The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 41. Alam bawah sadar Sierra 2. ( Mengandung bawang )


Arthur menggenggam kuat kuat jari jemari Sierra, lalu menciuminya.


" Sayang.. tolong bangunlah.. disana bukan tempatmu.. kamu seharusnya disini bersamaku." Ucap Arthur.


Beralih ke alam bawah sadar Sierra..


Sierra kecil masih kebingungan, suara itu terus memanggilnya.


" Arthur.. apakah benar ayah sudah tidak marah lagi pada Siella.? Tapi tadi ayah mendorong Siella, kepala Siella berdarah." Ucap Sierra kecil.


" Ayah membenci Siella.. " Ucap Sierra kecil.


Tatapan Sierra kembali kosong, Hingga akhirnya adegan berpindah ketika akhirnya Julia dan kedua anaknya yaitu Hailey dan Carine datang kerumah itu.


Sierra sudah berubah menjadi anak berusia 7 tahun saat itu. Tubuh Sierra lebih tinggi, rambutnya juga lebih panjang, namun Sierra begitu kurus. Sangat kurus, hingga Carine yang berusia lebih muda 2 tahun darinya saja lebih besar dari pada Sierra.


" Ayah.. " Panggil Sierra.


Tatapan Daniel masih sama, masih tetap dingin kepada Sierra. Namun tiba tiba Julia datang menghampiri Sierra.


" Sierra, perkenalkan.. Aku bibi Julia, mulai hari ini bibi akan tinggal bersamamu dirumah ini. Dan mereka adalah anak anak bibi, nanya Hailey dan Carine. " Ucap Julia.


" Bibi.. Dapatkah bibi membantuku membuat ayah memaafkan aku.?" Ucap Sierra polos.


" Memangnya Sierra melakukan kesalahan apa.?" Ucap Julia.


" Ayah bilang Sierra pembunuh, Sierra membunuh ibu. Tapi Sierra tidak membunuh ibu, bisakah bibi membantuku mengatakan kepada ayah.??" Ucap Sierra kecil.


Sierra yang polos itu tidak tahu bahwa dirinya secara tidak sengaja membuat dirinya semakin di jauhi oleh Daniel. Karena rupanya Julia tidak membantu Sierra menjelaskan, tetapi malah semakin membuat Daniel membenci Sierra.


Tiba tiba dialam bawah sadar Sierra berputar putar, adegan demi adegan bagaimana dirinya di tindas, dihina, di pukuli, di kucilkan oleh mereka semua yang menjahati Sierra termasuk Daniel. Hingga adegan dimana dirinya tewas di hukum mati atas kejahatan yang tidak ia lakukan pun berputar di bayangan Sierra.


Sierra menjadi begitu tertekan, Sierra menutup matanya, dan menutup telinganya, sekelilingnya berputar hebat. Anehnya semakin bayangan bayangan dirinya disiksa itu berputar, Sierra pun perlahan berubah menjadi Sierra dewasa.


Saat Sierra membuka mata dialam bawah sadarnya, ia melihat hamparan bunga yang begitu luasnya.. Entah kemana perginya bayangan penyiksaan itu pergi, saat ini Sierra menjadi begitu tenang.


" Aku dimana.." Gumam Sierra.


Saat ini Sierra menggunakan sebuah gaun putih selutut, rambut panjangnya terurai dengan indah, dan wajahnya berseri seri.


" Sierra.. " Suara wanita yang sangat Sierra rindukan terdengar.


Seketika Sierra langsung berkaca kaca dan mencari asal suara itu. Ia begitu merindukan sosok pemilik suara itu.


" Ibu.. " Panggil Sierra.


Ya, pemilik suara itu adalah Sophia. Sierra sangat kenal betul dengan suara ibunya. Suara yang selalu menemaninya setiap hari, membacakan dongeng sebelum tidur, menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur.


Suara yang selalu memanggil nama Sierra dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" Ibu.. " Ucap Sierra dengan air mata beruraian.


Ia mencari dimana sosok ibunya berada, hamparan bunga begitu luas, Sierra tidak melihat satupun sosok lainnselain dirinya disana.


" Sierra.. " Panggil Suara itu lagi.


Sierra berbalik, dan rupanya sosok Sophia berdiri dibelakangnya.


" Ibu.. Hiks.. Hiks.." Tangis Sierra pecah begitu saja memeluk sosok ibunya.


" Sayang.. Jangan menangis.." Ucap Sophia lembut, sembari membelai kepala putrinya itu.


" Sierra merindukan ibu." Ucap Sierra.


" Begitu juga ibu sayang, ibu sangat merindukan putri kecil ibu ini.." Ucap Sophia.


" Sierra sudah besar ibu.. Sudah dewasa." Ucap Sierra, dengan masih dipelukan Sophia.


" Ibu tahu.. Tetapi dihati ibu Sierra teyaplah Sierra kecil ibu yang manja." Ucap Sophia.


Sophia melepaskan pelukan Sierra, dan menatap lekat lekat wajah putrinya itu.


" Tapi kenapa masih menangis.??" Ucap Sophia sambil menghapus air mata Sierra.


Namun bukannya berhenti, air mata Sierra justru semakin deras mengalir. Di hati Sierra saat ini bagaikan ada luapan luapan kerinduan yang begitu besarnya kepada sosok Sophia.


" Hei.. Sudah jangan menangis." Ucap Sophia.


" Aku merindukan ibu, sangat.. " Ucap Sierra.


" Ibu tahu sayang, ibu juga merindukanmu. Tetapi dunia kita berbeda.. Ibu tidak bisa mengunjungimu, kamu juga tidak bisa mencari ibu.. Kita tidak sama." Ucap Sophia.


" Apa maksud ibu?" Ucap Sierra tidak mengerti.


" Dengar.. Saat ini, kamu ditempat yang salah, tempat ini adalah tempat dimana orang yang sudah meninggal berada. Dan kamu tidak seharusnya disini." Ucap Sophia.


Sophia duduk diatas hamparan bunga bunga indah itu, lalu Sierra pun merebahkan kepalanya diatas pangkuan Sophia.


" Tapi aku juga sudah meninggal.. Aku sudah tewas di tembak mati atas tuduhan kejahatan yang tidak aku lakukan." Ucap Sierra.


" Kamu belum meninggal sayang, ini dialam bawah sadarmu. Dengar.. Semuanya sudah terbongkar, dan kamu sudah bebas dari tuduhan ayahmu." Ucap Sophia.


Sierra seketika mengingat Arthur, entah mengapa tiba tiba ia merasa terpanggil kembali oleh Arthur. Tetapi dirinya tidak mau berpisah lagi dari ibunya itu.


" Tapi Sierra tidak ingin berpisah lagi dengan ibu. Tidak ada yang menyayangiku diasana.. Aku hanya sendirian. Lebih baik aku bersama ibu saja disini, aku akan lebih bahagia." Ucap Sierra.


" Tidak nak.. kamu diberi kesempatan untuk hidup kembali adalah untuk meluruskan semua kesalahpahaman yang ada.. Dan menjalani hidupmu dengan bahagia." Ucap Sophia.


" Bukankah sudah di luruskan.?? pria itu ( Daniel ) sudah tahu kebenarannya." Ucap Sierra.


" Belum nak.. Kamu harus mengambil kembali apa yang Julia ambil darimu. Tidakkah kamu ingin melihat mereka mendapat hukuman yang setimpal.?" Ucap Sophia sambil membelai rambut Sierra.


" Lalu bagaimana dengan priamu.? Kamu sudah berjanji untuk hidup bersamanya. Ibu lihat dia pria yang baik, dia sangat menyayangimu dengan tulus." Ucap Sophia.


" Sierra.." Tiba tiba Sierra mendengar suara Arthur yang memanggilnya.


Suara Arthur begitu terdengar sedih, Bahkan terdengar bergetar.


" Dengar.. Dia terus memanggilmu.. " Ucap Sophia.


" Tapi ibu..." Ucap Sierra bangun dari rebahan nya.


" Pergilah nak, kamu pantas bahagia.. Jalani hudupmu dengan baik dan bahagia, ibu merestuimu dengan nya." Ucap Sophia sambil bangkit dari duduknya.


"Tapi bu.. Sierra tidak ingin berpisah dengan ibu lagi." Ucap Sierra kembali berlinang air mata.


" Dengar sayang, jika kamu merindukan ibu, kamu bisa mengunjungi ibu dimakam ibu.. Kembalilah sayang.. Jalani hidupmu dengan bahagia." Ucap Sophia dengan senyuman.


Perlahan namun pasti, Sophia memudar.. Sierra tak lagi bisa menyentuh sosok Sophia yang berada dihadapannya.


" Ibu.." Ucap Sierra dengan linangan air mata.


" Sierra.. sayang.. Tolong kembalilah." Suara Arthur kembali terdengar.


" Arthur.. " Gumam Sierra.


Sierra melihat sebuah cahaya, cahaya itu adalah asal dari suara Arthur. Sierra menghampiri cahaya itu, saat ia sudah berada tepat di depan cahaya itu, Sierra membalikkan tubuhnya berharap ada sang ibu disana.


Rupanya benar, sosok Sophia terlihat bercahaya, dan melambaikan tangannya kearah Sierra dengan senyum manisnya.


" Hiduplah dengan bahagia anakku." Ucap Sophia.


Sierra tersenyum dan mengangguk, ia melambaikan tangannya kearah Sophia dan tiba tiba ia tersedot oleh cahaya itu.


" HHHHHH.!!" Sierra bernafas, dan membuka matanya perlahan.


" Sierra, kamu kembali.. Terimakasih sayang, terimakasih.." Ucap Arthur.


TO BE CONTINUED..