
Sierra sudah bersama dengan Arthur saat ini. Setelah mendapatkan jawaban dari Carine, ia pun pergi dari sana tanpa memperdulikan teriakan Carine yang memanggilnya sambil mengumpat.
" Sayang, kamu mengenal pria bernama Carol Mahendra?" Ucap Sierra.
" Ya, dia adalah musuh TITANES sekaligus musuh bisnis papi. " Ucap Arthur.
" Carine menyebutnya, dia adalah orang besar di balik layar yang yang seharusnya juga ikut terseret dalam hukum." Ucap Sierra.
" Masalahnya hukum belum tentu bisa menyentuhnya, sayang. Orang orang seperti kami memiliki banyak koneksi dan perlindungan, Jikapun Tobias mungkin bisa menanganinya, tapi belum tentu bisa secepat itu." Ucap Arthur.
" Lalu apa yang harus kita lakukan? Alden tidak tahu ada dimana, lalu Carol ini.. Apakah dia ada di tanah air?" Tanya Sierra.
" Sejujurnya aku juga tidak tahu sayang, dia juga tidak lebih kuat dari TITANES tetapi dia begitu licik." Ucap Arthur.
" Kamu tenang saja oke, selama ini mungkin mereka selalu main rapi. Tapi bangkai tidak bisa disembunyikan dimanapun, bukan? Kita akan tahu cepat atau lambat." Ucap Arthur lagi dan Sierra mengangguk.
Tak lama mereka pun sampai di kediaman Arthur, Arthur menggandeng tangan Sierra begitu erat seakan takut terlepas.
" Sayang, kamu mau makan siang apa? Mau aku yang masak?" Tawar Arthur.
" Mmm... Apapun, kamu yang masak." Ucap Sierra.
" Baiklah, biar aku beri pilihan. Salad sayur atau mau sup?" Ucap Arthur.
" Mmm... Salad saja, aku tidak pernah makan salad buatanmu." Ucap Sierra.
" Baik, nyonya muda Edward." Ucap Arthur, dan hal itu mampu membuat Sierra tertawa geli sendiri.
Satu minggu kemudian..
Sudah satu minggu lamanya kabar Alden yang menjadi buron masih santer di berbincangkan. Pasalnya, Alden sungguh tak bisa ditemukan dimanapun. Bahkan tim Ethan yang ikut mencarinya juga tidak menemukan keberadaan Alden.
" Arthur, apakah mungkin Alden telah dibunuh?" Ucap Sierra.
" Jika dia dibunuh, maka kita tidak perlu khawatir dia akan menyakitimu lagi kan? Itu bagus. " Ucap Arthur.
" Tapi itu hanya seandainya. Jika kenyataannya dia diam diam sudah membaur di sekitar kita tanpa kita tahu, bagaimana?" Ucap Sierra.
" Sayang.. Kamu jangan terlalu mengkhatirkan hal itu, aku huga masih mencarinya." Ucap Arthur mengusap kepala Sierra.
Saat ini dia berada di ruang tengah kediaman Arthur , mereka tengah menonton tv bersama.
" Aku hanya khawatir dis aksn menyakiti orang orang yang aku sayangi saja. Kita juga sebentar lagi akan menikah, aku takut dia datang dan merusak acara pernikahan kita." Ucap Sierra.
" Itu tidak akan terjadi sayang, aku menempatkan semua anak buahku untuk melindungi kita. Dan tentang pernikahan.. Aku sudah menyiapkannya. Bukan di kota ini, di kota lain." Ucap Arthur.
" Kota lain? Kota apa?" Ucap Sierra.
" Kamu akan tahu nanti, Sayang. Itu adalah kejutan." Ucap Arthur.
" Sekarang, ayo kita pergi membeli perlengkapan Natal." Ucap Arthur.
" Kamu tidak punya pohon Natal?" Tanya Sierra.
" Dulu aku tidak memilikinya. Sekarang setelah ada kamu, aku ingin memiliki sebuah pohon Natal yang indah. Kita akan merayakan Natal kita bersama." Ucap Arthur.
Sierra tersenyum, dulu juga dirinya tidak pernah merasakan melewati Natal bersama keluarganya, karena tidak ada yang mengajaknya bergabung. Sierra hanya bisa memandangi pohon Natal yang terpajang di toko toko saat ia melewati jalan raya.
Sierra pernah merasa iri dengan semua orang yang melewatkan Natal bersama keluarga mereka. Ia ingin juga memiliki seseorang yang mengajaknya merayakan Natal bersama, dan kini Sierra diajak oleh Arthur.
" Ayo, aku akan bersiap." Ucap Sierra antusias.
Sierra lompat dari sofa dan berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Tak sampai sepuluh menit, Sierra kembali keluar dengan penampilan casualnya. Ia menggunakan Jeans berwarna hitam dengan atasan kaos berwarna putih dan jaket Jeans sebagai luarannya.
" Sayang! Aku sudah siap." Ucap Sierra.
" Kalau begitu ayo." Ucap Arthur.
" Kamu tidak ganti baju? Kamu pergi dengan tampilan rumahmu ini?" Ucap Sierra.
" Ini adalah trik agar tidak ada musuh yang tahu bahwa aku berada di tempat ramai. Bukankah penampilan Arthur Edward selalu rapi? Jika mereka melihat ku, mungkin mereka tidak akan mengenaliku." Ucap Arthur.
Sierra tersenyum.." Benar, lagi pula jika kamu dengan pakaian formalmu, aku merasa semua orang bagai semut yang menjadikanmu gula. Lebih baik kamu begini saja." Ucap Sierra.
Sierra melepas jaket Jeansnya, lalu meletakkannya di sofa. Saat ini ia hanya mengenakan kaos berwarna senada dengan Arthur.
" Benar, ayo." Ucap Arthur.
Mereka pun pergi mendatangi pusat perbelanjaan, tujuan mereka saat ini adalah mencari sebuah pohon Natal yang besar beserta segala ornamennya. Hingga Sierra begitu terpesona saat melihat pohon berwarna putih yang begitu besar dan indah.
Sierra berjalan mengitari pohon itu, semantara Arthur melihat lihat pohon lain.
" Sayang, ini bag...eh! Maaf saya kira anda kekasihku." Ucap Sierra yang salah memegang tangan seorang pria.
Pria itu terus menatap Sierra, sampai Sierra sendiri merasa heran.
" Tidak apa apa nona, wajar jika anda salah mengenali orang di tempat ramai." Ucap pria itu.
Arthur datang menghampiri Sierra saat melihat Sierra bersama pria asing, lalu merangkul pinggang Sierra dari belakang sambil berucap " Ada apa sayang?" Tanya Arthur.
" Oh, ini.. Aku salah mengira tuan ini adalah kamu. Aku hanya sedang meminta maaf saja." Ucap Sierra menjelaskan.
"Oh.. " Sahut Arthur.
" Tidak apa apa, kalau begitu saya permisi." Ucap pria itu dengan senyuman.
Senyuman pria itu entah mengapa membuat Sierra terdiam. Sierra ingat senyum itu, senyum milik Alden. Bagaimanapun dulu Sierra hidup di bawah kendali Alden. Tetapi wajah mereka berdua tidak mirip sedikitpun.
" Sayang, kamu kenapa?" Ucap Arthur.
" Aku hanya merasa senyuman pria tadi mirip dengan Alden." Ucap Sierra.
" Kamu mengingat senyumannya?" Ucap Arthur sedikit kesal.
" Bukan begitu maksudku sayang, hanya merasa mirip saja. Bagaimanapun aku dulu hidup bertahun tahun dibawah kendalinya. Jadi masih ada ingatan ingatan yang berputar di kepalaku." Ucap Sierra.
" Mulai sekarang, kamu hanya boleh mengingat senyumku saja. Jangan mengingat senyumnya, mengerti?" Ucao Arthur.
Sierra tertkekeh mendengarnya, Rupanya Arthurnya itu sedang cemburu sekarang.
" Iya sayang." Ucap Sierra.
" Ya sudah, ayo kita lanjut mencari pohon natalnya." Ucap Arthur.
Sementara itu di balik pohon natal yang berada tak jauh dari tempat Sierra dan Arthur berdiri saat ini, pria yang sebelumnya bertemu Sierra itu mengepalkan tangannya dengan senyum smirk yang menyeramkan.
" Sayang, bagaimana jika kita membeli pohon ini saja? Dia sangat indah." Ucap Sierra sembari tangannya menyentuh sebuah pohon Natal besar berwarna putih.
" Baik.. Itu bagus." Ucap Arthur.
" Oke, kita ambil ini. Lalu untuk hiasan nya.. Aku ingin bertema biru, apakah boleh?" Ucap Sierra.
" Apapun yang kamu mau sayang, aku ikut saja." Ucap Arthur.
Arthur senang melihat Sierra begitu antusias. Pengunjung disana menatap pasangan itu begitu romantis dan manis. Arthur dan Sierra membeli pohon Natal bersama, dan penuh dengan kasih sayang. Membuat siapapun yang melihatnya begitu iri.
Sierra mengambil semua hiasan pohon Natal berwarna biru. Dari biru tua hingga muda, lalu ia mencari lampu hias yang berwarna serupa, yaitu biru. Sierra sangat menyukai warna biru, biru favoritenya adalah biru langit.
Setelah selesai dengan semua belanjaan mereka, Arthur dan Sierra pun pulang. Sedangkan belanjaan mereka nantknya akan di antar oleh jasa antar yang tersedia disana.
" Sayang, boleh aku mengucapkan kata terimakasih? Aku sungguh benar benar sangat bahagia saat ini." Ucap Sierra.
" Kamu mau berterimakasih? Cium aku saja." Ucap Arthur jahil.
" Ish, itu kan maumu." Ucap Sierra mendadak sedikit kesal.
" Hahahaha.. Sayang dengar, milikku adalah milikmu. Bahagiamu adalah bahagiaku, sedihmu adalah duka ku, kamu itu segalanya bagiku. Membahagiakanmu adalah kewajibanku, jadi tidak perlu berterimakasih. Tapi.. Jika kamu sangat ingin berterimakasih, baiklah.. Aku izinkan." Ucap Arthur mengalah.
" Terimakasih.." Ucap Sierra memeluk Arthur.
" Hukuman tetap berlaku." Ucap Arthur.
" Eh, tap.. Um.." Ucap Sierra terhenti ketika Arthur membungkamnya dengan Ciuman.
" Aku mencintaimu sayang." Ucap Arthur setelah melepas ciumannya.
" Aku juga sangat mencintaimu." Ucap Sierra tersenyum.
TO BE CONTINUED...