
Malvin datang dengan banyak sekali belanjaan, ia sudah seperti memborong satu toko buah buahan.
" Nyonya, aku datang." Ucap Malvin.
Sierra yang sedang memakan camilan langsung berlari menghampiri Malvin.
" Sayang, nanti jatuh.. jangan berlarian." Teriak Arthur dari sofa.
" Sayang, buatkan aku jus mangga." Ucap Sierra.
" Baik, kamu duduk manis saja jangan terlalu lelah." Ucap Arthur.
Malvin membantu mengeluarkan dan mencuci semua buah buahan itu, sementara Arthur yang menyiapkan pembuatan jus mangga untuk Sierra.
" Harus gelas yang tinggi, dan besar." Ucap Sierra.
" Ya, sayang.." Ucap Arthur terkekeh.
" Jika sudah selesai, kau boleh kembali ke perusahaan." Ucap Arthur pada Malvin.
" Oh, ya Astaga.. saya lupa tujuan saya datang kemari. Saya ingin meminta tanda tangan tuan." Ucap Malvin.
" Sudah saya tanda tangani berkasnya, ada di meja." Ucap Arthur.
" Oh, baik. Kalau begitu saya kembali keperusahaan." Ucap Malvin dan pergi dari sana.
Arthur mengeluarkan sebuah gelas kaca tinggi dari lemari, kemudian menuangkan mangga yang sudah di jus itu kedalamnya.
" Waahhh... Mantap." Ucap Sierra sambil menelan liurnya.
" Nah, silahkan nyonya Arthur." Ucap Arthur.
Sierra mengecup pipi Arthur sebagai tanda terimakasih, kemudian ia membawa menyedot jus itu dengan perasaan bahagia. Arthur memeluk Sierra dari belakang, lalu mengusap perut rata Sierra itu sambil berucap..
" Baik baik di perut mommy ya, sayang. Jangan buat mommy sakit." Ucap Arthur.
" Ya, daddy." Ucap Sierra menirukan suara anak kecil.
Arthur yang gemas itu pun menciumi tengkuk Sierra berulang kali sambil memeluk Sierra erat.
" Aku sangat bahagia, sayang. Dulu, tidak pernah dalam hidupku aku membayangkan akan menikah, apalagi memiliki anak. Kamu benar benar memberikan hidup baru untukku." Ucap Arthur.
" Aku juga sama, kita berdua dua orang yang saling kesepian sebelumnya. Tuhan mempertemukan kita, untuk saling melengkapi." Ucap Sierra.
Di tempat lain..
Tobias tengah memantau jalannya Autopsi yang berlangsung. Entahlah, seakan ia tidak merasa jijik dan bau sama sekali, ia berdiri memantau dokter yang tengah melakukan tindakan Autopsi pada jasad yang sudah di kerubungi banyak binatang.
" Kenapa wajahnya bisa rusak parah begitu? Itu terlihat seperti lbekas sayatan." Ucap Tobias.
" Benar kapten, bola matanya juga hilang satu, dan benar ini luka sayatan benda tajam." Ucap dokter yang melakukan Autopsi.
" Kapan hasil DNA nya keluar?" Tanya Tobias.
" Besok, paling cepat." Ucap dokter.
Saat dokter mengorek kembali jasad itu, ia terkejut karena melihat peluru bersarang tepat di dalam jantung mayat itu. Baik dokter forensik dan Tobias saling pandang seakan mendapatkan tanda tanya besar lain.
" Psikopat mana yang membunuh dengan begini brutalnya." Ucap Tobias.
Dokter forensik membalik jasad itu, dan ia melihat sebuah tato di punggung jasad itu.
" Kapten, Di punggungnya memiliki tato, tapi sepertinya ini hanya tato pada umumnya." Ucap Dokter forensik.
" Huruf E dengan sayap hitam? " Ucap Tobias. Ia merasa tidak asing dengan tato itu, ia pernah melihatnya tapi ia lupa dimana.
" Mungkin inisial namanya." Ucap Dokter forensik.
Dokter itu oun melanjutkan kegiatan nya, sementara Tobias tengah berusaha mengingat ingat tentang tato itu, ia sangat yakin pernah melihat tato itu.
Berganti di tempat Sierra. Sierra bangun dari tidurnya dan ia mencari keberadaan Arthur.
" Sayang.." Panggil Sierra.
Rupanya Arthur baru saja mengangkat panggilan dari rekan kerja nya, ia tampak berdiri di dekat kolam renang. Arthur takut mengganggu istirahat Sierra jadi ia mengangkat panggilan telepon di luar.
" Sayang.." Panggil Sierra.
" Hmm.. Kamu sudah bangun? Ingin makan sesuatu?" Tanya Arthur.
" Tidak, ingin peluk." Ucap Sierra sambil merentangkan kedua tangannya, Arthur pun menghampiri Sierra, lalu memeluknya.
" Sayang, dua hari lagi adalah hari ulang tahun mami, kita beri tahu kehamilanmu pada mami papi saat hari itu saja ya?" Ucap Arthur.
" Boleh.. Mereka pasti senang mendengarnya." Ucap Sierra antusias.
" Baiklah, ayo masuk.. banyak angin, nanti kamu sakit." Ucap Arthur.
Mereka pun masuk kedalam rumah dengan bergandengan tangan. Terlihat Diandra yang sedang membawa begitu banyak barang.
" Tuan, ini pesanan tuan." Ucap Diandra.
" Apa itu Andra?" Tanya Sierra.
" Itu adalah semua produk keselamatan. Mulai sekarang, di rumah ini akan di pasangi pelindung di tiap tiap sudut yang tajam." Ucap Arthur.
" Hah??" Sierra bingung.
" Andra, pasang semua benda benda itu pada tempatnya, ingat! Jangan biarkan satu benda pun membahayakan keselamatan nyonya. " Ucap Arthur.
" Siap! Beres tuan." Ucap Andra.
" Kepala pelayan." Teriak Arthur.
" Saya, tuan." Sahut kepala pelayan.
" Saya dan nyonya akan pergi, tolong bantu Andra memasang semua alat pelindung sudut tajam itu. Saat saya kembali nanti, usahakan sudah selesai." Ucap Arthur.
" Baik, tuan."
" Baik, tuan." Ucap kepala pelayan.
" Ayo sayang, kita bersiap." Ucap Arthur.
" Bersiap, kita pergi kemana?" Tanya Sierra.
" Kita akan pergi belanja." Ucap Arthur antusias.
Mereka pun bersiap, Arthur memilihkan pakaian senyaman mungkin untuk istrinya agar tidak kedinginan dan. Sierra bahkan sampai bingung sendiri melihat kelakuan suaminya.
' Apakah sekarang dia yang mengidam?' Batin Sierra.
" Nah... Begini baru benar. Ayo sayang." Ucap Arthur.
" Sayang, perutku belum besar, jadi masih bisa menggunakan celana jeans." Ucap Sierra.
" Jangan, aku ingin melihatmu menggunakan dres ini saja." Ucap Arthur.
Arthur memilihkan sebuah dres dengan panjang selutut berwarna putih, kemudian ia padukan dengan jaket Jeans sebagai luarannya.
" Baiklah.." Ucap Sierra menurut.
Mereka pun berangkat menuju pusat perbelanjaan. Sesampainya disana, Arthur terlihat sangat antusias, dan menggandeng tangan Sierra menuju toko perlengkapan bayi.
" Wahhh... Sayang, kita akan belanja untuk si pumpkin? " Ucap Sierra.
" Pumpkin?" Ucap Arthur bingung.
" Ini.." Ucap Sierra sambil menepuk perut ratanya.
"Pumpkin, julukan yang lucu." Ucap Arthur.
" Terimakasih Daddy.." Ucap Sierra dengan suara seperti anak kecil.
Kehadiran mereka berdua begitu mwnyita banyak perhatian. Pasalnya mereka terlihat begitu manis dan sangat serasi. Apalagi Arthur memperlakukan Sierra dengan begitu manisnya.
Sierra memilih ranjang bayi yang terlihat sangat lucu sudah satu set lengkap dengan lemari penyimpanan pakaian bayi. Karena mereka belum tahu jenis kelamin anak mereka, jadi mereka memilih warna netral, yakni putih.
" Sayang, lihat ini." Ucap Arthur.
Arthur menenteng sepatu bayi, sangat lucu terlihat. Ada dua pasang berwarna pink dan biru muda.
" Kecil sekali, menggemaskan. Kita ambil ya?" Ucap Arthur.
" Oke.." Ucap Sierra.
Mereka pun lanjut memilih lagi. Mereka mengambil pakaian, sepatu, kaos kaki, topi dan lain lainnya. Mereka sudah seperti memborong seisi toko.
" Sayang, aku ingin duduk disana kaki ku lelah." Ucap Sierra.
" Baiklah, tunggulah disana aku akan menyelesaikan ini." Ucap Arthur.
Sierra duduk di tempat duduk yang berada di luar toko perlengkapan bayi itu. Dan tiba tiba datang Sisi yang entah muncul dari mana.
" Rupanya aku tidak salah mengenali kamu, nona Sierra." Ucap Sisi.
" Oh, nyonya Sisi.. Anda sedang berbelanja juga disini?" Ucap Sierra mencoba ramah.
" Ya, dan apa yang kamu lakukan? Apakah tuan Arthur akhirnya bosan padamu dan membuangmu?" Ucap Sisi, dengan tatapan mencemooh.
" Aku sedang lelah, jadi beristirahat disini. Dan suamiku sedang mengurus sesuatu, jadi tidak bersamaku." Ucap Sierra.
" Katakan saja kau ditelantarkan. Tuan Arthur itu phobia dengan wanita, tidak sembarangan wanita bisa menyentuhnya. Kau mungkin bisa menyentuhnya, tapi tidak bisa memiliki hatinya. Karena hati tuan Arthur, hanya untukku." Ucap Sisi, tidak tahu malu.
" Oh, iya kah?? biar aku tanyakan kepada suamiku." Ucap Sierra bangun dari duduknya.
Tiba tiba Sisi menjatuhkan dirinya saat Sierra bangun dari tempat duduk, seakan Sierra mendorong Sisi hingga jatuh.
" Apa yang kamu lakukan, aku hanya mengatakan yang sejujurnya, kenapa kamu mendorongku." Ucap Sisi tiba tiba terisak.
Semua orang disana menatap Sierra seakan mengecam Sierra kejam.
' Ck.. Bermain trik yang sama seperti Carine.' Batin Sierra.
" Nona, kenapa kau mendorong orang lain begitu kasar." Ucap seorang perempuan yang berpenampilan begitu glamor, sembari membantu Sisi berdiri.
" Astaga, Nyonya Sisi." Ucap perempuan itu.
" Carisa, terimakasih." Ucap Sisi, sambil bangun di bantu Carisa.
' Datang lagi satu..' Batin Sierra.
" Nyonya, apa yang terjadi mengapa anda bisa tersungkur di lantai?" Tanya Carisa.
" Aku hanya mengatakan sebuah kebenaran, dan dia mendorongku." Ucap Sisi.
" Astaga, kau memang tidak pernah berubah. Masih saja bar bar, Sierra." Ucap Carisa.
" Aku tidak melakukan apapun." Ucap Sierra.
" Bagaimana bisa kau tidak mengaku setelah mendorong nyonya Sisi ke lantai. Kau masih saja sombong, ayahmu sudah meninggal dan kekayaanmu itu tidak ada apa apanya di bandingkan dengan.. "
PLAK!!
Sierra menampar Carisa.
" Beraninya kau menam.."
PLAK!!
Sierra menampar Sisi.
" Jika mulut kalian tidak bisa berbicara dengan baik, kemari.. Biar aku ajarkan cara bicara yang baik." Ucap Sierra dengan tatapan tajam penuh amarah.
Sisi dan Carisa sampai terdiam ngeri melihat tajamnya tatapan Sierra saat ini sambil memegang pipi mereka.
TO BE CONTINUED ..