The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 69. Calista berulah.


Sierra membuka matanya perlahan, ia melihat sekitarnya berwarna putih dan tercium bau obat obatan. Ia tahu pasti kini dirinya berada di rumah sakit.


Sierra melihat sebuah kepala yang tidak asing lagi, kepala Arthur yang tertidur di sisinya.


" Arthur.. " Panggil Sierra lemah.


Sierra mengangkat tangannya perlahan dan menyentuh kepala Arthur, Arthur pun terbangun karena merasakan kepalanya diusap.


" Sayang, kamu sudah sadar.?" Ucap Arthur langsung bangun dari posisi tidurnya dan menatap Sierra.


Arthur menekan sebuah tombol untuk memanggil dokter. Dan ia pun kembali duduk menciumi tangan Sierra.


" Sayang, maafkan aku yang meninggalkanmu kemarin. Jika aku tidak pergi pasti kejadian ini tidak terjadi padamu." Ucap Arthur penuh penyesalan.


" Itu bukan salahmu.. Hanya aku memiliki terlalu banyak pembenci." Ucap Sierra tersenyum.


Arthur senang melihat senyum itu, senyum manis yang sudah menghiasi hari harinya dan membuat dirinya seakan candu. Walau wajah Sierra masih pucat, tapi itu tak mengurangi kadar kemanisan senyum Sierra.


" Musuhmu musuhku juga, siapapun yang menyakitimu maka akan berhadapan denganku." ucap Arthur serius.


CKLEK.!


Pintu terbuka, dan terlihat Sammy masuk dengan seorsng perawat.


" Sierra, bagaimana keadaanmu.?" Ucap Sammy.


" Sakit di bagian perut." Ucap Sierra.


" Itu pasti, selain itu apakah kamu merasa pusing, atau mual.?" Tanya Sammy.


" Tidak." Ucap Sierra singkat.


" Baik mari kita periksa luka jahitanmu." Ucap Sammy.


Sierra mengangguk, selama di periksa oleh Sammy dan perawat , Sierra hanya menatap wajah Arthur. Sierra selalu merasa takut saat melihat darah, karena itu mengingatkannya dengan mendiang ibunya saat tewas bersimbah darah.


" Kamu akan baik baik saja.." Ucap Arthur menenangkan Sierra.


"SHH.." Desis Sierra ketika merasakan sakit ketika lukanya tersentuh.


" Maaf ya.. Sabar sebentar." Ucap Sammy bagai berbicara dengan anak kecil.


Arthur mengusap kepala Sierra dengan sayang sambil mengecup berulang kali tangan Sierra. Siapa yang tahan melihat adegan romantis itu, dan lagi.. Arthur sangat tampan dengan wajah bantal dan rambut berantakan khas bangun tidurnya.


" Selesai.. Lukanya baik baik saja, jangan terlalu banyak bergerak oke, itu akan mempengaruhi jahitan." Ucap Sammy.


" Iya.. " Ucap Sierra.


" Sierra, apa saat ini kau bisa minum obat?" Tanya Sammy.


" Kenapa kau bertanya demikian.??" Tanya Arthur.


" Suster kau boleh pergi." Ucap Sammy mengusir perawat yang membantunya sebelumnya.


" Baik dok." ucap perawat itu dan pergi dari sana.


" Sierra membutuhkan obat, jika ia bisa meminum obat maka aku beri obat yang untuk diminum, tapi jika dia masih kesulitan maka aku beri obat cair yang di suntikan pada selang infus." Ucap Sammy.


" Infus saja, memakan berarti usus harus mencerna, sedangkan luka itu berada di perut. " Ucap Arthur.


" Baiklah.." Ucap Sammy.


" Kalau begitu akan aku resepkan obat untuknya nanti, oiyah.. perawat tadi bukan perawat rumah sakit sini." Ucap Sammy.


" Bagaimana kau tahu.??" Tanya Arthur.


" Dia terlihat begitu gugup, juga.. Dia keluar dari ruang ganti mengendap endap.." Ucap Sammy.


" Lalu mengapa kau bawa dia kemari, kau ingin aku bunuh .?" ucap Arthur emosi.


" Ada anak buahmu di depan, juga aku ingin tahu apa motifnya. Aku sengaja bertanya apakah Sierra bisa minum obat atau tidak. Aku akan mengatakan kepadanya nanti untuk membawakan obat yang diminum, kau terima saja sisanya aku yang cek." Ucap Sammy.


Sammy sangat jeli dengan sekitarnya, filingnya sangat kuat sebagai seorang dokter, tak kalah dengan Tobiaz.


" Kalau begitu beristirahatlah." Ucap Sammy, lalu pergi dari ruangan itu.


" Sepertinya aku sudah memiliki banyak musuh." Ucap Sierra.


" Tidak peduli berapa banyak, mereka tidak akan aku biarkan menyakitimu lagi sayang." Ucap Arthur.


" Hmm.. Aku percaya kepadamu." Ucap Sierra.


" Istirahatlah... Kamu jangan banyak bergerak." Ucap Arthur sembari memgecup kening Sierra.


Di sisi lain..


Sesuai dengan apa yang Sammy curigakan, perawat tadi itu rupanya adalah Calista. Ia dalam masa pengejaran media saat ini, kabar tentang keburukannya mencuat begitu saja di media.


Bahkan ayah kandung Carine pun terseret, dan kini media tengah membicarakan hubungan mereka.


" Kurang ajar, rupanya dia masih hidup. Aku sangat ingin menekan lukanya tadi, tapi rupanya Arthur ada disana." gumam Calista.


Calista berada di toilet saat ini, ia menatap wajahnya di cermin dengan emosi.


" Tapi tadi kan dokter itu menanyakan obat bukan? Artinya ada satukesempatan lagi untuk membunuh Sierra." Gumamnya, lalu tersenyum.


CKLEK.!


Pintu terbuka, Calista langsung buru buru sembunyi di bilik toilet.


Rupanya para perawat wanita yang masuk kedalam toilet.


" Kau sudah lihat kabar yang beredar? Astaga... Aku tidak menyangka aktor yang selama ini menjadi legenda justru memiliki sisi kotor. Bisa bisanya dia memiliki kekasih yang seumuran putrinya sendiri. Yang lebih tidak nenyangka rupanya dia adalah ayah kandung Carine Areza yang masuk penjara karena obat terlarang." Ucap Perawat satu.


" Iya, mana Carine selalu berkoar koar di media bahwa dia adalah putri kandung tuan Daniel Leon pula." Ucap Perawat dua.


" Ngomong ngomong tentang tuan Daniel, semalam aku melakukan operasi dengan dokter Sammy, dan pasiennya adalah nona Sierra, putri kandung tuan Daniel. Dia mengalami luka tusuk, dan tuan Daniel mendonorkan darahnya sepanjang operasi berjalan." ucap perawat satu.


" Mungkin tuan Daniel menyesali perbuatannya." Ucap perawat dua.


Calista mendengarnya, ia mendengar apa yang di katakan oleh dua perawat itu.


' Oh.. Rupanya ayahnya yang menolongnya.. S* al, ruoanya kau masih memiliki keberuntungan hidup. Kita lihat setelah ini, apakah kau masih bisa tetap hidup atau tidak.' Batin Calista.


Setelah dua perawat itu pergi, Calista pun keluar dari bilik toilet, lalu bersiap untuk menemui kembali dokter yang bersamanya tadi, Sammy.


Calista berjalan di koridor, bahkan tv di rumah sakit pun memberitakan tentang dirinya yang menjadi simpanan aktor lawas. Juga beredar foto foto yang menunjukan bahwa dirinya itu menyukai s*x bebas.


Calista menjadi terkenal, apalagi setelah reporter dan wartawan menyeret nama perusahaan ayahnya yang menghilang, dan disana disebutkan bahwa Ruslan Walter menghilang karena terlilit hutang.


' Kenapa bisa begini.. Kenapa bisa muncul semua kabar skandal ku, sebenarnya aku sudah menyinggung siapa? Orang itu juga pasti sangat marah padaku sekarang, karena namanya jadi terseret.' Batin Calista.


" Suster.." Ucap sebuah suara, suara Sammy.


" Ah, iya dok.. Apalah ada yang bisa dibantu." Ucap Calista buru buru merubah suaranya setenang mungkin.


Calista menggunakan masker, karena rumah sakit juga masih menghimbau untuk menggunakan masker. Jadi Sammy sedikit kesulitan mengenali Calista.


" Tolong antarkan obat ini kekamar VVIP, pasien bernama Sierra Leona." Ucap Sammy.


" Oh, baik dok.. Biar saya antarkan." Ucap Calista dan tersenyum smirk di balik maskernya.


" Terimakasih, setelah itu kembali keruangan saya karena saya membutuhkan bantuan." Ucap Sammy.


" Baik dok.." Ucap Calista.


' Setelah aku membunuh Sierra dengan racunku, aku akan pergi. Dokter bodoh, kau akan menjadi tersangka nanti, karena obat ini berasal darimu.' Batin Calista, sembari melangkah menuju lift.


Dia tidak tahu saja, Smmy menatapnya dengan tatapan aneh saat ini. Sammy mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Arthur.


" Target menuju ke atas, Hm... Oke." ucapnya lalu panggilan diakhiri.


TO BE CONTINUED...