
Calista sampai di ruangan Sierra, dan disana masih ada Arthur yang setia menemani Sierra sambil menciumi tangan Sierra sementara Sierra tengah tertidur.
" Maaf tuan, saya di suruh dokter untuk membantu nona Sierra meminum obat." Ucap Calista.
" Siapa nama dokter yang menyuruhmu?" Tanya Arthur.
Calista menjadi pias, ia tidak mengenal nama dokter yang bersamanya tadi.
" Itu.. Dokter yang barusan kemari bersama saya tuan." Ucap Calista menyembunyikan kepanikannya.
" Kau bukan perawat rumah sakit ini bukan.?" Ucap Arthur bangkit dari duduknya.
" Sa..saya sungguh perawat rumah sakit ini tuan." Ucap Calista gugup.
" Kalau begitu tunjukan tanda pengenalmu. Rumah sakit ini milikku, aku tahu betul prosedurnya karena aku yang menerapkan." Ucap Arthur.
Calista semakin pucat dan panik, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Arthur adalah pemilik rumah sakit itu.
" Tuan, saya hanya mau membantu nona Sierra meminum obatnya saja, tidak ada umyang lain." Ucap Calista.
Arthur berjalan mendekati Calista, dan Calista semakin mundur. Arthur merebut obat yang berada di tangan Calista dan melihatnya. Botol obat itu sudsh tidak tersegel lagi.
Arthur menatap Calista tajam, lalu ia mendorong Calista dan membuka paksa maskernya.
" Beraninya kau masih berusaha menyakiti Sierra, Penjaga.!!" Teriak Arthur, sampai Sierra pun terbangun karena terkejut.
Dua orang pengawal masuk kedalam, Calista panik ia hendak meraih kaki Arthur tetapi Arthur langsung menghindar. Dia phobia dengan wanita, selain Sierra dan ibunya.
" Bawa dia ke markas.!!" Ucap Arthur.
" Tidak, Tuan.. Mengapa anda melindunginya, dia sama sekali tidak pantas untukmu.!" Teriak Calista saat dua penjaga hendak menyeretnya.
Arthur mengangkat tangannya untuk menghentikan dua pengawalnya itu, lalu menatap Calista tajam.
" Lalu menurutmu siapa yang cocok denganku? Kau.? Ck.. Ck.. Ck.. Wanita kotor sepertimu hanya pedofil yang tertarik." Ucap Arthur tajam.
" Dengar, wanita ini sering berhubungan bebas diluar sana, jika kalian mau kalian bisa mencobanya, dia pasti sangat menikmatinya." Ucap Arthur pada dua penjaganya namun tatapannya tajam kearah Calista.
" Tidak.. Aku tidak mau, Sierra!! Atas dasar apa kau bisa hidup begitu beruntung, aku lebih dulu mendekati Arthur, jika kau tidak datang di hidup Arthur, pasti dia memilihku.! Sierra, kau perebut, kau harus mati.!"
" PLAK.!! "
Penjaga itu memukul pipi Calista.
" Beraninya menghina nona kami! Ayo bawa dia." Ucap salah satu penjaga yang menampar Calista.
Calista diseret keluar, Arthur berbalik dan melihat Sierra yang rupanya terbangun.
" Maaf sayang, kamu jadi terbangun." Ucap Arthur pada Sierra.
" Tidak apa apa, jadi perawat itu adalah Calista.?" Tanya Sierra.
" Ya, jangan khawatir semua sudah diatasi." Ucap Arthur.
" Mh.. " Sierra tersenyum.
" Tidurlah.. Kamu harus banyak istirahat." Ucap Arthur.
" Arthur.. Aku lupa mengatakan padamu, yang menolongku saat aku di tikam.. Apakah sungguh dia ( Daniel ).? Sebelum aku hilang kesadaran, aku samar samar melihatnya berlari kearahku." Ucap Sierra.
Arthur melihat bahwa Sierra bahkan tidak mau menyebut nama Daniel, itu sudah membuktikan bahwa Sierra sama sekali sudah tidak ingin ada hubungan dengan Daniel.
Tetapi takdir seakan mempermainkan Sierra. Saat Sierra sudah mundur dan tidak lagi mengharapkan kehadiran Daniel, Tuhan membuatnya kembali terlibat dengan Daniel.
" Apakah dia yang menyuruh orang itu untuk menikamku?" Tanya Sierra.
" Bukan, Calista lah yang mengirim orang itu, juga di belakang Calista ada ayah kandung Carine yang mendukungnya." Ucap Arthur.
' Jadi dia datang benar benar hanya untuk menolongku, tapi kenapa.? Bukankah dia selalu menginginkan aku mati sejak dulu.?' Batin Sierra.
" Sierra.. Dia ( Daniel ) juga yang mendonorkan darahnya padamu sepanjang kamu menjalani operasi selama satu setengah jam." Ucap Arthur.
Arthur tidak mau menutupi kebenaran, ia ingin agar Sierra tahu kebenarannya, dan agar Sierra tidak salah paham terhadap Daniel. Bukan maksud Arthur berpihak kepada Daniel, tetapi disini Daniel sudah menyelamatkan nyawa Sierra, Arthur hanya menunjukan rasa terimakasihnya.
Sierra terkejut, lagi lagi ia harus memiliki kaitan dengan Daniel. Ia sudah menyerah terhadap Daniel, ia sudah membenci Daniel hingga ke tulang tulangnya. Bahkan ia ingat betul sebelum dirinya di eksekusi mati di kehidupannya sebelumnya.. Ia mengatakan tidak ingin menjadi putri dari Daniel lagi.
" Sayang, jangan terlalu dipikirkan.. Untuk saat ini kamu hanya perlu fokus pada kesembuhanmu. Dia ( Daniel ) juga tidak berani berbuat apa apa padamu. Dia mengatakan bahwa, dia hanya ingin menebus kegagalannya sebagai ayah padamu, sedikit demi sedikit." Ucap Arthur.
" Aku lebih baik mati dari pada menerima darahnya.." Ucap Sierra dengan mata merah berkaca kaca.
Sierra tidak mau lagi memiliki hubungan dengan Daniel, rasa sakit dihatinya terlalu begitu dalam, ke kecewaannya terlalu begitu besar, dan kebenciannya pada Daniel sudah sampai ketulang tulang, yang mana Sierra sangat sangat membenci Daniel.
Arthur sudah menebak, Sierra pasti marah setelah mengetahuinya. Tapi ia tidak menyangka Sierra berkata demikian.
" Sayang, jangan katakan hal itu. Jika kamu mati, maka aku akan ikut denganmu. Aku tidak mau kehilangan cahaya hidupku." Ucap Arthur menggenggam tangan Sierra.
" Arthur, aku tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi dengannya, bahkan jika itu hanya sebagai pendonor darah." Ucap Sierra dengan nafas tak beraturan, dan air mata yang mengalir.
" Sayang.. jika kamu tidak menerima donor darinya, kamu akan benar benar kehilangan nyawamu.. Aku mungkin bisa saja menolaknya saat itu, tapi aku datang sudah terlambat, operasi sudah berjalan. Jika aku menghentikannya, kamu akan koma, dan aku tidak mau itu terjadi padamu." Ucap Arthur.
" Dengar.. Dia ( Daniel ) hanya mendonorkan darahnya padamu, dia ( Daniel ) tidak meminta apapun. Dia juga tidak akan mengganggu hidupmu lagi, karena dia ( Daniel ) memutuskan untuk pindah ke kota yang sama dengan makam ibumu berada." Ucap Arthur.
Sierra menjadi sedikit tenang, dan karena Sierra begitu emosional, jahitan di perutnya sedikit terbuka.
" Sshh.." Sierra kesakitan.
Arthur melihat pakaian Sierra yang perlahan menjadi merah karena darah yang merembes. Dengan panik, Arrhur langsung menekan tombol darurat.
" Sayang, tenangkan dirimu oke.. Tolong jangan terlalu emosional , kamu membuat lukamu terbuka." Ucap Arthur.
" Sakit.. " Ucap Sierra.
" DOKTER.!!!" Teriak Arthur.
Arthur panik karena darah di perut Sierra keluar begitu banyak hingga tangan Arthur yang menyentuhnya pun langsung berubah merah.
Sammy dan beberapa dokter lain datang karena Arthur menekan tombol darurat.
" Tuan muda, permisi." Ucap dokter disana.
" Tunggulah diluar Ar." Ucap Sammy.
Namun Arthur menggeleng, tangannya menggenggam kuat tangan Sierra
"Sakit.. hiks.. Hiks.. " Tangis Sierra.
" Sayang, tahan sebemtar oke, dokter akan menanganimu." Ucap Arthur.
" Lakukan." Ucap Sammy pada para rekan dokternya.
Para dokter itu pun langsung menangani Sierra, Sierra di buat tak sadarkan diri dengan anastesi , lalu Sammy menjalankan operasi kecil disana, tanpa membawa Sierra ke ruang operasi. Karena sudah begitu banyak darah yang keluar.
' Bertahanlah sayang.. Bertahanlah..' Batin Arthur sambil menciumi tangan Sierra dan melihat bagaimana Sammy menjahit ulang luka Sierra.
TO BE CONTINUED...