The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 67. Penyesalan datang di akhir.


Daniel masih berada di ruang rawatnya, ia berada di ruangan terpisah dengan Sierra. Perlahan Daniel membuka matanya dan ia tak melihat siapapun disana.


" Dimana aku, dimana Sierra." gumam Daniel ketika menyadari tak ada Sierra di ruangan itu.


Daniel melihat tangannya yang masih terpasang selang infus, kepalanya juga masih terasa pusing.


CKLEK!


pintu terbuka.


Terlihat Arthur yang berjalan masuk kedalam ruangan Daniel. Dan Daniel pun hanya menatap Arthur.


" Anda sudah sadar.?" Ucap Arthur.


" Ya.. " Sahut Daniel.


" Anda begitu memaksakan diri anda untuk mendonorkan darah begitu banyak pada Sierra, apakah anda tidak takut anda akan kehilangan nyawa anda sendiri tuan Daniel.?" Tanya Arthur.


" Jika harus kehilangan nyawaku demi Sierra maka akan aku lakukan, dia adalah putriku yang selama ini aku telantarkan. Aku ingin menebus kesalahanku kepadanya." Ucap Daniel sendu.


Arthur melihat itu.. Tatapan penuh penyesalan dari Daniel. Tatapan yang selalu menyalak bagai musuh kepada Sierra, kini tidak ada lagi. Yang ada hanyalah tatapan sendu seakan tak memiliki kehidupan.


" Apakah sekarang anda menyesali perbuatan anda tuan Daniel.?" Ucap Arthur.


Daniel menghela nafas lalu mengangguk..


" Ya.. Aku sangat menyesali perbuatanku padanya. Aku ayah yang gagal." Ucap Daniel.


" Dia sangat membencimu tuan Daniel.. Apakah anda akan terus berusaha mendapatkan kembali hatinya.?" ucap Arthur.


" Tidak.. Aku tidak apa apa jika dia tidak mau memaafkanku, aku cukup sadar dengan semuanya.. Aku yang bersalah. Setidaknya aku sudah membantunya sedikit, dan kelak mungkin aku akan berada jauh darinya." Ucap Daniel.


" Anda akan pergi.?" Ucap Arthur.


" Ya, aku akan pindah ke kediaman lama di kota yang sama dengan makam istriku. Setidaknya aku akan lebih merasa dekat dengannya." Ucap Daniel.


" Apakah anda tidak mau menunggu hingga dia sadar.?? " Tanya Arthur.


Daniel merenung, ia takut jika Sierra melihatnya ia akan kembali melihat tatapan kebencian dimata Sierra lagi.


" Tidak.. Aku akan pergi setelah infusku selesai." Ucap Daniel.


" Arthur.. Kamu mencintainya kan.??" Tanya Daniel.


" Sangat, aku sangat mencintainya. Aku bahkan menyesal karena meninggalkannya sendiri sore tadi." Ucap Arthur.


" Tolong jaga dan lindungi dia.. Aku.. Mungkin bisa melindunginya dari jauh, tapi tidak dari dekat. Tolong jangan buat dia mengalami patah hati keduakalinya." Ucap Daniel dengan tatapan memohon.


" Tanpa anda minta.. Aku akan melakukan yang terbaik untuknya, dia adalah cintaku. Dan bisa aku janjikan, aku tidak akan pernah meninggalkannya, atau membiarkannya mengalami patah hati kembali." Ucap Arthur.


' Karena sesungguhnya ia patah hati bukan baru sekali, tapi telah ratusan bahkan ribuak kali di dua kehidupannya.. Dan itu semua karena dirimu.' Batin Arthur.


Itu bagus.. Sangat bagus dia bertemu denganmu, kamu adalah laki laki yang baik, aku merestui kalian walau kalian tak meminta restu kepadaku. Berbahagialah selalu.." Ucap Daniel.


" Terimakasih karena anda telah mendonorkan darah anda kepada Sierra, walau dia putri anda, dia juga adalah hidupku. Aku sangat berterimakasih kepada anda." Ucap Arthur.


" Itu kewajibanku." Ucap Daniel.


Arthur mengangguk lalu berkata..


" Berhati hatilah tuan Daniel, saya tidak pernah memusuhi anda.. Tetapi saya berdiri di pihak Sierra. Jaga diri anda baik baik." Ucap Arthur lalu berbalik meninggalkan Daniel di ruangan itu sendirian.


Setelah kepergian Arthur, seorang perawat datang kekamar Daniel.


" Tuan Daniel, anda sudah sadar.?" tanya perawat.


" Ya, berapa lama lagi infus ini berakhir.?" Tanya Daniel.


" Masih setengah jam lagi tuan, anda kehilangan banyak darah, jadi anda harus di infus." Ucap perawat.


" Baiklah.. " Ucap Daniel.


Sementara itu, Arthur membuka pintu kamar rawat Sierra, dan ada Sammy yang tengah mengecek kondisi Sierra.


" Kau dari mana.? " Tanya Sammy.


Sammy tentu tahu kepada siapa Arthur mengucapkan terimakasih.


" Sierra bisa kehilangan nyawa jika bukan karena donor darah yang terus mengalir dari tubuh ayahnya ke tubuhnya." Ucap Sammy.


" Sierraku sangat kuat, dia tidak mungkin menyerah begitu saja." Ucap Arthur sambil mengusap kepala Sierra yang masih tak kunjung sadar.


" Kenapa dia belum sadar juga.?" Tanya Arthur.


" Bagaimana pun lukanya sangat fatal, dia bisa selamat saja itu sudah termasuk keajaiban." Ucap Sammy.


" Aku pergi dulu, jangan lupa beristirahat Ar, hari sudah larut." Ucap Sammy.


" Hmm.." Sahut Arthur singkat.


Setelah Sammy pergi, Arthur membenarkan selimut Sierra, agar Sierra tidak kedinginan. Setelah itu ia mengeluarkan ponselnya dan berjalan kearah jendela rumah sakit.


" Bagaimana.??" Ucap Arthur yang tengah melakukan panggilan dengan Malvin.


" Tuan muda, pelaku adalah kiriman Calista, putri dari Ruslan Walter. Ia mendendam kepada nona Sierra karena telah membuat dia di pecat dari restoran nyonya Edward." Ucap Malvin.


" Apakah hanya itu alasannya?" Tanya Arthur.


" Ada lagi, dia cemburu karena ia telah berjuang untuk mendekati keluarga anda tetapi tidak pernah di terima, ia cemburu nona Sierra mendapatkan anda." Ucap Malvin.


Arthur mengepalkan tangannya, belum sempat ia membalas atas penghinaan Calista terhadap Sierra di acara ulang tahun Sahara dan Cornelius, kini Calista kembali berulah.


" Bukankah Calista sekarang menjadi CEO karena Ruslan tidak ada? Sebar semua bukti ke media, dan buat dia jatuh sejatih jatuhnya, lalu habisi." Ucap Arthur dingin.


" Baik tuan muda." Sahut Malvin.


Panggilan diakhiri, Arthur berbalik dan menghampiri Sierra.


Di kamar Daniel, kini setengah jam telah berlalu dan Daniel mencopot sendiri selang infusnya. Dengan tubuh lemasnya ia berjalan keluar dari rumah sakit.


" Dimana pasien bernama Sierra di rawat.?" Ucap Daniel kepada perawat.


" Tuan Daniel, anda mengapa keluar.?" Ucap Sammy yang muncul dari lorong.


" Oh, kau dokter yang menangani operasi putriku.?" Ucap Daniel.


" Ya, benar.. Saya Sammy." Ucap Sammy.


" Dokter Sammyz bisakah anda mengantar saya keruangan dimana putriku dirawat.?" tanya Daniel.


" Baik, mari." Ucap Sammy.


Sammy pun berjalan bersama dengan Daniel.


" Aku pikir anda tidak akan sadar tuan." Ucap Sammy.


" Saya hanya mendonorkan darah bukan mendonorkan jantung, bagaimana bisa saya tidak sadar." Ucap Daniel.


" Bukan itu, anda pasti tahu maksud saya. Kabar tentang anda dan putri anda sudah menyebar keseluruh penjuru negeri." Ucap Sammy.


" Adakalanya seseorang bisa menyesali perbuatannya, walau penyesalan itu pasti datangnya di akhir, dan sudah sangat terlambat." Ucap Daniel.


" Saya pernah sangat merasa bersimpati pada putri anda, dia datang kemari dengan ambulance ketika mengalami kecelakaan hingga kepalanya harus di jahit. Dan hingga ia sadar, tidak ada satupun anggota keluarganya yang datang. Dia membayar biaya rumah sakitnya sendiri, dan keluar dari rumah sakit sendiri. Siapa yang tahu dia ternyata putri seorang Daniel Leon, pengusaha sukses di Jakarta." Ucap Sammy yang menceritakan awal pertemuannya dengan Sierra.


" Dia pernah kecelakaan.??" tanya Daniel.


Sammy menatap Daniel lekat lekat, lalu tersungging senyuman yang seakan tidak habis pikir dengan Daniel. Bagaimana ada seorang ayah seperti Daniel ini, keadaan putri kandungnya sendiri ia benar benar tidsk peduli.


" Dia hampir kehilangan nyawanya saat itu." Ucap Sammy.


" Kita sudah sampai tuan Daniel, saya permisi." Ucap Sammy.


Daniel menatap sebuah pintu, dihadapannya. Namun pikirannya masih memikirkan ucapan Sammy yang mengatalan bahwa Sierra pernah hampir kehilangan nyawanya dulu.


' Kapan.. Kapan itu terjadi? Apakah saat aku membawa Carine kerumah sakit.? Saat itu ada perban dikepalanya, apakah saat itu.??' Batin Daniel..


' Aku sungguh ayah yang kejam, Sierra pasti sangat sakit hati waktu itu.. Aku lebih mementingkan Carine yang adalah putri tiriku dari pada dia yang putri kandungku sendiri.. Sierra.. Maafkan ayah..' Batin Daniel.