padaku." Ucap Arthur.


Arthur meluruskan kaki Sierra, lalu menyangkup kedua pipi Sierra supaya ia bisa menatap mata Sierra.


" Dengar sayang, Aku tidak akan melakukan apapun yang melampaui batas denganmu, selama kita masih menjadi kekasih maka aku akan menjagamu layaknya seorang kekasih, hingga kita menikah nanti, kamu mengerti.? " Ucap Arthur sambil menatap mata Sierra dalam dalam.


" Hem.." Sahut Sierra mengangguk.


Arthur mengecup kilas bibir Sierra,alu menggendong Sierra ke kamar mandi, bersama dengan pakaian Sierr.


" Nah, sekarang kamu ganti dulu bajumu, jika sudah selesai nanti kamu teriak saja, aku akan kembali masuk untuk menggendongmu keluar." Ucap Arthur.


" Iya." Ucap Sierra.


Sungguh, Sierra bagai terhipnotis dengan semua ucapan Arthur. Belum lagi ia benar benar sangat kagum dengan sikap bijaksana Arthur. Kebanyakan pria akan melakukan apapun sesuka hatinya kepada kekasihnya, tetapi Arthur tidak. Arthur menjaga Sierra dengan baik , selayaknya pria sejati.


Arthur keluar dari kamar mandi setelah mendudukkan Sierra di atas wastafel. Bohong jika Arthur tidak tergoda sama sekali dengan Sierra, bagaimanapun dia adalah laki laki normal yang memiliki hasrat. Tetapi Arthur memiliki sebuah prinsip, 'jika kau merusak seorang gadis, maka kau sudah melumuri wajah ibumu dengan kotoran.'


Dan walaupun Arthur terlihat begitu dingin dengan ibunya, kenyataannya ia begitu menyayangi ibunya, ia juga begitu menghormati ibunya itu.


' Astaga.. ' Batin Arthur, sambil ia memejamkan matanya.


" Arthur.. Aku sudah selesai." teriak Sierra.


" Ya sayang." Ucap Arthur.


Arthur membuka pintu kamar mandi itu dan melihat Sierra yang masih duduk di tempat yang sama. Hanya saja saat ini Sierra sudah menggunakan sebuah mini dres berwarna kuning bermotif bunga dengan panjang selutut dan tanpa lengan.


" Kamu sudah selesai??" Tanya Arthur, dan Sierra mengangguk.


Arthur pun menggendong kembali Sierra, dan Sierra dengan refleks mengalungkan tanganya di leher Arthur. Lalu Arthur menurunkan Sierra di atas ranjang.


" Tunggu yah, aku mandi dulu." Ucap Arthur.


" Ya.. " Ucap Sierra sambil tersenyum.


Arthur mengusap kepala Sierra, lalu ia berlalu pergi memasuki kamar mandi, karena ada sesuatu yang bergejolak dan harus ia tenangkan.


Sierra mencoba bangun dan berjalan untuk meraih pengering rambut, rambut panjangnya itu masih basah karena sebelumnya ia belum mengeringkannya. dengan susah payah, akhirnya ia mengeringkan rambutnya itu.


Beberapa saat kemudian, Arthur keluar. Arthur melihat Sierra yang masih mengeringkan rambut nya, panjang rambut sierra sekitar sepunggung, namun tebal dan sedikit bergelombang jadi memakan waktu lumayan lama untuk mengeringkannya.


" Biar aku bantu." Ucap Arthur langsung mengambil alih pengering rambut di tangan Sierra.


Sierra terkejut, bukan karena pengering rambutnya di ambil Arthur, tetapi terkejut karena Sierra melihat Arthur yang tanpa atasan, atau topless.


Terlihat dada bidang Arthur dengan perut kotak delapannya. Kulitnya yang putih itu benar benar seakan lebih halus dari kulit wanita.


" Ti..tidak apa apa." Ucap Sierra.


Arthur tersenyum kala melihat semburat merah diwajah Sierra. Rupanya Sierra tersipu malu sendiri karena ketahuan tengah menatap tubuh Arthur dari pantulan kaca.


Tiba tiba fokus Sierra beralih ke suatu bekas luka di bahu Arthur.


" Apakah itu sakit.?" Ucap Sierra.


Arthur menatap pantulan dirinya dikaca, dan mengerti apa yang di maksud oleh Sierra.


" Tidak.. " Ucap Arthur.


" Bagaimana bisa, bekas luka itu terlihat begitu besar." Ucap Sierra.


" Karena ini hanya bekas luka, jadi tidak sakit sayang.." Ucap Arthur.


" Benar juga.. " Ucap Sierra mengangguk angguk.


Arthur terkekeh sendiri, Sungguh Sierranya ini memang adalah penambah warna di hidupnya yang selalu monoton dan sepi.


" Nah, sudah selesai.. " Ucap Arthur.


" Terimakasih.." Ucap Sierra.


" Lagi.." Ucap Arthur.


" Apanya.???" Ucap Sierra bingung.


" Sampai berapa kali aku harus katakan sayang, jangan ada terimakasih diantara kita. Apakahbaku harus menghukummu agar kamu ingat.?" Ucap Arthur sambil menata Rambut Sierra.


" Maaf.. Aku hanya sudah terbiasa mengucapkan kata terimakasih.. " Ucap Sierra dengan senyum manisnya.


" Lain kali jika kamu lupa, maka aku hulum kamu." Ucap Arthur.


" Bagaimana bisa aku dihukum hanya karena aku mengucapkan kata terimakasih? Lalu hukuman apa yang aku dapat.?" Ucap Sierra, menengadah keatas melihat wajah Arthur yang berada dibelakangnya.


" Hukumannya seperti ini.." Ucap Arthur, lalu Arthur membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sierra lalu mencium bibir Sierra.


Posisi mereka saat ini adalah Sierra menengadah dan Arthur menunduk, begitu manis pemandangan.


" Mmhh.. " Lenguh Sierra sambil menepuk lengan Arthur meminta untuk dilepas. Namun Arthur malah memperdalam ciumannya.


" Huh.. Huh.. Huh.." Nafas Sierra memburu ketika Arthur telah meleoas ciumannya.


" Bernafas sayang.." Ucap Arthur.


" Kamu.. Menciumku tanpa aba aba, aku jadi terkejut." Ucap Sierra.


Arthur terkekeh dengan ucapan Sierra.


" Jadi apakah kalau aku mau menciummu harus mengatakan aku mau menciummu?" Tanya Arthur.


" Bu..bukan begitu juga maksudku." Ucap Sierra.


" Baiklah, maaf yah.. Aku hanya terlalu gemas denganmu. Ayo kita makan malam, besok baru kita kemakam ibu." Ucap Arthur.


" Kamu memanggil ibuku dengan sebutan ibu.?" Tanya Sierra.


" Apakah tidak boleh? Dia juga ibuku, karena kamu calon istriku." Ucap Arthur.


" Boleh.. " Ucap Sierra tersenyum.


Akhirnya mereka pun turun menuju restoran, karena kaki Sierra terlilir dan tidak mau di gendong Arthur, alhasil mereka menyewa kursi roda.


" Makan apa sayang.?" Ucap Arthur.


" Apa saja, aku tidak pemilih." Ucap Sierra.


" Baik, biar aku yang pesan." Ucap Arthur.


" Sierra..." Ucap suara orang yang sangat Sierra kenal.


Sierra melirik kearah suara tersebut, dan terlihat Daniel tengah berdiri tak jauh dari tempat Sierra dan Arthur duduk sekarang.


DEG.. DEG.. DEG..


TO BE CONTINUED..