The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 92. Haru Hari Pernikahan.


Setelah bebera jam menempuh perjalanan menuju Ubud, akhirnya mereka telah tiba di sebuah hotel. Kedatangan Arthur disambut oleh karyawan disana dengan sangat ramah.


" Halo, pakah ada yang bisa kami bantu?" Ucap karyawan.


" Saya Arthur Edward, sebelumnya saya sudah memesan sebuah kamar tapi seharusnya masih beberapa hari lagi. Saya datang lebih awal untuk menginap lebih awal disini." Ucap Arthur.


" Oh, tuan Arthur Edward? Baik sebentar tuan kami infokan terlebih dahulu." Ucap karyawan itu.


Setelah menunggu beberapa saat, karyawan itu kembali bersama Made, pria yang mengantar Arthur untuk melakukan Survei waktu itu.


" Halo, tuan Arthur. Saya Made, sesuai yang tuan Arthur minta semalam, kami sudah menyiapkan yang tuan Arthur minta." Ucap Made.


" Terimaksih." Ucap Arthur.


" Senang membantu anda tuan, mari saya antar ke kamar yang tuan pesan. Atau tuan dan nona mau berkeliling untuk melihat lihat?" Ucap Made.


" Tidak perlu, nanti saja. Ayo sayang." Ucap Arthur sembari menggandeng tangan Sierra.


" Baik" Ucap Made.


Mereka menaiki lantai dua, dan di sambut lorong yang besar menyuguhkan pemandangan alam juga terdapat kursi kursi untuk bersantai. Mereka berbelok ke kanan lalu terdapat sebuah kolam air mancur yang lucu dengan berbagai bentuk patung.


Tak berapa lama mereka telah sampai di kamar yang merea pesan. Kamar itu memiliki kolam renang sendiri di dalamnya, juga tempatnya begitu menenangkan, dengan sebiah pohon kamboja yang sangat rindang.


" Jika butuh sesuatu, bisa cari saya di depan atau menghubungi kami menggunakan telepon yang tersedia. Semoga tuan dan nona berkesan menginap di hotel kami." Ucap Made.


" Ya, terimakasih." Ucap Arthur.


" Kalau begitu saya permisi, tuan." Ucap Made.


Setelah Made pergi, Arthur merebahkan dirinya di ranjang, ia sangat lelah sejak kemarin. Namun demi Sierra, ia rela melakukan apapun itu.


" Sayang, hotel ini sangat romantis ya?" Ucap Sierra.


" Kenapa romantis?" Ucap Arthur terkekeh.


" Tadi sepanjang kita berjalan kemari aku melihat banyak sekali pasangan muda, terutama turis." Ucap Sierra.


Arthur bangun dan duduk di ranjang, ia ingat karena pesannya yang mendadak, ia jadi tidak memesan untuk mendekorasi kamarnya menjadi kamar pengantin yang istimewa.


" Kamu kenapa?" Tanya Sierra.


" Tidak apa apa, hanya aku lupa meminta mereka mendekorasi kamar pengantin kita." Ucap Arthur.


Sierra tersipu mendengar Arthur mengatakan kamar pengantin. Ya, memang benar nantinya kamar itu akan menjadi kamar pengantin mereka. Bukan nanti, tapi malam ini.


" Tidak perlu, mereka juga pasti sangat sibuk." Ucap Sierra.


" Oiya, mami dan papi menginap dimana?" Ucap Sierra.


" Ada, disini juga. Tapi beda blok dengan kita." Ucap Arthur.


" Begitu?? Bolehkan kita berkeleiling? Aku sangat penasaran dengan suasana hotel ini." Ucap Sierra dengan wajah imutnya.


" Ya Tuhan, siapa yang bisa menolak wajah menggemaskan ini." Ucap Arthur sambil menyangkup kedua pipi Sierr gemas.


" Kita tidak bisa pergi sekarang, kamu harus melakukan make up terlebih dahulu, sekitar 10 menit lagi dia datang." Ucap Arthur.


" Oh.. Baiklah." Ucap Sierra.


" Kita pesan makanan saja ya? Kita belum makan siang, ini sudah sore." Ucap Arthur.


" Ya." Ucap Sierra.


Arthur pun menghubungi layanan restoran dan memesan beberapa makanan dari hotel itu, Arthur juga memesan beberapa dessert dan buah buahan. Dan benar saja, tak sampai sepulu menit, perias yang Arthur panggil telah sampai disana.


Sierra pun mempersiapkan dirinya, ia siap di make up total oleh perias profesional itu. Dan di tengah tengah berjalannya proses merias, Sahara dan Cornelius sampai disana dan terkejut melihat Sierra ysng tampak sudsh terlihat sangat cantik walau make up itu belum selesai.


" Papi, Sierra cantik sekali." Bisik Sahara.


" Mami, apakah mami sudah datang?" Ucap Sierra, rupanya mendengar.


" Ya sayang, ini mami. Kamu duduk saja yang baik, mami disini." Ucap Sahara menyentuh tangan Sierra, karen posisi Sierra saat ini tengah terpejam.


" Buat putriku menjadi ratu yang menawan, oke." Ucap Sahara pada perias profesional itu.


" Baik, nyonya." Ucap perias itu.


Sementara itu, Arthur dibawa pergi oleh Sammy yang yelah sampai tak lama setelah Sahara dan Cornelius sampai.


" Ish, zaman apa ini masih ada kata pingit segala. Aku ingin melihat Sierra, dia begitu cantik tadi." Ucap Arthur.


" Kau akan melihatnya Ar, nanti saat kalian akan menikah." Ucap Sammy.


" Ya, ya." Ucap Arthur pasrah.


" Ayo persiapkan dirimu, Itu adalah jas pengantinmu." Ucap Sammy menunjuk sebuahkantong besar


Dan tak lama, Sunny dan Jacob juga sampai disana. Rupanya Arthur mengundang mereka juga. Semua orang bersiap siap menggunakan pakaian terbaik mereka, dan setelah beberapa saat akhirnya acara yang di tunggu pun tiba. Sebagian karyawan hotel itu ikut memeriahkan pernikahan Sierra dan Arthur.


Arthur tengah berdiri dengan gahahnya di samping Pendeta saat ini, ia menggunakan jas berwarna putih dan menunggu Sierra nya tiba disana. Dan saat pemain biola itu memainkan lagu romantic, Sierra muncul dari balik dinding.


Arthur berkaca kaca melihatnya, Sierra sangat cantik dengan gaun putihnya, ia berjalan disamping Jacob yang bertugas mengantarkan Sierra kepada Arthur. Dengan langkah anggun dan senyum yang begitu manis, Sierra berjalan menghampiri Arthur.


Sungguh, Arthur tidak bisa membendung air matanya. Seorang Arthur Edward, menangis penuh haru saat ini.


" Sayang.. " Ucap Arthur, dan Sierra mengangguk.


Jacob menyefahkan Sierra pada Arthur, dan berpesan kepada Arthur.


" Tolong.. Cintai dan hargailah dia seperti kau mencintai dan menghargai dirimu sendiri, nak." Ucap Jacob.


" Pasti." Sahut Arthur, lalu Jacob pun menepi.


" Kamu cantik sekali, sayang." Ucap Arthur pada Sierra.


" Kamu juga tampan." Ucap Sierra.


Dan akirnya mereka pun melakukan janji suci pernikahan, dengan menunmpukan kedia tangan mereka di atas kitab suci, lalu mulai mengucap janji suci mereka.


" Sierra Leona, aku mengambil engkau menjadi seorang istri, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus." Ucap Arthur lantang, lalu giliran Sierra yang mengucap janji suci.


" Arthur Edward, aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus." Ucap Sierra juga.


Pendeta menyatakan mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri dan boleh berciuman. Tanpa basa basi lagi Arthur mencium Sierra dangan lembutnya dan swmua orang disana bertepuk tangan dengan sangat meriah.


Sahara dan Sunny menangis haru menyaksikan pernikahan Sierra dan Arthur. Begitu banyak lika liku yang mereka lalui untuk sampai di tahap ini.


" Sungguh nyonya, jika Sophia masih ada. Dia pasti akan menangis haru melihat putrinya menikah dengan pria yang Sierra cintai." Ucap Sunny pada Sahara.


" Dia bisa bahagia di sana, Sierra akan hidup bahagia bersama Arthur." Ucap Sahara.


" Selamat bro, akhirnya kamu menikah juga." Ucap Sammy.


" Dan kamu! Menikah jyga tidak bilang bilang pada bibi. Apa kau masih menganggap aku bibimu, huh!" Ucap Sahara kesal pada Sammy.


" Aduh bibi, hari bahagia apa bisa nanti saja marahnya? Kan bisa merusak suasan bahagia." Ucap Sammy mencari alibi.


" Oh, benar juga." Ucap Sahara tertipu.


" Sayang, selamat ya, akhirnya kamu resmi menjadi istri Arthur, menantu mami, menjadi nyonya muda Edward." Ucap Sahara berentet.


" Terimaksih mami." Ucap Sierra.


Acara pun dilanjutkan hingga senja berganti menjadi malam berbintang yang begitu cerah. Mereka berdansa di iringi pemain biola yang sejak sore itu terus memainkan beberapa lagu romatis. Acara sederhana namun begitu berkesan.


Hingga akhirnya setelah jam 9 malam, acara pun berakhir. Arthur dan Sierra kini berada di kamar pengantin mereka. Rupanya kamar mereka sudah di sulap menjadi kamar pengantin yang ronantis. Dia atas ranjang yang semula kosong kini bertabur kelopak bunga mawar merah dan bentuk hati di tengahnya.


Suasana temaram itu menambah kesan romantis di kamar pengantin Arthur dan Sierra. Baik Sierra maulun Arthur kini malah sama sama gugup sendiri. Namun karena Arthur seorsng pria, ia pun menepikan kegugupannya.


" Ekhem! Sayang.. kamu mau mandi dulu? Atau aku dulu?" Tanya Arthur.


" Em.. Itu.. Ekhem! Ak- aku duluan yang mandi." Ucap Sierra.


" Baiklah, aku akan mencarikan baju gantimu. Kamu mandi lebih dulu saja." Ucap Arthur.


" Y- ya.." Ucap Sierra gugup.


Sierra menyeret masuk gaun pengantinnya bangkan masuk kedalam toilet saking gugupnya.


' Astaga.. Kenapa aku jadi gugup begini. Mana Sierra begitu menggemaskan tadi.' Batin Arthur, sambil dirinya menepuk dadanya berulang kali.


' Ya Tuhan, bagaimana ini? Apakah akhirnya aku.. Astaga.' Batin Sierra dan wajahnya benar benar merah padam saat ini.


TO BE CONTINUED..